
Topan memijat pelipisnya saat ia beranjak ke lobby hotel tersebut. Kepalanya terasa pusing, wajahnya memanas dan bibirnya masih terasa hangat kecupan dari Bella. Jantung nya berdebar kencang, langkah kakinya pun lebih cepat dari biasanya. Topan langsung memasuki sebuah taksi yang standby di lobby hotel dan meminta supir tersebut mengantarkan dirinya kembali ke club malam tadi.
Sepanjang perjalanan, Topan seperti orang yang bodoh. Ia diam saja dan terus menyentuh bibirnya. Harus parfum Bella masih menempel di kaos nya, membuat jantung Topan semakin berdebar kencang. Lalu, ia menghela nafas panjang, mencoba untuk menormalkan kembali detak jantung nya.
"Astaga.. apa yang aku pikirkan," Gumam nya.
Pikiran nya tentang Bella melanglang buana, membawa dirinya begitu tinggi hingga ke langit ke tujuh. Sentuhan yang masih terjejak ditubuh dan bibirnya pun terasa mulai mencandu. Topan menepuk dahinya dan terlihat gelisah.
"Gak... gak boleh.. Jangan, kasihan dia bila menyesalinya," Gumam nya lagi.
15 menit kemudian, akhirnya Topan sampai di club malam itu. Ia pun melangkah masuk dan mencoba bertanya tentang keberadaan tas milik Bella kepada seorang petugas penitipan barang. Setelah itu, ia mendapatkan tas Bella dan berniat untuk kembali ke hotel.
Saat baru saja ia keluar dari dalam club. Sekelompok pemuda menghadang nya. Ya, diantaranya adalah pemuda yang tadi berdansa dengan Bella. Topan tampak waspada, ia melilit kan tali tas Bella di lengan nya. Ia pun bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi.
5 orang pemuda, kini mengelilingi dirinya. Tampak wajah bringas dari satu persatu wajah mereka, dan siap akan menerkam Topan dengan jurus yang mereka punya.
"Dia orangnya?" Tanya salah satu diantara pemuda itu. Pemuda yang tadi bersama Bella pun mengangguk, terlihat tangan nya bengkak karena tadi di injak oleh Topan. Topan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Ada apa ya?" Tanya Topan, berpura-pura bodoh.
"Lu yang tendang adik gue, tandanya lu mencari gara-gara dengan gue!" Ucap seorang lelaki bertubuh tegap dan berkulit gelap.
Topan kembali tersenyum dan mengangguk paham.
"Terus? Adik lu memeluk pacar gue juga mencari masalah sama gue namanya!" Ucap Topan.
"Bangsattttt..!" Teriak kakak dari pemuda yang tadi dihajar oleh Topan.
Sebuah pukulan menghampiri Topan. Tetapi, dengan sigap, ia menghindari pukulan yang hampir saja mendarat di pipinya.
"Eits, gak kena," Ucap nya dengan gaya yang menyebalkan.
"Bajingaaaann!" Teriak kakak dari pemuda itu. Lalu, 3 orang pemuda lagi mencoba mengeroyok Topan. Tanpa mereka sadari, Topan adalah pemegang sabuk hitam di salah satu cabang bela diri. Maka dari itu, Topan dapat diandalkan saat bertugas di lapangan dan masuk kedalam kehidupan targetnya.
Bug! Bug! Bug! Bug!
Topan menghentakkan tinjunya ke perut 4 pemuda sekaligus dengan cepat, yang membuat keempat pemuda tersebut menahan sakit dan bergerak mundur beberapa langkah.
"Gue lagi tidak mau adu jotos. Tapi, gue peringatkan, bila gue membalas, kalian akan masuk rumah sakit," Ancam Topan.
Tetapi, ancaman nya tidak di indahkan. Keempat pemuda itu kembali menghampiri dirinya dan hendak mengeroyok Topan dengan brutal. Satu pukulan mendarat di punggung Topan, sedangkan pukulan yang lain berhasil ia hindari. Mendapatkan satu pukulan, membuat Topan menjadi bersemangat. Ia mulai memasang kuda-kuda untuk menerima serangan susulan.
"Wow, gue sangat bersemangat. Kebetulan kepala atas bawah sedang pusing," Ucap Topan. Lalu, ia menangkis serangan yang datang dan membalas nya dengan brutal.
pertunjukan baku hantam itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana. Termasuk petugas yang sedang berpatroli.
"Woiiii apa-apaan ini!" Teriak seorang polisi yang berniat membubarkan perkelahian tersebut. Namun, para pemuda itu tampaknya sudah hilang akal. Mereka mengeluarkan senjata tajam untuk melukai Topan.
Topan yang sedang lengah, menatap kearah polisi yang baru datang tersebut pun terkena sayatan di bagian pinggang nya. Sayatan pisau itu membuat kaos nya robek dan perutnya tergores. Darah segar pun mulai merembes dari dalam kulit nya.
"Oh.. shitttt!" Ucap Topan seraya memutar tubuhnya dan melibaskan tendangan nya ke wajah orang yang telah melukainya. Lelaki itu pun terpelanting dan terjerembab di atas aspal.
__ADS_1
Topan memegangi perutnya dan kembali memasang kuda-kuda. Melihat kejadian yang tidak sesederhana perkelahian biasa, polisi patroli tersebut pun terpaksa mencabut pistol nya dan bersiap menembakkan ke udara.
"Berhenti!" Ucap polisi tersebut.
Kelima pemuda yang mengeroyok Topan pun ketar ketir, mereka bangkit dari aspal dan mencoba melarikan diri. Tetapi, dengan cepat, dihadang oleh beberapa petugas yang lain nya. Kelima pemuda tersebut pun akhirnya dapat di ringkus. Termasuk Topan yang terpaksa harus ikut ke kantor polisi terdekat.
"Sialll.." Topan mengumpat saat ia ikut dengan mobil patroli yang akan membawanya ke kantor, dengan status korban dan saksi.
... .
Wajah Pongki memerah, saat mengetahui kebodohan Bella. Ia tampak berusaha menahan emosinya, setelah membaca dan mendengarkan penjelasan dari Berta dan Satrio. Pongki diam seribu bahasa, ingin sekali ia melampiaskan emosinya kepada Frans. Tetapi apa daya, menurut Berta dan Satrio, lelaki bajingan itu sudah dibawa kembali ke Jakarta untuk proses selanjutnya.
"Benar-benar minta di kebiri anak ini," Ucap Pongki.
Berta melirik Pongki dengan wajah yang malas.
"Yang harus dikebiri bukan nya orang yang tidak setia ya?" Celetuk Berta.
Pongki mengerutkan keningnya dan menatap Bella yang pura-pura acuh terhadap dirinya.
"Hmmm, maaf. Sebenarnya kalian kenapa?" Tanya Satrio dengan wajah yang sungkan. Walaupun ia tahu arah permasalahan antara suami istri tersebut, namun ia masih berusaha berpura-pura tidak mengerti.
"Tidak ada apa-apa kok mas," Ucap Berta seraya tersenyum manis dan meraih gelas minuman nya yang berisi Banana Smoothies.
"Hmmm, maaf ikut campur. Tetapi yang terlihat, kalian berdua sedang tidak baik-baik saja," Ucap Satrio lagi.
Berta dan Pongki saling bertatapan dan terlihat canggung.
"Tidak ada kok, ya kan sayang?" Pongki merangkul Berta dan mengecup pipi istrinya itu.
"Kita mah akur terus kok mas," Ucap Berta sembari melayangkan tangan nya ke pipi Pongki.
Plakkkkkk!
"Aduh..!" Pongki mengusap pipinya yang terasa kebas dan melirik Berta yang tertawa puas.
"Iya kan sayang?" Sambung Berta sembari tersenyum jahat dan melotot kepada Pongki.
"I-i-iya sa-sayang," Sahut Pongki.
Satrio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mulai merasakan atmosfer suasana yang tidak nyaman diantara Pongki dan Berta.
"Kayaknya saya pamit dulu ya," Ucap Satrio.
"Iya silahkan," Ucap Pongki dengan wajah yang terpaksa ramah.
"Loh, kok buru-buru mas?" Tanya Berta.
"Ng..." Satrio terlihat bingung.
"Tidak apa-apa, mas Satrio paham kok, kita mau bermesraan, ya kan mas?" Tanya Pongki.
__ADS_1
"Ng...." Satrio kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap sepasang suami istri yang tampak aneh di depan nya.
"Tetapi, tidak apa kok mas Satrio disini. Soalnya saya merasa tidak asik bersama penghia....."
"Mas, pulang saja ya, saya mau membahas masalah Bella dengan istri saya," Ucap Pongki yang menyela ucapan Berta.
"I-i-iya," Satrio membereskan berkasnya dan beranjak dari duduknya.
"Sampai jumpa lagi..." Ucap Pongki dengan wajah yang tampak puas.
Sedangkan Berta menatap Pongki dengan wajah penuh kebencian.
"Ahhhh.. senangnya.. sudah lama kita tidak berdua seperti ini. Sekarang kita nikmati waktu berdua ya sayang," Ucap Pongki dengan wajah yang terlihat jahil.
Berta terlihat kesal dan beranjak dari duduknya.
"Kamu saja dengan ubur-ubur di sana!" Ucap Berta.
"Eh, mau kemana?" Tanya Pongki yang langsung bergegas mengejar Berta.
"Kemana saja, asal jangan di dekat kamu! Merusak pemandangan tahu gak!" Ucap Berta yang terus melangkah menjauhi Pongki.
"Berta, aku tahu aku salah. Tetapi, aku mohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri." Ucap Pongki.
Berta menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Terlihat Pongki yang menatap dirinya dengan wajah yang memelas.
"Berta, Anna sudah meninggalkan Jakarta. Kami juga membuat perjanjian untuk tidak saling bertemu. Kalau kamu tidak percaya, semua salinan surat, ada pada pengacara ku."
"Tapi Berta, aku tidak menyalahkan sikap mu kepadaku. Aku tahu, aku pantas menerima nya. Aku akan menebus semuanya dan menerima segala konsekwensinya. Asal jangan kamu ceraikan aku. Aku tidak bisa melepaskan kamu, aku mohon dengan sangat," Pongki menjatuhkan lututnya diatas pasir pantai yang putih itu. Wajahnya tertunduk penuh penyesalan.
Berta terpaku, ia menatap Pongki dengan seksama. Hatinya mulai mencair, walaupun masih menyisakan rasa sakit yang luar biasa.
"Bangunlah, aku tidak suka melihat mu seperti itu," Ucap Berta.
Pongki mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Berta.
"Pulanglah ke hotel mu, aku akan pulang ke hotel ku." Ucap Berta seraya berlalu dari hadapan Pongki.
Pongki menghela nafas, lalu ia beranjak mengejar Berta.
"Berta," Panggil Pongki, saat Berta beranjak masuk kedalam taksi.
"Sudahlah, aku butuh waktu!"
"Bu-bukan, bukan itu. Aku mau menumpang," Ucap Pongki.
"Menumpang?"
"Iya, hotel kita kan sama," Pongki tersenyum layaknya orang bodoh.
Berta menghela nafas panjang dan memutar bola matanya.
__ADS_1
"Kau ini," Ucap nya seraya menggelengkan kepalanya.
"Hehehe... I love you," Ucap Pongki, lalu ia beranjak masuk di taksi yang sama dengan Berta, lalu mengecup lembut pipi Berta yang terlihat muak kepadanya.