Masteng

Masteng
53. Informasi


__ADS_3

Taksi yang ditumpangi oleh Bella dan Topan, berhenti tepat di depan lobby hotel tempat mereka menginap. Topan dan Bella pun turun dari taksi itu, dan sama-sama melangkah masuk kedalam lobby hotel itu. Kini, terlihat sikap canggung diantara mereka berdua. Terutama dengan Bella, sejak Topan menolak duduk dengan nya, Bella sedikit merasa tidak percaya diri dengan lelaki itu.


Topan menekan tombol lift, dan beranjak masuk bersama dengan Bella, saat pintu lift itu terbuka. Tidak ada satu pun kata yang terucap diantara mereka berdua. Hingga mereka akan berpisah di depan pintu kamar masing-masing yang bersebelahan.


"Besok pukul berapa non?" Tanya Topan yang mencoba membuka obrolan kembali dengan Bella.


"Setelah sarapan pagi saja, pukul sembilan," Ucap Bella, tanpa menatap Topan sedetik pun.


"Ok, baik non. Saya masuk dulu ya,"


"Iya," Sahut Bella.


Dengan cepat, Topan beranjak masuk kedalam kamarnya dan menghilang dari pandangan Bella. Saat itu juga Bella mengerutkan dagunya.


"Masa iya sih, gue bukan tipe dia? Duh... kenapa gue mikirin tipe dia sih? Jangan bilang gue mulai naksir sama dia?" Bella merasa tertekan dengan pikirannya sendiri tentang Topan.


Klik!


Bella membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk kedalam kamar itu. Kamar itu masih gelap, tanda Berta tidak ada di dalam kamar tersebut. Bella menyelipkan kartunya ditempat yang tersedia, lalu secara otomatis Ac dan lampu dikamar itu menyala. Bella melangkah menuju ke ranjang dan meletakkan tas nya yang basah di samping ranjang. Lalu, ia bergegas mengambil baju ganti dari dalam koper nya dan beranjak ke kamar mandi, untuk membilas tubuhnya yang habis terkena air hujan.


"Mami mana sih? Kok belum pulang," Gumam nya.


"Apa jangan-jangan lagi di kamar daddy?" Bella mengulum senyumnya dan membayangkan bila kedua orangtuanya sudah kembali akur.


Bella melepaskan pakaian nya dan menyalakan keran air. Ingatan nya kembali kepada Topan. Seorang supir yang tampan dan kini mulai menyita perhatian nya. Bella tersenyum sendiri, sambil membilas tubuhnya. Entah mengapa bayangan Topan tidak bisa hilang dari pelupuk matanya. Setiap adegan yang pernah ia alami dengan Topan terus bermunculan. Mulai dari awal bertemu, hingga saat berpisah di depan pintu kamar masing-masing.


"Kamu itu orang baik Jo," Gumam nya.


.


Topan yang baru saja selesai mandi, menghampiri ponselnya yang berdering. Beruntung saat hujan tadi, Topan sempat membungkus ponselnya pakai plastik yang ia temui di pinggir pantai. Topan harus memprioritaskan ponselnya. Karena itu adalah alat komunikasi satu-satunya yang ia miliki saat bekerja di Bali. Tidak seperti di Jakarta, ia mempunyai alat komunikasi khusus yang diberikan team nya untuk berkomunikasi.


"Halo," Sapa Topan, sambil mengeringkan rambut nya.

__ADS_1


"Pan, data sudah di dapatkan. Pabriknya ada di Parung, Bogor!" Ucap Antok dari ujung sana.


Topan menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan serba salah yang hinggap di hati nya saat ini.


"Oh," Sahut nya.


"Pulang dari Bali, kita langsung bergerak kesana. Lebih mantap lagi, kalau Pongki pas sedang disana. Langsung tangkap tangan dan penjarakan!" Ucap Antok dengan suara yang terdengar sangat bersemangat.


Topan terdiam, ia terus merasa gelisah.


"Pan?" Panggil Antok, saat merasa Topan tidak menanggapi informasi darinya.


"Ya?"


"Kamu ini, diajak bicara diam saja. Memang nya lagi ngapain? Lagi sama bule cewek ya?" Tanya Antok dengan candaan nya.


"Bukan, enak saja... Gak lah, dosa!" Sahut Topan.


"Lagi pakai baju, habis mandi," Ucap Topan.


"Oh..., aku cuma mau bilang, kamu keren Pan! Gara-gara kamu berhasil mengambil ponsel Pongki, kita jadi mudah mengetahui belangnya!" Seru Antok lagi.


"Hehehe, iya," Sahut Topan dengan tak bersemangat.


"Ngomong-ngomong, kapan kamu pulang Pan?"


"Tiga hari lagi," Sahut Topan.


"Ok deh, bersenang-senang lah kawan. Sebelum misi besar kita ini terwujud!"


" Ok," Sahut Topan.


Lalu, ia mengakhiri sambungan telepon tersebut dan terdiam di tepi ranjangnya.

__ADS_1


"Bagaimana pak Pongki nanti? Bagaimana bu Berta? Bagaimana Bella?" Pertanyaan itu terus mengusik otak nya.


Topan menghela nafas panjang. Ia beranjak dari duduknya dan meraih kopernya. Lalu, ia mengambil pakaian tidurnya dan memakai pakaian itu dengan cepat. Lalu, ia kembali terdiam di atas ranjangnya.


"Ya Allah, satu sisi tugas, satu sisi lagi kemanusiaan. Aku hanya manusia yang memiliki rasa iba. Bagaimana mereka nanti?" Gumam nya.


Topan yang sudah berwudhu pun menggelar sajadah nya. Lalu, ia melaksanakan kewajiban nya. Setelah itu, ia berdoa dalam kegelisahan nya tentang keluarga baru nya itu.


Mengapa disebut keluarga baru? Keluarga Pongki, khususnya Pongki sendiri, menerima dirinya dengan sepenuh hati. Berta yang menganggap Topan bagaikan anak sulungnya yang telah tiada. Sedangkan Bella.. Ia merasa sudah jatuh cinta dengan gadis itu. Gadis yang manja, lebay dan tidak menyukai dirinya pada awalnya. Tetapi, kini Bella bersikap sangat bersahabat dengan nya. Baru saja hari ini, Bella bersikap seperti itu dengan nya.


Perasaan itu terus membebani dirinya. Ada rasa tidak rela, bila harus membuat keluarga itu bercerai berai, bersedih atau bahkan ada kemungkinan keluarga itu akan membenci dirinya.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku akan terima segalanya, bila memang itu adalah jalan yang terbaik darimu," Ucap Topan di dalam doa nya.


.


Terdengar suara tersengal di kamar Pongki. Lelaki itu tampak berpeluh dan tersenyum puas saat melirik Berta yang berada disampingnya. Berta membalas senyuman Pongki dengan wajah yang berseri. Mereka baru saja melakukannya. Menyatukan lagi perasaan cinta yang sempat terguncang oleh cobaan.


"Terima kasih sayang," Ucap Pongki. Lalu, ia mengecup lembut kening Berta yang berpeluh.


Berta memeluk pinggang Pongki dan mengecup pipi suaminya itu.


"Janji ya, setelah ini, kamu jangan macam-macam, jangan pernah berpisah lagi," Ucap Berta.


"Janji sayang. Aku tidak akan pergi tanpa mu. Aku akan selalu disamping mu siang dan malam. Kita akan menghabiskan masa tua bersama. Tak akan terpisahkan, dimana ada aku, disitu ada kamu," Ucap Pongki dengan penuh keyakinan.


Berta tersenyum semringah. Ia mempererat pelukannya di tubuh Pongki.


"Aku mencintai kamu," Bisik Berta.


"Aku juga sangat mencintai kamu," Pongki kembali mengecup kening Berta dan membalas pelukan istrinya itu. Tanpa Pongki sadari, sebentar lagi, ia akan terpisah dengan Berta. Dan menghabiskan masa tuanya di dalam jeruji besi.


Dulu, Pongki bisa menghindari hukum dengan pergi menjauh dari Jakarta dan masalah hukum nya dapat di selesaikan begitu saja oleh kuasa hukum nya. Tetapi kini, jaman sudah berubah. Para oknum sudah diberantas dari kepolisian. Semua orang yang berada di tubuh kepolisian tidak akan memberinya ampun kembali. Hukum, tetaplah hukum. Yang siap menghampiri Pongki, cepat atau lambat.

__ADS_1


__ADS_2