Masteng

Masteng
145. Syarat


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Bella tercengang saat Topan menyerahkan beberapa lembar kertas yang bertuliskan persyaratan untuk menjadi istri dari anggota Polri. Bella menatap Topan dengan tak percaya.


"Sebanyak ini?" Tanya Bella.


Topan mengangguk dan tersenyum kepada Bella.


Bella kembali membaca persyaratan yang tercetak di beberapa lembar kertas yang ada di tangan nya itu.


"SKCK calon istri dan orangtua?" Bella kembali menatap Topan dengan tak percaya.


"Bagaimana dengan daddy?" Bella mulai terlihat putus asa.


Topan menghela nafas panjang dan beranjak duduk disamping Bella.


"Kita hadapi apa pun itu. Yang penting, kita berusaha dulu. Aku rasa tidak masalah mau bagaimana pun latar belakang orangtua mempelai wanita. Yang terpenting, calon istri memiliki catatan yang baik dan psikologis yang baik. Aku percaya kamu sayang," Topan mengusap lembut kepala Bella.


"Tapi, apakah nanti akan menjadi halangan?" Bella terlihat khawatir.


"Pasti menjadi pertanyaan, hanya saja kita harus berusaha meyakinkan bila kamu pantas untuk menjadi pendamping ku."


"Bagaimana bila tidak lolos?" Tanya Bella lagi.


Topan menatap Bella dengan seksama. Lalu, ia menundukkan pandangan nya.


"Bagaimana kalau tidak lolos mas?" Bella mengulang pertanyaan nya.


Topan menghela nafas panjang dan kembali menatap Bella.


"Aku yakin lolos, makanya aku minta kerja sama kamu untuk mempersembahkan yang terbaik ya sayang." Topan berusaha meyakinkan Bella.


"Yang aku tanya, kalau tidak lolos mas," Bella ngotot agar Topan menjawab pertanyaan darinya.


"Kalau tidak lolos, kita nikah siri saja. Tidak perlu tercatat. Aku hanya ingin kamu, tidak ingin ada wanita yang lain. Aku tidak peduli, aku tidak mempermasalahkan bagaimana cara kita menikah. Yang penting, kita berusaha dulu dengan jalur resmi."


Bella membalas tatapan Topan dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


"Kamu secinta itu sama aku ya mas?" Tanya Bella dengan senyum di bibirnya yang tipis.


"Apa harus di tanyakan?"


"Harus lah," Celetuk Bella.


Topan tersenyum dan mengusap lembut pipi Bella.


"Cinta banget. Kamu adalah hidupku, masa depanku, cinta pertama dan terakhir ku. Aku mencintai kamu lebih dari apapun setelah Allah dan orangtua ku. Aku menghargai kamu sebagai wanita selama ini, itu sudah satu bukti bila aku sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin merusak kamu. Aku selalu ingin melindungi kamu, itu adalah suatu bentuk rasa cinta yang tidak bisa aku jabarkan kepadamu," Jelas Topan.


Bella tersenyum, air mata menetes di pipinya.


"Jadi, berjuanglah calon istriku. Persembahkan yang terbaik. Aku akan membantu kamu berjuang. Nanti, setelah menyerahkan semua berkas, akan ada test untuk calon istri. Aku harap kamu siap dengan semuanya. Lalu, setelah tes, akan ada sidang BP4R untuk memutuskan kita bisa menikah atau tidak." Terang Topan.


"Tes? Test apa saja?" Tanya Bella.


"Tes Psikotes, Wawancara, dan Tes Kesehatan. Semua itu dilakukan untuk mengatahui sifat atau karakter calon istri."

__ADS_1


"Hmmm, apakah ada tes keperawanan?" Tanya Bella lagi.


Topan menatap Bella, lalu ia terlihat canggung dengan pertanyaan Bella.


"Jawab dong," Ucap Bella yang terlihat tidak sabar.


"Katanya begitu," Sahut Topan.


Bella terdiam.


"Memang kenapa? Apa..."


"Tidak! Aku masih perawan!" Bella langsung memotong pembicaraan.


Topan menghela nafas lega. Lalu, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu ragu mas?" Tanya Bella.


"Bu-bu-bukan begitu..."


"Aku benar-benar masih perawan, aku tidak takut untuk melakukan tes tersebut. Kamu juga akan buktikan sendiri nanti kalau kita sudah menikah," Ucap Bella.


Topan menelan salivanya dan membuang pandangannya jauh ke luar gerbang rumah Bella.


"Kok diam?"


"Mas..." Bella meraih wajah Topan agar mau menatap dirinya.


"Apa sayang..."


"Bukaaaannn... Aku percaya banget sama kamu. Hanya saja bahasa mu yang mengatakan aku bisa buktikan sendiri itu loh, yang buat aku agak malu,"


Bella terdiam mendengar penjelasan Topan. Perlahan ia melepaskan tangan nya dari wajah Topan dan mulai menyembunyikan pipinya yang merona merah.


"Habis, aku kan masih perawan,"


"Iya percaya sayangku..." Topan tertawa geli dan mengecup kening Bella.


"Ya sudah, mari kita hadapi bersama-sama. Bila memang status daddy menjadi halangan, aku akan buktikan saat tes kelayakan," Ucap Bella dengan raut wajah penuh semangat.


"Itu baru calon istriku." Topan tersenyum semringah.


...


Sudah sebulan berlalu, Berta masih saja berdiam diri di dalam kamarnya. Ia hanya keluar kamar bila ia akan pergi menjenguk Pongki. Belakangan, dirinya mengetahui bila Pongki akan dipindahkan ke Lembaga permasyarakatan Nusa Kambangan. Yang berarti, Berta akan lebih sulit lagi untuk mengunjungi Pongki. Selain jarak, penjagaan dan transportasi, Berta juga memikirkan nasib Pongki di Nusa Kambangan.


"Ya Allah..." Keluh nya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Lalu, Berta meraih foto Pongki dari atas nakas disamping tempat tidur nya.


"Sayang, semoga kamu baik-baik saja. Besok aku akan menemui kamu, sebelum kamu dipindahkan ke Nusakambangan." Gumam nya.


Rasa khawatir, putus asa dan rindu bersatu padu di hati Berta. Dipungkiri atau tidak, Berta benar-benar merasa kecewa dengan pilihan Pongki. Walaupun pada akhirnya Berta dapat memahami maksud dari keputusan Pongki yang memilih untuk menerima saja hukum untuk dirinya.


Memang benar, mungkin mendapatkan hukuman seumur hidup pun akan sia-sia bagi Pongki. Hal itu akan hanya membuat Pongki dan Berta akan semakin tersiksa. Hanya saja, hukuman mati membuat Berta shock. Karena bagaimanapun, dirinya akan kehilangan Pongki untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Kehilangan Pongki adalah hal yang paling menakutkan bagi Berta. Karena mereka pernah berjanji, bila tidak akan meninggalkan satu dengan lain nya. Meskipun kematian pasti akan menghampiri, Berta hanya ingin dirinyalah yang terlebih dahulu pergi, karena ia tidak sanggup merasa kesepian dan keterpurukan dalam kerinduan, bila Pongki mendahului dirinya.


"Aku mau aku duluan yang mati," Ucap Berta saat dirinya tidur disamping Pongki, kala Pongki masih disisinya.


"Kenapa begitu?" Tanya Pongki.


"Aku tidak sanggup bila kamu duluan yang mendahului aku. Aku takut sekali bila aku tidak kuat menjalani hari. Biar aku saja duluan ya..." Berta tersenyum dengan wajah yang terlihat sangat memohon.


"Tapi kematian itu rahasia Tuhan. Bisa saja aku yang duluan," Ucap Pongki.


"Aku memohon kepada Tuhan, bila aku saja yang duluan, dan kamu di berikan umur yang panjang. Apa kita bersama-sama saja matinya?"


"Ngawur ah," Celetuk Pongki sambil tertawa kecil.


"Beneran sayang, aku gak mau ah saat tua nanti, aku akan terus merindukan orang yang aku cintai. Aku pasti akan frustasi dan akan menginap di kuburan mu."


"Husttt... jangan ngomong begitu. Kematian akan datang kapan saja. Kita hanya mempersiapkan diri. Pun dengan yang ditinggalkan, harus siap mental dan percaya akan rencana Tuhan," Ucap Pongki.


Berta terdiam, dan menatap Pongki dengan seksama.


"Pokoknya aku hanya ingin duluan. Jangan tinggalkan aku ya. Aku gak mau,"


Pongki tersenyum, lalu ia merengkuh tubuh Berta kedalam pelukannya.


"Aku tidak bisa janji bila itu berhadapan dengan kematian. Tetapi, selama aku hidup, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku bersumpah, aku haramkan sikapku bila itu terjadi. Aku sangat mencintai kamu. Kamu adalah bintang ku, sayang.. bagaimana bisa aku meninggalkan kamu. Tetapi, kalau kematian, kita tidak bisa mengaturnya. Aku pun tidak sanggup bila kamu yang duluan. Kadang, aku berpikir lebih baik aku yang duluan meninggal."


"Kenapa begitu?" Tanya Berta.


"Alasan nya sama denganmu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Meskipun aku hidup, tetapi aku akan merasa mati," Ucap Pongki.


Berta menatap wajah Pongki, lalu ia mengusap lembut pipi Pongki.


"Semoga Tuhan merencanakan yang terindah untuk masa tua kita ya sayang,"


"Aamiin," Sahut Pongki.


..


"Tuhan, ternyata rencana Mu adalah aku terpisah seperti ini dengan Pongki, dan ternyata dia lah yang akan mendahului aku."


"Tuhan, bisakah aku duluan saja yang mati? Aku tidak kuat... Mengapa engkau memilihkan jalan seperti ini untuk ku?" Batin Berta lagi.


..


Tuhan bukan tidak mendengarkan apa pinta dari hambanya. Hanya saja, Tuhan tahu mana yang terbaik untuk hambanya.


Tetapi, apakah kisah yang buruk itu Tuhan rencanakan juga untuk kita? Mengapa?


Jawabannya Tuhan tidak pernah merencanakan yang terburuk. Hanya saja keserakahan, kelengahan, nafsu, dan lain sebagainya yang ada pada sifat manusia lah yang mengakibatkan hal buruk itu sendiri.


Contohnya, Pongki sudah pernah di tegur, dan dirinya sudah pernah lari dari masalah, hingga ia bertemu dengan Anna. Bila saja saat itu ia langsung berhenti, mungkin saja rencana masa tua nya dengan Berta akan terwujud seperti impian mereka.


Masalahnya, keserakahan dari manusia itu sendiri. Baik itu masalah materi, nafsu, cinta, dan apa saja yang terlalu di agungkan, akan berakibat buruk kedepannya.


Bukankah Tuhan sudah berkali-kali mengingatkan kita?

__ADS_1


-De'rini-


__ADS_2