Masteng

Masteng
127. Permintaan maaf Lestari


__ADS_3

Hari berganti, pagi ini terlihat langit mendung merata di seluruh Kota. Udara terasa sedikit lebih dingin dari pada pagi-pagi sebelumnya. Topan yang baru saja muncul di dapur, menatap Erna yang termenung di meja makan. Di depan Erna, terlihat susunan rantang yang siap ia bawa ke rumah sakit.


Sejak pagi-pagi sekali, Erna sudah memasak menu makanan kesukaan Amoroso. Yaitu, sup daging.


"Bu, sudah siap?" Tanya Topan yang siap untuk mengantarkan Erna ke rumah sakit. Selain mengantarkan Erna, hari ini juga hasil test DNA sudah siap untuk di ambil oleh Topan. Kebetulan, tujuan mereka ke rumah sakit yang sama.


Erna yang sedang termenung, tersentak dan menatap Topan dengan wajah yang terlihat pucat.


"Bu, ada apa?" Tanya Topan, seraya mendekati Erna yang sedang menatap dirinya.


"Ti-tidak apa-apa." Sahut Erna.


"Apa ibu sakit?" Tanya Topan yang tampak khawatir kepada Erna.


Erna menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum kepada Topan.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat bu. Aku juga harus dinas hari ini."


Erna mengangguk dan beranjak dari duduknya. Tak lupa ia membawa serta tas tangan nya dan rantang berisi makanan untuk Amoroso.


"Pan," Panggil Erna, saat Topan berjalan di depan nya.


Topan menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Erna.


"Ya bu,"


"Apakah hari ini hasil test nya keluar?" Tanya Erna dengan tatapan yang tampak gelisah.


Topan hanya mengangguk dan mencoba tersenyum kepada Erna.


"Apakah kamu akan memberitahukan hasil nya kepada bapak mu?" Tanya Erna lagi.


"Mau tidak mau, bapak berhak akan itu. Lagi pula, apa pun hasilnya, bapak tetaplah bapak ku bu," Ucap Topan.


"Tetapi... apakah..."


"Bu... aku sudah banyak berbincang dengan bapak. Beberapa hari ini kami semakin dekat. Bapak sudah siap," Potong Topan.


Erna terdiam, lalu dengan pasrah ia mau di tuntun oleh Topan menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah dinas tersebut.

__ADS_1


35 menit perjalanan menuju ke rumah sakit, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Erna. Wanita paruh baya itu terus termenung menatap jalanan yang terlihat lancar pada pagi itu.


"Bu, sudah sampai," Topan menyentuh tangan Erna yang masih termenung menatap jendela mobil itu.


"Ah iya," Erna sedikit terperanjat setelah tangan Topan menyentuh punggung tangan nya.


Mereka pun melangkah keluar dari mobil tersebut. Lalu, mereka memasuki gedung rumah sakit milik pemerintah tersebut. Amoroso di rawat di lantai 3 gedung rumah sakit itu. Dimana bangsal tersebut khusus untuk para pasien penderita penyakit jantung. Kondisi Amoroso memang membaik, tetapi bukan berarti dirinya sudah benar-benar pulih. Amoroso tetap di pasang beberapa alat medis yang menempel di tangan dan dadanya.


Saat melihat Topan dan Erna memasuki ruangan tersebut, Pinky yang sedang bertugas menjaga Amoroso tampak baru terjaga dari tidurnya. Sedangkan Amoroso, lelaki itu sedang termenung menatap ke arah jendela yang berada tepat di samping ranjangnya. Lelaki tua itu menatap langit mendung itu dengan sorot mata yang kosong.


"Pak..." Sapa Erna.


Amoroso memalingkan wajahnya dari jendela tersebut dan menatap Erna dengan tatapan yang kuyu.


"Ya," Sahut nya.


"Aku bawakan bapak sup daging. Serapan yuk," Ucap Erna seraya membuka susunan rantang yang ia bawa di atas meja.


Amoroso tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, ia menatap Topan yang berdiri di sebelah Erna.


"Tidak dinas kamu Pan?" Tanya Amoroso.


"Baik-baik dalam bertugas," Ucap Amoroso.


Topan mengangguk dan memberikan Amoroso senyuman terbaik nya. Erna yang mendengar percakapan antara Amoroso dan Topan, pun menoleh dan menatap kedua lelaki yang menjadi bagian dalam hidupnya tersebut. Lalu, tersungging senyuman di sudut bibirnya. Baru kali ini ia melihat pemandangan indah antara Amoroso dan Topan. Mungkin ini bukan pertama kalinya Amoroso bertanya kepada Topan. Tetapi, tatapan tulus Amoroso dan senyum di bibir Topan lah yang membuat pemandangan tersebut menjadi terlihat sangat indah dimata Erna.


"Baiklah, aku mau ke Lab sebentar," Ucap Topan.


"Apakah hasilnya keluar hari ini? Ini hari apa?" Tanya Amoroso.


"Iya keluar hari ini. Hari ini hari Selasa pak," Sahut Topan.


"Oh..." Amoroso mengangguk, tetapi terlihat jelas ketegangan diwajahnya. Pun dengan Erna yang mulai terlihat gelisah karena Topan membahas masalah test DNA tersebut di depan Amoroso.


"Ambil lah, bawa kemari. Aku berhak tahu,"


"Pak," Erna mulai semakin gelisah. Bukan karena kenyataan yang akan dia hadapi. Tetapi, lebih ke masalah kesehatan yang tengah di derita oleh Amoroso.


"Sudah, aku sudah siap. Topan juga tahu, apa yang aku lakukan dengan hasil yang tertulis di sana."

__ADS_1


Erna terdiam, ia menelan salivanya. Lalu, ia beranjak menyendok kan kuah sup kedalam nasi yang ia bawa di dalam wadah rantang yang tengah ia pegang.


"Ya sudah, aku ke lab dulu." Topan melangkah meninggalkan ruangan itu.


Topan berjalan di lorong rumah sakit tersebut ke lantai dasar. Dimana ruang laboratorium berada. Saat ia melangkah masuk ke dalam lift. Terlihat Lestari yang terpaku menatap dirinya. Namun, Topan berusaha biasa saja. Dengan tenang ia memasuki lift tersebut dan berdiri di depan Lestari.


Topan menekan tombol lift yang akan membawa dirinya ke lantai dasar rumah sakit itu. Lalu, ia berdiri tegak tanpa mempedulikan adanya Lestari disana. Sedangkan Lestari, gadis itu terlihat begitu malu kepada Topan. Tak ada kata yang terucap di bibirnya. Ia lebih memilih diam membisu, karena ia telah menyadari kesalahan dari kedua orangtuanya, dan kesalahan itu mampu memadamkan sisi kesombongan nya.


Ting!


Pintu lift itu terbuka, dengan santai, Topan melangkah meninggalkan lift tersebut. Di susul oleh Lestari yang ikut melangkah keluar dari lift itu. Baru saja beberapa langkah Topan melangkah, Terdengar suara Lestari yang memanggil dirinya.


"Mas Topan!"


Topan menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dimana Lestari sedang berjalan mendekati dirinya.


"Ya?"


Lestari menghentikan langkahnya tepat di hadapan Topan.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Topan.


"Hmmm, mas... aku... aku minta maaf atas kesalahan kedua orangtuaku." Terlihat wajah penuh penyesalan di wajah cantik Lestari.


Topan menghela nafas panjang dan mencoba tersenyum kepada gadis itu.


"Aku maafkan, dan jangan di bahas lagi."


Lestari menatap Topan dengan tatapan yang merasa bersalah.


"Mas, aku juga minta maaf atas segala sikap ku," Ucap Lestari lagi.


Topan mengangguk dan memasang ekspresi wajah yang datar.


"Ya... aku maafkan," Ucap Topan.


"Hmmmm, ya sudah, aku mau keruangan ku dulu. Permisi mas," Lestari tersenyum dan melangkah meninggalkan Topan.


"Ya," Sahut Topan. Lalu, Topan tersenyum melihat sisi Lestari yang kini lebih baik.

__ADS_1


-Memang, manusia tidak akan pernah merasa rendah, bila dirinya belum merasa berpijak di atas tanah.- De'rini-


__ADS_2