Masteng

Masteng
70. Penangkapan


__ADS_3

Wajah cemas terukir di wajah Topan, saat pesawat yang ia tumpangi bersama Pongki dan keluarganya hendak mendarat di Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng. Sedangkan Pongki, lelaki itu lebih banyak diam dan menggenggam tangan Berta erat-erat.


Guncangan pesawat yang baru saja rodanya menyentuh landasan membuat wajah para penumpang terlihat tegang. Terlihat seorang Marshaller, menuntun pesawat tersebut untuk parkir di tempat yang sudah di sediakan untuk nomor penerbangan tersebut.


Setelah pesawat terparkir dengan sempurna, sebuah Garbarata pun di hubungkan tepat kedepan pintu pesawat. Para penumpang pun bersiap-siap untuk mengemasi barang-barang mereka yang akan mereka bawa turun, setelah Garbarata terpasang dengan sempurna dan pintu pesawat di buka.


Seorang pramugari membuka pintu pesawat dan mempersilahkan para penumpang bisnis untuk keluar terlebih dahulu. Pongki dan keluarganya juga Topan pun beranjak meninggalkan pesawat dengan melintasi Garbarata yang langsung menghubungkan mereka ke gedung terminal.


Pongki terus menggandeng tangan Berta. Langkah kakinya terlihat sangat terburu-buru, setelah mereka hendak keluar dari terminal kedatangan domestik tersebut. Sedangkan Topan, ia mencium gelagat yang tidak biasa dari Pongki. Saat itu juga dirinya pun tahu, bila Pongki tidak berniat untuk pulang kerumah, melainkan akan bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi kepada dirinya.


Bella yang berjalan tepat dibelakang orangtuanya, tampak terlihat kerepotan dengan barang bawaannya. Saat itu juga ia menoleh kebelakang dan hendak meminta Topan yang berjalan di belakangnya untuk membantu dirinya. Tanpa ia sadari, begitu pintu terminal terbuka, Pongki sudah di cegat oleh beberapa orang polisi yang memakai pakaian bebas.


"Jo... kamu... bisa ban...... tu..." Saat itu juga Bella melihat Topan berlari dan mengacuhkan dirinya yang hendak meminta pertolongan Topan.


Mata Bella mengikuti kemana arah Topan Berlari, hingga ia melihat dengan cepat, Topan merangkul Pongki yang masih menggandeng tangan Berta.


"Pongki Susilo, anda di tangkap karena bersalah telah memproduksi obat-obatan terlarang!" Ucap Suprapto sambil mengeluarkan surat perintah yang resmi dan di tandatangani oleh atasan nya.


Semua mata tertuju kepada Pongki dan keluarganya. Sungguh hal yang sangat memalukan. Di tangkap di depan banyak pasang mata dengan kesalahan yang sangat berat, yaitu meracuni bangsanya sendiri dengan obat-obatan terlarang.


"Ti-tidak mungkin!" Ucap Pongki sambil menatap Topan yang sedang merangkul pundaknya dengan tangan Topan yang kokoh.


"Kami punya bukti-buktinya. Anda tidak bisa mengelak lagi." Tegas Suprapto.


Suprapto melemparkan borgol kepada Topan. Mau tidak mau, Topan dengan cepat menyambut borgol itu dan dirinya pun tahu apa yang harus ia lakukan.


"Bawa ke mobil," Perintah Suprapto.


"Ja-jangan bawa suami saya," Ucap Berta yang mulai menangis melihat Pongki yang siap untuk di bawa sama satuan kepolisian tersebut.


Topan menundukkan wajahnya dalam-dalam saat ia memasangkan borgol itu ke kedua pergelangan tangan Pongki.


"Topan,"


Topan terhenyak saat Pongki memanggil nama aslinya.


"Siapa pun nama mu nak, tolong, selamatkan saya," Ucap Pongki sambil terus menatap kedua mata Topan dengan air mata yang mengembang di pelupuk matanya.


"Jo... Jo... jangan lakukan ini Jo... Saya mohon..." Berta berlutut di hadapan Topan.

__ADS_1


Tubuh Topan bergetar hebat. Ia belum pernah merasakan hal ini selama ia bertugas.


Bella yang masih berada di dalam terminal pun masih terpaku melihat kejadian tersebut dari dinding kaca yang terdapat di depan pintu keluar tersebut.


"Ada apa ini?" Dengan berlari kecil, Bella keluar dan menghampiri kedua orangtuanya.


"Ada apa ini? Mam? Dad?" Tanya Bella dengan wajah yang terlihat shock. Lalu, matanya tertuju ke tangan Pongki yang sudah di pasangkan borgol oleh Topan.


"Jo... ada apa? Apa yang kamu lakukan pada daddy?" Tanya Bella.


Topan hanya mampu diam membisu.


"Topan, ayo!" Perintah Suprapto.


Lalu, dari beberapa polisi bersenjata yang menjaga kondisi agar tetap aman, berlari lah Antok mendekati Topan yang masih terdiam di depan Pongki.


"Kerja! Kerja!" Antok menepuk pundak Topan dan menarik tangan Pongki dengan kasar.


"Ayo ikut!" Bentak Antok.


Topan tampak tidak rela, Pongki di bentak dan di tarik tangan nya oleh Antok. Tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain menyandarkan dirinya sendiri, bila Pongki adalah seorang penjahat yang pantas untuk menerima hukuman nya.


"Jo, saya mohon... Lepaskan suami saya Jo....!" Berta menangis pilu. Sedangkan Topan bergeming. Matanya mulai basah dan hatinya merasa ikut hancur seperti yang dirasakan oleh Berta dan Bella.


"Kamu..." Bella berjalan pelan menghampiri Topan, suaranya bergetar seolah ia sedang menahan emosinya.


"Bella... aku..."


"Jo! Ayo! Biar mereka si Antok yang urus." Ucap Suprapto.


Topan menatap Suprapto dan mengangguk pelan. Lalu, ia berusaha membantu Berta untuk berdiri.


"Jo... saya mohon..." Ucap Berta lagi.


"Ada apa? Kenapa Daddy di tangkap? Jadi selama ini.. kamu.." Bella mulai menangis, tatapan nya kepada Topan, seakan ia tidak menerima kenyataan yang terjadi.


"Bu Berta, Nona Bella, saya minta maaf," Ucap Topan. Lalu, dengan hati yang tegar, Topan pun beranjak dari hadapan mereka berdua.


"Jo!" Panggil Berta.

__ADS_1


Topan bergeming, ia kembali ke kesatuan nya yang telah sukses meringkus Pongki tanpa adanya perlawanan sedikitpun. Tentu saja, itu semua berkat Topan yang bekerja keras mencari bukti kejahatan Pongki.


"Daddy!" Pekik Bella, gadis itu berlari mengejar Pongki yang di giring menuju mobil yang sudah siap untuk membawa lelaki paruh baya itu ke kantor polisi.


"Bella... maafkan daddy."


"Apa yang terjadi? Daddy salah apa?" Tanya Bella yang tampak tak terima dengan apa yang terjadi.


"Daddy pantas mendapatkan ini semua. Maafkan daddy,"


"Masuk!" Perintah Suprapto.


Dengan tubuh yang gemetar, Bella mencoba menahan Pongki untuk tidak di bawa oleh para petugas kepolisian tersebut.


"Jangan bawa daddy saya! Jangan ada yang berani menyentuh daddy saya!" Ancam Bella.


"Anda tahu, daddy anda telah merusak generasi muda! Dia telah membangun dan memproduksi obat-obatan terlarang! Seharusnya anda jangan melindunginya, karena semua ada pasal dan hukumnya!" Suprapto tidak mau kalah dengan Bella yang terus mencegah jalan nya operasi penangkapan tersebut.


Bella terdiam, ia baru tahu kasus apa yang membelit Pongki, hingga Pongki harus di tahan oleh yang berwajib.


"Dad... jadi.." Bella tampak semakin shock dengan kenyataan.


"Maafkan daddy..." Pongki menundukkan wajahnya dan beranjak masuk kedalam mobil setelah di tuntun oleh Suprapto.


"Pongki....!" Berta mengetuk-ngetuk kaca mobil yang siap untuk membawa Pongki.


"Sudah Ibu, ibu dan mbaknya ikut kami juga ke kantor. Tetapi, memakai mobil yang disana. Tenang saja, bapak tidak akan kenapa-kenapa." Antok mencoba menenangkan Berta dan Bella.


Saat itu juga, Topan berjalan di depan Bella dan membuka pintu mobil dari sisi lain, dengan wajah yang tegas tanpa senyum sedikitpun. Tidak terlihat lelaki polos bernama Paijo lagi di wajah itu. Yang terlihat hanya seorang lelaki yang sedang menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.


"Jo...!" Berta masih berusaha meminta Topan untuk membantu dirinya untuk melepaskan Pongki. Tetapi, Topan seperti tidak mendengarkan Berta. Lalu, Topan beranjak masuk dan duduk disebelah Pongki.


"Jo! Pongki!" Berta terus mengetuk kaca jendela mobil itu. Tetapi, apa pun yang ia lakukan, tidak akan mencegah pihak kepolisian untuk membawa suaminya hingga dikurung di dalam bui.


Saat itu juga, cita-cita masa tua yang menjadi impian Pongki dan Berta pupus. Tangis menghiasi wajah Berta saat melihat mobil yang membawa suaminya itu mulai bergerak meninggalkan dirinya, tanpa mampu ia cegah.


Sedangkan Bella, ia berusaha menenangkan Berta. Memeluk wanita paruh baya yang sedang rapuh tersebut. Membisikan kalimat yang mungkin saja dapat menenangkan Berta. Namun semua sia-sia, Berta tak kuasa menahan rasa kecewanya. Wanita itu pun ambruk bersama dengan impian nya.


"Mam...! Mam!" Terdengar samar suara Bella memanggil Berta. Hingga suara itu menghilang dari telinga Berta.

__ADS_1


__ADS_2