Masteng

Masteng
133. Air kehidupan


__ADS_3

Dreeeettt...! Dreeeettt...!


Ponsel milik Topan, berdering saat ia sedang asik berbincang bersama Bella. Topan melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Bella dan melihat layar ponselnya.


Guntur


Topan mengerutkan keningnya, lalu ia kembali mengantongi ponselnya.


"Angkat saja," Pinta Bella.


"Tidak usah, nanti akan aku hubungi dia kembali, setelah aku antar kamu pulang."


"Kenapa begitu?" Tanya Bella yang terlihat bingung dengan jawaban Topan.


"Tidak apa-apa. Paling dia ingin menitip sesuatu. Gampang lah, nanti aku hubungi dia."


"Dia siapa?" Tanya Bella lagi.


"Guntur, adik ku."


"Oh.." Bella mengangguk paham.


Dreeeettt...! Dreeeettt...!


Ponsel Topan kembali berdering.


"Di angkat saja, mana tahu ada sesuatu yang penting," Ucap Bella.


Topan menghela nafas panjang dan meraih ponselnya dengan malas.


"Sebenarnya aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat bersama dengan kamu. Tapi, ya sudahlah. Sebentar ya.. " Topan tersenyum dan menerima panggilan tersebut.


"Halo Gun," Sapa Topan, saat ia baru saja mengangkat panggilan tersebut.


"Halo kak, kakak dimana?" Di ujung sana, terdengar suara guntur yang serak. Serta suara isak tangis di sekitar Guntur.


"Sedang di luar, kenapa? Itu siapa yang nangis?" Tanya Topan.


"Ibu dan Pinky, kak."


"Loh memang ada apa?" Ekspresi wajah Topan mulai tampak khawatir.


"Bapak kak,"


"Bapak kenapa?" Topan beranjak dari duduknya, terlihat ia benar-benar khawatir dengan Amoroso.


"Bapak sudah tiada."


Degggggg...!


"Maksudmu?" Tanya Topan.


"Bapak meninggal dunia kak,"


Topan kembali terduduk di kursinya, saat ia mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Guntur.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.." Ucap Topan dengan terbata.


Mendengar Topan mengucapkan istirja', Bella pun mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Siapa yang meninggal?" Tanya Bella.


Topan masih terdiam, ia tidak mempedulikan pertanyaan dari Bella.


"Ok, kakak akan kesana," Ucap Topan untuk mengakhiri percakapan antara dirinya dan Guntur.


"Siapa yang meninggal mas?" Tanya Bella lagi.


Topan menatap Bella dengan wajah yang pucat. Lalu, ia beranjak dari duduknya.


"Bapak ku meninggal. Ayo, ikut dengan ku ke rumah sakit," Ucap Topan.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.." Bella tidak kalah terkejutnya dengan Topan. Lalu ia ikut beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Topan.


"Aku turut berdukacita ya mas," Ucap Bella.


"Terima kasih, ayo kita jalan sekarang,"


Mereka berdua pun meninggalkan restoran tersebut.


.


.


.


.


Suasana duka menyelimuti keluarga, kenalan dan anak buah Amoroso yang sudah mulai berdatangan ke rumah sakit. Mereka semua berdatangan tanpa di undang. Mereka berniat membantu segala proses pemulangan jenazah ke rumah duka. Sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka kepada sang Jenderal.


Para awak media pun mulai berdatangan untuk mencari tahu tentang penyebab kepergian dari seorang Jenderal yang baik hati tersebut.


Mobil Topan memasuki halaman rumah sakit. Lalu, ia langsung keluar dari mobilnya setelah mobil tersebut ia parkir kan di halaman parkir yang berada tak jauh dari lobby rumah sakit tersebut. Bersama Bella, Topan berjalan menerobos para wartawan yang sedang berkerumun di depan lobby, untuk dapat masuk dan ke dalam rumah sakit itu.


"Bella, ada apa dia kesini? Siapa yang menggandeng tangan nya?" Bisik seorang wartawati yang menyadari bila itu adalah Bella.


"Mbak Bella," Panggil wartawati itu.


Seluruh mata menatap Bella yang hampir saja lolos dari kerumunan wartawan tersebut.


"Mbak Bella, ada apa kesini? Apakah bapak Pongki masuk rumah sakit?"


"Atau mbak Bella mau melihat almarhum bapak Amoroso?"


"Mbak Bella, ini pacarnya ya?"


Bella diam saja, ia tidak mempedulikan pertanyaan dari para wartawan. Bella hanya sempat melemparkan senyuman tipis nya kepada para pencari berita tersebut.


"Mbak Bella...! Kasih keterangan dong," Ucap mereka lagi, diiringi dengan kilat cahaya dari kamera para wartawan di sana.


Bella tetap bergeming. Ia terus melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit itu dengan masih bergandengan tangan dengan Topan.


Beberapa orang anak buah Amoroso memberikan hormat kepada Topan, saat melihat kehadiran Topan disana. Begitupun sebaliknya. Topan memberikan hormat kepada orang-orang yang berada di atas pangkat nya. Lalu, Topan melangkah mendekati Erna yang sempat terpaku saat melihat Topan datang membawa seorang wanita. Terlebih, Erna dan semua yang berada disana semakin terkejut saat menyadari wanita tersebut adalah Bella, anak dari Pongki Susilo, sang narapidana narkoba yang namanya sedang dibicarakan di mana-mana.


"Bu," Topan melepaskan tangan nya dari tangan Bella, lalu ia memeluk Erna dengan erat.


Erna yang tampak lelah, membalas pelukan Topan dan mulai kembali menangisi kepergian Amoroso.


"Bapak mu le... bapak mu.."

__ADS_1


"Iya bu, Topan tahu," Topan tampak meneteskan air mata.


"Sekarang bapak dimana?" Tanya Topan.


"Bapak sedang di persiapkan untuk di mandikan dan di kafan kan, kak," Ucap Guntur.


"Di ruang ini?" Tanya Topan, seraya menunjuk kamar jenazah tersebut.


"Iya." Sahut Guntur.


Topan mengangguk paham dan langsung menatap Bella.


"Kamu tunggu disini ya, aku mau masuk sebentar," Ucap Topan.


Bella pun mengangguk mengerti dan membiarkan Topan memasuki ruangan tersebut. Setelah Topan masuk ke ruang jenazah, Bella mulai merasa asing setelah semua orang yang berada disana menatap dirinya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Termasuk Erna yang sedang menatap dirinya.


Menyadari ia belum memperkenalkan diri kepada Erna, Bella pun melangkah mendekati Erna.


"Bu, saya turut berdukacita," Ucap Bella.


"Terima kasih," Sahut Erna dengan nada suara yang terdengar dingin. Lalu, Erna terlihat tidak tertarik untuk mengenal Bella. Ia langsung kembali mengusap air matanya di dekapan Guntur. Bella hanya bisa memberikan senyuman kepada setiap orang yang sedang menatap dirinya. Lalu, ia bersandar di dinding lorong tersebut.


...


Topan melangkah pelan saat mendekati tubuh kaku Amoroso yang sedang dimandikan oleh petugas rumah sakit. Matanya terus tertuju ke wajah Amoroso yang sudah pucat. Saat itu juga Topan tidak kuasa menahan tangisannya. Ia terisak di depan jenazah Amoroso.


"Pak, kenapa bapak tinggalkan aku?" Ucap Topan di sela isak tangis nya.


"Bapak anak nya bapak Amoroso?" Tanya petugas yang sedang memandikan Amoroso.


"Iya pak," Sahut Topan.


"Mau ikut memandikan?" Tanya Petugas itu lagi.


Topan tertegun,


"Kalau tidak bisa, biar saya tuntun beserta doa-doanya." Petugas itu mencoba meyakinkan Topan.


Topan mengangguk dan mengusap air matanya.


"Siap ya pak? Pertama kita membaca doa terlebih dahulu. Ikuti saya ya pak," Pinta petugas tersebut.


Topan hanya mengangguk dan mulai mengangkat kedua telapak tangannya.


"Nawaitul gusla adaa-an 'an haadzihil mayyitati lillaahi ta'aalaa," Petugas itu menuntun Topan untuk membaca doa memandikan jenazah.


Topan mengikuti doa tersebut sambil terus meneteskan air mata dukanya.


"Baik, setelah itu, siram bagian kepala terlebih dahulu, hingga ujung kaki. Siram sebelah kanan dahulu ya pak, lalu kiri masing-masing tiga kali."


Topan mengikuti ucapan petugas tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bagaimanapun, kehilangan Amoroso adalah hal terberat untuk dirinya. Walaupun Amoroso tidak pernah mempedulikan dirinya. Hanya saja, kenangan mereka berbincang berdua saat pertama kali Amoroso meminta maaf kepada dirinya, sangat membekas di hati Topan.


Setidaknya Topan tahu, jauh di lubuk hati Amoroso, sebenarnya lelaki itu sangat mencintai dirinya. Memperhatikan dirinya dan sudah sangat berjasa untuk dirinya selama ini.


"Pak, walaupun aku belum sempat mengatakan ini. Tetapi, aku ingin bapak tahu, kalau aku sangat berterima kasih, karena bapak sudah menjadi bapak ku. Terima kasih pak, karena kemarin bapak sempat mengatakan apa yang ada di hati bapak. Pak, aku sangat menyayangi bapak," Ucap Topan di dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


.


Darah memang lebih kental dari pada air. Tetapi, air adalah juga bagian dari kehidupan. Darah ibaratkan gen yang diwariskan dari manusia kepada keturunan nya, dan itu tidak akan bisa di ganggu gugat. Namun air... air ibaratkan hati nurani dan kasih sayang. Yang bisa dirasakan dan di berikan kepada siapa saja, walaupun tidak memiliki setetes pun ikatan darah. -De'rini-


__ADS_2