
Bella dan Berta kembali ke mobil milik Topan. Setelah mereka berpisah dengan Pongki yang hanya diberikan waktu 15 menit saja untuk bertemu dengan Bella dan Berta. Bella yang duduk di balik kemudi, menghela nafas panjang. Lalu, ia menatap Berta yang tersenyum kepada dirinya.
"Syukurlah, akhirnya kita bisa berfoto bersama dengan daddy mu hari ini," Ucap Berta.
Bella tersenyum lebar dan menatap foto dirinya dan kedua orangtuanya di layar ponselnya.
"Kamu hebat Bella,"
Bella menatap Berta, dan menghela nafas panjang. Lalu, ia tersenyum manis kepada Berta.
"Karena aku lahir dari rahim wanita yang luar biasa," Ucap Bella.
Berta menitikkan air mata haru, lalu ia memeluk Bella dengan erat.
"Mami kuat, karena ada kamu nak," Bisik Berta.
Bella menatap Berta, dan mengecup kedua pipi Berta dengan lembut.
"Terima kasih mami. Kita kembali pulang ke rumah ya. Kasihan Topan menunggu."
"Bel,"
"Ya mam?"
"Tidak salah daddy mu meminta Topan menjaga kita."
Bella yang hendak menyalakan mesin mobilnya pun, mengurungkan niatnya dan menatap Berta dengan seksama.
"Kenapa begitu mam?"
"Hadirnya daddy mu, mungkin saja karena Topan yang memintanya."
Bella terdiam.
"Siapa yang tahu kamu akan wisuda hari ini, selain Topan?"
Bella tampak berpikir, ada benarnya apa yang dikatakan Berta.
Lalu, matanya tertuju pada buket bunga dan boneka beruang yang berada di pangkuan Berta. Tadi, saat memasuki aula, Bella sempat menitipkan buket bunga dan boneka itu kepada Berta. Lalu, ia meraih buket bunga dan boneka itu, dan memperhatikan nya dengan seksama.
"Kira-kira ini punya siapa ya mam? Kok di buang?"
"Coba lihat saja, apakah ada kartu ucapan nya?"
Bella memperhatikan sebuah kartu yang terselip diantara bunga-bunga indah yang tersusun rapi. Lalu, ia meraih kartu tersebut dan membukanya dengan perlahan.
__ADS_1
"Happy graduation Bella. Semoga ilmu yang kamu dapatkan, akan bermanfaat bagi dirimu dan sesama. Aku tidak pandai merangkai kata-kata yang indah. Aku hanya bilang, aku sangat mencintai kamu dan merasa bangga dengan apa yang telah kamu raih. -Topan-"
Bella terbelalak, ia menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan nya.
"Ada apa Bella?"
"Mam, ini dari Topan. Mengapa dia buang?"
Berta merasa penasaran. Lalu, ia meraih kartu ucapan itu dari tangan Bella. Setelah ia membacanya, ia pun merasa terkejut, memang benar itu dari Topan. Tetapi, mengapa Topan membuang nya?
"Mungkin, dia terburu-buru hendak menyusul kita. Atau juga dia merasa terkejut saat menerima telepon dari kamu Bell,"
Bella terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan Berta. Dikala orang yang baru saja menerima berita yang membuatnya panik, maka seseorang tidak akan mempedulikan apa saja.
Perlahan Bella tersenyum, ia baru menyadari bila Topan begitu mencemaskan dirinya. Hingga bunga dan boneka yang harusnya Topan berikan kepada dirinya, terjatuh di halaman kampus itu.
"Ah... Topan... kamu... ah... tiada kata yang bisa menggambarkan dirimu. Kamu... aku sangat mengagumi kamu.. kamu benar-benar lelaki yang luar biasa," Batin Bella.
"Ayo kita pulang mam," Ucap Bella dengan wajah yang semringah. Lalu, ia menyalakan mesin mobil milik Topan dan beranjak meninggalkan kampus itu.
..
Topan tersenyum puas, saat ia mendapatkan foto Bella dan kedua orangtuanya dari Antok. Antok mengirimkan foto tersebut kepada Topan , sesaat setelah ia mengabadikan momen penting tersebut.
Topan kembali tersenyum saat melihat senyum lebar di wajah Bella. Hingga ia memperbesar foto tersebut dan menatap wajah Bella dari layar ponselnya.
"Hai cantik, semoga ini menjadi kado terbaik mu. Maaf, aku tidak bisa menghadiri acara wisuda mu." Batin Topan.
Beberapa petugas dari penyitaan sudah selesai melakukan tugas mereka. Topan yang sedang duduk di beranda rumah, menatap mereka satu persatu.
"Terima kasih pak Topan," Ucap salah satu petugas.
Topan tersenyum tipis dan mengangguk dengan perlahan.
"Kami harap, dalam waktu dua kali dua puluh empat jam, keluarga Pongki dapat keluar dari rumah ini. Tolong disampaikan pada mereka ya pak."
Topan tertunduk lesu, dua kali dua puluh empat jam? Akan kemana dan dimana Bella dan Berta tinggal?
"Baik," Topan mengangguk dan mengusap wajahnya dengan gusar.
Setelah itu, tidak banyak yang dapat Topan lakukan. Ia hanya mampu memandangi kepergian orang-orang dari pihak penyitaan itu pergi.
Kini, Topan terduduk lemas di tangga beranda rumah mewah milik Pongki itu. Lalu, ia termenung memikirkan nasib Bella dan Berta.
Hampir semua aset milik Pongki di sita. Mulai dari mobil, rumah beserta isinya, kecuali pakaian. Serta beberapa villa dan apartemen milik Pongki. Juga bisnis yang Pongki miliki. Semua di anggap sebagai hasil dari bisnis haram tersebut. Sedangkan bisnis lain nya disita, dianggap sebagai aset yang di gunakan untuk kedok dan pencucian uang yang telah Pongki lakukan.
__ADS_1
Semua sudah sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku. Topan tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut merasa prihatin dengan keadaan saat ini.
"Dua kali dua puluh empat jam, apa aku bisa mencarikan tempat tinggal untuk mereka?" Topan menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian, mobil milik Topan yang dikendarai oleh Bella pun memasuki halaman rumah tersebut. Baru saja mobil itu terparkir, Bella langsung bergegas turun dan berlari kearah Topan. Topan beranjak berdiri dan menatap Bella yang tampak semringah, tetapi dengan mata yang tampak sembab.
"Topan!" Bella menabrak tubuh Topan dan memeluknya dengan erat.
Topan terdiam, lalu dengan ragu ia membalas pelukan Bella.
"Bagaimana? Semua berjalan lancar?" Tanya Topan.
"Terima kasih. Iya semua berjalan dengan lancar, semua karena kamu. Terima kasih Topan, kamu mengizinkan daddy datang ke acara itu. Terima kasih juga untuk bunga dan boneka nya."
Topan terdiam, ia baru mengingat tentang buket bunga dan boneka beruang yang terjatuh tak jauh dari halaman parkir di kampus Bella.
"Bu-bunga dan boneka?" Tanya Topan dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
"Iya," Bella melepaskan pelukannya dan berlari ke arah berta yang baru saja keluar dari mobil itu, dan mengambil buket bunga dan boneka beruang itu dari genggaman Berta.
"Ini untuk ku bukan?" Tanya Bella sembari memamerkan bunga dan boneka itu.
Topan tersenyum dan menundukkan pandangan nya.
"Terima kasih, ini indah.. walaupun... aku memungutnya dari atas tanah."
Topan tertawa lebar, lalu ia menatap kedua bola mata indah Bella.
"Happy graduation sayang," Ucap Topan, lalu ia mengecup kening Bella dengan lembut.
"Terima kasih," Bisik Bella.
"Mam, tolong foto kan aku dan Topan ya.." Pinta Bella. Lalu, ia menyerahkan ponselnya kepada Berta.
Berta tersenyum lebar, dan dengan senang hati ia meraih ponsel milik Bella dari tangan gadis itu, dan mencoba mengabadikan momen Bella yang masih memakai jubah toga nya, untuk berfoto dengan Topan di depan rumah yang sebentar lagi tidak lagi milik keluarga Pongki.
"Satu, dua, tiga... cheese...!" Seru Berta.
Topan dan Bella tersenyum lebar. Beberapa pose pun mereka abadikan. Mulai dari saling bertatapan, tersenyum lebar menatap kamera, hingga Topan menggendong Bella yang tertawa lebar kearah kamera.
"Tuhan, mungkin engkau sengaja mempertemukan kami dengan Paijo, masteng, Topan, atau siapapun namanya saat bertugas. Agar daddy bisa kembali ke jalan yang benar. Agar mami dapat mengerti, betapa daddy memperjuangkan dirinya dan bersusah payah untuk dapat memilikinya dan bersama dengan nya. Agar aku, lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan. Walaupun inu terlalu berat."
"Tuhan, aku yakin, rencana yang telah engkau garis kan untuk ku dan keluarga ku, itu adalah yang terbaik, aku ikhlas. Dan... terima kasih Tuhan... Engkau mengirimkan orang hebat ini, lelaki terbaik ini untuk ku saat aku menjalani hal terberat dalam hidup ku. Tuhan, aku mohon... jadikanlah dia milik ku selamanya. Hingga maut memisahkan aku dan dia. Dia, Topan... lelaki yang luar biasa ini."
Bella tersenyum bahagia di dalam pelukan Topan.
__ADS_1