
Pagi-pagi sekali, Topan sudah hendak berangkat bekerja. Tidak lupa, ia memasukkan beberapa pakaian nya di dalam sebuah koper kecil miliknya, untuk ia bawa ke rumah Bella. Saat Topan baru saja keluar dari kamarnya, sorot mata Erna dan kedua adiknya membuat Topan sedikit grogi.
"Pagi," Sapa nya, saat ia melangkah ke ruangan makan.
"Pagi le," Sahut Erna.
"Mau kerja apa vocation kak?" Tanya Guntur.
Topan mendehem, lalu ia menarik kursi dan duduk tepat di depan Guntur.
"Mau kerumah istri." Celetuk Topan.
Guntur dan Pinky hanya tersenyum menanggapi ucapan Topan.
"Jadi, mulai malam ini kamu menginap dirumah Bella?" Tanya Erna.
"Iya bu, kasihan mereka, tidak ada lelaki di rumah nya. Mereka hanya berdua saja," Ucap Topan.
"Kasihan atau kangen sama kak Bella?" Tanya Pinky dengan ekspresi wajah yang meledek.
"Apaan sih," Topan bersungut-sungut sambil meraih gelas kosong dan menuangkan air putih kedalam gelas itu. Lalu ia meneguk air tersebut hingga habis.
"Jangan godain kakak mu terus kenapa sih?" Erna mencoba membela Topan.
"Gal bisa begitu bu, sebentar lagi juga giliran ibu," Celetuk Pinky.
Erna yang sedang menyendok nasi, menatap Pinky dengan tatapan yang salah tingkah.
"Iya, ibu sama baba kapan menikah?" Tanya Guntur.
"Hmmmm.."
"Lebih cepat lebih baik loh bu," Goda Topan.
"Kalian ini benar-benar ya sama orang tua!" Sekarang giliran Erna yang bersungut-sungut.
"Cieeeee ibu...."
"Apa sih!" Erna terlihat kesal melihat tingkah ketiga anaknya.
"Jadi, dari kantor kamu langsung pulang ke rumah Bella?" Erna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya bu, kenapa bu? Ibu mau diantarkan kemana? Atau ibu mau ditemani?" Tanya Topan.
"Ah, tidak.. Malam ini baba mau bertamu ke rumah kita."
"Cieeeeee!" Seru Pinky, Guntur dan Topan.
"Tuh kan... kalian ini... Ya sudah, ibu tidak menerima baba deh!" Ancam Erna.
"Eh, jangan dong bu... duh malah ngambek..." Pinky terlihat merasa bersalah.
"Lagian, kalian itu kurang ajar, sama orang tua di cieee! cieeee in!" Protes Erna.
"Iya, tidak lagi deh.." Ucap Pinky.
Erna pura-pura merajuk dengan mengerutkan dagunya.
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya," Ucap Topan yang baru saja menyelesaikan sarapan nya.
"Cepat sekali makan nya sih kak?" Tanya Guntur.
"Wah, kalau kamu ikut pendidikan Polisi. Durasi makan pun diatur, bisa lebih cepat dari ini." Ucap Topan, seraya beranjak dari duduknya dan mengecup punggung tangan Erna.
__ADS_1
"Hati-hati ya le, salam untuk mertua dan istri mu,"
"Iya bu." Sahut Topan.
"Dah, jaga diri kalian baik-baik dan jaga ibu," Ucap Topan kepada kedua adiknya.
"Iya kak," Sahut Pinky dan Guntur.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Topan pun pergi meninggalkan rumah peninggalan kakeknya yang kini ditempati oleh Erna dan kedua adiknya.
..
Dringgggggg!
Bunyi alarm yang terletak di meja kerja Bella, membuyarkan lamunannya. Pagi ini ia ada jadwal mengajar di kampus. Bella mengusap kedua matanya yang terasa perih, karena dirinya kurang tidur tadi malam. Bagaimana tidak, Bella sampai dirumahnya pukul satu malam. Setelah ia membersihkan tubuhnya dan memakai skincare, Bella tidak kunjung dapat tertidur karena ia masih belum percaya bila dirinya kini sudah menjadi seorang istri. Setelah melaksanakan sholat subuh, barulah Bella dapat tertidur selama satu jam dan langsung bersiap-siap untuk pergi mengajar di bekas kampusnya ini.
Bella beranjak dari duduknya dan membawa beberapa buku yang menjadi materi mengajar nya di kelas nanti. Lalu ia beranjak ke kelas dan menyapa para mahasiswa dan mahasiswinya yang sudah menantikan kehadiran dirinya.
Selama satu bulan lebih Bella mengajar di kelas ini, Bella sudah menjadi dosen favorit para mahasiswa dan mahasiswi nya. Karena, Bella mengajar bagaikan seorang sahabat dan tidak kaku. Selain itu, Bella sangatlah cantik, maka ia langsung menjadi dosen favorit dikalangan mahasiswa.
"Selamat pagi," Sapa Bella.
"Pagi bu Bell..!" Sahut para mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya.
Bella beranjak duduk di kursinya dan termenung disana. Di benaknya terus muncul bayangan Topan. Lelaki yang menikahinya kurang dari 24 jam yang lalu.
"Huffffff... Menikah tapi, rasanya tidak seperti habis menikah. Aku masih belum percaya dia sudah menjadi suamiku. Bagaimana bila malam ini dia benar-benar datang ke rumah ya?" Batin Bella.
"Hmmmm, apa aku suruh dia tidur di lantai atas? Tapi, apa pantas? dia kan suamiku? Tapi aku takut. Bagaimana ini?" Batin nya lagi.
"Apa begadang saja ya? Aku ajak main monopoli atau ular tangga sepertinya seru..."
"Tapi, apa mas Topan mau? Apa yang ada dipikiran mas Topan ya?" Bella terus membatin tentang apa yang akan ia lakukan dengan kehadiran Topan malam ini di rumahnya.
"Bu Bell..!" Panggil seorang mahasiswa.
"Menurut mu aku harus apa?" Tanya Bella sambil menatap mahasiswa yang baru saja memanggil dirinya.
"Hah?" Mahasiswa itu mengerutkan keningnya dan menatap Bella dengan tatapan yang bingung.
Tidak hanya mahasiswa tersebut, Bella pun juga terlihat bingung dan menatap para mahasiswa dan mahasiswi nya.
"Maksudnya bu?" Tanya mahasiswa itu.
"Eh, saya tadi bilang apa?" Tanya Bella.
Semua yang berada di ruangan pun ikut bingung.
"Tadi ibu bertanya, ibu harus apa? Kan ibu harus mengajar." Terang mahasiswa itu.
Bella langsung memicingkan matanya dan menghela nafas panjang.
"Astaghfirullah! Aku kenapa?" Batin nya.
...
Pun dengan Topan yang sedang berada di kantornya. Pagi ini dirinya sedang duduk di ruangan nya sambil mengirim pesan kepada Bella. Karena tidak kunjung di balas, Topan meletakkan ponselnya dan meraih gelas kopinya yang terletak di atas meja.
Antok yang baru saja datang langsung tertawa melihat wajah Topan yang tampak tidak bersemangat.
__ADS_1
"Kenapa kau?" Tanya Antok.
Topan melirik Antok dan menggelengkan kepalanya dengan tidak bersemangat.
"Malas kau kerja ya? Bawaan nya pengen anu-anu ya?" Kedua alis Antok naik turun seiring dengan tawa nya yang khas.
"Apaan sih," Topan meletakkan gelas kopi nya dan kembali memperhatikan ponselnya.
"Kenapa kau? Gelisah ya kau?"
"Enggak, santai saja," Sahut Topan.
"Alah.... eh, begini..." Antok beranjak mendekati Topan.
"Apaan?" Topan sedikit malas menanggapi Antok yang terus cengengesan saat menatap dirinya.
"Ngomong-ngomong, aku kan belum kasih kau kado. Karena aku sahabat kau yang baik hati, ha... aku kasih kau kado. Sebentar..." Antok bergegas membuka tas nya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran 15 x 20 sentimeter.
"Nah... happy wedding sahabat ku!" Ucap Antok dengan bersemangat.
"Apa ini?" Tanya Topan.
"Simpan, kau membutuhkan nya sobat!"
"Jangan aneh-aneh kau ya Antok.." Ucap Topan seraya hendak membuka kotak tersebut.
"Jangan sekarang lah, tidak sopan buka kado di depan orangnya." Cegah Antok.
"Terus, kapan?" Tanya Topan dengan ekspresi wajah yang terlihat polos.
"Kau ini, kek orang bodoh. Nanti lah, di rumah mu. Cemana nya kau. Sudah, aku mau patroli dulu. Awas kalau kau buka ya.. Gak ridho aku, ku sumpahi durasi mu sebentar kalau kau berani membuka kadonya disini!" Ancam Antok.
"Kurang ajar!" Topan meraih tutup gelas dan melemparkan nya ke arah Antok.
"Huahahahahahhahaa...! Gak kena... gak kena!" Seru Antok seraya berlari keluar ruangan itu.
"Dasar kamprettttttttt...! Bajingaaaannn!" Maki Topan. Lalu ia menatap kotak kado tersebut, dan bergegas untuk membukanya. Tetapi, baru saja Topan menyentuh tutup kado tersebut. Tiba-tiba terdengar lagi suara Antok,
"Ayoooo, ku sumpahi kau ya... ku sumpahi..!"
Topan terkejut dan mencari sosok Antok yang sedang mengintip dari balik jendela ruangan itu.
"Bajingannnnnn!" Maki Topan.
"Huahahahahahhahaa...!" Antok kembali berlari dan tertawa terbahak-bahak.
Topan sudah tidak bersemangat untuk membuka kotak kado itu. Lalu, ia meraih kotak kado itu dan menyimpan nya kedalam tas miliknya.
"Gimana ya nanti malam? Bagaimana cara masuk ke kamar nya?" Batin Topan.
"Assalamualaikum, Bell aku tidur disini ya.." Topan memperagakan cara ia meminta izin untuk tidur dikamar Bella.
"Ah bukan, bukan begitu," Topan menggelengkan kepalanya.
"Aku masuk saja ke kamarnya, seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu, tidur di sampingnya. Begitu kali ya?"
"Ah, tidak sopan...!" Topan kembali menggelengkan kepalanya.
"Bella, ayo tidur..." Topan kembali memperagakan cara dirinya membujuk Bella untuk dapat tidur di kamar istrinya itu.
"Ah.. dia pasti shock." Topan meremas rambutnya.
"Apa menunggu mami tidur, terus aku menyelinap diam-diam ke kamar Bella? Arghhhhhhh..! Ya Allah.. ini lebih sulit dari pada bertahan hidup di hutan!" Keluh Topan.
__ADS_1