
Bella berjalan dengan perut yang membuncit sambil membawa buket bunga yang sedang ia peluk erat dan meletakkan nya di atas meja sebuah kamar yang telah di dekorasi dengan indah oleh dirinya dan Pinky. Lalu Bella berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar di kamar itu dan menatap ke luar jendela, mencoba menikmati suasana di rumah tersebut.
Ya, rumah itu adalah rumah Galang. Yang sengaja di beli oleh Galang untuk dirinya tempati bersama dengan Erna. Dan kini, rumah tersebut juga menjadi saksi bersatunya cinta Erna dan Galang dalam ikatan yang halal. Hari ini adalah hari pernikahan Galang dan Erna.
Rumah bergaya villa dengan satu lantai itu dibeli oleh Galang dua bulan yang lalu. Setelah di renovasi, sembari mempersiapkan pernikahan dirinya dan Erna, Galang juga sudah mengurus segala urusan nya untuk pensiun dan meninggalkan Kota Pekanbaru, dan kini Galang sudah pensiun dan baru menempati rumah itu selama Beberapa hari. Dibantu oleh Topan dan beberapa pekerja, Galang mengisi dan menata setiap sudut ruangan yang akan dia tempati bersama dengan pujaan hatinya, untuk melewati masa tua mereka bersama.
Dilain ruangan, Erna tengah di dandani oleh seorang penata rias dan busana pengantin. Layaknya seseorang yang baru merasakan pernikahan, Erna terlihat sangat grogi sekali. Pernikahan ini seperti pernikahan pertamanya. Dulu, saat ia menikahi Amoroso, dirinya seperti tidak merasakan kebahagiaan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Sangat berbeda dengan kali ini, seluruh tubuhnya bergetar karena menahan perasaan yang sangat sulit untuk ia gambarkan.
"Ibu cantik sekali," Ucap Bella yang baru saja memasuki ruangan tempat Erna di rias. Disana sudah ada Berta yang sedari tadi berbincang dengan Erna, untuk mengusir perasaan grogi yang tengah Erna rasakan.
"Terima kasih menantuku yang cantik," Sahut Erna seraya mengusap lembut perut Bella yang terlihat sangat buncit.
"Bulan depan kita akan menjadi nenek loh jeung," Ucap Erna lagi seraya melirik kearah Berta.
"Iya jeung, kita pasti bahagia banget. Sudah lama tidak menggendong anak kecil," Sahut Berta dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat bersemangat.
"Iya ya... Saya tidak sabar. Saya juga merasa malu, untung saja cucu belum lahir. Kalau sudah lahir, saya semakin malu. Kok nenek nya baru menikah. Hahahahaha!" Erna tertawa geli, di susul oleh Berta yang juga tertawa geli mendengar ucapan Erna yang terdengar konyol di telinganya.
"Gak apa toh, wong nenek nya masih terlihat muda. Yang penting bahagia jeung. Hidup bersama dengan orang yang kita cintai itu luar biasa sekali,"
Erna menghela nafas panjang, dan menatap Berta dengan seksama.
"Jeung, bagaimana dengan mas Pongki?" Tanya Erna.
Berta terdiam beberapa saat, lalu ia mencoba untuk tersenyum dan menatap Erna dengan seksama.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Yang patut aku syukuri adalah, dia semakin dekat dengan sang pencipta. Dia semakin rajin beribadah, mengaji, dan berbuat kebaikan di dalam sana."
"Syukurlah," Erna mengangguk paham dengan apa yang tengah Berta rasakan saat ini. Juga, ia merasa menyesal karena bertanya tentang Pongki saat dimana dirinya sedang merasakan kebahagiaan hari ini.
"Maafkan saya yang sudah bertanya tentang mas Pongki ya jeung," Ucap Erna yang sedang merasa sangat menyesal.
__ADS_1
"Tidak masalah jeung. Semua orang punya kisahnya sendiri-sendiri. Entah itu berakhir bahagia, entah itu berakhir sengsara, sedih, biasa saja, atau benci. Semua sudah ada jalan nya masing-masing. Sekarang, tinggal bagaimana kita mencari sisi positif dari semua yang telah terjadi."
Erna mengangguk setuju. Lalu ia meraih tangan Berta dan menggenggam nya dengan erat.
"Terima kasih jeung Berta. Jeung sudah menjadi sahabat terbaik saya. Jeung juga orang yang baik dan positif. Saya banyak belajar dari jeung Berta."
"Ah bisa saja jeung Erna. Sudah semestinya kita lebih dewasa dalam menyikapi segala permasalahan. Karena kita pun sudah tua, harusnya lebih banyak berpikir yang positif."
"Saya setuju jeung.." Erna tersenyum dan memeluk Berta dengan erat.
Di lain ruangan, Topan sedang merapikan dasi yang terpasang di bagian leher kemeja Galang. Pria paruh baya itu terlihat semakin tampan dengan setelan Jas yang melekat di tubuhnya.
"Bagaimana penampilan baba?" Tanya Galang sembari menatap dirinya yang terlihat gagah di pantulan cermin besar yang berada di sudut ruangan itu.
"Perfect!"
Galang tersenyum dan menatap Topan dengan seksama.
"Dan apakah baba tahu, bila aku sangat mengagumi kisah baba dan ibu. Kalian adalah orang-orang yang sangat luar biasa. Ibu berkorban demi keluarganya dan nama baik kakek dan nenek. Dan baba berkorban untuk cinta baba untuk ibu. Satu yang menjadi pertanyaan ku ba, mengapa baba tetap setia?"
Galang menghela nafas panjang dan beranjak duduk di pinggir ranjang yang berada di ruangan tersebut.
"Kau tahu, baba pernah menikahi seorang gadis. Tetapi, hanya bertahan satu setengah tahun saja. Percuma, bila hati ini tidak menerima kehadiran nya. Bila hanya sekedar kebutuhan, baba rasa baba tidak berhak untuk menyiksa dirinya hanya karena kebutuhan saja, namun menjalaninya tanpa perasaan. Dia baik, dia bisa mendapatkan seseorang yang bisa tulus mencintai dia. Maka itu, baba melepaskan dia."
Topan terus menatap Galang yang tengah bercerita tentang kehidupan nya.
"Lalu, baba sudah mencoba melabuhkan hati kepada banyak wanita. Tetapi, tidak ada satupun yang seperti ibumu. Selain tidak ada yang seperti ibumu, baba juga memikirkan kamu, anak baba yang bersama dengan ibu. Baba salah, karena baba tidak memperjuangkan kalian. Tetapi, baba akan semakin salah bila menghancurkan rumah tangga ibumu. Biarlah, baba mencoba bersabar, mencoba menunggu waktu itu datang. Dan yang sangat baba syukuri adalah, waktu itu datang sebelum baba tua renta tal berdaya. Walaupun hanya sebentar saja, baba ingin membahagiakan ibumu. Menebus segala yang pernah terlewati. Membuktikan janji, setelah itu... bila nyawa ini diambil oleh sang pencipta, baba ikhlas. Toh, baba telah menepati janji baba pada ibumu."
Topan terdiam, lalu ia beranjak duduk di samping Galang.
"Sekarang berbahagialah ba. Baba berhak mendapatkan semua ini." Topan tersenyum dan memeluk Galang dengan erat.
__ADS_1
"Terima kasih anak ku." Galang membalas pelukan anak semata wayangnya itu dengan penuh perasaan haru.
..
Dan... detik-detik yang di nanti pun tiba. Galang sudah duduk di sebuah kursi menghadap sang penghulu yang akan menikahkan dirinya dengan Erna. Pernikahan sederhana yang hanya diketahui oleh keluarga inti tersebut pun akan segera dimulai.
Erna pun muncul, dengan kebaya yang sangat anggun, yang melekat di tubuh nya yang masih terlihat menawan walaupun usianya sudah tidak lagi muda. Senyuman manis, selalu menghiasi wajahnya yang semakin cantik karena telah di rias sedemikian rupa agar semakin terlihat lebih segar dari biasanya.
Galang terpana saat melihat pujaan hatinya muncul di ruang tamu. Tempat dimana acara Ijab Kabul akan di laksanakan.
"Erna," Batin nya sambil terus menatap kagum ke arah Erna.
Angan nya terbayang ke puluhan tahun yang lalu. Ia membayangkan bila saat ini dirinya masih muda, pun dengan Erna yang masih terlihat lugu dengan usia di bawah dua puluh tahun. Sungguh bayangan yang sesuai dengan apa yang pernah ia impikan. Bedanya, bayangan saat itu mereka sama-sama muda. Namun, hari ini bayangan itu menjadi kenyataan, walaupun mereka sudah tidak lagi muda seperti dahulu kala. Begitulah cinta... muda, tua, cacat, kekurangan, kelebihan atau apalah namanya. Karena cinta semua akan terlihat begitu indah, pun dengan apa yang dirasakan oleh hati yang tak pernah berdusta.
"Bisa dimulai?" Tanya sang penghulu.
"Bisa," Sahut Galang dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak sabar, kala calon istri impian nya sudah duduk disampingnya.
Galang menatap Erna yang juga tengah menatap dirinya.
"Hari ini, aku tepati janjiku. Aku buktikan padamu, kata-kata ku dahulu. Bila suatu saat, kamu akan menjadi istri sah ku." Bisik nya.
Erna tersenyum, air mata mengenang di pelupuk matanya. Betapa beruntungnya ia menjadi seorang wanita yang di cintai dengan sepenuh hati oleh lelaki yang rela menunggu dirinya seumur hidup.
Ya, selama ini Galang belum kalah. Karena dia meyakini bila suatu saat, entah kapan dirinya akan menang. Bagaimana bisa disebut kalah, bila pemilik hati Erna tetaplah dirinya. Hanya dirinya dan selalu dirinya.
Dan... hanya dengan satu tarikan nafas, kini Erna sah menjadi istri dari Galang Artana. Kekasih yang tidak pernah hilang dari pikiran Erna. Kekasih yang rela menunggu dirinya berpuluh tahun, yang hanya menunggu takdir menyatukan mereka kembali dalam satu ikatan yang sah. Yaitu pernikahan yang mereka impikan bersama. Pernikahan impian yang baru bisa terlaksana pada hari ini.
.
Berbahagialah karena cinta. Walaupun tidak semua orang merasakan kisah yang indah. Namun tanpa kita sadari, dari kisah cinta yang sedang kita jalani, kita bisa merasakan kedewasaan, kesabaran, keikhlasan, penantian, dan kemenangan.
__ADS_1
Mencintai tidak akan ada ujungnya, bila kita tidak ingin mengakhirinya. Pun sebaliknya. _De'rini_