Masteng

Masteng
168. Maafkan aku


__ADS_3

Bunyi beberapa langkah kaki bergema di lorong sel khusus yang di tempati oleh Pongki. Pongki yang sedang mengisi permintaan ketiganya dengan wajah yang semringah, mengangkat wajahnya dan menatap ke pintu sel nya, karena langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu sel nya.


"Ada apa lagi? Perasaan aku baru saja di panggil ke kantor," Batin nya.


Cklekkk!


Pintu sel itu terbuka, Pongki sempat merasa ada keanehan, karena biasanya sang sipir akan meminta dirinya menghadap ke dinding terlebih dahulu sebelum membuka pintu sel itu. Namun, tidak kali ini.


Terdengar langkah kaki memasuki sel itu, Pongki tampak terkejut saat melihat siapa yang datang mengunjungi sel nya.


"Topan!" Ia terperanjat, hingga berdiri dari duduknya.


"Pak," Topan menghampiri Pongki dan menyalami lelaki paruh baya itu, lalu mengecup punggung tangan Pongki.


"Apa yang membawa kamu kesini? Bagaimana bisa kamu masuk kedalam sel saya?" Tanya Pongki dengan tatapan yang tampak terheran-heran.


"Saya dan komandan saya membuat izin khusus pada kepala Lapas," Ucap Topan seraya menatap Pongki dengan tatapan yang gelisah.


"Ah, iya.. selamat atas kelahiran putra pertama kamu," Ucap Pongki yang tampak sangat bahagia. Lelaki itu memeluk Topan dengan erat seraya tersenyum bahagia.


"Terima kasih pak," Sahut Topan. Lalu ia membalas pelukan Pongki dengan ragu.


"Apakah kau kesini ingin memberitahukan bila anak ku sudah lahir? Aku sudah mengetahuinya dari ayah mu,"


"Bukan pak," Sahut Topan.


"Lalu?" Pongki melepaskan pelukannya, ia menatap Topan dengan mimik wajah yang terlihat serius.


Topan menghela nafas panjang dan menuntun Pongki untuk duduk di tepi ranjang itu. Setelah Pongki duduk di tepi ranjang, Topan pun berjongkok di depan Pongki sambil menatap Pongki dengan air mata yang mengembang di pelupuk matanya.


"Mengapa bapak melakukan ini?" Tanya Topan, tanpa berbasa-basi sebelumnya.


Pongki tertegun, ia menatap kedalam manik mata Topan yang sedang menatap dirinya. Kini Pongki sudah menyadari bila Topan sudah mengetahui permintaan pertamanya. Yaitu meminta Topan menjadi salah satu dari eksekutor saat dirinya melaksanakan hukuman nya.


Pongki menghela nafas panjang dan membuang tatapan nya ke arah dinding sel yang gelap itu.


"Mengapa pak?" Topan tak kuasa menahan tangisan nya. Hingga Topan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Pongki.

__ADS_1


Pongki terdiam, ia menatap Topan yang menangis di pangkuan nya.


"Bapak ingin kamu melakukan tugas mu hingga tuntas."


"Tetapi bukan begini caranya pak!" Topan terlihat mulai menggila. Ia terlihat sangat stress kala menghadapi situasi yang penuh dilema seperti ini.


"Topan, bapak sangat bangga dengan mu. Bukan maksud bapak membuat kamu stress atau membalas apa yang telah kamu lakukan terhadap bapak. Tetapi, bapak akan merasa nyaman bila ada kamu diantara eksekutor."


"Mengapa seperti itu pak?" Topan mengangkat wajahnya dan menatap Pongki dengan seksama.


"Bapak hanya ingin kamu temani. Kamu selesaikan tugasmu hingga akhir. Bapak mohon." Pongki menatap Topan dengan tatapan yang penuh harap.


"Saya akan menemani bapak, tetapi tidak mungkin bila saya menjadi salah satu eksekutor. Ini gila pak!" Topan terduduk di atas lantai dan melipat tangan nya di antara dua dengkul nya. Lalu, ia menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan nya.


"Topan, saya mohon. Ambil nyawa saya. Saya hanya ingin kamu mengingat, bila kamu adalah orang hebat. Kamu menyelesaikan tugas sampai akhir, sampai selesai. Bapak sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu, bapak bisa menjadi lebih baik di akhir hayat bapak."


"Tidakkah bisa bapak membatalkan nya saja. Mental saya tidak sekuat itu!"


Pongki menatap Topan dengan seksama. Lalu ia ikut turun dan duduk di atas lantai bersama dengan Topan.


"Nak, bapak mengawali sesuatu, dan kini bapak mengakhirinya. Kamu pun sama, kamu mengawali, dan kamu akan mengakhiri. Bapak ingin sekali mati di tangan mu. Dulu, sebenarnya ada saja kesempatan mu untuk membunuh bapak. Tapi tidak kamu lakukan. Kamu benar-benar profesional dalam bekerja, dan bapak sangat bangga padamu. Bapak mohon, penuhi permintaan terakhir bapak. Bapak hanya ingin kamu menjadi salah satunya. Bapak ingin kamu benar-benar berani menghadapi kenyataan. Bahwa apa pun itu, kamu mampu lakukan demi tugas mu, dan juga bapak ingin kamu temani di lapangan eksekusi. Hanya dengan bapak tahu bila salah satunya adalah kamu, bapak akan merasa tenang." Terang Pongki.


"Jangan katakan bila ini adalah balas dendam."


"Bukan, ini adalah bakti. Bapak mohon, bila bapak mati di tangan mu, bapak akan merasa lebih baik."


Tangisan Topan semakin menjadi. Hingga Pongki memeluk nya dengan erat.


"Ini gila pak!"


"Jangan hindari, bapak mohon,"


"Ini gila!" Topan membalas pelukan Pongki. Lelaki paruh baya yang sangat ia sayangi. Mertua yang sudah ia anggap sebagai bapak kandung nya sendiri.


"Bapak mohon... bapak hanya ingin mati seperti itu. Bapak mohon..." Pongki pun ikut menangis bersama dengan Topan.


...

__ADS_1


"Mas dari mana? Kok lesu seperti itu?" Tanya Bella saat Topan kembali kerumah sakit untuk menemani Bella pada malam pertama Bella di rawat dirumah sakit itu.


Topan hanya menggeleng dan mencoba untuk tersenyum.


"Oeeeeeeeeeee!" Terdengar tangisan Jagat mulai menggelar memenuhi ruangan tersebut.


Topan beranjak mendekati box bayi dimana Jagat berada. Lalu ia menggendong buah hatinya itu.


"Jagat, anak papa.. Haus ya?" Ucap Topan sambil menatap bayi merah tersebut. Lalu ia menyerahkan Jagat kepada Bella untuk diberikan ASI.


Mata Topan terus menatap anak dan istrinya. Ingin rasanya ia menangis tersedu-sedu dan membicarakan permintaan terakhir Pongki yang meminta dirinya untuk menjadi salah satu eksekutor di hari eksekusi nanti. Namun itu semua menjadi rahasia. Apa pun tugas yang di emban oleh sang putra Negara, adalah rahasia. Tidak boleh ada yang tahu, walaupun itu istri, orangtua, anak ataupun sanak saudara. Tugas adalah rahasia yang hanya boleh diketahui dirinya sendiri, atasan dan Tuhan.


"Kok menatap seperti itu sih?" Bella tersenyum dan menatap Topan yang sedang menatap dirinya sambil termenung.


Lagi-lagi Topan tersenyum dan beranjak duduk di pinggir ranjang yang di tempati oleh Bella.


"Aku bahagia, aku bangga pada istriku yang hebat. Kamu telah mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang tampan dan luar biasa. Aku mencintaimu... aku sangat mengagumi kamu."


Bella tersenyum dan mengusap lembut pipi Topan.


"Aku akan melakukan apa pun untuk keluarga kita. Sama seperti kamu yang akan melakukan apa pun demi tugas Negara. Aku bangga denganmu mas.. kamu hebat.."


Ucapan Bella membuat Topan semakin merasa sedih. Bella tidak menyadari bila tugas yang akan menanti Topan adalah mengeksekusi daddy nya sendiri. Yaitu, Pongki. Entah apa jadinya bila Bella tahu bila Topan yang akan menjadi salah satu eksekutor pada hari eksekusi mati nanti.


"Aku minta maaf Bella, papa minta maaf ya Jagat.." Topan tak kuasa menahan tangisannya.


"Mas, kok menangis? Ada apa? Apa aku membuat mu menangis mas?" Tanya Bella yang terkejut saat melihat Topan menangis pilu di depan nya.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menangis,"


"Lantas, mengapa meminta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun mas," Ucap Bella lagi.


"Apapun itu, aku hanya ingin minta maaf pada kalian berdua. Satuhal yang perlu kamu tahu, aku mencintaimu dan orang-orang yang kamu cintai. Aku minta maaf bila aku banyak kurang nya, aku minta maaf bila aku tidak sebaik yang kalian pikir. Aku minta maaf bila aku..."


"Mas..." Bella menempelkan jari telunjuk di bibir Topan.


"Kamu hebat.. kami bangga padamu. Tidak hanya kami, mami dan daddy pun sangat bangga padamu. Mereka sendiri yang bilang padaku."

__ADS_1


Mendengar ucapan Bella, tangisan Topan kembali menjadi. Hingga ia merebahkan kepalanya di pangkuan Bella.


"Maafkan aku..." Batin nya.


__ADS_2