
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu kamar Topan. Topan yang sedang bermalas-malasan pun bangkit dari ranjang nya dan bergegas membukakan pintu kamarnya. Sebelum ia membuka pintu kamar nya, tidak lupa ia mengintip terlebih dahulu dari jendela kamar tersebut. Topan melihat seorang bodyguard berdiri di depan kamarnya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Ada apa mas?" Tanya Topan dengan gaya Paijo nya yang polos.
"Lu di panggil boss noh, buruan sana," Ucap Bodyguard tersebut.
"Oh, ngeh.." Sahut Topan seraya mengangguk kan kepalanya.
Lalu, ia kembali menutup pintu kamar nya, setelah bodyguard tersebut meninggalkan paviliun tersebut.
Topan meraih ponselnya dan bergegas ke rumah Pongki.
Beberapa menit kemudian, Topan tiba di ruang keluarga, di rumah Pongki. Disana, ia melihat Pongki yang sedang asik dengan ponselnya.
"Ya pak boss,"
Pongki mengangkat wajahnya dan menatap Topan dengan seksama.
"Jo, kamu siap-siap ya."
"Ngeh pak, tapi mau kemana ya pak?"
"Ke Bali," Sahut Pongki.
"Oh, ngeh.." Topan mengangguk dan berbalik badan. Setelah Beberapa langkah, Topan menghentikan langkahnya dan membalik badannya, lalu menatap Pongki dengan seksama.
"Kemana pak boss?" Tanya nya dengan wajah yang polos.
"Bali, tadi kan saya sudah bilang. Ke Bali Jo... Kamu sudah saya belikan tiket kesana." Terang Pongki.
Topan menelan salivanya dan menatap Pongki dengan tak percaya.
"Sudah sana, saya mau jalan nya sama kamu. Kamu buru-buru bawa baju mu, untuk lima hari,"
"I-i-iya pak boss." Topan melangkah meninggalkan ruangan keluarga tersebut dan menuju ke kamarnya.
.
"Mati aku!" Ucap Topan, saat ia berada di dalam kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Antok yang sedang berkomunikasi dengan Topan.
__ADS_1
"Aku di belikan tiket ke Bali, untuk menemani pak Pongki menyusul bu Berta!" Topan tampak cemas dan duduk di tepi ranjang.
"Wah... terus gimana?" Tanya Antok.
"Ta gimana? Masa aku tolak? Bisa di pecat aku!" Ucap Topan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa?" Terdengar suara Suprapto dari ujung sana.
"Ini bang, si Topan mau liburan ke Bali katanya,"
"Apa! Sini.." Suprapto meminta alat komunikasi itu kepada Antok.
"Woi! Bukan nya menyelesaikan misi malah mau liburan!" Ucap Suprapto.
"Bang, aduh... aku gak tahu ini, tiba-tiba aku sudah dibelikan tiket saja," Terang Topan.
"Terus?"
"Ya mau tidak mau aku berangkat lah bang,"
"Ealahhhhh... nyukkk kunyukkkk!" Ucap Suprapto yang kesal.
"Maaf ya bang," Ucap Topan.
"Ya bukan salah mu, si Pongki itu yang ku bilang kunyukkkk! Dia gak sadar apa, dia sedang mau di jebak, kenapa sekarang malah liburan?"
"Iya juga ya..." Ucap Suprapto, di iringi tawa dari ujung sana.
"Terus kita gimana?" Sambung nya.
"Ya... santai-santai saja bang. Kembali ke markas, nanti aku kabarin kalau kami kembali ke Jakarta." Sahut Topan.
"Ck! Ck! Ck!... Misi macam apa ini, pakai jeda kayak sinetron!" Keluh nya Suprapto.
"Sudah bang, itu si Topan berapa hari di Bali?" Tanya Antok.
"Lima," Jawab Suprapto.
"Lumayan bang, lima hari abang pulang kampung, ketemu istri. Izin sama komandan, pasti di kasih. Sementara misi break lima hari," Ucap Antok.
Tampak senyum mengembang dari sudut bibir Suprapto.
"Iya juga ya," Ucap nya dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Ya sudah, jalan sana! Nanti masalah pengawasan, kita pindah ke petugas yang di Bali." Tegas Suprapto.
"Siap Bang, laksanakan!" Ucap Topan.
Topan pun mengakhiri komunikasinya dengan kedua rekan nya tersebut. Lalu, ia bergegas mengemasi pakaian yang akan ia bawa ke Bali. Saat ia sedang mengemasi barang-barang nya, terbayang wajah Bella di pelupuk matanya. Lalu, disusul dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
"Neng, abang datang," Gumam nya seraya terus tersenyum.
Diam-diam, Topan mulai merindukan Bella. Walaupun baru dua hari Bella di Bali, namun perasaan rindu mulai mengusik hatinya. Jantung Topan berdegup kencang dan nafasnya terasa sesak.
"Ah, mungkin aku hanya kagum sama gadis itu. Soalnya dia benar-benar cantik. Tapi untuk cinta.... ah... ntah lah.. Gak mungkin mau juga dia sama aku," Gumam nya lagi.
...
Anna termenung di dalam mobil yang sedang di kendarai oleh kuasa hukum Pongki, Dadanya terasa sesak dan air mata terus meleleh di pipinya. Hari ini, ia akan kembali ke kampung halamannya, tanpa sempat bertemu dengan Pongki.
"Pak, kamu baik-baik ya.. Semoga kamu bahagia dengan bu Berta, dan semoga juga, bu Berta mau memaafkan kamu." Batin Anna.
Anna menatap tiket pesawat yang sedang ia pegang. Tiket itu pun terkena tetesan air matanya yang terus terjatuh dari pelupuk matanya.
Pagi ini, kuasa hukum Pongki mendatangi apartemen Anna. Lelaki utusan Pongki tersebut menyerahkan selembar tiket pesawat dan beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh Anna.
Anna yang sudah mengemasi barang-barang nya, duduk di sofa ruangan tamu apartemen nya, menghadap kuasa hukum Pongki yang duduk di depan nya.
"Apa ini pak?" Tanya Anna.
"Ini, amanah dari pak Pongki. Ini, tiket untuk bu Anna, dan ini berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh bu Anna." Terang kuasa hukum Pongki.
"Berkas apa ya pak?" Tanya Anna yang polos.
"Ini, bapak Pongki memberikan rekening berisi sejumlah uang yang akan menjadi hak bu Anna. Uang tersebut sudah termasuk uang selama masa Iddah, dan juga uang untuk membuka usaha di kampung. Oh, iya.. bapak Pongki juga berpesan, uang yang ada di dalam rekening tersebut, tolong di belikan ke sawah, atau apa saja. Maksudnya, agar ibu Anna tidak susah di kampung." Terang kuasa hukum Pongki.
Anna tercengang, dengan tangan gemetar, ia meraih berkas yang ada di dihadapan nya.
"Itu juga ada surat perjanjian, antara bu Anna dan pak Pongki, yang berisi pernyataan yang harus bu Anna tandatangani. Isinya, tentang perceraian antara bu Anna dan pak Pongki. Kedua belah pihak, berjanji untuk tidak ada hubungan apa pun lagi. Tidak akan bertemu lagi dan tidak ada gugatan apa pun kedepannya." Sambung kuasa hukum Pongki.
"Apa bu Anna mengerti?" Pertanyaan kuasa hukum Pongki di sambut anggukan oleh Anna.
"Baik, sekarang tolong tandatangani disini," Kuasa hukum Pongki menunjuk kolom kosong yang berada di akhir halaman berkas tersebut.
Dengan tangan gemetar, Anna meraih ballpoint yang diserahkan oleh kuasa hukum Pongki. Lalu, ia mencoba untuk menguatkan hatinya, sebelum ia menandatangani berkas perjanjian tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim.." Gumam nya. Lalu, dengan mantap, ia menandatangani berkas tersebut, diiringi air mata yang terus membasahi kedua pipinya yang tampak sedikit cekung, karena selama tiga hari setelah ia diceraikan oleh Pongki, Anna tidak dapat tidur dan makan dengan enak.
__ADS_1
Setelah Anna menandatangani berkas perjanjian tersebut. Ia pun beranjak dari duduknya dan keluar dari apartemen itu, di iringi oleh kuasa hukum Pongki.
"Selamat tinggal kenangan." Ucap Anna. Setelah itu, ia berjalan di lorong apartemen itu dengan perasaan yang hancur dan luka.