Masteng

Masteng
57. Siapa sebenarnya?


__ADS_3

Topan menangis di dalam sebuah bilik di toilet restoran. Entah apa yang ia tangis kan, tetapi perasaan sedih dihatinya tidak dapat ia bendung. Dalam tugas, selama 9 tahun ia menjadi bagian dari kepolisian, baru kali ini ia menangis saat melaksanakan tugas nya. Air mata terus mengalir dari sudut matanya yang indah, dan terjatuh di pipinya yang basah. Topan mengusap air matanya, ia meraih sebatang rokok dari dalam kotak rokok nya dan membakarnya dengan perlahan.


"Semuanya akan hilang bersama asap yang aku hembuskan ke udara," Batin nya.


Bella masih termenung di meja makan restoran itu. Sedikit banyaknya, ia merasa shock dengan ungkapan cinta yang baru saja ia dengar dari bibir supirnya sendiri. Perasaan senang, heran, dan bingung berbaur menjadi satu di hati Bella. Akhirnya, ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati kasir. Bella membayar tagihan makanan dan minuman yang ia pesan bersama dengan Topan. Lalu, ia kembali duduk di mejanya. Bella melirik arlojinya dan menyadari sudah 20 menit lamanya Topan berada di toilet.


Tak lama kemudian, Topan muncul dengan wajah yang murung. Wajah yang tidak bisa Bella artikan, kegelisahan apa yang sedang di rasakan oleh lelaki itu. Topan beranjak mendekati kasir, tetapi setelah ia mengetahui Bella sudah membayar tagihan, ia pun kembali ke meja itu dan menemui Bella.


"Terima kasih ya," Ucap nya kepada Bella.


Bella hanya mengangguk dan beranjak dari duduknya.


"Ayo, kita kemana kek," Ajak Bella.


Topan tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berdua meninggalkan restoran itu. Sepeda motor yang dikendarai Topan berjalan tanpa arah dan tujuan. Mereka berdua pun saling diam dan hanya menikmati pemandangan di jalan yang mereka lalui. Hingga akhirnya, sampailah mereka di sebuah cafe dengan pemandangan gunung Batur dan danau Batur di bawahnya. Cafe yang berada di ketinggian tersebut sangat banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin beristirahat sejenak, atau hanya singgah untuk merasakan kopi Bali dengan pemandangan yang luar biasa.


"Cafe lagi?" Tanya Bella.


"Boleh ya non. Saya butuh kopi, saya mengantuk," Wajah Topan terlihat sangat memohon.


Bella tersenyum, lalu ia mengangguk dengan cepat.


Lalu, mereka memasuki cafe itu dan memesan dua gelas kopi, dan memilih tempat duduk yang menghadap ke pemandangan yang luar biasa disana. Saat ini, jarum jam menunjukan pukul 4 sore, waktu setempat. Mereka duduk berdampingan, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Topan asik memandangi wajah Bella yang lebih menarik dari pada pemandangan alam disekitarnya. Namun Bella, mencoba mencari kesibukan dengan mengambil foto pemandangan di depan nya.


"Non, boleh minta foto berdua gak?" Tanya Topan.


Bella yang sedang asik mengambil foto pemandangan dengan ponselnya pun tertegun. Ia menoleh kepada Topan dan menatap lelaki itu beberapa detik. Lalu, ia tersenyum tipis dan mengangguk kan kepalanya, tanda ia setuju berfoto bersama dengan Topan.


Dengan bersemangat, Topan mengeluarkan ponselnya dan mengangkat nya tinggi-tinggi. Satu momen pun terabadikan di ponsel Topan.


"Lagi ya non," Pinta Topan lagi.


Bella hanya tersenyum dan menuruti permintaan Topan. Bella berpose manja dan tersenyum dengan manis. Mereka berdua terlihat sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Tak lama kemudian, Bella meminta Topan untuk mengambil foto dengan ponselnya. Saat itu juga Topan merasa kikuk, namun tidak bisa dipungkiri, ia merasa sangat bahagia, bila Bella mengambil foto bersama dengan dirinya dan fotonya ada di ponsel Bella. Beberapa foto pun terabadikan dan tersimpan di ponsel Bella. Bella tersenyum puas saat ponselnya di serahkan oleh Topan kepadanya. Lalu, ia pun mencoba melihat-lihat hasil foto dirinya dan Topan di ponselnya.


Kopi panas pun datang, mereka pun mulai menikmati hangat dan nikmat nya kopi Bali. Di temani dengan langit yang mulai mendung dan pemandangan yang mulai di tutupi kabut.


"Sepertinya mau hujan," Ucap Topan.


Bella menatap langit mendung dan kembali menatap Topan dengan seksama.


"Apa kita kembali saja?"

__ADS_1


"Boleh, setelah kopi habis ya... Saya mau merokok dulu non. Saya duduk disebelah sana dulu ya.." Setiap Topan merokok, ia selalu menghindari Bella. Agar gadis itu tidak menghirup asap rokok nya.


"Ngapain?" Bella menahan tangan Topan yang baru saja hendak beranjak dari duduknya.


"Saya mau merokok sebentar."


"Disini saja, tidak apa-apa."


Topan mengangkat kedua alisnya dan menatap wajah Bella yang tampak tidak rela bila ia berpindah duduk.


Topan menaruh kembali kotak rokok nya kedalam kantong celananya. Ia mengurungkan niatnya untuk merokok.


"Loh, kenapa gak jadi?" Tanya Bella saat melihat Topan memasukan kembali rokoknya.


Topan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Tidak mungkin saya merokok di depan wanita yang saya cintai," Ucap nya.


Bella terdiam, lagi-lagi pipinya terasa panas dan merona merah.


"Ngomong apa sih Jo."


Topan tersenyum dan terus menatap Bella hingga gadis itu salah tingkah.


"Ya non?"


"Hmmm... apa yang kamu bilang, apakah benar adanya?"


Topan terdiam, ia menundukkan pandangan nya sejenak dan kembali menatap Bella yang sedang menatap dirinya dengan seksama.


"Ya, saya cinta sama non Bella. Tetapi, saya tahu diri kok non. Jangan di anggap terlalu serius. Jangan pikirkan saya," Ucap Topan.


"Kenapa kamu mencintai saya? Kamu kan baru mengenal saya," Tanya Bella.


Topan tersenyum, ia melemparkan pandangannya ke arah Gunung Batur yang berdiri kokoh di depan sana.


"Mempertanyakan cinta, sama dengan mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan Adam dan Hawa. Ada alasan nya, tetapi butuh pembahasan yang dalam. Bukankah tuhan menganugerahkan perasaan pada setiap manusia? Pada siapa perasaan itu lebih spesial, kita tidak bisa mengaturnya. Itu muncul begitu saja."


Bella terdiam, ia menatap Topan dengan seksama.


"Siapa sebenarnya elu?"

__ADS_1


Topan terkejut mendengar pertanyaan Bella.


"Maksudnya non,"


"Jangan panggil gue 'non', panggil saja gue Bella." Pinta Bella.


"Tidak, saya hanya seorang supir. Tidak pantas saya memanggil nama, kepada majikan saya."


"Ini gue yang minta," Ucap Bella.


Topan kembali terdiam.


"Siapa lu sebenarnya? Kalau dilihat dari kata-kata dan wajah lu, lu itu tidak pantas 'hanya' seorang supir. Apa lu hanya bosan, dan berencana mencari pengalaman menjadi supir?" Tanya Bella.


Topan merasa terpojokkan dengan pertanyaan Bella.


"Siapa nama asli lu, apa pendidikan lu yang sebenarnya, apa tujuan lu masuk kedalam hidup gue," Tanya Bella dengan wajah yang tampak serius.


"Sa-saya... saya ya Paijo non.."


Bella tertawa, lalu ia menggelengkan kepalanya, sambil terus menatap Topan.


"Hei, aku ini jurusan psikologi. Aku bisa membaca seseorang." Tegas Bella.


Topan terdiam, bibirnya gemetar dan matanya menatap Bella dengan tatapan bersalah.


"Jujur saja, siapa lu sebenarnya?" Desak Bella.


"Kalau non bisa membaca seseorang, mengapa non tertipu dengan Frans?"


Deggggg!


Bella terdiam, dadanya terasa sesak setelah Topan menjawab pertanyaan nya dengan pertanyaan yang membuat dirinya merasa bodoh.


"Aku tahu dia memanfaatkan aku. Tetapi, aku tidak pernah tahu, bila ia menghabiskan uang dari ku untuk wanita lain," Ucap Bella dengan nada suara yang bergetar.


"Apa cinta membuat seseorang buta? Hingga mengabaikan logikanya sendiri?"


Pertanyaan Topan begitu berat bagi Bella. Bella menelan salivanya dan kembali menatap Topan. Tetapi, kali ini ia menatap Topan dengan tatapan yang tampak marah kepada lelaki itu.


"Non, saya hanya seorang supir. Nyatanya, tidak semua orang bisa membaca siapa orang lain bukan?"

__ADS_1


Bella terdiam, lalu ia meraih gelas kopinya dan menyeruput kopi itu dengan perlahan.


"Ya, gue adalah seorang psikolog yang tolol," Tutup Bella.


__ADS_2