Masteng

Masteng
77. I love you, I miss you..


__ADS_3

Cklekkk!


Pintu ruangan Berta terbuka. Lestari dan dua orang perawat yang sedang bersama dengan nya pun keluar dari ruangan itu. Lestari menatap Topan yang menunggu di bangku tunggu dan mencoba untuk tersenyum kepada Topan. Tetapi, Topan menatap Lestari dengan tatapan yang datar serta sikap yang terlihat acuh kepada wanita tersebut.


Lestari yang akan memeriksa pasien lain nya pun mengisyaratkan kepada dua perawat untuk berjalan terlebih dahulu. Sedangkan dirinya akan berbicara dengan Topan yang masih duduk dengan tenang di bangku tunggu.


Dua perawat itu pun berjalan menuju ke ruangan sebelah. Sedangkan Lestari, wanita itu berjalan mendekati Topan.


"Mas yang tadi pagi kan?" Tanya Lestari.


Topan menatap Lestari beberapa detik dan mengangguk dengan sikap yang dingin.


"Saya minta maaf ya mas, saya yang salah."


"No problem," Sahut Topan. Lalu, Topan beranjak dari kursi dan menatap ke dalam ruangan Berta dari kaca yang terdapat di sisi pintu.


"Maaf, mas nya punya hubungan apa ya dengan keluarga pasien?" Tanya Lestari lagi.


"Saya?"


"Ya." Lestari tersenyum manis dan mengangguk.


Topan menghela nafas panjang dan kembali menatap Lestari.


"Saya kekasih Bella,"


Lestari terdiam, ia menatap Topan dengan senyum yang mulai ia paksakan di wajahnya.


"Oh, kekasih mbak Bella. Ok kalau begitu. Boleh saya minta nomor ponselnya? Saya ingin mengganti rugi atas mobil yang saya serempet."


"Tidak usah,"


"Tetapi.."


"Tidak usah dok, saya yang salah karena parkir di tempat dokter. Saya masuk dulu kedalam," Ucap Topan. Lalu, Topan berlalu begitu saja dan menghilang di balik pintu ruang rawat inap Berta.


Lestari mengangkat kedua alisnya dan tercengang melihat sikap Topan kepadanya.


"Sombong sekali." Gumam nya.


.


Topan melangkah menuju ranjang Berta yang masih tidak mau memberikan dirinya senyum walaupun sedikit saja. Begitupun dengan Bella yang masih terus khawatir dengan keadaan Berta yang tampak semakin lemah.


"Makan ya mam, kalau mami tidak makan, bagaimana mami bisa keluar dari sini dan menemui daddy," Ucap Bella yang sedang membujuk Berta untuk menerima suapan darinya.

__ADS_1


Berta menggeleng lemah. Matanya masih terlihat sembab dan pipinya mulai terlihat cekung. Tidak terlihat lagi sosok Berta yang begitu elegan dan terlihat sangat cantik, walaupun dirinya sudah berada di usia senja.


"Mam... please.." Bella memohon dengan wajah yang memelas.


"Mami tidak lapar Bel,"


"Tapi mami harus makan," Bella bersikukuh untuk memaksa Berta untuk menerima suapan darinya.


"Bu, saya janji, kalau ibu mau makan, besok saya akan mengajak ibu bertemu dengan bapak. Saya akan berikan sebuah ruang untuk ibu dan bapak berbicara tanpa ada seorang pun yang berada di sekitar ibu dan bapak," Ucap Topan.


Berta menatap Topan dengan seksama. Air mata kembali terjatuh di pipinya.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Berta dengan nada suara yang terdengar dingin di telinga Topan.


"Saya disini, karena saya sudah berjanji dengan bapak, kalau saya akan menjaga ibu dan Bella. Sebenarnya bukan hanya karena janji saja, melainkan saya sangat khawatir dengan keadaan ibu dan Bella."


"Sudah! Jangan berikan kami harapan palsu lagi, pergilah. Kami tidak butuh kamu," Ucap Bella, sambil memberikan buket bunga dan keranjang yang berisi buah-buahan yang baru saja Topan taruh diatas meja, kepada Topan dengan cara yang terlihat kasar.


"Bella, aku mohon."


"Sudah! Pulanglah!" Bentak Bella.


Topan terdiam, ia meraih buket bunga dan keranjang buah tersebut. Lalu, ia mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


"Apa kamu bisa memegang janjimu?"


Topan berbalik dan menatap Berta yang sedang menatap dirinya dengan wajah yang tampak pucat.


"Ya, saya berjanji," Ucap Topan.


"Apakah kali ini bisa aku percaya?" Tanya Berta lagi.


"Benci saya seumur hidup ibu, bila memang saya tidak bisa menepati janji saya. Lagipula saya tahu, obat yang mujarab untuk ibu... adalah, bertemu dengan bapak."


Terlihat dada berta naik dan turun begitu cepat. Ledakan emosi dan harapan kian berganti. Dengan cepat, ia melahap makanan nya yang sedari tadi sudah Bella sendok kan untuk nya.


"Pelan-pelan mam," Ucap Bella dengan wajah yang khawatir.


"Mami mau bertemu dengan daddy. Mami harus makan." Ucap Berta dengan air mata yang menetes di pipinya.


Topan terlihat haru saat melihat sikap Berta yang seperti itu. Topan mulai menyadari bila cinta Berta begitu besar kepada Pongki. Pantas saja, tertangkap nya Pongki adalah cobaan terberat bagi keluarga kecil itu.


"Mami akan makan sendiri, kamu tidak usah menyuapi mami," Pinta Berta.


Bella hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia menyerahkan piring itu kepada Berta.

__ADS_1


"Besok pagi, pukul sepuluh, saya akan menjemput ibu dan Bella disini. Sekarang saya permisi dulu," Ucap Topan. Lalu, ia melangkah keluar dari ruangan itu.


Sesampainya Topan di luar ruangan itu, Topan pun menaruh keranjang buah dan buket bunga yang berada di tangan nya, ke atas bangku tunggu. Lalu, ia melangkah di lorong tersebut dengan wajah yang hampa.


"Aku peringatkan kamu, bila kamu tidak menepati janjimu, aku akan membunuhmu!"


Langkah kaki Topan terhenti saat mendengar ancaman dari Bella. Tak lama kemudian, terdengar langkah Bella yang mendekati dirinya. Sedangkan Topan masih diam mematung memunggungi Bella.


Kini, gadis cantik itu sudah berdiri di depan Topan dengan wajah yang terlihat begitu membenci Topan.


"Cukup sekali kamu mempermainkan aku dan keluargaku. Aku harap, jangan kali ini. Mami bisa mati, bila kali ini kamu mempermainkan dia lagi..!"


Topan menatap Bella dengan ekspresi wajah yang datar.


"Apa kamu paham? Aku akan menunggu pembuktian mu besok. Awas kalau kamu berbohong. Aku akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri!" Bella kembali mengancam Topan.


Topan masih diam membisu dan terus menatap Bella dengan tatapan yang datar.


"Kenapa? kenapa kamu diam saja? Apa kamu dengar apa yang saya bilang?" Tanya Bella yang mulai merasa salah tingkah dengan sorot mata Topan yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Iya, besok aku akan datang dan menepati janji. Jangankan dengan janji yang aku buat sendiri. Janji ku kepada pak Pongki yang meminta untuk melindungi anak istrinya pun akan aku lakukan hingga tetes darah terakhir. Jangan pernah ragu aku akan ingkar janji. Kecuali..." Topan menghentikan ucapannya dan mendekati wajah Bella dengan ekspresi wajah yang mulai terlihat sulit diartikan oleh Bella.


Bella mulai menghindari wajah Topan yang terus mendekati wajahnya.


"Kecuali apa?" Tanya Bella.


"Kecuali kamu membunuhku. Tentu tidak akan bisa aku tepati janjiku," Ucap Topan sambil tersenyum tipis.


Bella menelan salivanya, matanya terus bergerak liar, karena ia sedang mencoba menentang keras pikiran nya yang selalu memerintahkan dirinya untuk membalas tatapan Topan.


"Ya sudah," Bella pun beranjak dari hadapan Topan. Tetapi, saat itu juga Topan menarik tangan Bella, hingga gadis itu terjatuh kedalam pelukannya.


"Apa-apaan sih!" Bella berusaha untuk melepaskan tangan Topan yang sudah mengunci pinggang Bella, agar tidak bisa menjauh dari dirinya.


"Hei, dengar.."


Bella tertegun dan menatap Topan dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal kepada lelaki itu. Perlahan, wajah Topan semakin mendekat wajah Bella.


Nafas Bella pun terasa sesak, dan jantung nya pun berdegup kencang tanpa mampu ia kendalikan.


"I love you, i miss you like crazy." Ucap Topan dengan cara berbisik di telinga Bella. Lalu, Topan mengecup lembut telinga Bella dan melepaskan pelukannya.


Bella terdiam, perlahan wajah kesal nya menghilang begitu saja. Berganti dengan wajah yang memerah dan sikap yang salah tingkah.


"Aku pulang dulu, karena ibu memintaku untuk menemaninya malam ini. Maaf, tidak bisa berada disini menemani kamu. Tetapi, aku tetap memantau kamu. Nanti anak buah ku, akan ku minta berjaga disini. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Aku akan datang secepat mungkin," Ucap Topan.

__ADS_1


Bella terus menatap bibir Topan, selama Topan berbicara. Karena itu juga, jantungnya semakin berdetak tak beraturan.


Topan pun beranjak meninggalkan Bella yang masih tertegun karenanya.


__ADS_2