Masteng

Masteng
162. Kebahagiaan di pesta pernikahan


__ADS_3

Lagu-lagu cinta mengalun di sebuah gedung serba guna. Disana, terlihat sepasang pengantin dengan pakaian pengantin internasional. Sang pengantin pria memakai setelan jas berwarna hitam, sedangkan sang pengantin wanita memakai gaun pengantin berwarna broken white dengan hiasan squin di bagian rok dan dadanya. Tidak lupa, tiara bertahtakan batu permata terselip di puncak kepala sang pengantin wanita.


Ya, mereka adalah Topan dan Bella. Sebulan sudah berlalu, akhirnya mereka meresmikan pernikahan mereka secara negara dan juga menggelar pesta pernikahan yang megah. Cukup banyak tamu undangan yang berdatangan, mengucapkan selamat dan restu mereka kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia itu.


Bella menatap Topan yang berdiri disampingnya, matanya terlihat berbinar, memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Pun dengan Topan yang terus tersenyum, sejak saat acara itu di gelar. Terlihat juga raut wajah bahagia pada Berta dan Erna yang tanpa pendamping saat acara pernikahan anak mereka di gelar. Walaupun sebenarnya hati mereka terasa sedih, namun mereka semaksimal mungkin berusaha untuk menutupinya di depan para tamu undangan.


Disana juga terlihat Antok yang sedang asik berbincang dan melepas rindu dengan Suprapto yang sengaja terbang ke Jakarta hanya untuk menghadiri pesta pernikahan Topan dan Bella. Juga dengan Galang yang duduk bersama dengan anak-anak dan keluarga Erna. Semakin hari, hubungan antara Guntur, Pinky dan Galang semakin dekat. Ya, Galang adalah lelaki yang paling tepat untuk menggantikan Amoroso, ayah mereka. Meskipun belum pernah merasakan sebagaimana rasanya membesarkan anak-anak, namun Galang begitu dapat diandalkan untuk menjadi seorang ayah yang baik dan siaga untuk anak-anak Erna.


"Mas, tidak makan?" Tanya Erna yang baru saja menghampiri Galang.


"Sudah tadi, bersama dengan anak-anak," Sahut Galang.


Erna tersenyum dan menatap Galang dan juga kedua anak nya, Pinky dan Guntur. Sedangkan Pinky dan Guntur membalas senyuman Erna dan lalu menatap Erna dan Galang yang sedang berdiri berdampingan.


"Jadi, kapan baba dan ibu menikah?" Tanya Pinky.


Erna terdiam, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Kalau baba mau secepatnya, entah bagaimana ibumu," Sahut Galang.


"Bu, ayo dong..." Bujuk Pinky.


"Apaan sih," Ucap Erna sambil tersipu malu.


"Ayo dong bu.. move on.." Timpal Guntur.


Erna hanya menggelengkan kepalanya dan terus tersenyum malu-malu.


"Baba akan pensiun bulan September ini. Doakan baba, agar ibumu mau menikah nanti di bulan September," Ucap Galang.


"Aamiin...." Sahut Pinky dan Guntur.


Galang tersenyum dan mencoba merangkul Erna.


"Mas! Gak enak dilihat orang," Gerutu Erna.


"Loh, kan kamu tunangan ku," Protes Galang.


"Tapi, itu kan rahasia." Erna mengerutkan dagunya.


Galang tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Lihat anak kita, begitu gagah nya dia bersanding disana." Galang menunjuk Topan yang sedang berpose di atas pelaminan bersama para tamu undangan, untuk di foto oleh fotografer pernikahan yang telah mereka sewa.


Erna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, karena kamu bapak nya."


Galang menatap Erna dan tersenyum kepada wanita yang sangat dia cintai itu.


"Dan kamu, tetap wanita yang aku cintai seumur hidupku," Pungkas Galang.


Erna membalas tatapan Galang dan menyunggingkan senyumnya.


"Erna, menikahlah dengan ku di bulan September. Setelah itu, kita hidup di tempat yang baru. Tempat dimana tidak ada satupun orang yang mengenal kita. Hanya anak-anak saja yang mengetahui dimana kita berada."


Erna terus menatap Galang dengan seksama.


"Setelah aku pensiun, kita hidup menjadi orang biasa. Menikmati masa tua yang indah, dan kembali mewujudkan impian kita dimasa lalu. Tentang pernikahan yang indah. Aku mohon," Galang terlihat begitu serius membicarakan rencana yang selalu ada di pikirannya.


Erna menghela nafas panjang dan tersenyum.


"Mengapa kamu selalu menepati janjimu? Mengapa kamu begitu hebat menjaga cinta mu untuk ku, walaupun aku telah mengecewakan kamu?" Tanya Erna.


Galang tersenyum mendengar pertanyaan dari kekasih nya itu.


"Karena aku lelaki, dan kamu cintaku. Tak ada yang bisa menggantikan kamu, walaupun aku sudah mencari seseorang untuk aku cintai. Tetapi, nyatanya tidak ada satupun yang memiliki senyum tulus seperti kamu. Tidak ada satupun yang sesabar kamu, periang seperti kamu, lucu seperti kamu, dan tidak ada yang satu frekuensi dengan ku. Apakah harus aku berpura-pura memilih mereka hanya karena aku kesepian? Tidak, aku tidak inginkan mereka. Aku hanya ingin kamu."

__ADS_1


Erna pun tertunduk sedih, mendengar penjelasan Galang.


"Seperti keyakinan ku, kita pasti akan bersatu. Entah kapan, tetapi aku yakin. Erna, aku mohon, jangan buat keyakinan ku runtuh begitu saja. Mari kita menikah, menebus semua yang telah di ambil dari kisah kita." Sambung Galang.


Erna mengangkat wajahnya dan tersenyum sambil menitikkan air mata harunya.


"Kamu mau kan menikah denganku di bulan September?" Tanya Galang lagi.


Erna mengangguk, bibirnya terus tersenyum dan matanya menatap Galang dengan sorot mata yang begitu mengagumi sosok lelaki di depan nya itu.


"Iya?" Galang mencoba memastikan arti dari anggukan kepala Erna.


"Ya, aku akan menikah denganmu. Mari kita tebus semua yang telah kita lewati." Tegas Erna.


"Alhamdulillah!" Galang terlihat begitu bahagia. Pun dengan Guntur dan Pinky.


"Selamat bu, selamat baba.." Ucap Guntur dan Pinky.


"Terima kasih anak-anak," Sahut Galang dan Erna. Mereka berempat pun berpelukan dengan erat.


.


"Brooooooo... pamit pulang ya..." Antok menyalami Topan untuk berpamitan.


"Ah iya..." Topan menyambut tangan Antok dan memeluk sahabatnya itu.


"Oh iya, aku punya sesuatu untuk kau,"


"Apa?" Tanya Topan.


"Ini, selamat berbulan madu." Ucap Antok sambil menyerahkan dua buah voucher paket honeymoon untuk Topan dan Bella.


Topan terperangah dan menatap Antok dengan tak percaya.


"Tenang saja, aku tidak ngutang. Itu aku aku belikan untuk kalian berdua. Karena aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian."


"Serius kau Tok?" Tanya Topan sambil meraih voucher yang di serahkan Antok kepada dirinya.


"Aamiin Tok... Baik sekali kau Tok," Topan tampak begitu bersemangat.


"Wuihhhh... coba liat Pan," Suprapto yang berada di belakang Antok meraih voucher honeymoon itu dari tangan Topan, lalu ia membuka amplop nya dan melihat voucher tersebut.


"Ckckckck... hebat kau Tok! Ke Bali... luar biasa...! Hotel dan tiket. Ckckckcc! Punya uang kau Tok!?"


"Punya lah!"


"Dari mana?" Tanya Suprapto dengan mimik wajah yang terlihat penasaran.


"Ada lah bang.."


"Gak korupsi kau kan? Ku laporkan kau nanti..!"


"Ya Tuhan... gak percaya kali abang sama aku!"


"Biasa kau berhutang aja kerja mu. Sekarang kau belikan Topan paket honeymoon, apa gak curiga aku!" Suprapto terus menatap Antok dengan curiga.


"Bang, cicilan rumah untuk orangtuaku sudah selesai. Cicilan mobil pun tinggal dua bulan lagi. Jadi aku punya sisa uang banyak bang." Terang Antok.


"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi, sudah bisa lah kau nikah ya?"


"Nikah sama siapa bang? Gak ada yang mau sama aku." Ucap Antok dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Itu ada cewek disitu, dari tadi dia nengok kau terus," Ucap Suprapto sambil menunjuk seorang gadis yang sedang duduk di samping panggung.


"Masa dia nengok aku terus?" Tanya Antok dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Iya,"

__ADS_1


"Mana?" Tanya Antok penasaran.


"Itu, yang pakai baju warna pink itu." Suprapto menunjuk kesamping panggung sekali lagi.


"Mana?" Antok mengikuti arah jari telunjuk Suprapto.


"Lestari?" Gumam Antok.


Topan terperangah dan ikut menoleh ke arah gadis yang di tunjuk oleh Suprapto.


"Wah iya, sikat Tok!"


"Gak lah, nanti dia bilang aku pelit lagi,"


"Enggak, sekarang kan kau bisa traktir dia makan." Suprapto tertawa geli saat mencoba meyakinkan Antok.


"Iya sih," Antok terus menatap Lestari yang juga sedang menatap dirinya.


"Samperin sana!" Bujuk Topan.


"Gak pede aku," Keluh Antok.


"Sudah sana...!" Suprapto mendorong Antok ke arah Lestari.


Antok tersenyum dan menundukkan wajahnya. Lalu, dengan ragu ia menghampiri Lestari yang masih berdiri disana.


"Hai, sendirian saja?" Tanya Antok, saat ia baru saja menghentikan langkahnya tepat di depan Lestari.


"I-i-iya, aku mewakili ibu dan bapak ku," Sahut Lestari.


"Oh, hmmm.. Tari, hmmmm... abang... mau minta maaf.."


"Sudah lah bang..." Lestari memotong ucapan Antok dan tersenyum kepada lelaku itu.


"Sudah apa? Kau tidak mau memaafkan abang?"


"Tidak perlu ada yang di jelaskan bang. Mas Topan sudah menjelaskan nya kepada Tari. Tari mengerti kok keadaan abang. Tetapi, kalau abang gak beliin Tari minum sama jajanan saat kencan mah keterlaluan. Ya, jangan begitu juga kali bang," Ucap Lestari.


Antok mengulum senyumnya dan melirik Lestari dengan malu-malu.


"Ya, abang minta maaf ya. Sekarang abang traktir pizza mau gak?"


"Enggak bang sudah makan, ini barusan," Sahut Lestari.


"Hmmm, kopi?" Tanya Antok lagi.


Lestari tersenyum semringah. Lalu ia menganggukkan kepalanya.


"Jadi? Kita balikan?" Tanya Antok tanpa berbasa-basi.


Lestari kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Abang hebat, abang tanggung jawab sama orangtua abang terlebih dahulu. Abang tidak memikirkan hidup abang sendiri, sebelum bisa membahagiakan orangtua abang. Tari percaya sama abang, abang pasti sosok lelaki yang bisa bertanggung jawab."


Antok tertunduk haru. Lalu ia mengangguk dan kembali menatap Lestari dengan seksama.


"Memang gak rugi aku membelikan voucher honeymoon untuk si Topan itu. Gara-gara dia aku bisa balikan sama si Lestari my beybeh...! Memang mantap kau Topan!" Batin nya sambil menatap Topan yang tersenyum kepadanya dari atas pelaminan.


"Yuk.." Ucap Antok sambil mengulurkan tangannya kearah Lestari.


"Ayo.." Lestari menyambut tangan Antok dan menggandengnya.


"Woiiiii...! Siap-siap terima undangan dari ku ya!" Teriakan Antok memenuhi aula tersebut. Semua mata menatap wajah gembiranya yang sedang di gandeng oleh Lestari.


"Suitttt suittttt!"


Terdengar tawa dan sorakan bahagia dari para tamu undangan yang juga sebagian nya adalah rekan-rekan kerja Antok juga.

__ADS_1


"Kawinnnnn...! Antok mau kawinnn...!"


"Nikah woiiii...!" Sahut Antok lagi sambil tertawa dan mengecup pipi Lestari dengan lembut.


__ADS_2