
Pongki memasuki ruangan sidang. Semua mata dan kamera mengarah kepada dirinya. Ruang sidang yang ramai tersebut, pun semakin bising karena terdengar suara dari kamera yang sedang menangkap momen saat Pongki memasuki ruangan sidang. Lelaki yang memiliki kulit putih, dengan tinggi badan 170 sentimeter tersebut, terus menundukkan wajahnya saat ia berjalan menuju ke kursi pesakitan.
Tok! Tok! Tok!
Hakim mengetuk palu, untuk menenangkan para penonton sidang tersebut. Seketika, ruangan itu mereda dari kebisingan.
Setelah suasana tenang, sidang keputusan tersebut pun di mulai.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Jaksa penuntut umum mulai membacakan keputusan nya untuk hukuman yang pantas untuk diberikan kepada Pongki, setelah membacakan semua permasalahan yang mengakibatkan Pongki diberikan tindak pidana.
"Sebagaimana penjelasan dari unsur sebelumnya, Maka kami Jaksa penuntut umum meminta terdakwa di jatuhi hukuman mati."
Ya, jaksa penuntut umum, meminta hakim untuk menjatuhkan hukuman mati untuk Pongki.
Seketika suasana di ruangan tersebut mulai terdengar ricuh. Isak tangis Bella dan Berta mulai menggema di ruangan tersebut. Sedangkan Topan terus menenangkan Bella dan Berta.
Lagi-lagi hakim mengetuk palu, untuk menenangkan para penonton sidang tersebut dan suasana pun kembali tenang setelah beberapa saat kemudian.
"Saudara Pongki Susilo, apakah anda sudah mendengar tuntutan jaksa penuntut umum?" Tanya hakim yang memimpin sidang putusan tersebut.
Pongki mengangguk dengan wajah yang lesu. "Sudah," Ucap nya.
"Baik, sekarang dengarkan saja dulu. Berikut nya adalah hak saudara untuk mengajukan pembelaan atas tuntutan dari jaksa penuntut umum. Bisa dari saudara sendiri atau bisa dibicarakan dengan pengacara anda. Bagaimana? Silahkan," Hakim mempersilahkan Pongki untuk merundingkan pembelaan dirinya kepada sang pengacara.
Pongki lama terdiam di kursinya. Lalu, selang beberapa saat kemudian, ia menoleh dan menatap orang-orang yang sangat ia cintai. Yaitu Berta, Bella dan Topan. Bibirnya tersenyum, air matanya menggenang. Lalu, ia kembali menatap hakim ketua yang memimpin sidang tersebut.
"Bapak hakim yang terhormat, saya Pongki Susilo, dengan tegas mengatakan, saya bersalah dan tidak ingin membacakan pledoi,"
Semua penonton dan anggota majelis pun terperangah mendengar ucapan Pongki.
"Pongki! Apa-apaan kamu!" Jerit Berta.
Hakim kembali mengetuk palunya.
Tok! Tok! Tok!
"Harap tenang!"
Berta tidak mendengar apa kata hakim lagi, ia terus meneriakkan nama Pongki, kekasih hatinya yang rela menerima hukuman tersebut tanpa membela diri sedikitpun.
__ADS_1
"Ibu, bila ibu menghambat jalannya persidangan, di mohon untuk meninggalkan ruangan sidang," Ucap hakim itu lagi.
"Pongki! Aku tidak terima, Pongki!" Jerit Berta lagi.
Hakim pun mengintruksikan kepada petugas untuk mengamankan Berta. Dua orang petugas pun menghampiri Berta yang sedang histeris. Saat itu juga Topan menghadang para petugas yang akan membawa Berta, dan ia pun berjanji akan menenangkan Berta. Namun, petugas terus memaksa Berta untuk meninggalkan ruangan tersebut. Nyaris saja Topan terpancing emosi, hingga akhirnya Berta dapat di arahkan oleh Galang, untuk diam dan tenang dan Berta pun di urungkan untuk di seret ke luar ruangan.
Berta hanya mampu menangis dengan cara menutup mulutnya agar ia tidak mengeluarkan suara. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Kekasih nya dengan rela menerima hukuman mati yang di ajukan oleh Jaksa penuntut umum.
"Mengapa kau lakukan itu Pongki?" Batin nya.
Karena tidak adanya pembelaan, maka hakim ketua mulai membacakan keputusan nya.
"Saudara Pongki Susilo bin Abi Sufyan Susilo bin Jailani Sufyan, dinyatakan bersalah, telah melanggar undang-undang memproduksi barang haram dan mengedarkan nya dan sebagaimana yang telah di atur dalam undang-undang narkotika dan tuntutan jaksa penuntut umum, maka dari itu bertepatan pada hari ini, pada tanggal dua Januari tahun dua ribu dua dua. Kami, majelis hakim menerima tuntutan jaksa penuntut umum. Yaitu, hukuman mati." Palu pun di ketuk sebanyak 3 kali. Tanda berakhirnya persidangan dan final nya keputusan hukuman yang diberikan kepada Pongki.
Suasana kembali bising, suara yang di keluarkan dari kamera yang sedang menangkap gambar Pongki semakin membuat Berta merasa pusing. Berta tidak kuasa menahan kesedihannya. Hingga ia pun terjatuh tak sadarkan diri. Bella pun semakin panik, kala Berta jatuh pingsan. Dengan sigap, Topan membopong tubuh Berta untuk di bawa ke ruangan khusus. Sedangkan Bella dan Galang, keluar dari ruangan sidang, mengikuti Topan yang sedang membopong tubuh Berta keluar ruangan.
Pongki pun tampak terpukul, ia menyaksikan langsung betapa Berta tidak terima dengan keputusan dirinya dan hukuman yang di ajukan kepada dirinya. Tetapi bagaimanapun ia sudah berjanji, akan menerima apapun hukuman yang di putuskan untuk dirinya.
"Saya boleh minta waktu? Saya ingin menemui istri saya yang pingsan dulu." Ucap Pongki, saat dirinya hendak di giring kembali ke Lapas.
Polisi memiliki hati dan sisi kemanusiaan yang tinggi, mereka memperbolehkan Pongki untuk menemui keluarganya terlebih dahulu. Pongki di antar ke ruangan dimana Berta sedang terbaring lemas, tak sadarkan diri.
"Kenapa daddy lakukan itu? Bukankah daddy memiliki kesempatan untuk membela diri!" Ucap Bella yang terlihat frustrasi.
Pongki menundukkan kepalanya, lalu ia memberanikan diri menatap Bella. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menatap wajah cantik putri nya itu.
"Daddy bersalah, tidak adil bila daddy membela diri atas nyawa nyawa yang sudah melayang karena barang haram itu. Dengan keluarga yang berantakan dan sengsara atas barang haram itu. Sedangkan daddy, hidup enak di atas penderitaan keluarga-keluarga itu. Walaupun itu adalah kebodohan dari mereka sendiri yang telah membeli apa yang daddy jual, tetapi bila daddy tidak memproduksinya, mungkin mereka akan terselamatkan."
Bella kembali terisak mendengar penjelasan dari Pongki.
"Nak, daddy sudah tua, hukuman berapapun lamanya, daddy akan mati dipenjara. Lebih baik, kematian daddy dipercepat. Bukan daddy tidak ingin menjalani hukuman bertahun-tahun. Hanya saja, bertahun-tahun daddy di dalam, hanya akan membuat kamu dan kelak keturunan mu akan malu. Juga..... mami mu akan terus menderita. Ini sudah menjadi keputusan daddy nak.. Daddy mohon, hargai itu." Air mata menetes di pipi Pongki. Lalu, ia memeluk Bella yang sudah tidak mampu lagi berkata-kata.
Topan memberikan wewangian di sekitar lubang hidung Berta. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu tersadar dan mulai membuka kedua matanya. Hal yang pertama kali ia lakukan adalah melihat ke sekelilingnya. Hingga pandangan matanya mendarat ke sosok Pongki yang sedang berpelukan dengan Bella. Seketika, Berta kembali meraung, menangisi kebodohan Pongki. Ia berupaya untuk duduk, di bantu oleh Topan. Saat itu juga Pongki melepaskan pelukannya dari Bella dan berjalan menghampiri Berta.
Pongki berjongkok menghadap Berta yang duduk di atas sofa. Ia menatap ke manik mata wanita yang sangat ia cintai itu. Tatapan penuh cinta, penyesalan serta merasa terpukul terlihat jelas di mata kedua insan tersebut.
"Kenapa kamu bodoh sekali?" Tanya Berta dengan suaranya yang melemah.
"Maafkan aku, ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintai kamu," Ucap Pongki.
__ADS_1
"Tetapi mengapa!" Sesal Berta.
Pongki meraih tangan Berta, lalu ia mengecupnya dengan lembut.
"Kekasihku, aku mendapatkan kamu bagaikan aku memetik bintang. Jarak antara bumi ke bintang sangatlah jauh sekali. Maafkan bila aku mencari jalan pintas agar aku terlihat pantas bersanding dengan sang bintang."
Berta terus mengucurkan air mata, saat mendengar ucapan Pongki.
"Kekasihku, mau berapa lama kamu menungguku? Aku sudah tua. Berapapun hukuman yang diberikan kepadaku, hanya akan menyiksamu dalam penantian. Mungkin usia ku tidak akan lama lagi, untuk apa menunggu hari-hari yang tidak pasti? Lebih baik aku menerima hukuman kematian atas apa yang telah aku lakukan, dari pada aku harus menghabiskan puluhan tahun di dalam sel, dan menyiksa kamu di dalam penantian yang tak berujung."
"Kamu tahu apa yang paling aku tidak sanggup?"
Berta menggelengkan kepalanya.
"Yang aku tidak sanggup, bila suatu saat aku mati di sel, tanpa ada tangan mu yang mendekap tanganku. Atau, kamu yang pergi terlebih dahulu, tanpa mampu aku hadiri pemakaman mu. Tanpa ada aku yang menuntun mu dalam kalimat syahadat. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan hal itu."
Berta menangis hingga bahunya terguncang hebat. Lalu, Pongki pun memeluknya dengan erat. Untuk menenangkan Berta yang sedang terpukul batin nya.
"Maafkan aku, maafkan aku Berta. Aku mencintaimu lebih dari apapun, hingga aku memikirkan hal yang terbaik untuk akhir dari hubungan kita yang indah ini. Setidaknya, saat aku di eksekusi mati, ada kamu yang menghadiri dan menyaksikan kepergian ku. Daripada aku harus tiba-tiba sudah tidak bernyawa di ranjang sempit di dalam sel tahanan, tanpa dirimu. Tanpa mampu sempat bertemu dan menatap mata indah mu itu." Pongki menangis di dalam pelukan Berta.
Pemandangan itu sungguh menyayat hati siapapun yang melihatnya. Baik itu Galang, Bella dan Topan sendiri. Topan benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Tetapi, kembali ke kenyataan. Topan tidak merencanakan untuk jatuh cinta dengan Bella, anak dari Pongki. Ia datang hanya ingin menjalankan tugasnya sebagai seorang aparat yang bertugas menangkap target yang telah menjadi incaran negara. Bagaimanapun, Topan harus melakukan tugasnya dan mengenyampingkan rasa cintanya kepada keluarga itu. Karena Negara, bendera, dan bumi Pertiwi adalah hidupnya, rumahnya dan nyawanya.
Tidak terasa air mata terus mengalir di kedua pipi Topan. Terutama saat ia melihat sorot mata yang kosong dari calon istri yang baru saja secara resmi telah ia lamar. Bella terdiam di sudut ruangan, matanya terus mengeluarkan air mata, bibirnya dan tubuhnya bergetar hebat.
Saat itu juga Topan menghampiri Bella yang terlihat linglung. Lalu mendekap Bella kedalam pelukannya.
"Maafkan aku," Tangis Topan meledak, bahunya terguncang. Lalu, ia berlutut dihadapan Bella yang hanya diam mematung.
"Maafkan aku..." Ucapnya sekali lagi.
Bella menatap Topan, lalu ia ikut berlutut dan memeluk tubuh Topan dengan erat.
Tanpa kata, luka itu berbaur menjadi satu di dalam pelukan yang terasa erat.
.
Ada orang-orang yang memilih pasrah tanpa ingin membela dirinya sendiri. Tidak membela diri, terkadang memang terlihat bodoh. Tetapi tahukah kamu, orang-orang yang sudah tidak lagi membela dirinya adalah, orang-orang yang benar-benar menyadari bila dirinya salah. Tidak ada lagi keegoisan, tidak ada lagi ingin dibenarkan. Tidak ada lagi, nafsu duniawi dalam dirinya. Tidak ingin lagi melihat orang sekitarnya menderita karena dirinya. Tidak ingin lagi melihat dirinya terus terpuruk saat melawan takdir yang telah di tetapkan untuknya.
Terkadang, membela diri pun akan semakin memberatkan langkah, hanya Tuhan yang tau niat seseorang. Biarlah... biarlah semua berjalan dengan apa yang tertuliskan. Toh, seseorang pasti tahu, cara terbaik untuk menebus dosanya, sebelum benar-benar menghadapi penebusan dosa yang sebenarnya di akhirat nanti. -De'rini-
__ADS_1