Masteng

Masteng
26. Tidak pernah berubah


__ADS_3

Tepat pukul 9 malam, mobil yang di kendarai Topan, sampai di halaman rumah Pongki. Terlihat Pongki menunggu Berta di beranda rumah tersebut. Menatap penuh harap kepada Berta yang baru saja turun dari mobil tersebut.


"Kamu dari mana?" Tanya Pongki dengan wajah yang khawatir.


Berta diam saja, dan menyuruh Topan untuk membuka bagasi mobil tersebut.


"Ini siapa?" Tanya Pongki sambil menatap Topan dengan seksama.


Penampilan Topan yang berbeda, membuat Pongki terlihat pangling dengan Topan.


"Paijo, kamu bawa belanjaan kamu ke kamar mu, dan belanjaan saya ke ruang keluarga," Perintah Berta.


"Ngeh kanjeng mami," Sahut Topan.


"Ini kamu Jo?" Tanya Pongki seraya meraih bahu Topan yang hendak mengambil barang-barang belanjaan di bagasi mobil itu.


Topan menatap Pongki dan tersenyum malu-malu.


"Wah... hahahahhaa.. kamu apakan si Paijo mam?" Tanya Pongki yang terlihat senang melihat penampilan baru Topan.


Berta bergeming, ia melangkah masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Pongki terus menatap takjub kepada Topan.


"Saya mohon maaf pak boss. Saya dipaksa mengubah penampilan saya, sama kanjeng mami, dan saya di paksa belanja. Tetapi, saya sudah meminta kanjeng mami untuk memotong gaji saya saja," Terang Topan dengan wajah yang merasa tidak enak kepada Pongki.


"Alah, tidak apa-apa." Ucap Pongki yang terus menatap Topan dengan wajah yang semringah.


"Ternyata kamu ganteng banget ya Jo, wah wah wah... saya jadi takut nanti Bella suka sama kamu. Atau istri saya yang suka sama kamu lagi," Sambung Pongki.


"Aduh pak boss, saya tidak berani selancang itu," Ucap Topan sambil menundukkan wajahnya.


"Hahahaa, saya bercanda saja Jo." Pongki menepuk-nepuk pundak Topan dengan pelan.


Topan tersenyum dan membawa masuk barang belanjaan milik Berta dan menaruhnya di ruang keluarga. Setelah itu, ia kembali keluar dan hendak membawa barang belanjaan milik nya ke kamarnya.


"Jo.." Panggil Pongki.


"Ya pak boss?"


"Tadi nyonya ngomong apa saja sama kamu?"


Topan terlihat canggung dengan pertanyaan dari Pongki.


"Hmmmm, tidak bilang apa-apa kok pak boss."

__ADS_1


"Bohong kamu,"


Topan tersenyum dan menatap Pongki dengan ragu.


"Nanti malam, saya ke kamar kamu ya. Kita cerita-cerita lagi kayak kemarin," Ucap Pongki.


Topan mengangguk dan izin akan ke kamarnya kepada Pongki.


Pongki membiarkan Topan pergi dan ia pun menyusul Berta ke kamarnya.


Di kamar, terlihat Berta sudah mengganti pakai dengan piyama tidurnya. Lalu, Berta beranjak keluar kamar untuk mengambil barang-barang belanjaan nya. Tetapi, ia mengurungkan langkahnya saat ia melihat Pongki yang sedang membawa belanjaan nya masuk kedalam kamar tersebut.


"Satu poin, Pongki tidak pernah berubah. Ia selalu membawakan barang belanjaan ku ke dalam kamar." Batin Berta.


"Kamu mau teh? Aku buatkan ya..." Ucap Pongki.


Berta bergeming, tetapi Pongki langsung keluar untuk membuatkan teh untuk Berta. Berta pun terdiam di tepi ranjang. Batin nya bergejolak dan berperang. Satu sisi ia merasa membenci suaminya. Satu sisi lagi, ia merasa tidak ada lelaki yang sebaik Pongki kepada dirinya. Bahkan, ayah kandungnya pun tidak pernah memperlakukan ibunya, seperti Pongki memperlakukan dirinya.


Tidak lama kemudian, Pongki tiba dengan segelas teh untuk Berta. Lalu, ia duduk disamping berta dan memijat bahu Berta dengan pelan.


"Kamu capek?" Tanya Pongki.


"Tidak usah sok perhatian, aku mau tidur," Ucap Berta dengan ketus.


Pongki terdiam, lalu ia mencoba tersenyum.


"Selamat tidur. Aku mau keluar dulu, mau berbicara dengan para pegawai," Ucap Pongki.


Berta bergeming, ia memejamkan kedua matanya dan membiarkan Pongki pergi meninggalkan dirinya sendiri di kamar itu.


Setelah Pongki pergi, Berta kembali menangis. Entah apa yang ia tangisi, perasaan kecewa kah? Perasaan masih mencintai namun merasa di khianati kah? Atau perasaan bingung untuk mengambil keputusan apa yang akan ia ambil untuk pernikahan nya yang sudah berjalan lebih dari seperempat abad.


...


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Topan. Topan yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, langsung bergegas membuka pintu kamarnya.


Terlihat Pongki berdiri di ambang pintu kamarnya dengan senyuman lelaki itu yang begitu khas. Ya, senyum kebapakan yang begitu berwibawa.


"Maaf pak boss, saya baru selesai mandi dan belum membuat kopi," Ucap Topan.


"Tidak apa-apa, saya masuk ya..."

__ADS_1


"Silahkan pak boss, saya buatkan dulu kopi nya ya.."


Pongki tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


Topan bergegas keluar dari kamarnya dan membuatkan kopi di dapur karyawan. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya dan mendapatkan Pongki yang sedang termenung dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya.


"Ini kopinya pak boss, silahkan diminum," Ucap Topan.


Pongki mengangguk dan tersenyum menerima gelas kopi tersebut.


"Hmmm, Jo, kamu melihat Andrean tidak? Apakah dia pamit sebelum dia mendadak pulang kampung?" Tanya Pongki.


Degggg!


Jantung Topan berdegup kencang. Ia tidak menyangka bila Pongki bertanya tentang Andrean kepada dirinya.


"Tidak pak," Sahut Topan.


Pongki mengerutkan keningnya, ia melihat luka di sudut bibir dan bekas memar di pelipis Topan.


"Kamu kenapa? Habis berantem?" Tanya Pongki.


"I-i-iya pak boss, saya di serang orang tak dikenal saat di kampus non Bella. Pria itu meminta uang dan kunci mobil kepada saya. Ya saya berantem sama dia pak boss. Saya kalah, dan beruntung ada yang membantu di sekitar situ. Jadi orang itu kabur begitu saja," Topan terpaksa berbohong kepada Pongki.


"Wah... beneran? Terus bagaimana?"


"Ya, bagaimana lagi pak boss, biarkan saja, wong orang nya juga sudah kabur. Yang penting kunci mobil, handphone dan uang saya yang gak seberapa ini, selamat pak boss." Ucap Topan sambil tersenyum canggung.


"Syukurlah.. Yang saya bingung, masalah si Andrean ini. Dia tiba-tiba izin sama saya, kalau dia pulang kampung hari ini juga, tanpa bisa berpamitan sebelumnya."


"Alasan pulang kampung apa pak boss?" Tanya Topan, berpura-pura polos.


"Katanya, kakak nya meninggal dunia. Tetapi, dia akan kembali lagi dalam satu minggu ini kok."


"Oh..." Topan mampu bernafas lega. Ia tahu, Andrean berkata seperti itu, karena dibawah ancaman team nya.


"Jadi, nyonya ngomong apa saja dengan mu?" Tanya Pongki.


Topan tersenyum, lalu ia mulai bercerita tentang pembicaraan nya dengan Berta. Yang membuat Pongki merasa Topan berada di pihak nya.


"Cerdas kamu Jo!" Seru Pongki, setelah Topan menceritakan pembicaraan nya dengan Berta.


"Lah, tentu dong pak boss. Saya kan lelaki, saya berada di pihak pak boss. Jangan sampai kanjeng mami berpikir aneh-aneh, saya tidak mau pak boss dan kanjeng mami hidup terpisah. Kasihan non Bella," Ucap Topan.

__ADS_1


"Mantap!! Kamu memang yang terbaik Jo!" Pongki tersenyum puas dan menepuk bahu Topan dengan tatapan yang bangga.


"Ya jangan sampai bercerai, saya takut tidak bisa mengawasi kamu lagi," Batin Topan.


__ADS_2