Masteng

Masteng
89. Pertemuan yang gagal


__ADS_3

"Lalu, apa yang kita lakukan setelah ini?" Tanya Bella saat berada di ruang makan bersama dengan Berta dan Topan.


Topan terdiam, begitupun dengan Berta. Masing-masing tampak berpikir akan kemana Bella dan Berta setelah ini.


"Semua disita, kita tidak punya apa-apa," Ucap Bella lagi dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Kamu tenang ya... aku akan usahakan tempat tinggal sementara," Topan mencoba menenangkan Bella.


Bella yang duduk disebelah Topan, menatap lelaki itu dengan tatapan haru. Sedangkan Berta masih terdiam dan berpikir.


"Mami masih memiliki aset warisan dari opa mu Bella, jangan khawatir," Akhirnya Berta membuka suara.


"Apakah mereka tidak menyita nya mam?"


"Tidak bisa, karena itu surat hak milik opa mu. Kita akan kembali ke rumah opa mu." Tegas Berta.


"Alhamdulillah, masih ada yang kita punya." Bella terlihat lega.


"Tetapi jujur, rumah ini adalah kenangan yang terindah dari daddy mu. Sangat berat bagi mami meninggalkan rumah ini."


Semua terdiam, semua merasa begitu bersedih, karena rumah itu akan disita.


Dreeettt! Dreeettt!


Berta melirik ponselnya dan melihat nama Satrio di layar ponselnya.


Dengan malas, Berta menerima panggilan dari Satrio.


"Halo mas,"


"Berta, aku turun bersedih atas kasus yang menimpa Pongki." Ucap Satrio dari ujung sana.


"Terima kasih mas."


"Dari kemarin saya mau menghubungi kamu. Tetapi, saya pikir... mungkin saya butuh kamu tenang terlebih dahulu. Apakah Pongki butuh bantuan? Saya merasa lancang bila saya tidak bertanya sebelumnya, karena saya lihat di televisi, kalau Pongki sudah ada pengacara."


"Sudah mas, santai saja." Sahut Berta dengan tak bersemangat.


"Oh iya, masalah Frans, dia bersedia mengembalikan semua kekurangan dari apa yang dia ambil dari Bella. Apakah kalian akan mencabut kasus ini. Dari aset yang dia punya, dia masih memiliki kekurangan sekitar dua milyar. Tetapi, dia berjanji akan melunasi nya. Apabila dia tidak melunasi nya, dia bersedia di tahan. Masalah aset, dia sudah menandatanganinya. Dan saya, sudah menghubungi notaris untuk melegalkan nya."


"Benarkah?" Berta terlihat sangat bersemangat.


"Iya Berta, saya tahu, kamu dan Bella sangat membutuhkan nya. Jadi bagaimana? Apakah Frans tidak usah di proses?"


"Begini mas, bagaimana bila dia diberikan tenggang waktu. Jadi, dia tidak bisa mangkir?"


"Bisa saja. Baiklah, bila itu yang kamu mau. Mas akan usahakan semuanya untuk mu dan Bella."


"Terima kasih mas," Tutup Berta.


Setelah berbincang dengan Satrio, wajah Berta terlihat sangat bersemangat.


"Ada apa mam?" Tanya Bella.


"Sebentar lagi, aset Frans akan sah menjadi milikmu, dan dia juga bersedia untuk membayar kekurangan nya. Asal kan, tuntutan nya di cabut." Terang Berta.


Bella terdiam, walaupun ia tidak rela bila Frans lepas begitu saja. Tetapi apa daya, dirinya juga sangat membutuhkan aset dan uang tersebut.

__ADS_1


"Baiklah mam, kita cabut saja kasus nya. Asalkan dirinya tidak mangkir dari membayar hutang-hutangnya kepadaku."


"Mami sudah bilang begitu sama om Satrio, Bella. Jangan khawatir."


Bella tersenyum dan mengangguk paham.


Topan melirik arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia baru teringat akan ponselnya yang masih berada di mobil.


"Sebentar, saya ambil ponsel saya dulu di mobil. Takut ada urusan yang mendesak dari kantor."


"Silahkan," Ucap Berta dan Bella.


Topan pun beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ke halaman rumah tersebut.


"Dia sangat luar biasa,"


Bella menatap Berta yang baru saha memuji Topan. Lalu, ia tersenyum dan menundukkan pandangan nya.


"Andaikan bukan karena dia, mungkin saja daddy mu tidak akan bisa berfoto dengan kita saat kamu wisuda. Tidak salah mengapa daddy mu begitu menyayangi dia," Ucap Berta lagi, seraya beranjak dari duduknya dan berniat untuk mengambil air di dapur.


"Mam,"


"Ya?" Berta menahan langkahnya dan menatap Bella dengan seksama.


"Tidak jadi," Ucap Bella seraya tersenyum malu-malu.


"Ada apa sayang? Katakan saja pada mami."


"Tidak.."


Berta tersenyum, lalu ia melangkah menghampiri Bella.


"Hmmm..."


"Ayo... jangan malu-malu." Bujuk Berta.


"Mam, apakah mami setuju bila dia menjadi suami ku?"


Berta terperangah, matanya tampak berbinar.


"Kamu serius bertanya seperti itu?" Tanya nya.


"Kenapa mam? Apakah mami tidak setuju?" Tanya Bella dengan wajah yang tampak khawatir.


Berta menghela nafas panjang dan tersenyum kepada Bella.


"Baru kali ini kamu bertanya kepada mami tentang pernikahan. Sebelumnya, kamu selalu memutuskan sendiri. Kamu ingin menikahi Frans atau kamu memiliki hubungan dengan Frans, tetapi mami tidak pernah kamu ajak terlibat dalam keputusan kamu."


"Yang ini berbeda," Ucap Bella seraya tersenyum malu.


Berta tertawa geli dan mengusap rambut panjang Bella.


"Apa kamu siap menjadi istrinya?"


"Ah... lupakan mi... dia saja belum membahas masalah pernikahan. Kami baru saja memiliki hubungan satu minggu dan dekatnya belum sampai satu bulan." Bella tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Memang ada jaminan ya, bila orang memiliki hubungan yang lama, akan berakhir ke jenjang pernikahan?" Tanya Berta.

__ADS_1


Bella terdiam, ia tampak merenung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Berta.


"Sayang, lakukan yang terbaik. Mami tahu, kamu wanita hebat yang bisa memilah mana yang baik untuk kamu dan mana yang tidak baik untuk mu."


"Tetapi kemarin, aku salah menilai orang.." Ucap Bella.


Berta tersenyum dan mengecup kening Bella dengan lembut.


"Nak, kesalahan itu wajar. Bila tidak ada kesalahan yang mampir di hidup kita, kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan itu sendiri."


Bella tersenyum semringah. Ia meraih tangan Berta dan mengecup telapak tangan dan punggung tangan mami nya itu.


"I love you mam.." Ucap nya, di iringi tatapan yang penuh kasih kepada Berta.


Berta membalas senyuman Bella dan memeluk anak semata wayangnya itu.


..


Topan mencari ponselnya yang ia lemparkan ke bangku belakang mobilnya. Saat ia sedang mencari-cari ponselnya, terdengar dering ponsel miliknya itu.


Dreettt...! Dreeett..!


Topan langsung mencari sumber suara tersebut dan meraih ponselnya dari bawah bangku belakang mobilnya. Setelah ponselnya berada di genggaman, Topan melihat layar ponsel tersebut, dan mendapati nama ibunya tertera disana.


Topan baru mengingat, bila ibunya memaksa dirinya untuk hadir di acara pertemuan keluarga antara keluarganya dan keluarga Lestari.


Topan kembali melirik arlojinya. Dirinya sudah terlambat dua jam. Yang tandanya, ia harus siap mendapatkan amukan dari kedua orangtuanya.


"Apakah mereka menganggap aku ini anak perempuan?" Gumam nya.


Dengan hati yang dongkol, Topan menolak panggilan dari ibunya.


.


.


.


.


.


Di lain tempat, Erna terdiam saat panggilannya yang entah berapa puluh kalinya, kini sengaja di tolak oleh Topan. Terlihat wajahnya memerah dan nafasnya yang sesak.


"Ada apa bu?" Tanya Amoroso.


"Sepertinya Topan tidak akan datang," Bisik Erna.


Di depan mereka, terlihat Lestari dan kedua orangtuanya yang tampak kecewa. Sudah dua jam mereka menunggu. Tetapi, sosok yang mereka nantikan belum juga muncul.


"Saya minta maaf pak Agus. Karena tiba-tiba saja, Topan mendapatkan tugas dari kantor nya," Ucap Amoroso dengan alasan yang terlihat sangat masuk akal.


Ayahanda Lestari, Agus pun menghela nafas dan mencoba tersenyum.


"Baik pak, tidak masalah. Yang terpenting pertemuan inu kita jadikan silaturahmi yang baik untuk kedepannya," Ucap Agus.


"Saya setuju pak Agus," Ucap Amoroso seraya tersenyum canggung. Bagaimanapun, ia tetap merasa tidak enak hati kepada keluarga yang ia tekat kan untuk menjadi besan nya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kita pulang saja," Ucap Amoroso.


Kedua keluarga itu pun sepakat membubarkan diri. Lalu, mereka pun berpisah di halaman parkir restoran tersebut.


__ADS_2