
"Pan.."
"Ya..?"
"Dimana kau?" Tanya Antok dari seberang sana.
"Dirumah sakit, ada apa?" Tanya Topan yang sedang berjalan di lorong rumah sakit, dimana Berta sedang dirawat.
"Ada Bella disini. Mau kesini gak kau?"
Topan terdiam beberapa saat. Ia terus melangkah menuju ke parkiran mobilnya. Hari ini, Topan dalam masa berisitirahat. Jadi, ia tidak diharuskan untuk ke kantor.
"Woi..!"
Topan tersenyum kecut saat Antok memanggil dirinya.
"Aku lagi bebas tugas. Jadi, aku tidak kesana dulu," Ucap Topan.
"Kau kerumah sakit, siapa yang sakit?"
"Aku menjenguk bu Berta."
"Oh..."
Brakkkkk!
Topan terperangah saat melihat spion mobilnya, tidak sengaja di senggol oleh mobil yang akan parkir di sebelah mobilnya.
"Tok, sudah dulu ya. Mobil ku di senggol orang."
"Loh, memangnya kau lagi dijalan?" Tanya Antok.
Tut....! Tut...! Tut...! Tut...!
"Bah...! Dimatikan nya telepon ku," Gumam Antok.
.
__ADS_1
Topan berjalan pelan menghampiri mobilnya. Lalu, ia melihat kaca spion nya yang pecah dan pintu mobilnya yang lecet karena senggolan mobil sedan berwarna hitam itu.
Seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil tersebut dan ikut menatap mobil Topan dengan wajah yang panik.
"Mas, mas nya yang punya mobil ini?" Tanya wanita berusia kurang lebih 30 tahun itu.
Topan tersenyum tipis dan mengangguk kan kepalanya.
"Duh massss... kenapa parkir disini? Ini kan parkir khusus dokter."
Topan mengangkat kedua alisnya dan menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang bingung.
"Mas nya juga kalau parkir, kesanaan dikit kenapa sih?" Lagi-lagi wanita itu tampak menyalahkan Topan.
"Oh iya, kalau begitu saya minta maaf ya.." Ucap Topan. Lalu, Topan memungut bingkai kaca spion mobilnya yang tergeletak di atas tanah, lalu Topan beranjak masuk kedalam mobilnya.
"Hei...!" Wanita itu mengetuk kaca mobil Topan. Topan yang baru saja menyalakan mesin mobilnya, lantas membuka kaca tersebut.
"Ada apa mbak?" Tanya Topan dengan wajah yang tampak tenang.
Topan menghela nafas panjang dan menatap wanita itu lekat-lekat.
"Mbak, mobil ini dari tadi diam saja loh di parkiran. Mbak nya yang mau parkir dan menyenggol mobil saya. Terus, haruskah saya yang mengganti kerusakan mobil mbak juga?" Tanya Topan.
"Ini kan parkir khusus dokter, memangnya kamu dokter? Saya tuh lagi buru-buru, lagi banyak pasien. Saya tidak mau bertele-tele, beri saya identitas kamu!" Tegas wanita itu.
Topan kembali menghela nafas dan meraih dompetnya yang ia taruh di dalam tas kecil yang selalu ia bawa. Lalu, ia mengeluarkan identitas miliknya dan menyerahkan nya kepada wanita itu.
Dengan cepat, wanita itu meraih kartu identitas milik Topan dan memperhatikan nya dengan seksama. Beberapa detik kemudian, wanita itu menatap Topan dengan tatapan yang terlihat salah tingkah.
"Maaf ya pak, saya yang salah. Ini KTP nya saya kembalikan." Ucap Wanita tersebut.
"Loh, kenapa mbak?" Pegang saja KTP saya. Kalau mbak nya mau meminta pertanggungjawaban, tinggal mbak cari alamat rumah saya dan saya pasti akan mengganti semua biaya perbaikan mobil mbak."
"Tidak usah, maaf saya terburu-buru," Wanita itu menaruh kartu tanda pengenal milik Topan di atas dashboard mobil Topan lewat jendela mobil tersebut. Lalu, ia melangkah meninggalkan area parkir tersebut.
"Ya Allah... lelaki selalu salah," Gumam Topan, sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa sikap wanita tersebut sungguh ajaib sekali.
__ADS_1
Setelah itu, Topan pun meraih kartu tanda pengenal miliknya yang di taruh wanita itu di dashboard mobilnya. Lalu , ia kembali menaruh kartu tersebut kedalam dompet nya.
Pikiran Topan kembali kepada Bella. Sebenarnya, ia sangat ingin menjumpai Bella. Terutama saat Antok mengatakan Bella sedang berada di kantornya. Tujuan Topan datang kerumah sakit ini pun, karena ia ingin meminta maaf kepada Berta dan Bella. Tetapi sayangnya, ia hanya bertemu dengan Berta.
"Apa aku harus menyusul nya ke kantor?" Topan melirik arlojinya dan baru menyadari bila ia memiliki janji dengan keluarganya untuk makan siang bersama.
"Ah... nanti saja lah. Ada masanya aku bertemu dengan Bella. Aku ingin dia tenang dulu. Setelah itu, baru aku temui dia," Batin nya.
...
Bella menatap Pongki yang sedang di ajukan puluhan pertanyaan dari penyidik. Raut wajah lelah, terukir jelas di wajah lelaki yang menjadi cinta pertama nya itu.
Sesekali, Bella mengusap air matanya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang kini ada di hati kedua orangtuanya. Disisi lain, Bella juga masih belum bisa menerima kebohongan yang dilakukan Topan.
Bukan, sebenarnya bukan kebohongan. Topan hanya sedang bekerja demi keamanan negara dan generasi muda. Topan tidak bersalah, justru lelaki itu sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Tetapi, yang Bella sesali, mengapa harus Topan yang di turunkan ke lapangan, hingga ia harus bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki itu.
Dada Bella kembali terasa sesak, lalu ia memilih untuk duduk di depan ruangan BAP tersebut.
"Dimana kamu sekarang?" Gumam Bella.
Bella baru teringat, bila dirinya memiliki nomor ponsel Topan. Lalu, ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas miliknya dan mencari nomor Topan disana.
Tetapi, Bella tidak menemukan nomor ponsel Topan di ponselnya. Bella mengerutkan keningnya, ia baru ingat bila yang menyimpan nomor ponsel bukan lah dirinya. Melainkan Topan lah yang menyimpan nomor ponsel miliknya. Topan belum menghubungi Bella sejak Bella memberikan nomor ponselnya kepada Topan.
"Apakah benar, kamu seratus persen bekerja. Jadi, kamu mendekati ku karena salah satu dari alur skenario pekerjaan kamu?" Bella mulai salah paham.
Bella kembali memasukan ponselnya kedalam tas tangan miliknya. Lalu, ia termenung di bangku tunggu tersebut.
"Mengapa kamu membuat ku jatuh cinta? Bila kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kamu katakan kepadaku?" Batin Bella.
"Ingat, ada aku untuk mu," Terngiang ucapan Topan yang kemarin terdengar indah di telinga Bella. Tetapi kali ini, ucapan itu tidak lagi terasa berarti bagi Bella.
"Ada kamu? Mana kamu? Justru kamu lah yang telah mengambil kebahagiaan aku. Kamu lebih jahat dari pada Frans! Kamu mengambil kebebasan daddy, kamu membuat mami sakit, dan kamu membuat aku patah hati. Dimana kamu saat ini? Adakah kamu mengingatku walaupun sesaat? Apakah kamu merasakan penderitaan ku saat ini. Entah aku akan membencimu dan justru menangis karena mu. Mengapa? Mengapa kamu singgah di dalam hidupku." Batin Bella. Air mata kembali menetes di pipinya. Dadanya semakin terasa sesak, pandangan nya pun mulai nanar.
Bella menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, lalu ia menghela nafas panjang dan memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Pergilah kamu dari ingatan ku, Paijo... Ah.. bukan.. namamu bukan Paijo.. entah siap.. pokok nya kamu.. lelaki yang tidak bertanggung jawab atas hati dan rasaku saat ini."
__ADS_1