Masteng

Masteng
Bonus chapter.


__ADS_3

"Abaaaaaaaaaaaaaangggggg....!" Jerit Lestari dari dalam kamar.


"Ya dekkk..." Antok yang sedang bersantai di beranda rumah, tergopoh menghampiri Lestari.


"Ada apa?" Tanya Antok.


"Lihat nih! Handuk di atas kasur. Baju kotor di lantai. Sepatu, kaos kaki..! Abang jorok banget sih! Sudah berapa kali adek kasih tahu...! JANGAN TARUH SEMBARANGAN...!"


Antok menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia berjalan seraya memunguti baju kotor dan semua yang di keluhkan oleh Lestari.


"Memangnya tidak diajarkan di kesatuan tentang kedisiplinan ya bang!"


"Diajarkan sih.. Cuma kan..."


"Apa! Cuma mau menyusahkan istri? Biar istri ada kerjaan gitu? Capek tahu! Aku juga kerja bang...!" Potong Lestari seraya beranjak ke kamar kecil.


Antok diam saja seraya mencibir Lestari dari belakang.


"Ngomelll terooossss..!"


"Abanggggggggg...!" Lestari kembali memekik dari dalam kamar kecil.


"Apa lagi sih dek?" Dengan malas, Antok berjalan menghampiri Lestari.


"Ini kenapa alat cukur berantakan. Jenggut abang yang terpotong juga berserakan dilantai. Ini juga, kenapa sikat gigi ku ada di atas zink?"


Antok diam saja seraya menatap istrinya dengan tatapan yang salah tingkah.


"Jangan bilang abang memakai sikat gigi ku?"


Antok tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe iya, abang malas mengambil yang baru dari lemari."


"Ya Allah..! Jorok banget sih bang! Aku kan sudah bilang, jangan pakai sikat gigi aku! Gak baik bagi kesehatan. Abang harus jaga kebersihan juga dong. Ya Allah...! Aku tidak kuat begini terus...! Jangan sampai kamu seperti bapak mu ya nak!" Lestari mengusap-usap perutnya yang membuncit.


"Kalau dia seperti aku, sudah pasti duniamu indah dek... Lebih berwarna."


"Diaaaaaaammmm!" Lestari meraih gelas plastik untuk berkumur-kumur dan melemparkan nya kearah Antok.


Pletakkkkkk...!


Gelas plastik itu pun mendarat di kening Antok.


"Terlalu sadis caramu..." Ucap Antok dengan nada lagu Afgan.


"Nyanyi lagi! Ya Allah... amit-amit jabang bayiiiiii...!" Lestari mengeluh dan menghentakkan kakinya kelantai.


"Maaf ya dek, abang yang salah..." Ucap Antok dengan raut wajah yang terlihat seperti suami takut istri.


"Ulangi terus seperti itu. Aku bakalan kabur kerumah orangtuaku!" Ancam Lestari.


Antok menghela nafas panjang dan merangkul Lestari dan membawa Lestari duduk ditepi ranjang.


"Maaf ya, sekarang biar abang yang membereskan semuanya. Adek tiduran saja di atas ranjang. Nanti kalau adek lelah, bahaya buat bayinya."


"Nah itu tahu, kenapa abang selalu buat kesalahan yang sama?"


"Iya abang khilaf, abang minta maaf. Nanti abang ulangi lagi."


"Abang!" Lestari menjewer telinga Antok.


"Aduh... Aduh.. Aduh.. Peace ah... Ampun..."


Dengan raut wajah kesal, Lestari melepaskan tangan nya dan menatap Antok dengan mata yang mendelik.


"Entah setan apa yang membujuk aku untuk jatuh cinta dengan abang!"


"Setan apaaaa yang merasukimu...!" Lagi-lagi Antok bernyanyi saat Lestari sedang marah.


"Kebangetan banget sih! Au ah! Aku gak kuat! Aku mau ke rumah ibu saja! Orang lagi serius juga, malah dia bercanda. Abang gak pernah berubah!"


"Yah dek... jangan dong.." Antok memeluk Lestari dengan erat.


"Lepasin gak!"

__ADS_1


"Tidakkkkk..!"


"Lepasin aku...!"


"Tidakkkkkkk....!"


"Kamu harus jadi milik ku selamanya. Abang janji akan berubah... Suer...! Jangan tinggalkan abang, dek...! Abang yakin, tidak ada wanita yang sesabar adek dalam menghadapi abang. Abang janji berubah... sumpah!"


Lestari menatap Antok dengan kerut di dagunya.


"Kenapa begitu?" Tanya Lestari.


"Iya, cuma adek yang sabar menghadapi abang."


"Memang mantan-mantan abang pada gak sabar?"


Antok menggelengkan kepalanya dengan wajah yang polos.


"Memang abang paling lama pacaran berapa lama?"


"Seminggu."


"Hah?"


"Iya dek.." Antok tertunduk malu.


"Astagaaaaaa....." Lestari tertawa terbahak-bahak. Hingga perutnya terasa ngilu, lalu ia meringis menahan sakit di bawah perut nya.


"Kenapa dek?" Tanya Antok yang langsung tampak khawatir.


"Gak tahu nih bang, sakit... mungkin karena tertawa terlalu keras. Abang sih!" Lestari memukul lengan Antok.


"Abang lagi saja yang salah. Nasibbbb nasibbbb jadi laki-laki.." Antok bersungut-sungut seraya beranjak dari duduknya.


"Kenapa sih abang selalu mengulangi kesalahan yang sama?" Tanya Lestari seraya menatap Antok yang membereskan barang-barangnya yang berantakan.


Antok menatap Lestari dan tersenyum kepada istrinya itu.


"Yah, kadang ada betul nya kata orang-orang. Kadang otak lelaki tidak pada tempatnya. Bukan karena tidak punya otak atau lain sebagainya. Tetapi, terkadang sedang membuka kaos kaki, kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Jadi lupa untuk membawanya ke keranjang kotor. Kadang habis mandi, mau segera bertemu istri atau mau segera menikmati kopi. Jadi lupa menjemur handuk. Di tambah, naluri laki-laki itu mau simpel saja dek."


"Yah, tapi abang berjanji akan berubah. Bila ada kurang-kurangnya.. Jangan segan menegur abang ya.. Yang jelas, niat abang bukan mau menambah pekerjaan adek." Antok beranjak mendekati Lestari dan mengecup kening istri yang tengah mengandung buah hatinya tersebut.


"Begini saja, abang akan mencari asisten untuk kita. Biar adek tidak capek. Lagi pula, adek harus banyak-banyak beristirahat saat menjelang melahirkan seperti ini. Bagaimana?"


Lestari masih diam saja, tetapi sorot matanya kepada Antok sudah mulai meneduh.


"Dek, abang bukan orang yang sempurna. Tetapi, abang berjanji akan menyempurnakan diri untuk adek. Terima kasih sudah sabar menghadapi abang selama dua tahun ini. Tidak ada yang lebih berharga dari cinta adek kepada abang. Adek segalanya bagi abang. Hanya adek yang dapat mengerti abang, baik itu kekurangan dan kelebihan abang. Jangan tinggalkan abang, abang tidak bisa hidup tanpa adek dan buah hati kita. Kasih abang kesempatan untuk mengulanginya lagi."


"Hah!" Lestari mendelik kepada Antok.


"Eh, salah... maksudnya untuk berubah dan tidak mengulanginya lagi." Antok tersenyum dan mengangkat kedua tangan nya dengan isyarat memohon ampunan kepada Lestari.


"Dasar bojo gendeng!"


"Nek aku gak gendeng, koe horah tresno karo aku toh dek..!" Sahut Antok.


Lestari menatap Antok dengan tatapan tak percaya.


"Abang bisa bahasa Jawa?"


"Wuihhh jelas dong, suami mu ini multi talenta, multi bahasa kok! Jangan kau ragu dek..!" Ucap Antok dengan bangga.


Lestari tersenyum dan menyenderkan kepalanya dibahu Antok.


"Bang... Abang cinta gak sama aku?"


"Cinta lah..!"


"Beneran?"


"Iya..."


"Sayang sama anak di dalam perut adek?"


"Sayang kali lah... kenapa sih dek? Firasat abang jadi gak enak.."

__ADS_1


Lestari mengangkat kepalanya dan menatap Antok dengan seksama.


"Kalau sayang, tolong manjat pohon belimbing milik Wak Min yang rumah nya di pengkolan sana ya. Adek kepengen belimbing." Ucap Lestari dengan sorot mata yang memohon.


"Omakjanggggg..."


"Kenapa bang?"


"Gak ada tempat lain dek? Di rumah Wak Min itu kan banyak Anjing nya.. Lagi pula Wak Min, pelit kali orangnya." Keluh Antok.


"Katanya cinta... sana jalan! Biar aku yang bereskan rumah!"


Antok bersungut-sungut dan beranjak keluar kamar.


.


"Assalamu'alaikum!" Ucap Antok. Sejurus kemudian dirinya menutup mulut dengan telapak tangan nya.


"Oh iya, Wak Min kan bukan muslim." Gumam nya.


"Permisi.." Antok mengetuk pagar rumah tersebut.


Namun, tidak kunjung ada sahutan dari dalam rumah itu. Melihat suasana yang sepi, dan memikirkan Lestari yang sangat ingin belimbing di rumah Wak Min, mau tidak mau, Antok mendorong pagar rumah itu dan berjalan dengan perlahan menuju ke pohon belimbing yang terdapat di dalam pekarangan rumah Wak Min.


"Sepi kali rumah ini. Wak Min gak ada, anjing nya pun gak ada. Sikat lah belimbing nya." Gumam Antok yang segera memanjat pohon belimbing tersebut.


Melihat buah belimbing yang ranum, Antok yang sedang di atas pohon pun tergoda untuk mencoba belimbing tersebut. Di tengah teriknya matahari siang ini, rasa dari buah belimbing itu begitu menyegarkan. Hingga Antok begitu bersemangat memakan buah belimbing tersebut di atas pohon yang tidak begitu tinggi tersebut.


Guk...! Guk...! Guk...! Guk...! Guk!


Lima ekor Anjing peliharaan Wak Min berlari dari halaman belakang, dan seketika mengelilingi pohon belimbing tersebut.


"Mati aku!" Ucap Antok yang terlihat panik saat melihat lima ekor anjing yang sedang menanti dirinya di bawah pohon itu.


Guk...! Guk...! Guk...! Guk...! Guk!


Kelima anjing itu terus menggonggong, wajah Antok pun semakin pucat.


"Kek mana caranya turun ini." Batin nya.


Antok menatap buah belimbing disekitarnya dan mulai memetik belimbing tersebut dan melemparkan nya kepada anjing-anjing itu, dan berhasil. Anjing-anjing itu pun menjauh. Dengan cepat Antok melompat dari pohon dan mulai berlari sekencang-kencang nya. Seketika Anjing-anjing itu pun mulai mengejarnya.


Guk...! Guk...! Guk...! Guk...! Guk!


"Anjeeeenggggg...!" Maki nya.


Ia berlari sekuat tenaga. Tetapi, salah satu anjing sempat melompat dan mengigit bokong nya.


"Mamakk...!" Pekik nya seraya melepaskan sendal dan memukul anjing tersebut agar berhenti mengigit nya.


"Kalau sudah pegang senjata aku dor kalian! Dasar anjengggg...!" Maki nya seraya mengusir anjing-anjing tersebut dengan beberapa baru kerikil yang baru saja ia pungut di sekitarnya. Anjing-anjing itu pun ciut nyali, mereka pun kembali ke rumah Wak Min, tuan nya.


"Sial kali bah.." Ucap Antok sambil memperhatikan celana nya yang sobek. Sambil menggerutu, ia pun kembali ke rumah.


"Mana bang belimbing nya?" Tanya Lestari, sesaat setelah Antok kembali ke rumah.


"Astaga! Habis dek!"


"Habis maksudnya apa bang? Tidak berbuah? Atau bagaimana? Perasaan kemarin aku pulang dari pasar, lihat buah nya lebat kok..."


"Bukan kek gitu, buahnya habis buat melempar anjing tadi! Gak liat celana ku ini ha? Sobek! Di gigit anjenggg itu..!"


"Ya Allah bang... kenapa sih gak pernah becus kalau di suruh...!" Lestari langsung terduduk lemas dan mulai menangis.


"Dek abang minta maaf ya dek.. Ya sudah abang kembali lagi ke sana ya... Asal adek jangan marah sama abang."


"Gak usah! Dasar laki-laki semua nya sama! Gak becusssss...!" Lestari beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamar.


Antok terdiam, lalu ia meraih ponselnya dari dalam saku dan mencoba menghubungi Topan dan Suprapto yang sudah kembali bertugas di Jakarta.


"Mayday! Mayday! Mayday! Saatnya konferensi meja bundar!" Seru Antok, sesaat setelah Topan dan Suprapto menerima panggilan dari dirinya.


"Ahshiapppppp...!" Seru Suprapto dan Topan.


...

__ADS_1


Have a nice day everyone..! - De'rini-


__ADS_2