Masteng

Masteng
169. Bertemu dengan Jagat


__ADS_3

Tiga hari sudah Bella berada di rumah sakit. Hari ini dirinya sudah siap meninggalkan rumah sakit tempat dirinya di rawat. Di bantu oleh Berta, Bella mengemasi barang-barangnya dan keperluan bayi nya untuk di bawa pulang ke rumah. Sementara Erna dan Galang sedang asik menimang Jagat, cucu mereka sambil menatap dan mengagumi tampan nya wajah bayi Bella dan Topan tersebut.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba saja, terdengar ketukan di depan pintu ruangan tersebut.


"Ya.. silahkan masuk," Ucap Berta seraya menatap pintu ruangan tersebut.


Terdengar juga pintu terbuka, beberapa petugas dengan seragam dan atribut lengkap memasuki ruangan tersebut. Berta sempat terperangah menatap para petugas tersebut. Ia tidak mengerti mengapa beberapa orang petugas yang tidak ia kenal memasuki ruangan tersebut.


"Ada apa ya pak?" Tanya Berta yang mulai terlihat panik. Tampaknya Berta mengalami trauma yang di sebabkan oleh penyergapan Pongki saat mereka baru saja mendarat di Jakarta dari Bali.


"Clear!" Seru seorang petugas.


Sesaat kemudian muncullah Pongki dengan setelan kemeja putih dengan celana bahan berwana hitam. Kumis dan janggut lelaki paruh baya itu juga terlihat menghilang dari wajahnya yang terlihat begitu bersemangat.


"Pongki!" Jerit Berta seraya berlari ke pelukan Pongki.


Pongki menyambut Berta dengan kedua tangan yang terbuka. Ia mendekap Berta dengan erat dan segenap kerinduan yang selama ini ia simpan di dasar lubuk hatinya yang terdalam.


"Bagaimana bisa kamu..."


"Aku membuat permintaan," Potong Pongki.


Berta terlihat menitikkan air mata. Lalu ia tidak ingin membuang waktu untuk mengecup bibir lelaki yang teramat sangat ia cintai itu. Sementara, Galang dan Erna, juga Bella masih terpaku menatap kehadiran Pongki di sana. Sebagian petugas meninggalkan ruangan itu. Hanya dua orang saja yang tinggal bersama Pongki di sana, untuk mengawasi gerak-gerik Pongki yang merupakan narapidana mati tersebut.


"Dad," Bella berjalan mendekati Pongki yang juga sedang berjalan mendekati dirinya.


"Bella," Pongki memeluk erat putri semata wayangnya itu.


"Daddy.. Bella rindu!" Bella menangis di pelukan Pongki yang merebahkan kepala Bella di dadanya.


"Daddy juga rindu sama kamu nak." Pongki mengecup puncak kepala Bella beberapa kali. Lalu matanya tertuju kepada bayi yang sedang berada di dalam gendongan Erna.


"Itu bayi mu?"


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Pongki sambil mengangguk dengan bersemangat.


"Iya dad."


Pongki melepaskan pelukannya dari Bella, lalu ia berjalan mendekati Jagat yang tertidur nyenyak di pelukan Erna.


"Pak, bu," Sapa Pongki kepada Galang dan Erna, seraya menjabat tangan mereka satu persatu.


"Senang dapat melihat bapak disini. Apa kabar bapak?" Tanya Galang.


"Alhamdulillah baik. Saya sangat berterima kasih kepada bapak Galang," Ucap Pongki.


"Tidak masalah pak, asal bapak bisa melihat Jagat. Saya akan lakukan apapun itu." Tegas Galang.

__ADS_1


"Boleh saya menggendong nya bu?" Tanya Pongki lagi seraya menatap Jagat yang masih tertidur pulas.


"Silahkan pak." Ucap Erna, seraya memberikan Jagat kedalam gendongan Pongki.


Pongki menerima Jagat dengan tatapan penuh haru dan kasih. Ia memperhatikan setiap ukiran di wajah mungil Jagat.


"Tampan nya kamu nak.." Ucap Pongki seraya menitikkan air mata bahagianya.


Berta dan Bella pun langsung menghampiri Pongki yang masih berdiri menggendong Jagat di depan Erna dan Galang.


"Siapa nama lengkap nya?" Tanya Pongki kepada Berta yang sedang memeluk pinggang Pongki dari belakang.


"Jagat Raya Putra Alexander."


Pongki menoleh dan menatap Berta dengan tatapan tak percaya.


"Unik, siapa yang memberikan nama itu untuk cucu tampan ku ini?" Tanya Pongki lagi.


"Tentu saja Topan, dad.." Ucap Bella.


Pongki tersenyum dan kembali menatap raut wajah cucu pertamanya yang mulai terusik dengan suara-suara yang sedang membicarakan dirinya.


Tiba-tiba saja Pongki menangis hingga terisak-isak. Ia tidak mampu lagi berpura-pura tegar, ia menangis layaknya seorang anak kecil yang sangat terluka. Jagat pun mulai menangis seperti dia tengah merasakan perasaan Pongki yang sangat pilu saat menggendong dirinya.


"Oeeeeeeeeeee! Oeeeeeeeeeee!"


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau memberikan aku kesempatan untuk melihat cucu pertama ku," Ucap Pongki di sela tangisan nya.


Berta menyentuh bahu Pongki dengan perasaan yang sama terlukanya. Bagaimana tidak, ia tahu bila ini adalah salah satu permintaan Pongki yang akan di eksekusi beberapa hari lagi.


"Dad, terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah membuat permintaan untuk menemui Jagat dan Bella," Ucap Bella.


"Sama-sama anak ku. Sama-sama, kalian lah yang berarti di hidup daddy. Itulah mengapa daddy membuat permintaan terakhir untuk bertemu dengan kalian semua."


Haru membiru pun.. menghiasi ruangan itu.


.


Di kantor, Topan terdiam di balik meja kerjanya. Kopi yang berada di depan nya sudah dingin tanpa tersentuh sedikit pun. Antok yang baru saja kembali dari patroli rutin nya, menatap Topan dengan tatapan yang bingung saat dirinya baru saja memasuki ruangan tersebut.


"Kenapa kau?" Tanya Antok sembari beranjak duduk di depan meja Topan..


Topan masih terdiam seribu bahasa. Tatapan nya kosong, bahkan tampaknya dia tidak mendengar sedikitpun pertanyaan dari Antok.


"Pan! Kenapa kau!" Antok terlihat panik hingga melambaikan tangannya di depan wajah Topan.


Saat itu juga Topan tersentak dan menatap Antok dengan ekspresi wajah yang tampak terkejut.


"Sejak kapan kau disini!"

__ADS_1


"Baru aja lah, kau ini kenapa hah?" Tanya Antok, seraya melirik kopi milik Topan yang masih belum tersentuh sama sekali.


"Ada masalah apa kau? Sampai kopi kau pun tak kau minum. Heran aku sama kau, lagi bertengkar kau ya sama Bella?" Tanya Antok.


"Ngawur!" Topan terlihat salah tingkah.


"Terus, kenapa kau?" Tanya Antok lagi.


Dalam kode etik, Topan tidak boleh bercerita apa pun tentang tugas nya kepada siapapun. Walaupun itu sahabat baiknya, Antok.


"Tidak apa-apa. Aku lagi berpikir kapan kau mau nikah sama si Lestari," Ucap Topan.


"Bah! Masa mikirin itu kau? Sampai-sampai kau bengong kayak ayam tiren!"


"Ayam tiren sudah mati! Kau pikir aku sudah mati!" Topan terlihat kesal dengan Antok yang asal berbicara.


"Ya, apalah namanya. Gak mungkin kau lagi berpikir seperti apa yang kau bilang. Pasti kau ada masalah. Bicaralah Pan... aku kan sahabatmu." Antok mencoba untuk meyakinkan Topan.


"Gak ada pikiran aku. Aku hanya ngantuk, gara-gara begadang, menjaga anak ku si Jagat."


"Oh... bohong lagi kau ya.. kalau orang mengantuk, pasti itu kopi sudah habis dari tadi!"


Topan melengos, ia merasa putus asa karena tidak bisa membohongi Antok.


"Suka-suka kau lah Tok," Topan melirik jam di dinding kantornya itu.


"Mau makan gak kau?"


"Kau traktir?" Tanya Antok dengan bersemangat.


"Iya aku yang traktir. Tapi, makan kau jangan nambah!"


"Enggak lah.. aku kan dulu-dulu itu nambah, karena makan ku aku qadha. Makan siang sekalian makan malam," Ucap Antok sambil nyengir kuda.


"Qadha? Kau pikir sholat!" Topan menggelengkan kepalanya.


"Ya aku kan kasih perumpamaan aja, biar kau ngerti," Ucap Antok seraya terkekeh menanggapi ucapan Topan.


"Gila kau!"


"Hahahaha.. kalau aku gak gila, mana cocok berteman denganmu Pan!"


Topan tertawa mendengar jawaban Antok.


"Sudahlah yuk!"


"Yuk!" Antok dan Topan beranjak dari duduk mereka dan bergegas menuju ke kantin yang terdapat tepat di sebelah gedung tersebut.


"Ya Allah, kuatkan lah hatiku, mental ku, juga sumpahku untuk taat kepada tugas," Batin Topan yang sebenarnya sedang memikirkan tentang Pongki, yanga akan si eksekusi beberapa hari lagi.

__ADS_1


__ADS_2