
Taksi yang ditumpangi Bella, berhenti disebuah club malam yang terlihat sangat ramai. Bella keluar dari taksi tersebut dan berjalan sendiri, lalu ia memasuki club tersebut. Topan tercengang dan membulatkan matanya. Entah mengapa, ada rasa khawatir yang hinggap di hatinya. Lalu, ia pun memutuskan untuk ikut masuk kedalam club malam tersebut.
Hingar-bingar musik dengan volume yang tinggi menyambut Topan yang baru saja masuk kedalam club itu. Sebenarnya itu bukan kali pertama Topan masuk kedalam club malam. Club malam sudah merupakan hal yang sangat akrab bagi Topan. Bukan karena hobby nya untuk menghabiskan waktu di club malam. Tetapi, club malam bisa dibilang sebagian dari pekerjaan nya yang kerap menangkap target yang sedang bersenang-senang di dalam club.
Topan mengikuti Bella dari belakang. Gadis cantik itu menghampiri meja bar dan memesan minuman keras. Topan mengerutkan keningnya, ia merasa Bella tidak seperti itu. Namun, malam ini apa yang ia lihat, sangat berbeda dari ekspektasi nya tentang Bella.
"Dia minum?" Gumam nya.
Seorang wanita malam menghampiri Topan, tangan lentiknya menjelajah di pinggang Topan. Namun, dengan sopan ia menolak wanita itu dan memilih untuk berdiri di sudut ruangan tersebut. Matanya tidak beralih sedikitpun dari Bella, wanita yang sedang patah hati, tanpa Topan mengerti itu.
Minuman yang baru saja Bella pesan, sudah habis tak bersisa. Gadis cantik itu, kembali menjentikkan jarinya yang lentik, meminta sang bartender mengisi gelas kosong nya kembali. Sedangkan Topan, ia hanya bisa terus mengawasi Bella dengan wajah yang khawatir.
"Dance yuk," Ajak seorang wanita cantik, berbusana sangat minim, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Topan. Topan tersenyum dan mencoba melepaskan tangan wanita itu.
"Saya sedang menunggu kekasih saya," Ucap Topan.
Wanita itu pun paham, ia hanya mengangguk dan beranjak dari hadapan Topan.
Baru saja Topan menoleh dan mencoba mengawasi Bella, mendadak gadis itu sudah menghilang dari pandangan nya. Mata topan bergerilya dengan panik mencari Bella yang hilang begitu saja. Topan mencoba menerobos ramainya pengunjung di dalam club malam tersebut. Ia mencoba mencari Bella di lantai dansa. Tetapi, gadis itu tidak terlihat.
Jantung Topan berdegup kencang, rasa panik fan khawatir menguasai dirinya. Tidak biasanya ia seperti itu. Topan terkenal sangat tenang di dalam team nya saat bertugas. Tetapi kali ini, Topan tidak setenang itu. Padahal, Bella bukan lah siapa-siapa baginya.
Alunan musik disko mengalun dengan hentakan-hentakan bass yang membuat siapa saja bergoyang di dalam club itu. Namun Topan masih sibuk mencari sosok Bella. Hingga matanya tertuju kepada seorang gadis yang baru saja kembali dari toilet di sisi barat gedung tersebut. Topan menghela nafas lega, karena ia melihat Bella dalam keadaan baik-baik saja.
Bella kembali ke temat duduknya, menghadap seorang bartender yang sedang bertugas pada malam ini. Bartender tersebut kembali menuangkan segelas minuman keras lagi kedalam gelas Bella. Tanpa menunggu lama, Bella langsung meneguk minuman keras itu. Walaupun ekspresi wajah Bella begitu menolak air jahanam tersebut, namun ia mencoba menghabiskan nya dan menikmati setiap tetes minuman itu.
Tanpa diminta, bartender kembali menuangkan minuman itu lagi kedalam gelas Bella. Ini adalah gelas keempat Bella. Topan mulai semakin khawatir.
"Ada apa dengan nya?" Gumam Topan lagi.
Terlihat seorang lelaki menghampiri Bella, dan beramah tamah dengan Bella. Saat itu juga, Topan berniat menghampiri Bella, guna untum mencegah lelaki itu menggoda Bella. Tetapi, ia mengurungkan niatnya. Topan hanya bisa terus memantau, sebelum ia melihat Bella butuh pertolongan dari dirinya.
Bella terlihat santai saat berbincang dengan lelaki yang baru saja ia kenal. Mereka pun meminum minuman yang sama sambil berbicara dengan cara mendekatkan mulut mereka ke telinga lawan bicaranya, agar obrolan mereka terdengar jelas kala musik menguasai ruangan tersebut.
Topan terus menghitung, sudah berapa gelas Bella meminum minuman keras itu. Ia juga melihat Bella yang mulai mabuk dan berpegangan dengan lelaki asing tersebut. Tak lama kemudian, Bella dan lelaki itu pun turun ke lantai dansa. Mereka terlihat semakin akrab dan berpelukan. Melihat itu semua, tentu saja membuat nafas Topan menjadi sesak. Ia terlihat emosi dan terus menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa sih! Aneh-aneh saja!" Topan mengepalkan tangannya dan mengigit bibirnya, tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Bella dan lelaki itu.
...
"Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan Pongki," Ucap Satrio, saat melihat Pongki terlihat sangat emosi kepada dirinya.
"Lalu apa?" Pongki menghampiri Satrio dan menantang lelaki itu.
"Apa sih kamu! Kayak anak-anak saja! Aku bertemu dengan mas Satrio itu, untuk membahas masalah hukum Bella!" Ucap Berta dengan wajah yang panik.
Pongki mengerutkan keningnya dan menatap Berta dengan seksama.
"Kenapa Bella?" Tanya Pongki dengan suara yang terdengar sangat khawatir.
"Silahkan duduk dulu Pongki, kita berbicara baik-baik," Pinta Satrio.
Pongki mengangkat tangan nya dan mengarahkan ke Satrio, agar Satrio diam dan tidak berbicara apa pun tanpa diminta oleh nya.
"Kamu tenang dulu ya, kita ngobrol dulu," Pinta Berta.
"Ada apa?" Tanya Pongki dengan wajah yang terlihat kesal kepada lelaki di hadapannya.
"Sebelum aku bercerita, aku mohon, jangan memarahi Bella. Kamu janji?"
"Ya aku janji," Ucap Pongki sambil melirik Satrio yang terlihat salah tingkah.
"Bella telah diperalat oleh Frans, uang tabungan nya sebanyak lima milyar di kuras oleh Frans," Terang Berta.
Pongki terperangah dan menatap Berta dengan tak percaya.
"Gila! Kamu serius?"
"Iya, makanya kami ke Bali. Memang aku salah, tidak menceritakan nya dari awal kepadamu. Tetapi, sumpah aku tidak ada apa-apa dengan mas Satrio," Jelas Berta.
Satrio langsung membuka map berisi perkara antara Bella dan Frans. Lalu, ia menyerahkan map itu kepada Pongki.
__ADS_1
"Kamu bisa baca sendiri Pongki," Ucap Satrio.
Dengan wajah yang terlihat menahan malu, Pongki meraih map tersebut dan membacanya dengan teliti. Setelah itu, ia pun memijat pelipisnya dan menatap Satrio dengan tatapan yang penuh penyesalan.
"Maafkan saya mas, saya salah paham," Ucapnya secara jantan dan sepenuh hati.
"Tidak apa-apa Pongki," Ucap Satrio sambil tersenyum tipis kepada Pongki.
"Kamu ngapain ada disini? Kamu berlibur sama gundik mu itu?" Berta mencoba gantian menyerang Pongki.
Pongki terlihat salah tingkah dan menundukkan pandangan nya.
"Ya, aku berlibur dengan gundik ku, yang bernama Paijo," Celetuk nya.
Berta mengangkat kedua alisnya dan menahan tawanya.
"Paijo?" Tanya nya dengan mata yang berbinar.
"Ya, dia ada di hotel sekarang,"
"Serius?"
"Iya," Sahut Pongki.
"Hmmm, jadi kapan kita mulai membahas ini?" Tanya Satrio yang merasa diabaikan.
"Sekarang, silahkan," Ucap Pongki, seraya tersenyum dan menggenggam tangan Berta. Berta terlihat risih dan melepaskan genggaman tangan Pongki dan menggeser bangku nya, agar sedikit menjauh dari suaminya itu.
Melihat itu, Pongki pun ikut menggeser bangkunya agar mendekati Berta. Merasa tidak terima melihat Pongki mendekati nya, Berta kembali menggeser kursinya. Tentu saja Pongki kembali mengikuti nya dan terus mendekat, walaupun berkali-kali Berta menggeser kursinya dan menjauhinya.
Satrio yang akan memulai pembahasan, terdiam melihat tingkah suami istri yang duduk di depan nya.
"Ehemmmm!" Satrio mendahem dan menatap Pongki dan Berta.
Pongki dan Berta terlihat salah tingkah, akhirnya mau tidak mau, Berta harus pasrah duduk berdekatan dengan Pongki, dan harus rela tangan nya di genggam erat oleh Pongki. Semua demi kelancaran pertemuan malam ini, untuk membahas sang bedebah yang bernama Frans.
__ADS_1