Masteng

Masteng
172. Sampai jumpa esok hari


__ADS_3

Kicauan burung yang bernyanyi di ranting pohon yang tumbuh tepat di samping jendela villa dimana Pongki dan Berta bermalam, membangunkan Berta dari tidur nyenyak nya. Ia menatap langit-langit kamar itu, lalu ia menoleh ke sisi kirinya. Terlihat Pongki yang masih terjaga sambil terus menatap dirinya. Berta terhenyak dan beranjak duduk di atas ranjang itu.


"Kamu tidak tidur?" Tanya Berta.


Pongki hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu tangan nya menyentuh pipi Berta dengan lembut.


"Kenapa tidak tidur? Apa kamu tidak lelah?" Tanya Berta lagi.


"Tidak, aku hanya ingin memandangi kamu sepanjang malam." Pongki pun beranjak duduk seraya terus menatap Berta.


"Pongki, kamu..."


"Biarlah... Jangan protes dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak bekerja, aku juga tidak peduli akan sakit. Aku hanya sedang menunggu mati. Jadi, izinkan aku menatap wajahmu sepuas-puasnya. Agar aku tenang menghadapi hari esok."


Berta terdiam, semua sendiri di tubuhnya melemas seketika kala mendengar ucapan Pongki.


"Baiklah," Berta menundukkan wajahnya dalam-dalam..


"Kamu mau kopi?" Tanya Pongki.


"Mau, tapi aku ingin mandi terlebih dahulu."


"Mau aku temani? Aku juga ingin mandi. Aku ingin kita selalu berdua, melakukan apa pun berdua." Pongki tersenyum menatap Berta yang mulai merasa hancur kala mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Pongki.


Berta hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.


"Yuk," Pongki mengulurkan tangannya dan disambut oleh Berta. Mereka berdua pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar villa itu.


Pagi itu hidangan sarapan sudah tersedia di meja makan. Pongki dan Berta tinggal menikmatinya saja. Mereka sarapan bersama setelah mereka selesai membersihkan diri mereka. Lalu mereka melanjutkan kebersamaan mereka dengan menikmati segelas kopi di beranda villa itu.


Mereka tidak mempedulikan para petugas yang sedang berjaga beberapa meter dari mereka. Seakan tidak ada orang lain selain mereka berdua. Mereka kerap bermesraan dan juga berbicara dari hati kehati. Mereka berdua benar-benar ingin memaksimalkan waktu yang mereka miliki bersama pada saat ini.


Dan.... tepat pukul 12 siang, seorang petugas menghampiri mereka yang sedang asik bercengkrama di ruang keluarga di villa itu.


"Pak Pongki, waktu anda tinggal satu jam lagi. Kami harap, anda harus bersiap-siap kembali ke lapas, mulai dari sekarang."


Berta menatap petugas itu dengan tatapan tak rela. Pun dengan Pongki terlihat pasrah.


"Pak, tidak bisa kah sampai esok hari?" Tanya Berta.

__ADS_1


"Tidak bu, karena bapak harus di isolasi terlebih dahulu." Terang petugas itu.


Berta terhenyak, ia menatap Pongki yang mencoba tersenyum kepada dirinya.


"Tidak apa-apa, besok kita akan bertemu lagi," Ucap Pongki.


"Bertemu? Lalu aku membawa kamu pulang dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa, maksudmu? Apakah itu pertemuan? Itu lebih pantas disebut perpisahan, Pongki!"


Pongki terdiam, lalu ia menghampiri Berta dan memeluk Berta dengan erat.


"Pak, saya akan bersiap-siap. Terima kasih," Ucap Pongki kepada petugas itu.


Petugas itu pun mengangguk dan bergegas meninggalkan ruang keluarga itu.


"Kamu.." Berta tak kuasa menahan air matanya.


"Sudahlah.." Pongki mengusap air mata Berta dan juga mengusap punggung Berta untuk menenangkan istrinya itu.


"Kamu tahu, aku pasti akan sangat merindukan kamu."


"Kalau kamu rindu, rajin-rajinlah mengunjungi aku ke makam," Ucap Pongki.


"Mengapa ini begitu berat...." Berta semakin larut dalam tangisan nya.


Tak ada kata yang terucap lagi dari bibir Berta. Ia hanya memeluk Pongki dengan erat. Hingga waktu yang di tentukan pun menemui ujungnya. Petugas tadi pun kembali, mencoba untuk membawa Pongki kembali ke lapas. Sedangkan Berta harus kembali kerumahnya.


"Sampai jumpa besok," Ucap Pongki seraya memberikan senyuman terbaik nya untuk Berta yang masih terus menangis.


"Berjanjilah untuk datang dan menjemput aku." Sambung Pongki lagi.


Berta hanya terdiam dan terus menatap kekasih halal nya itu.


"Jangan bersedih, walaupun ragaku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku akan hadir dalam wujud apa pun. Bila malam, aku akan menjadi bulan. Bila siang, aku akan menjadi matahari kamu. Bila bulan sedang tidak muncul, aku akan hadir dalam bentuk bintang. Bila hujan, aku akan datang dalam bentuk kenangan."


Mendengar ucapan Pongki, tangisan Berta semakin menjadi. Ia menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya gemetar dan bahunya terguncang hebat.


"Selamat tinggal cinta, sampai jumpa esok hari." Pongki mengecup kening Berta. Lalu ia mengikuti petugas yang tengah menggiring dirinya ke sebuah mobil yang baru saja tiba satu jam yang lalu.


"Pongki!" Panggil Berta, lalu wanita itu berlari menghampiri Pongki yang baru saja hendak memasuki mobil jemputan nya.

__ADS_1


Pongki mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil itu dan kembali menatap Berta.


"Aku mencintaimu," Ucap Berta seraya memeluk Pongki dengan erat.


Pongki tersenyum, lalu ia membalas pelukan Berta tak kalah eratnya.


"Aku juga sangat mencintai kamu. Biarlah cinta ini aku bawa selalu, walaupun nyawa ini terpisah oleh ragaku."


"Pak, sudah saat nya." Tegur seorang petugas.


"Iya pak," Pongki mengangguk pasrah.


"Aku pergi dulu. Jangan lupa untuk hadir besok,"


Berta terdiam, ia harus rela melepas kepergian Pongki yang harus kembali kedalam sel tahanan nya di Nusakambangan.


Tak lama kemudian, seorang petugas meminta Berta untuk ikut dengan nya dan mengantarkan Berta ke kediamannya.


..


Maaf, aku tidak bisa pulang malam ini. Aku sedang dalam perjalanan tugas. Jaga diri baik-baik dirumah. Sampaikan peluk dan cium ku untuk putra kita, Jagat.


Topan mengirimkan pesan tersebut kepada Bella.


"Kenapa Bell?" Tanya Erna, saat melihat Bella termenung di ruang keluarga sambil memberikan ASI untuk Jagat.


"Mas Topan katanya tidak pulang bu." Sahut Bella.


"Oh, sudah biasa begitu. Sebagai istri abdi Negara, harus siap untuk di tinggal-tinggal saat bertugas. Tetapi, kamu jangan khawatir, ada ibu yang menjaga kamu dan Jagat," Ucap Erna.


"Terima kasih bu," Ucap Bella seraya tersenyum kepada Erna.


"Berarti, besok Topan tidak bisa ke Nusakambangan?" Tanya Erna.


Bella menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mami mu dan baba akan berangkat besok pagi. Kita harus sabar dan menanti di sini. Kamu yang kuat ya Bell."


Bella menahan tangisnya, lalu ia mengangguk dengan lemah.

__ADS_1


Besok, rumah itu akan ramai oleh para pelayat yang mengenal Pongki. Mereka akan menyampaikan duka citanya kepada Berta dan keluarga. Walaupun tidan dapat melihat jasad Pongki untuk yang terakhir kali. Karena jasad itu sudah di kemas dengan peti mati saat tiba di rumah duka dan akan langsung di kuburkan di makam keluarga Berta yang tidak jauh dari kediamannya.


Siap atau tidak, Bella, Berta, Topan dan semua orang yang mencintai Pongki, harus rela melepaskan kepergian Pongki. Siap atau tidak, nama dan segala tentang Pongki akan segera menjadi kenangan.


__ADS_2