Masteng

Masteng
25. Paijo, terima kasih..


__ADS_3

"Ayo makan," Berta mempersilahkan Topan untuk makan semeja dengan dirinya, di salah satu restoran yang berada di mall tersebut.


"Iya, kanjeng mami." Sahut Topan dengan gaya Paijo yang terlihat canggung dan malu-malu.


"Kalau kamu begini, kan enak dilihat nya," Ucap Berta dengan wajah yang begitu mengagumi Topan.


Topan kembali tersenyum malu-malu. Lalu, mereka mulai makan malam bersama.


"Kanjeng mami, apa pak boss tidak mencari kita?" Tanya Topan, memancing percakapan dengan Berta.


Berta berhenti mengunyah dan menatap Topan dengan seksama. Lalu, ia tersenyum tipis.


"Tidak," Ucap nya singkat.


"Maaf kanjeng mami, saya merasa tidak enak, karena kanjeng mami membelanjakan saya sebanyak ini," Ucap Topan sambil menunjuk paper bag yang banyak, yang terletak di atas meja.


"Takutnya pak boss dan non Bella nanti salah paham," Sambung Topan.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Saya tidak bermaksud apa-apa dengan mu. Jujur, saya jalan denganmu, saya merasa jalan dengan anak kandung saya sendiri. Sebenarnya, Bella mempunyai kakak laki-laki. Hanya saja, dia meninggal saat dilahirkan ke dunia ini. Mungkin dia lebih muda setahun atau dua tahun darimu."


Topan terdiam, ia menatap kedua mata Berta yang mulai berkaca-kaca.


"Kakak nya non Bella meninggal karena apa kanjeng mami?" Tanya nya dengan ekspresi yang terlihat polos.


"Waktu itu saya dan Pongki tidak memiliki banyak uang seperti saat ini. Anak pertama kami ada masalah sejak di dalam kandungan. Jadi, dia terlahir hanya bertahan satu menit saja." Air mata terjatuh di pipi Berta.


Topan mulai merasa tidak enak hati, karena membuat Berta menangis.


"Maafkan saya kanjeng mami, saya terlalu banyak bertanya, yang membuat kanjeng mami menjadi sedih kembali," Ucap Topan.


"Tidak apa-apa, sekarang ada kamu. Walaupun kamu kerja dengan saya, tetapi saya tidak menganggap kaku pekerja. Saya merasa kamu seperti anak sendiri."


Deggggg...!


Entah mengapa Topan semakin tidak tega dengan Berta yang begitu tulus dengan dirinya.


"Ayo, dilanjut makan nya. Makan yang banyak, biar kamu sehat," Ucap Berta.


Dengan ragu, Topan mengangguk dan melanjutkan makan nya.


"Sepertinya, saya akan bercerai dengan Pongki," Ucap Berta setelah beberapa menit mereka melanjutkan makan malam itu.

__ADS_1


Topan yang baru saja menghabiskan makanan nya, terdiam menatap Berta yang mengatakan akan bercerai dengan Pongki.


"Kenapa? Kanjeng mami? Apa karena wanita itu..." Dengan cepat, Topan merasa bersalah dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Maaf kanjeng mami, saya lancang," Ucap nya dengan ekspresi wajah yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, toh kamu juga sudah tahu." Berta tersenyum, untuk mencair kan suasana.


"Tidak, saya memang lancang. Saya minta maaf," Ucap Topan.


"Tidak apa-apa, memang begitu kenyataannya. Bagaimana pun, saya tidak bisa memaafkan perselingkuhan." Tegas Berta.


Topan terdiam dan terlihat canggung.


"Menurut mu, mengapa lelaki mempunyai banyak wanita Jo?" Tanya Berta.


Topan yang belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, terlihat bingung saat akan menjawab pertanyaan yang di lontarkan kepadanya.


"Hmmmm, saya tidak tahu kanjeng mami."


"Jangan bilang sama saya, kalau kamu belum pernah memiliki kekasih, atau tidak pernah mendua?" Tanya Berta.


Topan menggelengkan kepalanya dengan polos.


"Jadi memang belum pernah memiliki kekasih?" Tanya Berta lagi.


"Belum, kanjeng mami." Sahut Topan.


"Tetapi, kamu normal kan?"


"Ya normal lah kanjeng mami..." Ucap Topan dengan wajah yang serius.


"Hahahaa. saya hanya bercanda bertanya seperti itu. Tetapi, saya bertanya kepada kamu yang sebagai seorang lelaki normal. Apakah lelaki butuh banyak wanita di hidup nya?" Tanya Berta.


Topan terdiam, ia memikirkan jawaban yang tepat untuk Berta.


"Bagaimana? Apakah benar lelaki butuh banyak wanita?" Desak Berta.


"Ya, lelaki butuh banyak wanita. Hanya saja, bila dirinya mencintai satu wanita, banyak wanita tidak akan bisa mematahkan perjuangan nya untuk satu wanita yang ia cintai," Ucap Topan.


Berta terdiam, ia menundukkan pandangan nya.

__ADS_1


"Lelaki itu makhluk yang memang di ciptakan untuk tidak bisa hidup tanpa wanita. Jadi, bagaimana pun dia tidak bisa hidup tanpa wanita. Banyak wanita yang mendekat, juga bukan berarti dia akan menikahi dan memiliki hati dengan banyak wanita itu. Lelaki hanya memiliki satu cinta di dalam hidupnya. Walaupun sebrengsek apa pun lelaki itu. Bila lelaki sudah mengenal satu cinta itu, dia akan bermain perasaan. Lelaki tidak terbiasa bermain perasaan. Jadi, bila wanita itu pergi, lelaki akan hancur sehancur hancur nya."


"Sedangkan wanita, wanita sudah terbiasa bermain dengan perasaan. Wanita makhluk lembut yang terlalu gampang memberikan cinta dan kasih sayang. Bila dia di tinggalkan, dia akan hancur sesaat dan kembali bangkit. Karena sudah terbiasa dan terlatih dengan perasaan. Itulah mengapa, wanita dan lelaki tidak bisa disamakan, dan tidak akan pernah ada titik temu. Hanya saja, kekuatan cinta yang mampu membuat dua insan mau saling memperjuangkan dan mau untuk tetap seiring sejalan." Sambung Topan.


Berta terperangah, ia tidak percaya Topan mambu berkata seperti itu.


"Kamu dewasa sekali Paijo. Kamu berbicara seperti seorang yang berpendidikan tinggi. Ini surprise bagi saya," Ucap Berta.


Topan tersenyum, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Gunanya kita sering bergaul dengan yang lebih tua, seperti ini kanjeng mami. Pendidikan dan ilmu pengetahuan tidak hanya berada di sekolah. Pengalaman orang lain juga bisa kita jadikan pengetahuan. Agar suatu saat, bila kita menghadapi masalah yang sama, kita bisa tahu, bagaimana cara menghadapi nya."


Berta menatap Topan dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Kamu pintar Paijo,"


Topan tersenyum simpul dan kembali menundukkan wajahnya.


"Perjuangan apa yang akan dilakukan lelaki demi wanita yang ia cintai?" Tanya Berta lagi.


"Lelaki akan berjuang untuk mempertahankan hubungan. Mulai dari membahagiakan, tidak membuat wanitanya miskin dan merasa susah. Mempertahankan hubungan, walaupun apa yang terjadi. Melakukan yang terbaik, seperti melayani dan mendengarkan. Mampu mengelola emosi nya, dan tidak berkata kasar, walaupun dirinya merasa direndahkan atau bahkan di abaikan wanitanya. Begitulah," Ucap Topan.


Berta terdiam, semua yang dikatakan Topan, persis seperti sosok Pongki yang ia kenal selama ini. Pongki berusaha membuat dirinya tidak sengsara dengan kemiskinan, walaupun dengan cara yang salah. Pongki tetap mempertahankan hubungan, selama ini. Bahkan, Pongki rela melepaskan Anna, demi dirinya. Pongki selalu melakukan yang terbaik dan mendengarkan Berta, mulai dari awal menikah hingga sampai detik ini. Pongki juga mampu mengelola emosinya dan tidak sekalipun berkata kasar kepada Berta. Semua itu ada pada Pongki. Hingga Berta merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Pongki dan merasa Pongki adalah segalanya dan yang terbaik. Hanya saja, penghianatan ini membuat dirinya merasa shock dan tidak terima. Mengapa lelaki baik seperti itu mampu menghianati dirinya? Walaupun Berta tahu alasan nya, tetapi penghianatan tetap penghianatan. Cukup melukai hatinya yang lembut dan gampang terluka.


"Apa saya harus memaafkan dia?" Gumam nya.


"Semua terserah kanjeng mami. Memaafkan memang butuh waktu. Tetapi, setidak nya, jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk berpisah. Pertama, kasihan non Bella. Kedua, pak boss pernah bilang sama saya, dia sangat mencintai kanjeng mami dan non Bella. Bila sesuatu terjadi pada pak boss, dia menitipkan kanjeng mami dan non Bella pada saya," Ucap Topan.


Berta mengerutkan keningnya,


"Kapan dia bilang seperti itu?" Tanya Berta penasaran.


"Malam kemarin, dia mendatangi kamar saya, dan kami menghabiskan beberapa bungkus rokok dan beberapa gelas kopi berdua. Kami berbicara panjang lebar. Pak boss orang yang baik, dia sangat mencintai keluarganya dan rela melakukan apa saja demi kanjeng mami dan non Bella."


"Percayalah kanjeng mami, seorang lelaki sangat sulit mengungkapkan isi hatinya. Bila ia rela menyambangi saya ke kamar saya, hanya untuk mencari teman untuk berbicara masalah hati, sudah pasti, kanjeng mami dan non Bella adalah segalanya bagi pak boss." Sambung Topan.


Berta terdiam membisu. Apa yang dikatakan oleh topan memang masuk akal baginya.


"Ya Tuhan, jangan sampai mereka berpisah sebelum tugas ku terlaksana," Batin Topan.


Walaupun maksud dan tujuan Topan, bukan karena agar Berta dan Pongki berpisah, tetapi ucapan Topan sangat berarti bagi Berta.

__ADS_1


"Paijo, terima kasih," Ucap Berta, diiringi senyuman di wajahnya yang terlihat lega.


"Sama-sama kanjeng mami," Sahut Topan seraya membalas senyuman Berta.


__ADS_2