Masteng

Masteng
165. Surat


__ADS_3

Berta berjalan menuju ke kotak surat yang berada di samping gerbang rumah peninggalan kedua orangtuanya. Disana, ia meraih beberapa tumpuk surat yang di tujukan kepada dirinya. Mulai dari surat tagihan dan lain sebaginya. Di antara beberapa surat yang dirinya terima, terlihat sebuah surat bersampul warna cokelat. Yang diatasnya tertulis dari Lapas Nusakambangan. Tanpa berpikir panjang, Berta langsung merobek sampul surat tersebut dan membaca isi dari surat itu.


Kepada yang terhormat keluarga / Istri / anak / ahli waris dari narapidana Pongki Susilo.


Tertulis kata-kata itu di bawah kop surat yang berlogokan lembaga terkait.


Sambil berjalan menuju ke rumah, Berta terus membaca isi dari surat tersebut. Saat ia tiba di depan pintu rumah nya, Berta nyaris saja terjatuh, karena semua sendi tulangnya terasa lemas, setelah membaca inti dari yang tertulis di surat tersebut.


"Mas Pongki," Gumam nya.


Bella yang sedang cuti untuk menunggu kelahiran anak pertamanya dengan Topan, pun muncul dan bergegas untuk menyangga tubuh Berta yang nyaris terbanting di atas lantai.


"Mam!" Pekik Bella.


Dari dalam, Topan yang hendak berangkat bekerja pun muncul. Dengan cepat, ia membantu Bella dan menggendong tubuh Berta yang terlihat gemetar.


"Ada apa?" Tanya Topan seraya menatap Bella.


Bella hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak tahu menahu apa yang terjadi pada Berta. Setelah membaringkan tubuh Berta di atas ranjang kamar wanita paruh baya itu, Topan kembali ke beranda rumah itu. Saat ia tiba di beranda rumah itu, ia mendapatkan sebuah surat yang tampaknya menjadi penyebab Berta menjadi seperti itu.


Topan memungut surat itu dan membacanya secara perlahan. Ya, pantas saja Berta terkulai lemas karenanya. Itu adalah surat undangan untuk menyaksikan hukuman mati yang akan dijalankan oleh Pongki pada minggu depan. Tak hanay Berta yang lemas saat membaca surat tersebut. Pun dengan Topan yang langsung terduduk di tangga beranda tersebut.


"Bapak," Batin nya.


Topan mengusap wajahnya dengan gelisah, lalu kembali menatap surat tersebut.


"Mengapa cepat sekali?" Batin Topan lagi.


Tanpa sepengetahuan keluarganya, Pongki mengajukan permohonan untuk mempercepat hukuman matinya melalui pengacaranya. Bukan tanpa alasan, Pongki melakukan itu semua hanya untuk membuat keluarganya tidak lagi memikirkan tentang nya yang terkurung dalam penjara. Pongki ingin segera mengakhiri hidupnya dengan secepatnya.


Dreeeettt...! Dreeeettt!


Ponsel Topan bergetar, dengan malas ia meraih ponselnya dari kantong celana kerja yang ia pakai saat ini. Tertera di sana, nomor asing yang berasal dari daerah Cilacap. Topan mengerutkan keningnya, dengan ragu, ia menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo," Sapa nya dengan suara yang gemetar.


"Halo, selamat pagi Aipda Topan Alexander."


"Ya saya sendiri, selamat pagi."


"Saya mewakili pusat, atas permintaan terakhir dari terdakwa Pongki Susilo."


"Ada apa ya pak?" Tanya Topan.


"Saudara Pongki menuliskan di salah satu permintaan terakhir nya, bila ia ingin salah satu dari seorang eksekutor adalah anda."


Degggggg..!


Nyaris saja ponsel yang berada di genggaman Topan, terjatuh.


"Ide gila macam apa ini?" Gumam Topan.


"Kami hanya ingin menyampaikan permintaan terakhir dari saudara Pongki Susilo."


"Tapi pak, saya menantunya!" Topan nyaris gila mendengar permintaan terakhir dari mertuanya itu.


"Bila tidak merasa keberatan, lebih baik dibicarakan saja langsung dengan terdakwa. Kami tahu, ini sangatlah berat. Sebenarnya ini adalah tugas para sniper yang berpengalaman. Namun, salah satu yang tertera disini adalah permintaan tersebut dari saudara Pongki sendiri."


Topan terdiam membisu.


"Kapan saudara bisa datang ke sini?"


"Sa-sa-saya minta izin komandan saya terlebih dahulu."


"Baik, kabarkan saja pak,"


"Iya."


"Selamat pagi, maaf mengganggu waktu nya."


"Selamat pagi," Sahut Topan. Lalu, ia terdiam membisu. Topan memijat pelipisnya yang terasa pusing. Tanpa berpikir panjang, ia beranjak ke mobilnya dan langsung meninggalkan rumah tersebut.


Mendengar suara mobil Topan meninggalkan halaman rumah, Bella pun menyusul ke halaman rumah tersebut. Bella hanya melihat bagian belakang mobil Topan yang sudah menjauh dari pagar rumah nya.


"Kok aneh, tumben tidak izin terlebih dahulu," Batin Bella.


Saat Bella hendak beranjak masuk, matanya tertuju ke sebuah surat yang tergeletak di atas meja yang berada di beranda tersebut. Bella menghampiri dan meraih surat tersebut dan mulai membacanya. Sama seperti Berta dan Topan, seluruh persendian Bella terasa lemas, ia pun terduduk di atas kursi beranda itu.

__ADS_1


"Dad," Batin nya. Air mata mengalir di pipi Bella. Bagaimanapun, hari yang ia takutkan kini akan tiba, yaitu eksekusi mati dari orang yang sangat ia cintai. Yaitu, Pongki.


"Minggu depan?" Batin Bella lagi. Lalu ia berusaha beranjak dari duduknya. Namun, ia merasa tidak mampu berdiri, rasa nyeri terasa begitu menyakitkan di kedua pangkal paha nya.


"Allahu Akbar," Bella menahan rasa nyeri itu sambil memegangi perut nya yang membuncit.


"Astaghfirullah astaghfirullah," Bella terus menahan rasa sakit itu.


Byurrrrrrr..!


Bella terkejut saat melihat air ketuban keluar dari kewanitaan nya, hingga membasahi daster dan lantai tempat dirinya berpijak.


"Allahu Akbar!" Batin nya.


Bella berusaha kuat, ia bergegas berjalan masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan Berta, bila dirinya akan segera melahirkan.


"Mam..." Panggil Bella.


"Mam..." Panggil nya sekali lagi.


"Ya.." Sahut Berta yang masih terbaring di atas ranjangnya. Berta langsung mengusap air matanya dan bergegas turun dari ranjang itu.


"Ada apa Bella?" Tanya Berta yang masih berusaha menguatkan dirinya. Ia melangkah keluar dari kamar tersebut dan mendapatkan Bella yang berdiri dengan daster yang terlihat basah kuyup, saat Berta hendak menutup kembali pintu kamarnya.


"Bella! Kamu kenapa? Kenapa basah?" Tanya Berta.


"Sepertinya air ketuban, aku rasa aku akan melahirkan mam!" Seru Bella.


"Ya Allah! Ayo kita berangkat ke rumah sakit!" Berta yang panik, langsung bergegas mencari kunci mobil untuk membawa Bella ke rumah sakit.


"Hari perkiraan lahir nya kapan?" Tanya Berta yang baru saja mendapatkan kunci mobil.


"Seminggu lagi," Sahut Bella.


"Ya berarti kamu bisa melahirkan normal. Semoga saja," Ucap Berta seraya memapah Bella yang mulai susah berjalan, ke arah mobil.


"Kamu pasang sabuk pengaman nya. Mami akan menyetir agak kencang sedikit."


"I-i-iya mam.. mas Topan bagaimana?" Tanya Bella.


"Nanti di rumah sakit kita hubungi. Sekarang yang terpenting kamu harus sampai di rumah sakit terlebih dahulu."


Berta beranjak masuk di balik kemudi mobil. Lalu ia menyalakan mobil tersebut dan langsung meninggalkan halaman rumah itu.


.


"Selamat pagi Ndan!" Topan memberikan hormat kepada atasan nya yang sedang duduk di ruangan atasan nya itu.


"Pagi, ada apa?"


"Siap! Saya Topan Alexander meminta izin kepada bapak, bila hari ini saya...."


Dreeettt....! Dreeettt...!


Bunyi ponsel Topan terdengar begitu mengganggu. Atasan Topan pun melirik ke arah saku celana Topan.


"Topan, santai saja. Kamu angkat dulu panggilan masuk itu."


"Siap! Tidak pak, saya ingin meminta izin kepada bapak. Bila saya akan mengajukan cuti mendadak!"


Dreeettt..! Dreeeettt..!


"Apa kamu mau ke Nusakambangan?" Tanya atasan Topan tersebut.


"Duduklah terlebih dahulu. Mari kita bicara." Atasan Topan mempersilahkan Topan untuk duduk di bangku yang terdapat di depannya.


Dreettt..! Dreeettt...!


"Sebentar, kamu terima saja telepon itu," Ucap atasan Topan lagi.


"Tidak apa pak, saya matikan saja." Topan meraih ponselnya dan mematikan ponsel itu. Bagaimanapun ia harus mementingkan atasan nya dari pada urusan pribadinya.


"Kalau penting tidak apa-apa."


"Tidak pak, ada yang lebih penting. Ini menyangkut mertua saya."


"Ya, saya sudah mendapatkan surat nya."

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus saya lakukan pak?" Terlihat air mata mengambang di pelupuk mata Topan.


"Semua permintaan terakhir dari narapidana memang wajib kita penuhi. Setidaknya menyampaikan nya. Sekarang, apakah kamu siap?" Tanya atasan Topan.


"Tetapi, saya bukan sniper."


"Ya, tapi kan permintaan terakhir. Mau dikata apa?" Ucap atasan Topan lagi.


"Mengapa mertua saya melakukan itu? Saya penasaran, saya ingin bertemu dengan nya pak," Ucap Topan dengan raut wajah yang tampak memohon.


Atasan Topan menghela nafas panjang dan menatap Topan dengan seksama.


"Kamu mau menemui dia?"


"Siap pak! Saya mau!" Sahut Topan dengan penuh keyakinan.


"Saya akan berikan kamu izin. Biar tidak repot, biar saya minta kamu diantarkan saja memakai helicopter."


"Maaf pak, apa tidak merepotkan?" Tanya Topan.


"Tidak apa-apa. Saya memberikan izin. Kapan kamu mau berangkat?"


"Saya berangkat hari ini juga."


"Baik, dua jam lagi kamu berangkat."


"Siap! Terima kasih pak!"


"Sama-sama, bersiap lah."


"Siap!" Seru Topan. Lalu ia pun beranjak dari ruangan itu.


Saat Topan berada di ruangan nya dan bergegas untuk bersiap ke Nusakambangan, Topan pun mulai menyalakan ponselnya. Saat ponsel itu menyala, pesan pun masuk dengan bertubi-tubi.


Dreettt! Dreeeettt! Dreeeettt!


"Ada apa sih?" Batin nya. Lalu ia mencoba membuka salah satu pesan yang dikirimkan oleh Berta.


"Mami?" Topan mulai membaca pesan itu.


"Astaghfirullah!" Batin nya.


Topan pun langsung berlari kembali ke ruangan atasannya.


"Woi! Pan! Ngapain kau lari-lari?" Tanya Antok yang berselisih jalan dengan Topan saat di lorong kantor itu. Namun, Topan tampaknya sedang panik, ia tidak mempedulikan Antok. Langkah kakinya pun berhenti di depan ruangan atasan nya lagi.


Tok! Tok! Tok!


Topan seperti orang yang kalap saat mengetuk pintu ruangan atasannya itu.


"Masuk!"


Topan langsung membuka pintu ruangan itu dengan segera, sesaat setelah ia menerima perintah untuk masuk keruangan itu.


"Lapor komandan! Istri saya mau melahirkan!"


Atasan Topan yang juga merupakan sahabat baik dari Amoroso pun tercengang.


"Temani istri kamu! Helikopter bisa di atur dan saya pastikan kamu bisa bertemu dengan Pongki nanti di Nusakambangan!"


"Siap pak! Terima kasih!" Sahut Topan yang menatap atasannya dengan penuh haru.


"Berangkatlah nak! Banyak rekan mu yang tidak bisa menyaksikan buah hatinya terlahir di dunia ini. Saya ingin kamu merasakan dan melihat anak mu lahir dengan mata kepalamu sendiri."


"Siap pak! Alhamdulillah!" Seru Topan lagi, sambil menahan tangis harunya.


"Pergilah sekarang!"


"Siap!"


Topan berbalik badan dan bergegas meninggalkan ruangan itu.


Sang komandan tersenyum, dan menghela nafas panjang. Angan nya kembali ke belasan tahun lalu, dimana ia hanya mampu mengumandangkan adzan untuk putranya yang baru terlahir ke dunia ini, melalui sambungan telepon saja. Rasa sedih itu tidak ingin ia ulangi pada seluruh anak buah nya. Bila memang memungkinkan, ia akan memberikan izin untuk para anak buahnya yang akan memiliki bayi.


.


Begitulah para abdi Negara. Dedikasi nya melebihi apa pun untuk Negara, tugas dan masyarakat. Sedangkan keluarga bagi mereka harus dikalahkan. Dan untuk para wanita yang bisa dan sanggup mendampingi mereka adalah, hanya wanita-wanita yang terpilih dan kuat secara mental. Hanya wanita yang siap untuk di nomor kesekian kan bagi lelaki yang mereka cintai.

__ADS_1


Semoga Tuhan selalu melindungi para putra Negara dan keluarganya dimana pun mereka berada. -De'rini-


__ADS_2