Masteng

Masteng
170. Kisah terakhir


__ADS_3

"Pak, waktunya sudah selesai. Sekarang bapak dan ibu silahkan ikut kami," Ucap seorang petugas yang baru saja masuk kedalam ruangan tempat Bella di rawat.


"Ikut?" Tanya Berta.


"Ya, aku membuat permintaan untuk dapat menghabiskan waktu denganmu satu hari saja."


Berta terdiam, matanya menitikkan air mata haru. Ia tidak menyangka bila Pongki membuat permintaan seperti apa yang tengah ia impikan sebelum Pongki menghadapi hukuman nya.


"Terima kasih," Berta memeluk Pongki dengan erat dan menangis di dada Pongki yang terlihat begitu kurus saat ini.


"Jadi, Bella pulang sama saya saja ya," Ucap Erna.


"Boleh jeung, saya minta tolong ya jeung."


"Iya, lagian Topan juga bertugas kan pagi ini. Jadi, biar saya menginap dengan suami di rumah jeung Berta ya, sekalian membantu Bella untuk mengurus Jagat."


"Iya jeung, terima kasih banyak ya jeung." Berta terlihat begitu bahagia dengan pengertian Erna kepada dirinya.


"Tidak masalah jeung, Jagat cucu saya, Bella juga anak saya loh," Ucap Erna dengan penuh ketulusan.


"Terima kasih jeung, ini kuncinya." Berta menyerahkan kunci rumahnya kepada Erna. Lalu ia memeluk besan sekaligus sahabat nya itu dengan erat.


"Terima kasih banyak. Saya pergi dulu jeung. Titip Jagat dan Bella."


"Aman lah jeung. Asal jeung Berta bahagia, saya akan lakukan apa saja," Ucap Erna.


Berta menatap Erna dengan penuh haru, dan kembali memeluk nya dengan erat. Setelah itu, ia beralih kepada Bella yang tengah menggendong Jagat. Dihadapan putrinya itu, Berta menitikkan air mata dan menatap Bella dengan begitu dalam.


"Nak, sekarang kamu adalah seorang ibu. Baik-baik menjaga Jagat, anak mu. Mami pergi sebentar dengan daddy mu ya.."


"Iya mam," Sahut Bella yang ikut terharu dengan suasana di ruangan itu.


Pun dengan Pongki yang juga menghampiri Bella. Ia memeluk putrinya itu sekali lagi dan mengecup lembut kening Bella.

__ADS_1


"Daddy pergi dulu. Baik-baik ya.. hormati suami mu, sayangi anak mu. Salam untuk Topan."


"Iya dad," Bella menangis di dada Pongki.


Setelah itu, Pongki dan Berta meninggalkan ruangan itu. Di iringi para petugas yang mengawal Pongki, mereka menaiki lift untuk menuju ke lantai dasar. Di bawah sana, sudah ada mobil yang menunggu pasangan itu. Yang siap membawa mereka ke suatu tempat rahasia. Untuk menghabiskan waktu yang diberikan oleh petugas, khusus atas permintaan terakhir dari Pongki yang tertulis di lembar permintaan terakhir nya.


Ting!


Pintu lift pun terbuka di lantai dasar. Petugas, pongki dan Berta keluar dari lift tersebut. Semua mata tertuju kepada mereka. Dimana dengan hadirnya para petugas di rumah sakit itu, terlihat sangat tidak wajar. Tetapi saat mereka melihat adanya Pongki, mereka pun mengerti, bila para petugas itu sedang mendampingi Pongki untuk melihat cucu nya yang baru saja lahir.


Beberapa ponsel milik orang-orang yang berada disana mengarah kepada Pongki dan Berta. Seperti kebiasaan orang pada jaman sekarang, tidak ada lagi privasi di ruang publik. Semua gerak gerik atau apa saja bisa masuk ke buletin dan media di internet. Membicarakan kekurangan, aib dan lain sebagainya tidak lagi hal yang tabu pada jaman ini.


Pongki dan Berta memasuki sebuah mobil polisi yang menunggu di depan rumah sakit itu dan tak lama kemudian, mobil itu bergerak meninggalkan rumah sakit itu, menuju ke tempat rahasia yang hanya petugas yang tahu keberadaan nya.


Di dalam mobil, Berta terus menggenggam tangan Pongki. Pun dengan Pongki yang terus tersenyum dan menatap wajah cantik kekasih hatinya itu.


"Kamu semakin cantik," Ucap Pongki.


Berta tersipu malu, walaupun hati nya merasakan sakit yang luar biasa, karena ia tahu, setelah ini ia dan Pongki akan bertemu lagi di hari eksekusi nanti.


"Aku tidak tahu, kemana saja asal bersama denganmu adalah surga bagiku,"


Berta kembali tersipu, lalu ia memeluk Pongki dengan erat.


Satu jam kemudian, mobil itu berhenti di sebuah tempat. Berta dan Pongki pun di minta turun dan masuk kesebuah rumah yang terlihat seperti villa tersebut. Tanpa sepengetahuan Pongki dan Berta, ternyata Galang lah orang yang menyewakan villa itu untuk mereka berdua. Galang dan Erna jugalah yang menjamin, bila Pongki tidak akan macam-macam dan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Karena jaminan dari Galang dan juga Erna, maka kepala Lapas mengizinkan Pongki untuk menginap disana.


Kurang dari 24 jam, waktu yang diberikan untuk mereka. Karena besok siang, Pongki harus kembali lagi ke Nusakambangan. Mereka disambut oleh penjaga villa, yang bergegas membukakan pintu villa yang masih terkunci. Pongki dan Erna, di minta untuk menunggu di luar. Sementara sebagian petugas menyusuri setiap sudut ruangan, untuk memastikan bila tidak ada hal-hal yang membahayakan, baik bagi mereka, maupun bagi tahanan mereka.


Setelah semua dianggap aman, petugas mengizinkan Pongki dan Berta untuk masuk. Sedangkan sekitar 2 orang petugas bersenjata lengkap berjaga di depan villa itu, 2 lagi berjaga masing-masing di sisi kanan dan kiri villa, dan 2 orang lagi berjaga di pintu belakang villa. Sedangkan sisanya, beristirahat di paviliun villa itu. Mengumpulkan tenaga untuk menunggu giliran dirinya berjaga nanti malam.


Baru saja Pongki dan Berta masuk kedalam villa itu, Pongki langsung memeluk tubuh Berta dari belakang, dan menyenderkan kepalanya di pundak Berta.


"Aku sangat merindukanmu," Bisik Pongki.

__ADS_1


Berta membalikkan tubuhnya dan menatap Pongki dengan seksama.


"Pun denganku. Pikiran ku selalu tertuju kepadamu. Aku sangat merindukanmu, mencintaimu, sangat-sangat tidak ingin kehilangan kamu," Berta terisak, karena tidak mampu lagi menahan beban perasaan nya yang selama ini ia pendam sendiri.


"Maafkan aku, bila ini semua harus terjadi. Aku menyesal, tetapi memang tidak ada artinya lagi. Sua sudah terlambat. Inilah yang harus aku hadapi, untuk menebus segala dosa-dosa ku. Maafkan tentang impian hari tua yang harus terhenti. Aku harus pergi terlebih dahulu. Namun, di alam sana aku pastikan, aku akan tetap menunggumu Berta,"


"I love you so much," Sambung Pongki.


"I love you much more," Sahut Berta.


Lalu mereka saling berpelukan, bibir Pongki mulai menyentuh bibir Berta dengan lembut. Sentuhan-sentuhan yang selama ini mereka rindukan kini bebas mereka ekspresikan. Hanya hari ini... setelah ini tidak ada lagi.


Dengan penuh emosi kerinduan dan perasaan yang begitu dalam. Pongki menggendong tubuh Berta dan membawanya ke kamar utama yang berada di villa itu. Pongki membaringkan Berta di atas ranjang. Melucuti apa yang menempel di tubuh istrinya itu. Pun dengan Berta yang melakukan hal yang sama tanpa Pongki memintanya terlebih dahulu.


Emosi kerinduan, penyesalan, tidak ingin kehilangan, cinta, kasih, dan entah apa pun yang menyangkut dengan perasaan mereka pada hari ini, mereka tuangkan dengan cara bercinta. Ya, tepatnya bercinta sambil menangis. Bercinta dengan perasaan yang begitu dalam.


Beberapa saat kemudian, Pongki yang berpeluh, menatap Berta yang terisak di bawah tubuhnya, kala kepuasan telah ia capai. Pongki yang juga menangis, menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Berta. Lalu mereka berdua menangis tersedu-sedu. Hingga tubuh mereka berdua bergetar hebat, menahan perihnya perpisahan yang begitu dramatis.


"Maafkan aku," Bisik Pongki.


Berta mempererat pelukannya, mengecup lembut bibir Pongki. Menghapus air mata lelaki yang sangat ia cintai itu.


"Kelak walaupun kamu tak ada, aku akan selalu setia untuk mu. Kini, hidupku hanya menunggu mati dan menunggu untuk dipersatukan lagi denganmu di alam sana. Aku sangat mencintai kamu, karena ku, karena kedua orangtuaku, kamu jadi begini. Tetapi, sudahlah, tidak perlu disesali. Cinta ini akan menuntun ku kepadamu hingga saat nya tiba. Aku mencintai kamu kekasih ku," Ucap Berta dengan derai air mata yang membasahi seprai di ranjang itu.


Pongki terisak begitu hebatnya, hingga nafasnya tersengal, ia menjatuhkan tubuhnya di samping Berta. Lalu ia memukuli dadanya yang terasa begitu sakit.


"Berta, maafkan aku... maafkan kebodohan ku," Ucap nya di sela tangisan nya.


Berta mendekap Pongki kedalam pelukannya, dan menahan tangan Pongki yang terus memukuli dadanya. Lalu Berta mengusap dada Pongki dengan lembut dan penuh kasih.


"Ssssstttt.... tidurlah di dalam pelukan ku. Tenangkan dirimu, tenang lah diri kita. Bila ini semua terjadi, terjadilah... Tetapi, jangan sakiti dirimu sendiri. Disini ada aku, hari ini ada aku. Aku akan memberikan kisah terakhir yang begitu indah. Bila nanti saatnya, jangan takut, bayangkan saja kenangan indah ini. Doa ku, cintaku, akan selalu aku persembahkan untuk mu, walaupun kamu tak lagi di sisiku."


Mendengar ucapan Berta, tangisan Pongki semakin menjadi. Ia memeluk erat Berta dengan segenap perasaan 'menyesal' yang terus menghantuinya.

__ADS_1


.


Andaikan waktu dapat diputar kembali, sudah pasti Pongki tidak akan melakukan hal ini. Ini adalah pelajaran bagi kita semua, jangan pernah mengambil jalan pintas. Penyesalan akan selalu hadir, menghantui, bahkan membunuh diri sendiri. -de'rini-


__ADS_2