
Sebuah helikopter mendarat di pulau Nusakambangan pada malam ini. Dua orang personil berseragam serba hitam, lengkap dengan penutup kepala, turun dari helikopter tersebut. Dua personil tersebut berlari menjauhi helikopter yang akan kembali beranjak mengudara. Tak lama kemudian, sebuah helikopter kembali mendarat ditempat yang sama. Terlihat tiga personil memakai seragam yang sama turun dari helikopter tersebut dan bergegas berlari menjauhi helikopter itu.
Kelima personil di bawa oleh salah seorang petugas lain nya dengan sebuah mobil Jip menuju ke sebuah tempat yang diperuntukkan oleh mereka berlima. Ya, mereka adalah para eksekutor. Tidak ada yang saling berbicara di antara mereka, dan sudah dipastikan mereka tidak saling mengenal satu dengan yang lain nya dari wajah yang berada di balik Balaclava dan kacamata yang mampu menyamarkan bentuk mata mereka.
Mereka sengaja di hadirkan pada malam hari walaupun mereka akan bertugas pada esok hari. Itu semua bertujuan untuk memberikan mereka ruang dan waktu untuk menyiapkan mental dan kestabilan fisik mereka.
Mereka tiba di sebuah tempat rahasia. Disana kelima personil, di dampingi oleh masing-masing satu orang petugas yang siap untuk memeriksa mereka dan membawa mereka ke ruangan mereka masing-masing untuk beristirahat.
Sudah dipastikan salah satu dari kelima personil yang memakai seragam serba hitam itu adalah Topan. Topan di bawa ke suatu ruangan terpisah dari keempat personil lain nya dan di periksa, baik secara fisik maupun kejiwaan. Setelah itu, ia diantarkan menuju ke sebuah kamar yang mirip seperti sel tahanan, untuk beristirahat disana sendirian.
Di ruangan itu, barulah Topan bisa membuka penutup kepalanya. Karena itu adalah area pribadinya. Topan termenung di tepi ranjangnya dan menatap ke dinding ruangan itu.
"Bapak mohon, selesaikan tugasmu." Terngiang-ngiang ucapan Pongki yang begitu menyiksa batin nya. Lalu kini terbayang-bayang wajah Bella yang cantik, wajah Berta yang tulus dan wajah mungil sang pangeran hidup nya, yaitu Jagat Raya.
"Maafkan aku," Batin nya sambil mengusap kasar wajah tampan nya.
Pun dengan Pongki yang berada di sel tahanan nya. Ia sedang duduk bersimpuh di sajadah nya. Menangis memohon ampunan dari sang pencipta. Menyesali apa yang telah terjadi dan mencoba ikhlas dan siap untuk menghadapi hari esok. Suasana malam itu terasa amat mencekam bagi Pongki. Bagaimana tidak? Dirinya tahu bila besok ia akan mati dan pulang ke keluarganya dalam bentuk jasad.
Pongki tahu, dirinya sudah terlalu banyak memberikan air mata kepada keluarganya. Dan ia tidak ingin ada air mata lagi menghiasi wajah orang-orang terkasih nya. Cukup besok adalah air mata terakhir untuk dirinya, setelah itu dirinya cukup di kenang di ingatan orang-orang yang pernah menangis, tertawa, dan berjalan menghabiskan waktu dengan dirinya.
"Ya Allah, aku mohon, berikan kekuatan untuk ku dan orang-orang yang aku cintai. Terutama anak istriku dan menantuku," Ucap nya dari serentetan doa yang tengah ia panjatkan kepada sang pencipta.
.
Pagi menjelang, sejak subuh Berta sudah terjaga dan melaksanakan sholat subuh nya. Setelah itu, ia bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya, karena sebentar lagi, dirinya dan Galang yang menginap dirumahnya akan di jemput oleh petugas yang akan mengantarkan mereka ke suatu tempat. Lalu dengan helikopter mereka akan di bawa ke Nusakambangan, untuk menyaksikan hukuman mati Pongki yang akan dilaksanakan siang nanti.
__ADS_1
Berta meraih sebuah gaun hitam, gaun itu adalah pemberian Pongki pada hari jadi mereka yang ke-28 tahun. Gaun tangan panjang, dengan potongan rok sebetis kaki, itu mengusung model vintage yang sedang trend pada saat itu. Layaknya sedang bernostalgia pada jaman saat dirinya masih remaja, Berta sangat bahagia saat Pongki memberikan gaun itu pada dirinya.
Gaun itu sangat di sayang oleh Berta, saking sayangnya, dirinya sangat jarang memakainya. Hanya di saat-saat tertentu ia pakai dan itu hanya beberapa kali saja. Pertama saat makan malam dengan Pongki di hari jadi mereka, kedua saat mereka sedang makan malam di sebuah restoran mewah di Bali. Dan yang ketiga, pada hari ini, dimana Berta akan menyaksikan sang pemberi gaun akan meregang nyawa di tiang eksekusi.
Berta mengusap gaun itu dengan lembut. Lalu ia menanggalkan pakaian nya dan memakai gaun itu di tubuhnya. Gaun yang cantik itu terlihat semakin cantik di tubuh Berta yang mungil. Berta juga memoleskan make up tipis di wajah cantiknya. Untuk menyamarkan kedua matanya yang sembab. Serta lipstik berwarna peach, kesukaan Pongki di bibir nya yang indah. Tak lupa, Berta menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Parfum favorit dirinya dan Pongki, yaitu parfum beraroma rose.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari pintu luar kamar Berta.
"Ya?" Berta bergegas membukakan pintu kamarnya dan mendapati Bella berdiri di depan pintu kamar tersebut, dengan wajah yang sendu serta mata yang sembab.
"Mi," Bella menabrak tubuh Berta dan memeluk nya dengan erat.
"Ya sayang, sudah tidak apa-apa... ada mami nak," Berta mengusap punggung Bella yang tangisan nya mulai meledak di pelukan Berta.
Berta menatap surat tersebut dan mencoba tersenyum. Lalu ia meraih surat tersebut dan mengangguk dengan pasti.
"Mami yang sabar ya.." Bella kembali memeluk Berta yang berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar. Namun, namanya manusia yang memiliki cinta dan hati, tangisan itu pun kembali pecah di pelukan putri semata wayangnya.
"Kamu juga ya nak..."
"Iya mami.." Bella terisak di dalam pelukan Berta.
Tak lama kemudian, terlihat Erna dan Galang muncul di belakang Bella. Berta yang sedang memeluk Bella pun melepaskan pelukan putrinya itu dan mencoba tersenyum kepada Galang dan Erna.
__ADS_1
"Jeung," Erna menghampiri Berta dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Sabar ya.." Sambung Erna lagi.
"Terima kasih jeung, saya nitip Bella dan Jagat ya.."
"Tenang saja jeung, saya akan merawat mereka dengan baik." Janji Erna.
"Bagaimana bu? Apakah kita sudah bisa berangkat?" Tanya Galang.
"Bisa pak, tapi izinkan saya bertemu Jagat dulu," Ucap Berta.
Galang hanya mengangguk dan mempersilahkan Berta untuk bertemu cucu nya terlebih dahulu, di kamar Bella.
Sesampainya di kamar Bella, Berta menghampiri Jagat yang masih terlelap dengan nyenyak di box bayi nya. Berta mengusap pipi lembut bayi itu dengan ujung jari telunjuknya, lalu ia mengecup pipi dan kening bayi itu.
"Oma pergi dulu ya sayang. Nanti oma pulang membawa opa." Ucap nya dengan rasa sesak di dadanya.
Bayi mungil itu bergerak sesaat dan kembali terlelap.
"Jangan rewel yang pangeran hati, kasihan mama mu. Oma pergi dulu ya nak sayang," Ucap Berta lagi. Lalu ia sekali lagi mengecup bayi mungil itu dan beranjak meninggalkan kamar tersebut.
"Saya sudah siap pak!" Tegas Berta.
"Baik bu. Kita berangkat ke titik penjemputan," Ucap Galang.
__ADS_1
Berta mengangguk dan berjalan mengikuti Galang yang sudah terlebih dahulu berjalan ke arah beranda rumah itu.
Sedangkan Bella dan Erna hanya dapat melambaikan tangan mereka dan memanjatkan doa terbaik untuk Pongki dan Berta.