
"Aku harus pergi." Topan mengecup kening Bella yang baru saja memberikan ASI kepada Jagat, putra pertama mereka.
"Mas mau kemana?" Tanya Bella seraya mengancingkan dasternya.
"Tugas," Ucap Topan berbohong.
"Oh.. ya sudah, hati-hati ya mas," Ucap Bella seraya tersenyum dan memeluk Topan dengan hangat.
"Terima kasih, maaf aku tidak bisa menemani kamu. Padahal baru saja beberapa jam anak kita lahir. Aku berjanji, bila aku libur, kita akan bergantian menjaga Jagat."
"Tidak apa-apa mas, tidak perlu merasa tidak enak. Aku ibunya dan kamu bapak nya. Kamu diharuskan mencari nafkah, aku paham itu. Lagi pula disini ada mami dan ibu."
Topan menghela nafas lega dan mengecup kening Bella.
"Baik-baik ya sayang, kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Iya mas,"
"Assalamualaikum, aku berangkat dulu,"
"Waalaikumsalam, hati-hati ya mas,"
"Iya sayang.."
"Bu, mam, ba.. Topan berangkat dulu ya. Ada tugas memanggil,"
"Iya nak, hati-hati ya.."
"Siapp.." Topan tersenyum, mencoba untuk mengusir rasa gelisah nya. Lalu ia beranjak keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kearah lift, sambil meraih ponselnya dari saku celananya.
"Halo," Sapa nya kepada Antok yang berada di seberang sana. Suara bising terdengar sangat jelas dan membuat suara Antok yang tengah berbicara kepada Topan terdengar sangat samar.
"Dimana kau?"
"Mendarat saja diatas, dua menit lagi aku sampai," Ucap Topan.
"Hah?"
"Dua menit lagi aku sampai di atas!" Ulang Topan lagi.
"Diatas mana?"
"Di atas gedung rumah sakit lah! Kau ini! Kau pikir bisa helikopter mendarat diatas pohon?" Tanya Topan.
"Hah?"
"Alah! Ku kirim pesan saja lah! Gak akan dengar sama kau!" Ucap Topan yang terlihat kesal kepada Antok.
Ya, Antok ditugaskan untuk mendampingi Topan untuk menyambangi Pongki di Nusakambangan, Cilacap. Karena jarak yang sangat jauh dari Jakarta, maka atasan Topan sengaja meminjam helikopter untuk keperluan Topan dalam menemui mertuanya itu.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung itu. Hanya saja, untuk kembali naik ke tempat titik helikopter mendarat, Topan harus menaiki beberapa lantai lagi.
"Sore pak!" Sapa seorang yang sedang berjaga di lantai paling atas.
"Sore," Topan mengangguk dan tersenyum kepada orang tersebut. Orang yang sudah menunggu Topan untuk membukakan pintu kearah roof top gedung tersebut.
"Helikopter belum tiba pak,"
"Tidak apa-apa, saya tunggu di atas saja," Ucap Topan.
"Baik pak, saya buka ya pak,"
"Boleh," Sahut Topan.
Lelaki itu membuka gembok dari pintu akses menuju ke roof top. Setelah pintu itu terbuka, ia mempersilakan Topan untuk keluar dari pintu tersebut.
"Saya menunggu disini saja pak, hingga helikopter nya mendarat."
"Terima kasih," Sahut Topan..
Jantungnya berdegup kencang, saking gelisah nya, Topan meraih sebatang rokok dari kotak rokok yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya. Lalu membakarnya dan menghisapnya secara perlahan. Matanya terus mengawasi langit disekitar gedung rumah sakit tersebut.
"Mana lah si Antok itu!" Batin nya.
Tak lama kemudian, dari kejauhan terlihat sebuah helikopter terbang mendekat. Topan masih menghisap rokoknya sambil terus mengawasi helikopter yang semakin mendekat ke gedung tersebut. Lalu ia mengirim pesan kepada Antok yang sedang berada di helikopter itu bersama seorang pilot dari salah satu personel angkatan udara.
Aku dibawah.
Topan mengirim pesan itu kepada Antok.
Tak lama kemudian helikopter mulai bergerak turun tepat di bawah tanda berwarna hijau dengan tulisan huruf 'H' di lantai roof top tersebut.
"Paaaaannnn!" Antok melambaikan tangannya.
Topan mematikan rokoknya dengan tumit sepatunya. Lalu memungut puntung rokok itu dan membuangnya di tempat sampah yang terletak di samping pintu masuk.
__ADS_1
"Pak, saya jalan dulu. Terima kasih ya," Ucap Topan kepada orang yang membukakan pintu roof top untuk diri ya.
"Iya pak, hati-hati ya.."
"Terima kasih," Ucap Topan seraya melangkah mendekati helikopter itu.
Topan sedikit merunduk dan berlari untuk menuju ke helikopter itu. Lalu ia masuk dan langsung memakai alat untuk menutup telinganya dan juga berfungsi untuk komunikasi antara sesama penumpang dan pilot di helikopter itu.
"Ready?" Tanya pilot tersebut.
"Ready." Sahut Topan dan Antok.
"Ok, it's time to flight..!"
Helikopter itu pun beranjak naik ke udara, dan bergegas untuk meninggalkan langit kota Jakarta.
...
"Jeung, kenapa?" Tanya Erna saat melihat Berta yang terlihat sangat murung.
Berta mengangkat wajahnya dan menatap Erna, lalu ia tersenyum manis kepada sahabat sekaligus besan nya tersebut.
"Tidak ada apa-apa bu."
"Masa? Cerita jeung, kalau ada apa-apa." Erna berusaha meyakinkan Berta.
Berta kembali tersenyum, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Daddy akan di eksekusi minggu depan bu," Ucap Bella.
Erna menatap Bella dan lalu ia mengalihkan tatapan kepada Berta.
"Benarkah itu jeung?"
Berta kembali menatap Erna dan kembali tersenyum. Namun kali ini senyuman Berta terlihat begitu getir. Semua yang berada di ruangan itu terdiam membisu. Hanya suara Jagat saja yang terdengar merengek karena menginginkan dekapan ibunya.
Galang beranjak dari duduknya dan membantu meraih Jagat dari dalam box bayi. Lalu menyerahkan Jagat kepada Bella yang menyambut Jagat dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih ba.." Ucap Bella.
"Sama-sama anak ku," Sahut Galang. Lalu ia kembali duduk disamping Erna yang sedang menatap Berta yang terlihat sangat gelisah.
"Mengapa begitu cepat. Padahal belum setahun vonisnya?" Ucap Erna lagi.
"Dia meminta untuk dipercepat," Sahut Berta.
"Mungkin ini yang terbaik bagi dia, saya hanya bisa pasrah. Saya tidak bisa mengatur dia, yang merasakan penderitaan di dalam sana bukan saya, tetapi dia," Ucap Berta yang terlihat sangat pasrah dengan keputusan Pongki.
Erna dan Galang masih terdiam. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk Pongki dan Berta.
"Apakah dia tahu cucunya sudah lahir?" Tanya Galang.
Berta menggeleng lemah dan kembali tersenyum getir.
"Saya akan menghubungi bapak Pongki. Saya akan memberikan dirinya kabar bahagia ini. Setahu saya, setiap terpidana mati mendapatkan tiga permintaan terakhir yang harus dipenuhi oleh hukum," Galang beranjak dari duduknya dan bergegas untuk menghubungi Lapas Nusakambangan.
"Terima kasih pak," Ucap Berta.
"Tidak masalah bu," Sahut Galang.
..
Pongki terdiam di dalam sel tahanan nya. Satu minggu sebelum dirinya di eksekusi, ia dipindahkan di sel khusus yang hanya ditempatkan dirinya sendiri. Di tangan nya terdapat selembar kertas dan sebuah pulpen. Tiga permintaan, salah satunya sudah ia ajukan beberapa hari yang lalu. Yaitu ia ingin Topan menjadi salah satu diantara lima orang eksekutor yang akan menembak dirinya. Tinggal dua permintaan lagi yang belum ia isi.
Pongki menatap langit-langit selnya. Lalu ia kembali menatap kertas yang berada di tangannya tersebut.
Saya ingin menghabiskan satu hari dengan istri saya. Bila tidak bisa satu hari, izinkan beberapa jam saja saya bertemu dengan istri saya, Berta. Tulis nya.
Tinggal permintaan yang ketiga.
Tiba-tiba saja terdengar langkah kaki dari sipir penjara yang mendekati sel nya.
Tok! Tok!
"Bapak Pongki Susilo!"
"Ya.." Sahut Pongki. Lalu ia meletakkan kertas dan pulpen yang sedang ia pegang ke atas ranjang lusuh nya, dan beranjak dari duduknya.
Sreeekkk!
Seorang sipir membuka lubang kecil berukuran sebesar buku tulis, yang berada di pintu besi tersebut. Terlihat wajah sipir itu menatap Pongki yang berdiri menatap wajah sipir itu.
"Ada telepon untuk bapak. Silahkan ikut kami. Sebelumnya dimohon untuk menghadap tembok!" Pinta sipir itu.
"Ba-baik," Sahut Pongki seraya mengangkat kedua tangan nya dan menghadap dinding sel tersebut.
Sipir mulai membuka pintu sel tersebut dan melangkah masuk. Setelah memastikan Pongki tidak berbahaya, barulah dirinya mendekati Pongki dan membawa lelaki paruh baya itu ke ruangan dimana seseorang sedang menunggu untuk berbicara dengan Pongki melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Silahkan," Ucap sipir penjara itu, sambil menunjuk gagang telepon yang tergeletak di atas meja.
Pongki mengangguk, lalu ia meraih gagang telepon dan menyapa seseorang yang tengah menunggu dirinya.
"Halo, assalamualaikum," Sapa Pongki.
"Waalaikumsalam," Sahut Galang.
"Ini siapa?" Tanya Pongki.
"Saya Galang, ayah kandung Topan.
"Oh iya pak Galang, apa kabar? Apa yang membuat bapak untuk menghubungi saya?" Tanya Pongki yang terlihat penasaran. Karena inilah kali pertama nya Galang menghubungi Pongki secara pribadi.
"Jangan khawatir pak, saya ingin memberikan kabar baik."
"Kabar apa itu pak?" Tanya Pongki.
"Hari ini, tepatnya tadi pagi menjelang siang. Kita sudah menjadi kakek. Anak Topan dan Bella sudah lahir. Bella melahirkan anak laki-laki, yang diberi nama Jagat Raya Putra Alexander."
Pongki terpaku mendengar kabar bahagia itu. Tangan nya gemetar, semua sendinya terasa lemas. Pongki pun terduduk di kursi plastik yang berada di dekat telepon kantor tersebut.
"Benarkah?" Tanya nya, seraya mengeluarkan air mata yang tidak dapat ia bendung lagi.
"Ya pak. Bayi laki-laki itu terlahir dengan sempurna. Tampan seperti bapak Pongki," Ucap Galang.
Pongki menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan rasa bahagia yang tengah ia rasakan pada saat ini.
"Bagaimana keadaan Bella anak saya pak?" Tanya Pongki.
"Alhamdulillah, Bella sehat, pun dengan kami semua disini. Pak, apakah benar eksekusi akan dilaksanakan minggu depan?"
"Ya," Sahut Pongki dengan suara yang terdengar mulai serak.
"Sudah berapa permohonan yang bapak ajukan?"
"Du-dua," Sahut Pongki lagi.
"Saya akan bantu permohonan ketiga. Lebih baik, bapak memohon untuk bertemu dengan cucu bapak."
Pongki terdiam, perlahan senyum nya mulai mengembang di bibirnya.
"Bisakah?" Tanya nya dengan raut wajah yang tak percaya.
"Insyaallah. Saya dan istri saya akan membantu bapak. Kami akan berbicara dan membuat permohonan itu untuk bapak kepada orang yang berwenang."
"Te-terima kasih pak!" Ucap Pongki dengan tangis haru nya.
"Sama-sama pak."
"Saya akan mengajukan permohonan itu. Saya harap saya bisa melihat cucu saya untuk yang terakhir kalinya."
"Insyaallah, kami akan upayakan," Janji Galang.
"Terima kasih pak... terima kasih.."
"Sama-sama pak. Saya hanya ingin mengabarkan hal itu. Setelah ini, mari sama-sama membuat permohonan."
"Siap pak.."
"Ya sudah, sampai jumpa."
"Iya pak, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Galang.
Pongki mengembalikan gagang telepon tersebut ketempat nya. Lalu ia menatap wajah para sipir yang terlihat siap untuk membawa dirinya kembali kedalam sel khusus.
"Saya punya cucu.." Ucap nya tanpa di tanya oleh para sipir yang sedang menggiring dirinya kembali ke dalam sel.
"Cucu saya laki-laki.." Ucap nya lagi.
Sipir masih diam tanpa menanggapi ucapan Pongki.
"Saya akan melihat dia sebelum saya mati," Ucap nya lagi.
Cklekkk!
Pintu sel milik Pongki terbuka.
"Silahkan masuk!" Perintah sipir tersebut.
"Saya akan bertemu dengan Jagat, cucu ku tercinta."
Brakkkkkk!
Pintu sel itu tertutup. Tanpa mengatakan apa pun, para sipir melangkah pergi dengan air mata yang mereka tahan sekuat hati mereka.
__ADS_1
Sipir, walaupun mereka terlihat acuh dan sedikit tidak punya perasaan. Sebenarnya mereka adalah manusia yang mencoba untuk tidak terbawa perasaan saat bertugas. Banyak kisah yang menyedihkan di dalam Lapas, dan hanya mereka yang tahu, bagaimana bertindak tanpa melibatkan perasaan dari kisah-kisah yang mengundang rasa pilu.