Masteng

Masteng
39. Bali (2)


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi oleh Topan dan Pongki, mendarat di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Saat mereka tiba, mata hari sudah condong ke barat. Pongki dan Topan, bergegas keluar dari badan pesawat, setelah seluruh penumpang di izinkan untuk meninggalkan pesawat komersil tersebut.


Mereka melangkah menuju ke terminal kedatangan domestik. Tampak Topan yang berakting kampungan, seakan ia tidak pernah menjejaki kakinya di Bali. Wajah Topan yang polos, serta bibirnya yang menganga takjub melihat ornamen khas Pulau Dewata di bandara tersebut, membuat Pongki tertawa. Pongki tertawa bukan meledek Topan, melainkan, ia merasa bahagia karena bisa membawa Topan ke Bali. Dimana Pulau Bali adalah destinasi impian banyak orang. Bahkan, masih banyak yang belum pernah ke Bali. Walaupun berada di negara yang sama.


Bagaimana tidak, Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Banyak tempat yang tidak bisa di jangkau bagi orang yang seperti 'Paijo' menurut pandangan orang seperti Pongki. Selain itu, untuk mencapai ke berbagai tempat di negara ini, dibutuhkan waktu dan biaya yang luar biasa bagi banyak orang di negeri sendiri. Karena biaya transportasi mengikuti jarak yang di tempuh.


Paijo menunggu untuk mengambil koper mereka yang akan dikeluarkan dari bagasi pesawat. Sementara Pongki, ia menunggu di luar. Seorang bodyguard sudah menunggu dirinya, siap dengan mobil dan supir yang akan Pongki pakai selama di Bali.


Sepuluh menit kemudian, Topan muncul membawa dua koper yang ia seret mendekati Pongki yang sedang berbincang dengan bodyguard yang ia sewa. Lalu, tanpa membuang banyak waktu, mereka pun bergegas menuju ke hotel yang sama dengan hotel yang di tempati oleh Berta.


Jarak antara Bandara dengan hotel tujuan Pongki, sekitar 30 menit saja. Tetapi, karena sore menjelang malam ini lalu lintas sangat padat, mereka harus bersabar hingga 50 menit menuju ke Kuta.


Saking bosan nya, Topan tertidur lelap di samping Pongki. Pongki melirik Topan dan tersenyum kecil melihat wajah lelah lelaki muda di samping nya itu.


"Kasihan kamu," Ucap nya seraya terus menatap Topan dengan tatapan penuh kasih sayang.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di hotel tujuan mereka. Pongki yang sudah mendapatkan info tentang kamar Berta pun, meminta resepsionis menempatkan kamarnya di sebelah kamar Berta. Begitu juga dengan Topan, Topan di pesan kan satu kamar yang di sebelah kiri kamar Berta dan Bella. Sedangkan kamar Pongki, di sebelah kanan kamar anak dan istrinya tersebut.


Mereka naik ke lantai, dimana kamar Bella dan Berta berada. Setelah sampai di lantai tersebut, mereka pun beristirahat di kamar masing-masing, sebelum mereka berniat mengejutkan Berta dan Bella, dengan keberadaan mereka berdua di Bali dan di hotel yang sama.


Topan menghela nafas panjang, dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang empuk yang sudah lama tidak ia rasakan. Sebulan yang lalu, ia bertugas di Batang sebagai preman yang tinggal di rumah kontrakan yang biasa saja. Di lanjutkan dengan tugas baru di rumah Pongki. Sudah dipastikan, dirinya sangat merindukan kasur empuk seperti di hotel ini.


Topan melirik arlojinya dan beranjak dari ranjang tersebut. Lalu, ia berniat untuk membasuh tubuhnya yang terasa lengket dan melaksanakan tugas nya sebagai muslim.


Sedangkan Pongki, lelaki paruh baya itu sibuk menghubungi toko bunga terdekat untuk membelikan buket bunga untuk sang istri tercinta. Ia ingin membuat pertemuan dirinya dan Berta terasa berbeda. Sudah lama dirinya tidak memperlakukan Berta dengan cara yang romantis.


Setelah mendapatkan bunga yang ia inginkan, Pongki pun bergegas membasuh tubuhnya dan berniat tampil dengan begitu sempurna, saat nanti bertemu dengan Berta.


.....


Berta memasang anting-anting nya di depan cermin. Ia menatap Bella yang sedang bermain ponsel di atas ranjang dengan wajah yang masih saja murung.

__ADS_1


"Ayo dong keluar..." Ajak Berta seraya memutar tubuhnya dan menatap anak semata wayangnya yang sedang patah hati.


"Malas, mami saja deh," Ucap Bella.


"Terus, apa gunanya kamu liburan?" Tanya Berta.


"Aku tidak liburan mam, aku mau memergoki Frans, itu misi utama ku disini. Kalau tidak karena mami, aku pasti sudah pulang, saat memergoki si musang itu dengan wanita lain."


Berta menghela nafas panjang dan beranjak duduk di tepi ranjang.


"Ya sudah, kalau begitu mami pergi dulu ya.."


"Memang mami mau kemana?" Tanya Bella dengan wajah yang malas.


"Mau bertemu dengan om Satrio." Berta beranjak dari duduknya dan bergegas meraih tas tangan miliknya.


Bella mengigit bibirnya dan menatap Berta dengan seksama.


Berta menatap Bella yang tampak ragu untuk berbicara.


"Apa?" Tanya Berta sembari merapikan rambut pendeknya.


"Kalau aku lihat, om satrio itu.... Hmmmmm... seperti ada hati dengan mami,"


Degggggg...!


Berta menatap Bella dari pantulan cermin di depan nya. Lalu, ia menoleh dan memastikan ucapan Bella.


"Masa?" Ucap nya dengan suara yang tercekat.


"Iya, serius. Terlihat dari sorot mata om Satrio. Seingat Bella juga, dulu waktu Bella kecil, dia itu ramah sekali dengan Bella. Waktu itu kan om Satrio belum menikah. Tatapan nya dengan mami tidak pernah berubah. Itu sih seingat aku mam," Terang Bella.

__ADS_1


Berta menundukkan pandangan nya dan menghela nafas dengan berat.


"Bella, tidak mungkin dia mencintai mami, dia itu sudah ada istri."


"Alah, dia kan juga baru nikah belum ada lima belas tahun yang lalu kan mi? Dia itu, telat menikah. Jangan-jangan, dia naksir mami, tapi mami terlanjur dengan si Pongki,"


"Hustt..! Si pongki... itu daddy mu!"


Bella terkekeh saat melihat ekspresi wajah Berta, saat dirinya menyebut nama daddy nya begitu saja.


"Ya sudah, mami mau pergi dulu. Kamu baik-baik, kunci pintu kamar nya. Kalaupun kamu mau keluar, kabarin mami. Mami membawa kunci cadangan nya ya..."


"Iyaaaaa...." Sahut Bella seraya menutupi tubuh nya dengan selimut.


"Bye sayang," Berta mengecup lembut kening Bella.


"Bye mam," Sahut Bella seraya tersenyum manis kepada Berta.


Berta pun beranjak meninggalkan kamar tersebut, menuju ke lokasi dimana dirinya dan Satrio membuat janji untuk bertemu. Saat Berta berjalan menuju ke arah lift, Topan yang baru saja hendak keluar dari kamarnya, langsung mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar itu. Ia menatap Berta yang berjalan dengan anggun dengan menggunakan dress berwarna cokelat tua di koridor hotel tersebut.


"Mau kemana ya bu Berta?" Gumam Topan.


Topan langsung menghubungi seorang teman yang sudah standby untuk dirinya selama di Bali.


"Halo, bli... tolong ikuti wanita bergaun cokelat tua ya. Wanita paruh baya dengan gaya tante-tante tajir," Ucap Topan.


"Yang mana ya bli?" Tanya suara di ujung sana.


"Pokoknya sebentar lagi, orang nya tiba di lobby," Ucap nya.


"Siap bli.." Sahut suara dari ujung sana.

__ADS_1


__ADS_2