
"Gimana?" Tanya Topan kepada Antok yang baru saja datang ke kantor mereka.
"Aku baru saja datang, belum buat kopi. Kau sudah bertanya tentang berkas bukti mertua mu itu," Ucap Antok, sembari meletakkan tas dan beberapa berkas di atas meja.
"Bukan begitu, ya sudahlah, ngopi dulu saja," Ucap Topan seraya menarik kursi di depan nya. Lalu, ia duduk dan membakar sebatang rokok.
Antok tersenyum, dan beranjak dari ruangan itu.
"Kau mau kopi tidak?" Tanya nya.
Topan menoleh dan menatap Antok yang tampak sangat bersemangat pada hari ini.
"Kumis mu kemana?" Tanya Topan sambil tertawa kecil.
"Aku tanya, kau mau kopi atau tidak? Bukan perkara kumis ku. Ah... kau ini..!"
Topan terkekeh dan mengangguk kan kepalanya.
"Bolehlah. Gula nya sedikit saja," Pinta Topan. Lalu, lelaki itu kembali tenggelam dalam pikiran nya.
"Aku tahu ini tidak akan mudah bagi keluarga Pongki. Pongki akan di hukum mati atau penjara seumur hidup nya. Harta kekayaan nya pun akan di sita negara. Bagaimana nasib bu Berta dan Bella ya?" Topan terus merasa bersalah dengan kasus yang dihadapi oleh Pongki.
"Pagi-pagi kau sudah bengong saja Pan!"
Bahu Topan di tepuk oleh Suprapto yang baru saja datang.
"Eh, bang," Topan tersenyum dan menatap Suprapto yang tampak semringah.
"Sudah lahir anak abang?" Tanya Topan.
"Jadinya operasi. Entah apa namanya, placenta apa lah ya nama medis nya.. lupa aku. Dua hari lagi mau operasi kata dokter."
"Wah... terus, keadaan istri abang bagaimana?" Tanya Topan lagi, dengan raut wajah yang khawatir. Begitulah Topan yang selalu peduli dengan teman-teman nya. Terutama teman yang pernah menjadi satu team nya. Baginya, semua adalah saudara. Walaupun tidak ada ikatan darah diantara mereka. Tetapi, sebagai putra negara, teman satu profesi adalah saudara kandung dari satu ibu. Yaitu, ibu Pertiwi.
"Baik, keadaan istri ku sehat Pan."
"Salam buat kakak ipar ya bang," Ucap Topan.
"Iya, nanti aku salam kan. Mana si Antok?"
"Lagi buat kopi dia bang, di pantry."
"Oh, kesana lah aku," Ucap Suprapto. Lalu, lelaki itu beranjak dari ruangan tersebut.
Topan tersenyum, lalu matanya tertuju kepada seorang lelaki dengan figur yang begitu kharismatik. Lelaki itu adalah atasan Topan. Yaitu kepala kesatuan yang menaunginya.
"Pagi pak!" Topan beranjak dari duduk nya dan memberikan sikap hormat kepada lelaki itu. Di depan pintu pun tampak Suprapto melakukan hal yang sama dengan Topan.
"Pagi!" Sahut bapak Sudrajat. Lalu, lelaki itu beranjak mendekati Topan, dengan senyuman yang terlihat begitu bangga dengan Topan.
"Topan Alexander...! Saya bangga kepada kamu. Siap untuk menerima penghargaan dan kenaikan pangkat?" Tanya Sudrajat.
Topan tersenyum canggung, lalu ia mengangguk dengan tegas.
"Terima kasih pak!"
__ADS_1
"Kau benar-benar anak muda yang profesional dan mempunyai kinerja yang baik. Sudah saatnya kamu mendapatkan posisi yang terbaik. Aku bangga kepadamu," Ucap Sudrajat.
"Siap! Terima kasih pak!" Sahut Topan lagi.
Sudrajat menepuk-nepuk bahu Topan. Lalu, ia melangkah menuju ke ruangan nya.
Topan menurunkan tangan nya dan berdiri mematung. Entah mengapa, kenaikan pangkat bukan lah menjadi kebanggaan baginya saat ini. Justru, ada rasa sesal dihatinya. Topan menghela nafas panjang dan kembali duduk di kursinya.
"Ini kopi kau," Ucap Antok, seraya menaruh segelas kopi di hadapan Topan.
"Terima kasih," Ucap Topan.
"Jadi bagaimana kau dan Bella?" Tanya Antok.
Topan membulatkan matanya, menandakan bahwa ia meminta Antok tidak membahas hal pribadi di kantor.
"Ayo lah.. cerita sedikit saja," Pinta Antok.
Terlihat Suprapto memasuki ruangan itu dengan meringis karena membawa gelas yang terasa panas karena air kopi yang panas.
"Minggir woii... panas panas..!" Jerit Suprapto.
"Alahhhh.. baru saja kopi panas. Peluru panas pun sudah pernah menembus tangan abang!" Ucap Antok. Di susul tawa Topan.
"Itulah kekurangan ku, peluru gak terasa sama aku. Tapi kalau kopi panas, terasa sakit di kulit ku," Ucap Suprapto.
"Lebay kali pun!" Seloroh Antok. Lalu, mereka bertiga pun tertawa geli.
"Eh Pan, jadi gimana?" Tanya Antok lagi.
"Bah! Aku bertanya, kau pun bertanya! Jadi siapa yang jawab?" Antok menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Topan kembali tertawa geli.
"Pan, bagi rokok mu ya dua batang," Ucap Suprapto.
"Minta kok dua batang," Celetuk Antok.
"Diam saja kau Antok. Aku sudah mulas, tidak sempat ke warung. Nanti aku mencret disini, mau kau ngepel?"
"Ih... habis makan apa abang? Kok mencret?" Tanya Antok.
"Dari kemaren aku mencret-mencret. Istri ku masak pedas sekali. Aku dipaksa makan sama dia. Katanya bawaan bayi. Heran aku, bawaan bayi, kok menyiksa bapak nya!" Tanpa persetujuan Topan, Suprapto sudah mengambil dua batang rokok dari bungkus rokok milik Topan.
"Itu tandanya, bayi abang gak terima dia kalau abang yang jadi bapaknya. Menyesal dia, kenapa dia diberikan orangtua kayak abang."
"Eeehhhh..." Suprapto meremas bibir Antok.
"Aduhhh..!" Jerit Antok.
"Jangan asal ngomong kau Antok. Dia akan bangga punya bapak seperti aku!" Ucap Suprapto.
"Becanda bang.." Antok mengusap bibirnya yang baru saja di remas oleh Suprapto.
"Sudah lah... aduh.. tak tahan lagi aku.. mau nembak di tempat rasanya." Suprapto berlari ke arah toilet, sambil memegangi bokongnya.
__ADS_1
Topan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Semenjak istrinya hamil, emosian sekali dia!" Gerutu Antok.
"Kamu pun asal bicara," Celetuk Topan.
"Memang iya, menyesal anak nya saat lahir lihat wajah bang Suprapto. Dalam hati anak nya, kok jelek sekali bapak ku. Hahahahha.."
Topan tertawa mendengar candaan Antok, hingga ia hampir saja tersedak saat baru saja menyeruput kopi nya.
"Eh, Pan,"
"Apa?"
"Di ruangan situ, ada si Bella sama bapak dan ibunya ya?"
"Iya,"
"Kau yang kasih izin?" Tanya Antok lagi.
"Iya,"
"Oh..." Antok mengangguk paham.
"Terus bagaimana? Apa dia marah sama kau?" Antok masih penasaran dengan pertanyaan yang belum sempat Topan jawab.
Topan menatap nya dan tersenyum kecil.
"Tidak, dia dan bu Berta tidak marah lagi. Semoga saja tidak menjadi dendam. Karena aku..." Topan menghentikan ucapannya.
"Kenapa kau! Cepat cerita.. penasaran aku..." Pinta Antok.
"Aku sudah berjanji dengan pak Pongki, untuk selalu menjaga mereka. Kalau mereka membenciku, aku akan sangat sulit sekali mendekati mereka. Tetapi Allah berbaik hati, mereka bukan orang-orang yang berpikir pendek."
Antok tersenyum dan menepuk bahu Topan.
"Aku bangga kepadamu Pan. Kau sangat profesional. Cinta dan tugas dapat kau selesaikan dengan waktu yang bersamaan dan hasil yang baik. Tetapi, apa kau serius dengan Bella. Apa nanti keluargamu akan menerima dia?"
Topan terdiam beberapa saat. Lalu, ia tersenyum dan menatap Antok dengan seksama.
"Doakan saja. Aku lelaki, aku akan berjuang demi wanita yang aku cintai. Kecuali, takdir berkata lain. Yang penting, berjuang saja dulu."
Antok kembali tersenyum mendengar ucapan Topan.
"Luar biasa kau anak muda!" Ucap Antok dengan wajah yang begitu bangga kepada Topan.
"Gayung nya mana wooooiiiiii...!" Terdengar teriakan keras Suprapto dari arah toilet.
"Kita pura-pura tidak dengar saja ya Pan. Biar dia cebok dengan cara tayamum," Ucap Antok.
Topan tertawa geli, dan kembali menikmati kopi nya.
"Woiiii tolonggggg...!" Jerit Suprapto lagi.
Tetapi, tidak satupun dari mereka yang beranjak untuk membantu Suprapto.
__ADS_1