Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Cindy


__ADS_3

Cindy mengendarai mobilnya dengan bersiul. Hari ini hari yang sangat menyenangkan baginya. Berduaan bersama Andre sungguh membuatnya bahagia. Cindy merasa tersanjung dengan perlakuan Andre. Setiap bersama Andre, Andre sangat memanjakan bahkan memperlakukan Cindy bagaikan ratu.


Dengan menenteng paper bag yang banyak Cindy memasuki rumahnya. Wajahnya tidak berhenti untuk tersenyum.


"Mama... mama... "


Cindy memanggil namanya tidak sabaran. Hingga beberapa menit kemudian seorang wanita yang tidak muda lagi terlihat menuruni tangga.


"Ada apa nak, kamu baru pulang?" tanya mama Ratih berjalan mendekati Cindy yang duduk di sofa. Cindy tersenyum lebar dan mengangguk.


"Setiap hari kamu belanja, ga bosan apa?. Hemat dikit kenapa Cindy, kamu sudah dewasa harusnya lebih pintar lah mengelola keuanganmu." Mama Ratih mengomel melihat banyaknya paper bag yang diletakkan Cindy di sofa tunggal. Mama Ratih membenci kebiasaan putrinya yang sangat boros.


"Tenang mama, aku tidak mengeluarkan uang untuk belanjaan itu."


Cindy berkata tenang dan merasa bangga dengan apa yang dimilikinya sekarang dari pemberian Andre.


"Apa maksudmu Cindy?. Jangan bilang pacarmu yang beliin itu semua."


"Benar ma, yang beli itu memang pacarku." Ini lihat ma!. Cantik kan?" kata Cindy sangat bangga sambil menunjukkan jari manis. Mama Ratih memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis putrinya. Cincin itu memang cantik dan indah. Tapi mama Ratih tidak mau mengagumi cincin tersebut. Mama Ratih menduga jika cincin itu adalah pemberian Rian kekasih putrinya.


"Cindy, sudah berapa kali mama bilang, jauhi Rian. Dia memang tampan dan kaya tapi dia bukan orang baik nak, mama papa hanya ingin kebahagiaanmu. Dia manusia bejat."


"Ma, yang beli bukan Rian aku juga udah putus dari Rian, yang beli ini pacar baruku ma."


"Apa? kamu udah putus dari Rian, syukurlah nak. Jadi siapa pacar barumu itu nak?. Mama takut kamu dapat pacar abal-abal lagi. Mama menyesal tidak menerima perjodohan dari keluarga ibu Ningsih. Andre orangnya baik dan kita sudah mengenal keluarga itu cukup lama," kata Mama Ratih senang. Mereka mengetahui sedikit tentang tabiat Rian mantan kekasih putrinya. Sayangnya mereka mengetahui itu setelah Cindy menolak perjodohan yang ditawarkan keluarga Andre.


Cindy tersenyum sambil melihat jari manisnya yang bertahtakan berlian yang cantik dan mahal. Cindy teringat dengan Andre yang sangat memuja dan sangat mencintainya. Hanya beberapa kali jalan ke mall, Cindy sudah mendapatkan banyak barang barang mewah termasuk cincin yang kini melingkar di jari manis itu.


"Cincinnya pasti mahal ya, Cindy jangan terlalu matre, mama tidak suka."


"Pacarku yang membelikan ma, dia orang kaya dia sangat mencintaiku," kata Cindy bangga.


"Kamu kan bisa nolak Cindy. Apa penilaian laki laki itu kalau kamu menerima ini begitu saja. Mama tidak mau laki laki itu menilai mu matre. Bawa ke rumah laki laki itu, mama ingin mengenalnya."


Sungguh mama Ratih tidak ingin putrinya dinilai matre oleh pacar baru Cindy. Setelah terlepas dari Rian, mama Ratih berharap Cindy bisa menemukan laki laki yang berakhlak baik dan berasal dari keluarga baik baik. Kriteria itu ada dalam diri Andre. Tapi setelah mendengar Cindy mempunyai pacar baru. Mama Ratih hanya berharap pacar baru dari putrinya seperti yang diharapkannya.


"Mama sudah mengenalnya, bahkan sangat kenal," kata Cindy lagi dengan tersenyum penuh misteri. Dia bermaksud untuk membuka mamanya semakin penasaran.


"Siapa sih Cindy, jangan buat mama penasaran."

__ADS_1


"Dia Andre ma..."


"Maksudmu Andre putranya ibu Ningsih?". Cindy mengangguk.


"Mama sangat senang Cindy, tapi bagaimana bisa?. Kamu kan sudah menolaknya."


Mama Ratih senang dengan wajah berbinar. Mendengar Andre adalah pacar baru dari putrinya. Mama Ratih seperti memenangkan lotre. Cindy pun menceritakan bagaimana mulai awal mereka berpacaran. Setelah mendengar cerita dari Cindy. Wajah mama Ratih yang tadinya berbinar kini terlihat murung.


"Mama tidak suka dengan caramu itu Cindy, tapi semuanya sudah terjadi. Apa kamu benar benar mencintai Andre?" tanya mama Ratih. Dia tidak ingin Andre adalah pelarian dari Cindy karena sudah putus dari Rian.


"Entahlah ma, sampai sejauh ini aku merasa nyaman dengan Andre."


"Jangan sakiti Andre Cindy, dia orang baik dan dari keluarga yang baik. Kalau kamu tidak mencintainya, lepaskan!. Jangan beri dia harapan palsu. Mama tidak mau melihat Andre sakit hati untuk ke dua kalinya. Apalagi papamu dengan papanya Andre bersahabat. Dan satu lagi jangan terlalu matre."


"Iya mama, aku ke kamar dulu ya." Mama Ratih mengangguk, jauh di lubuk hatinya dia sangat senang anaknya Cindy berpacaran dengan Andre. Tapi Mama Ratih juga tidak ingin melihat Andre sakit untuk yang kedua kalinya. Mama Ratih berharap nasehatnya didengar oleh Cindy. Cindy mengambil belanjaan itu dari sofa tunggal. Dia melangkah tanpa beban dan masuk ke kamarnya.


Di kamar Cindy melihat cincin berlian yang bertengger di jari manisnya. Cindy tersenyum mengingat perlakuan Andre di mall tadi. Sejauh ini Cindy memang nyaman bersama Andre. Bukan hanya nyaman tapi juga bahagia. Andre sangat mencintai nya. Sedangkan Cindy? cintanya masih untuk Rian. Kalau saja Cindy tidak memergoki Rian bercumbu mesra dengan sekretaris nya, Cindy masih berstatus kekasih Rian.


Cindy tidak mentolerir penghianatan Rian, berkali kali Rian meminta maaf dan tidak mau putus tapi tetap saja keputusan Cindy sudah bulat mengakhiri hubungan mereka. Hubungan mereka memang sudah putus, tapi rasa cinta di hati Cindy tidak mudah luntur. Cinta pertama yang mengesankan. Bagi Cindy cinta tidak harus memiliki.


Cindy berusaha menghapus nama Rian dari hatinya, dan memasukkan nama Andre. Tapi ternyata nama Rian masih bersemayam indah di dalam hatinya. Mengingat nama Rian, Cindy sedih dan menangis. Terlalu sulit untuk melupakan kenangan bersama Rian. Cindy mengambil ponsel dari tasnya membuka chat wa dan membaca beberapa chat yang baru masuk.


Cindy kembali mengambil ponselnya dan mengirim chat ke Andre.


Di kediaman Sinta.


Setelah mandi bareng Andre, Sinta mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Sedangkan suaminya menonton tv di luar kamar. Merasa rambutnya sudah kering Sinta mengoleskan pelembab ke wajahnya. Sinta menghampiri meja kecil di sudut kamar itu, Menunggu makan malam Sinta berniat belajar terlebih dahulu. Sinta terganggu dengan dering ponsel yang tak kunjung berhenti, Sinta mengambil ponsel tersebut. Sinta tersenyum kecut melihat nama pemanggil "My love". Sinta membawa ponsel ke luar dan menyerahkannya ke Andre.


"Halo sayang."


"Iya, besok malam sayang."


"Love you so much sayang."


Sinta masuk ke kamar, dengan membuka sedikit pintu kamar Sinta berdiri dekat pintu. Sinta sengaja menguping pembicaraan Andre. Ingin rasanya Sinta menangis mendengar Andre memanggil Cindy dengan mesra. Sedangkan untuk dirinya Andre tidak pernah berlaku mesra dan memanggilnya sayang. Andre hanya mesum saja untuk dirinya dan membutuhkan dirinya di ranjang.


Sinta menelungkupkan badannya di ranjang. Tangis yang tahannya selama ini tak terbendung lagi. Sinta menangis menyadari dirinya hanya pemuas nafsu suaminya. Dari awal memang dia sudah mengetahui dirinya hanya sebagai pelampiasan. Tapi perlakuan Andre yang memperlakukannya dengan baik, tidak kekurangan materi dan memberinya tempat tinggal yang nyaman. Menumbuhkan cinta itu semakin dalam di hatinya. Tapi Sinta juga menyadari dan jelas bahwa tidak ada sedikitpun cinta Andre untuk dirinya. Hal itu lah yang membuat luka di hati Sinta. Luka itu semakin parah ketika mendengar melihat dan mendengar langsung perlakuan Andre kepada Cindy. Sinta merasa dirinya sangat rendah sekali.


Setelah menutup telepon dari Cindy, Andre masuk ke dalam kamar. Andre melihat Sinta telungkup. Tanpa merasa bersalah, Andre membalikkan badan Sinta dan menghapus air matanya.

__ADS_1


"Ada apa, kenapa menangis?" tanya Andre penuh perhatian. Sinta menggelengkan kepala. Andre tidak sadar bahwa Sinta menangis karena cemburu dan merasa mendapat perlakuan tidak adil dari dirinya.


"Jujur...Kenapa?" kata Andre lagi sambil mendudukkan Sinta di pangkuannya.


"Jangan begini mas," kata Sinta sambil turun dari pangkuan Andre dan duduk disampingnya. Setelah membandingkan perlakuan yang dia terima dari Andre dan perlakuan Andre kepada Cindy. Sinta merasa enggan untuk duduk seperti biasanya di pangkuan Andre.


"Kenapa? bukankah kamu suka duduk di pangkuanku," tanya Andre heran. Sinta memang benar suka duduk di pangkuan Andre dan bermanja dengan seperti itu.


"Jangan perlakukan aku seperti ini mas, aku takut salah mengartikan nya nanti," kata Sinta sambil menunduk berharap Andre memahami perasaannya.


"Maksud kamu apa? Jangan bilang kamu menangis karena cemburu," kata Andre sambil menatap Sinta tajam. Melihat tatapan Andre Sinta sudah tahu memang tidak ada cinta Andre untuk dirinya. Sinta menunduk dan lagi lagi air mata itu kembali keluar. Bukan memahami perasaan Sinta, Andre justru berkata kencang dan menatap tajam Sinta.


"Sinta, dengarkan aku!. Jangan libatkan pernikahan kita dengan perasaan . Akan sulit bagimu jika kamu melibatkan perasaan. Jangan mempersulit dirimu, kamu tahu akhirnya seperti apa," bentak andre. Dengan raut muka yang serius dan suara yang tegas Andre berkata. Sinta semakin merasakan hati seperti tersayat.


"Tidak bolehkah aku berharap lebih mas?" tanya Sinta masih menunduk dan meremas tangannya. Suaranya bergetar karena masih terisak.


"Aku tidak mau menyakiti orang yang aku cintai Sinta, pernikahan ini terjadi hanya karena aku ingin membantumu. Jadi jangan berharap lebih!" kata Andre semakin membuat Sinta merasa sangat rendah. Perkataan Andre mengingatkan Sinta akan tujuannya menjadi istri simpanan Andre.


Kata kata Andre yang tegas dan sedikit keras membuat Sinta semakin menangis. Sedangkan Andre berdiri dari tempatnya dan pergi ke luar.


Benar, bahwa Sinta memang hanya pemuas nafsu. Sinta merasa harga dirinya tidak ada.


Andre keluar dari rumah dan duduk di teras rumahnya. Andre menghela nafas, tidak menyangka bahwa Sinta berharap lebih dari hubungan mereka. Selama ini Andre hanya berpikir akan melepas Sinta setelah Sinta sudah bisa mandiri. Perbuatan baik sebenarnya, tapi mengikat Sinta dalam pernikahan tanpa cinta membuat hati Sinta terluka.


Sinta pun sebenarnya tidak menyangka akan mencintai Andre, Sinta selalu memposisikan dirinya sebagai simpanan tapi sikap Andre yang terlalu baik membuat Sinta salah mengartikan.


Andre masuk kembali ke dalam kamar dan mengganti bajunya. Tidak lupa menyisir rambutnya dan mengambil ponselnya di atas meja.


"Saya tidak pulang malam ini. Kunci rumah dari dalam," kata Andre sambil menutup pintu. Sinta terkejut mendengar suara pintu yang di banting. Sinta berlari dan mengejar Andre sambil mengusap pipinya.


"Mas..mas tunggu!" panggil Sinta. Andre berhenti dan membalikkan badannya. Seperti tadi. Andre masih tetap menatap tajam.


"Mas, maafkan aku," kata Sinta dengan memohon. Kepalanya tertunduk. Tatapan tajam itu jelas menampakkan jika Andre masih marah.


.


"Kamu membuatku suasana hatiku tidak baik hari ini," kata Andre dingin. Sinta mendekati Andre dan memeluknya berharap Andre tidak marah lagi tetapi Andre tidak membalasnya dan tidak menolak.


"Maafkan aku mas, aku berjanji tidak melibatkan perasaan seperti yang kamu bilang itu tapi aku mohon jangan marah dan jangan tinggalkan aku," kata Sinta memohon.

__ADS_1


__ADS_2