
Sudah hampir satu Minggu, Radit menginap di rumah Intan. Tidak keluar rumah bahkan tidak ke kampus. Radit dan Intan benar benar menikmati kebersamaan mereka berdua dengan tidak keluar dari rumah. Mereka bagaikan pengantin baru yang berbulan madu tanpa ikatan sah. Radit benar benar melupakan kedua orangtuanya yang sudah lelah mencari dirinya. Bertanya ke teman teman kampus Radit bahkan menunggu di kampus. Di hari ketiga Radit tidak pulang ke rumah. Mama Anisa sengaja ke kampus Radit dan menunggui di sana sampai perkuliahan habis. Hingga di hari ketujuh. Radit tidak kunjung muncul di kampus.
Sebagai orang tua dan Radit anak tunggal, tentu saja mama Anisa dan papa Jack merasakan kekhawatiran yang berlipat ganda. Putra satu satunya yang akan menjadi penerus keturunan dan juga pewaris perusahaan. Bermacam doa terucap untuk keselamatan anak semata wayang. Yang didoakan justru enak enak merengkuh kenikmatan di surga dunia.
Radit benar benar melupakan orang tuanya. Radit terbuai dengan cinta Intan. Ponsel sengaja dinonaktifkan supaya kegiatan dan kebersamaan mereka tidak terganggu. Tidak ada sedikitpun niat Intan untuk menyuruh Radit untuk pulang ke rumah orangtuanya. Yang ada Intan menginginkan Radit menuruti apa yang menjadi kehendaknya. Tetapi yang namanya ikatan batin antara anak dan orang tua pasti jelas ada. Sama seperti orang tuanya. Radit pun sebenarnya mengkhawatirkan kedua orangtuanya yang pasti memikirkan dirinya. Tapi Radit tidak berusaha untuk pulang. Ketika Intan meminta dirinya untuk tinggal satu minggu lagi di rumahnya. Radit bahkan senang. Intan beralasan takut sendirian di rumah?. Ayahnya ke luar kota mengurus kantor cabang. Dan setelah ayahnya kembali. Radit boleh pulang ke rumah orangtuanya. Radit menurut tanpa membantah. Kenikmatan itu membuat Radit lupa akan orangtuanya yang terus mencari keberadaan dirinya.
Hingga di hari kedelapan. Stok makanan habis di kulkas. Intan mengajak Radit untuk makan siang di luar. Pilihan mereka jatuh di restoran sea food yang terkenal enak di kota itu. Mereka berdua bergegas ke restoran tersebut dengan mengendarai motor milik Radit. Jarak restoran dan kediaman Intan tergolong sangat jauh. Justru rumah Radit yang lebih dekat ke restoran ini. Radit sebenarnya takut jika dirinya bertemu dengan papa atau mamanya. Restoran ini adalah favorit keluarganya. Tapi Radit tidak berani mengungkapkan itu kepada Intan. Radit sangat menjaga perasaan Intan yang sangat antusias ingin makan di tempat itu.
Ketakutan Radit terbukti. Pesanan belum muncul. Tapi sang mama sudah muncul di meja mereka. Radit takut dan gugup. Radit takut, Mama Anisa marah dan kemarahan itu untuk Intan. Dia tidak ingin kekasih terkena amarah sang mama.
Mama Anisa menatap tajam Radit dan Intan bergantian. Kebencian jelas terlihat di sorot matanya ketika menatap Intan. Dan kekecewaan terlihat jelas si sorot mata mama Anisa ketika menatap Radit. Tapi walaupun begitu mama Anisa masih berusaha untuk mengontrol diri supaya tidak marah di tempat itu. Mereka adalah keluarga terpandang. Mama Anisa tidak ingin mempermalukan Radit.
"Mama tidak bisa tidur selama seminggu ini Radit. Memikirkan kamu yang tidak kunjung pulang ke rumah. Jantungnya mama hampir melompat keluar dari raga ini, setiap mendengar ada yang kecelakaan di jalan. Mama bisa menarik nafas lega ketika mengetahui itu bukan kamu. Tapi hati mama tidak bisa tenang. Mama hampir mati karena memikirkan kamu. Tapi ternyata kamu enak enak dengan wanita ini," kata mama Anisa kecewa. Perkataan itu jelas menyindir Intan. Tapi Intan tidak tersindir sama sekali. Intan seolah tidak mendengar bahkan tidak menganggap keberadaan mama Anisa ada di tempat itu.
Intan dengan mata berbinar melihat pesanan yang baru saja muncul. Dia menarik piring dekat ke arahnya dan menikmati makanan itu. Mama Anisa menggelengkan kepalanya. Calon menantu yang diharapkan bisa dianggap jadi putri kandung, jelas tidak terlihat kriterianya dalam diri Intan. Intan jelas bukan wanita sopan.
"Pulanglah mama. Nanti setelah ini. Aku akan pulang ke rumah," kata Radit. Dia tidak enak hati kepada Intan karena keberadaan mamanya diantara mereka. Radit juga tidak enak hati kepada sang mama karena sikap Intan yang kurang menghargai sang mama. Dia menyadari itu. Tapi tidak bisa berbuat atau berkata apapun supaya Intan bersikap baik kepada mamanya.
Intan menatap Radit. Perkataan Radit barusan bisa didengar kupingnya dengan baik. Lewat tatapan itu. Intan protes. Radit bersikap pura pura tidak mengerti. Tapi mama Anisa juga bisa mengartikan tatapan itu. Mama Anisa merasa kasihan kepada Radit. Masih berpacaran seperti ini. Radit sudah di bawah ketiak Intan. Bagaimana kalau sudah berumah tangga. Mama Anisa tidak dapat membayangkan. Bisa saja Radit akan menjadi keset kaki Intan keluar masuk ke rumah.
"Mama tidak pulang. Jika kamu juga tidak pulang," kata mama Anisa tegas. Dia tidak akan membiarkan Radit lagi bersama siluman betina ini. Intan tidak hanya berpengaruh negatif kepada Radit. Mama Anisa bisa melihat jika Radit merasa takut akan wanita itu.
"Aku masih makan ma. Mama akan bosan menunggu jika kita harus pulang bersama. Lagi pula aku harus mengantar Intan pulang terlebih dahulu," bujuk Radit.
"Mama tidak bosan. Makanlah dulu. Lagi pula untuk apa kamu mengantarnya. Wanita seperti ini tidak layak dicintai oleh kamu," jawab mama Anisa yang semakin muak melihat sikap Intan. Melihat Intan sama sekali tidak berinisiatif untuk berbicara sekedar basa basi. Mama Anisa tidak dapat menahan amarahnya. Dia sungguh tidak sudi memiliki menantu seperti wanita ini. Tidak sopan dan tidak tahu menghargai orang tua. Entah dimana Radit meletakkan otaknya sampai tidak bisa menegur sikap kekasihnya.
"Mama, jangan bicara seperti itu."
"Wanita seperti ini yang kamu bela?. Lihat sikapnya. Dia bahkan tidak sopan. Tidak menghargai mama sama sekali."
__ADS_1
"Itu karena dia belum mengenal mama ma," bela Radit. Dia menatap Intan berharap wanita itu langsung memperkenalkan diri kepada mamanya dan bersikap sopan. Tapi Intan tidak perduli dengan perdebatan mama dan anak itu. Dia fokus menyantap makanannya.
"Intan. Ini mamaku. Tolong bersikap sopan sedikit," kata Radit pelan kepada Intan. Intan meletakkan garpu dan sendok dan menatap Radit kemudian beralih menatap mama Anisa.
"Aku hanya bersikap sopan kepada orang yang sopan kepadaku," jawab Intan sombong. Radit membulatkan matanya mendengar perkataan Intan. Menurut Radit, apa yang dilakukan oleh mamanya adalah tahap wajar. Wajar jika sang mama khawatir dan marah atas perilakunya. Dan wajar juga jika sang mama mengajaknya pulang setelah satu minggu di luar rumah.
Mama Anisa tertawa sinis dan menatap Radit. Wanita yang menjadi kekasih putranya tidak hanya tidak sopan tetapi juga sombong. Mama Anisa semakin bertekad untuk menjauhkan Radit dari Intan.
"Mama rasa. Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan wanita yang baik dan tidak baik anakku. Ayo, Kita pulang!. Kamu bisa makan di rumah," kata mama Anisa membujuk sambil tersenyum kepada Radit. Radit kembali dilema. Jauh di lubuk hatinya dia juga tidak suka mendengar perkataan Intan. Tapi cintanya untuk Intan membuat mata hati Radit menjadi buta. Dia terlihat ragu untuk ikut pulang dengan namanya. Radit menatap Intan. Wanita itu melotot.
"Tidak bisa ma. Aku pasti pulang tapi seperti yang aku bilang tadi. Aku harus mengantar Intan pulang terlebih dahulu," tolak Radit.
"Kalau kamu tidak pulang sekarang. Maka Mama akan mempermalukan kalian berdua sekarang. Dimana otak kamu Radit. Tolong berpikir dengan benar. Dia bukan siapa siapa kamu tapi kamu lebih mementingkan dirinya daripada mama. Dari sikapnya mama lihat. Matipun mama disini sekarang. Dia pasti tidak perduli. Wanita ini seperti ini yang akan kamu jadikan sebagai menantu mama?" kata mama Anisa marah. Mama sengaja mengancam Radit supaya pria itu bersedia pulang bersamanya.
"Baik mama. Aku ikut pulang sekarang," kata Radit akhirnya. Dia tidak ingin malu di tempat ramai ini.
"Radit..."
Radit tidak protes ketika mama Anisa menyuruh sang supir pribadi mamanya untuk membawa motor milik Radit. Mama Anisa mendorong Radit ke mobil. Mama Anisa membawa mobil itu sendiri setelah beberapa tahun tidak menyetir. Kesehatannya sebenarnya tidak memungkinkan untuk menyetir mobil. Tapi demi Radit. Mama Anisa melakukan itu. Mama Anisa takut membiarkan Radit membawa motor sendiri dan kembali ke tempat Intan tadi.
"Tinggalkan wanita itu," kata mama Radit setelah mereka di rumah.
"Aku tidak bisa ma. Aku sangat mencintainya," tolak Radit. Mama Anisa berdecak kesal mendengar jawaban itu. Intan sudah benar benar mengikat Radit lewat tubuhnya.
"Apa yang kamu lihat dari wanita itu. Tubuh bagus?. Banyak di luaran sana. Wanita yang memiliki tubuh yang cantik dan bagus juga berakhlak baik. Bukan seperti wanita iblis itu. Tidak sopan dan tidak baik."
"Aku tetap tidak mau ma. Aku tidak akan meningkatkannya. Tentang sikap yang mama bilang itu. Aku yakin setelah menikah. Intan pasti berubah."
"Bodoh kamu Radit. Apa dia memakai mantra hingga kamu bisa sebodoh ini. Anak kecil pun bisa menilai dirinya tidak baik. Tapi kamu mahasiswa tapi tidak bisa membedakan sikap yang baik atau tidak."
__ADS_1
Radit menunduk. Hatinya sudah terpaut akan Intan. Selama mengenal Intan. Radit tidak pernah melihat sikap Intan seperti di restoran tadi. Bahkan di rumah Intan. Dirinya dilayani oleh Intan. Hatinya juga berkesimpulan jika Intan melakukan itu karena mamanya juga kurang sopan yang langsung menegurnya tadi.
"Itu karena mama tidak mengetahui sikap dia yang sebenarnya. Mama langsung datang dan marah marah siapa yang tidak kesal. Harusnya tadi mama membiarkan kami makan siang dulu. Bukan langsung semprot seperti tadi. Mama tidak sadar jika berpuluh pasang mata melihat kita tadi?. Ya wajarlah Intan tidak sopan," bela Radit. Mama Anisa terkejut mendengar pembelaan Radit kepada wanita itu.
"Jadi kamu membela dia?" teriak mama Anisa histeris. Radit terdiam. Mama Anisa menangis karena menyadari Radit sangat mencintai wanita yang salah. Anak yang diharapkan dan didoakan menjadi anak yang berbakti kini sudah melawan hanya karena wanita siluman betina.
"Kamu mencintai wanita yang salah Radit. Buka mata hati kamu nak. Dia bukan wanita yang baik."
"Aku tetap seperti keputusanku semula ma. Aku tidak akan meninggalkannya. Aku mohon mama mengerti," jawab Radit sambil melangkah kakinya menuju tangga. Dia tidak perduli dengan mamanya yang sudah menangis sambil menatap punggung yang semakin menjauh. Radit hanya memikirkan bagaimana supaya Intan tidak marah karena meninggalkan Intan si restoran tadi. Radit berkorban banyak karena mencintai Intan. Radit melawan sang mama karena ingin mempertahankan Intan.
Di kamar, Radit berusaha menghubungi ponsel Intan. Tapi wanita itu berkali-kali juga menolak panggilan Radit. Radit takut dan gelisah. Radit takut kejadian siang ini berpengaruh terhadap hubungan mereka. Apalagi tadi dia melihat tatapan Intan yang tidak mengijinkan pergi bersama sang mama.
Si ruang tamu. Mama Anisa memegang dadanya yang terasa sesak. Hatinya tercabik melihat kebodohan putranya. Anak semata wayang yang diharapkan akan menjadi sandaran di hari tua kini tergila gila dengan wanita yang tidak baik. Entah bagaimana nanti hidupnya dan sang suami jika Radit bersikeras mempertahankan bahkan menikahi wanita itu.
Perlawanan Radit tidak hanya melawan pada mama Anisa. Malamnya ketika papa Jack sudah pulang. Mama Anisa menceritakan semua yang dilihatnya tentang sikap wanita yang dicintainya oleh putra mereka.
Papa Jack juga geram mendengar cerita itu. Itu hanya mendengar cerita, tidak tahu jadinya jika Jack melihat tingkah Intan secara langsung. Jack akhirnya menjumpai Radit di kamarnya. Berharap dengan berbicara berdua dan dari hati ke hati. Radit mendengar nasehatnya.
"Papa sudah dengar semua tentang wanita itu nak. Masih banyak wanita baik baik di luaran sana yang bisa dijadikan kekasih. Tinggalkan wanita itu sebelum hubungan kalian terlanjur," kata papa Jack lembut. Radit cepat menggelengkan kepalanya. Setelah berpikir, dia sangat yakin jika sikap Intan seperti itu karena merasa terganggu dan kedatangan mama Anisa yang datang tiba tiba.
"Tidak pa. Semua sikap manusia itu ada sebab akibatnya. Intan seperti itu karena mama yang memulai bersikap tidak sopan. Jika kami berdua, Intan sangat lembut dan sopan," bela Radit.
"Papa mengerti kamu membela pacar kamu. Tapi aku rasa mama melakukan hal yang sepantasnya dilakukan seorang ibu. Kami sangat khwatir selama seminggu ini. Jika orang lain, bisa saja pacar kamu itu sudah diserang atau dijambak karena memberi pengaruh yang tidak bagus kepada kamu. Tapi apa yang dilakukan mama kamu. Dia hanya mengajak kamu pulang kan."
Masih dengan lembut, papa Jack memberi pengertian kepada anak semata wayangnya yang masih membenarkan sikap Intan. Tapi Radit tetap pada pendiriannya. Tidak bersedia meninggalkan Intan. Dia sangat mencintai wanita pertama di hati dan menyentuh dirinya. Papa Jack sampai kehilangan kata kata untuk menasehati putranya.
"Rasanya papa dan mama tidak ada artinya lagi bagi kamu Radit. Kami hanya ingin yang terbaik untuk dirimu tapi kamu memilih wanita yang tidak baik baik. Papa angkat tangan. Tapi percayalah. Sebagai orang tua. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika kamu masih bersikeras untuk bersama wanita itu. Kamu akan tahu akibatnya."
"Papa mau mengusir aku dari rumah ini?" tanya Radit salah mengartikan perkataan papanya. Dia berdiri dan mengambil ransel miliknya. Dia membuka lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel tersebut.
__ADS_1
"Bodoh. Ternyata kamu sangat bodoh Radit. Apa papa mengatakan seperti itu?" kata papa Jack sambil merampas ransel itu. Papa Jack mengeluarkan pakaian itu dan mencampakkan ke wajah Radit.
"Jangan coba coba bersikap konyol atau tidak pulang ke rumah. Satu malam saja kamu tidak pulang ke rumah. Maka Papa yang akan menghajar kamu. Mulai malam ini. Kamu ada di bawah pengawasan papa," ancam papa Jack. Selama ini dia bersikap lembut kepada Radit. Tapi setelah melihat tingkah putranya.