Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kejutan Untuk Andre


__ADS_3

Acara pernikahan antara Sinta dan Andre sudah terlaksana dua Minggu yang lalu. Pernikahan mereka langsung didaftarkan di catatan sipil. Kini Sinta sudah memegang buku nikah dan akte lahir bagi putrinya. Sinta merasa lega bukan karena sudah rujuk dengan Andre melainkan karena putrinya Airia sudah mempunyai akte lahir.


Walau Sinta bersedia kembali rujuk dengan Andre, Sinta belum memberi tahu orangtuanya tentang pernikahan ini. Berkali kali papa Rahmat dan mama Ningsih meminta Sinta untuk mengabari orangtuanya. Sinta tetap pada pendirian. Pernikahan sederhana itu akhirnya terjadi tanpa orang tua Sinta. Andre sedikit heran dengan pendirian Sinta, tapi Andre tidak mempermasalahkannya. Andre berpikir, untuk memberitahu orang tua Sinta, nanti saja ketika Sinta sudah lulus kuliah.


Para sahabatnya juga sedikit heran dengan Sinta yang masih menyembunyikan pernikahannya kepada orangtuanya. Sinta hanya tersenyum sangat manis ketika para sahabatnya bertanya hal itu.


Sedangkan keluarga papa Rahmat sangat senang dengan rujukannya Sinta dan Andre. Wajah tua mereka terlihat lebih berbinar dari sebelumnya. Bella, Maya dan Agnes apalagi. Mereka sangat senang.


Cindy, wanita malang nan licik itu masih tidak terima dengan pernikahan Andre dan Sinta. Dia berusaha mendominasi Andre. Tetapi dengan tegas Andre membagi waktunya untuk Sinta dan Cindy. Senin sampai Kamis untuk Cindy dan Jumat sampai Minggu untuk Sinta. Dengan berat hati Cindy menerima keputusan Andre. Sedangkan Sinta tidak perduli sama sekali dengan waktu yang sudah dibuat Andre.


"Sinta," panggil Andre dari depan pintu. Hari ini hari Jumat jadi waktunya dia di rumah Sinta. Sinta terlihat keluar dari kamar dengan menggendong baby Airia.


"Sudah dua Minggu, kamu tidak ke kampus?, Apa kamu malu?" tanya Andre pelan. Sinta sudah duduk di hadapannya di sofa ruang tamu. Sinta menatap wajah Andre. Kemudian beralih ke wajah baby Airia yang di pangkuannya.


"Jujur aku masih malu mas, mungkin untuk Minggu depan baru ada rencana ke kampus," jawab Sinta sambil menunduk.


"Baiklah, sebenarnya aku juga malu. Tapi mau gimana lagi. Itu sudah resiko. Jangan terlalu memikirkan omongan orang. Aku juga sudah memberitahu mereka bahwa kamu istri pertama ku ketika kejadian kemarin,"


"Apa hari ini mas jadi ke luar kota?" tanya Sinta masih menunduk.


"Iya, nanti jam 10 berangkat, hari Minggu sore baru balik. Aku pulangnya masih ke mari. Besoknya baru ke rumah Cindy," jawab Andre pelan. Dia merasa kurang enak dengan Sinta. Hari ini giliran dia bersama Sinta tapi karena tugas hari ini juga Andre harus ke luar kota.


"Baiklah mas. Hati hati di jalan. Aku mengepak barang dulu. Sebentar lagi kurir datang menjemput paket," jawab Sinta. Dia berdiri dan masuk ke kamar tamu tempat barang jualan onlinenya. Setelah mendudukkan Airia di bangku khusus bayi. Sinta terlihat sibuk mengepak barang.


"Apa Tini tidak datang hari ini?" tanya Andre dari ruang tamu.


"Tidak. Besok dia baru datang mas. Vina mengajak mereka untuk berkumpul di sini besok," jawab Sinta. Andre sudah berdiri di depan pintu kamar ruang tamu.


"Barang jualan kalian tinggal sedikit. Kapan belanja?, aku bisa mengantar kalian ke pusat pasar,"


"Tidak perlu mas, untuk sementara yang ini dulu dihabiskan. Biar masuk barang baru." Andre hanya mengangguk. Dia mendekat ke Airia dan mengajak bayi itu bermain. Hampir satu jam Andre menemani baby bermain. Hingga bayi itu lelah dan tertidur di pangkuan Andre. Ya, akhir akhir ini baby Airia terlihat akrab dengan Andre. Mungkin bayi itu juga tahu bahwa ayahnya sudah kembali ke jalan yang benar. Dengan hati hati Andre menidurkan baby Airia di box bayi yang ada di kamar Sinta.

__ADS_1


"Sinta, aku pamit ya!. Sudah jam sepuluh," kata Andre dari pintu kamar tamu. Sinta hanya mengangguk. Andre sedikit kikuk dan canggung. Akhirnya Andre berlalu dari depan pintu kamar itu.


Besoknya hari Sabtu. Sinta dan para sahabatnya benar benar berkumpul di rumah Sinta. Bahkan Sinta dan Vina memasak menu spesial untuk hari ini. Tini, Indah, Elsa dan Cici sedikit heran. Sangat jarang sekali Vina mau repot repot untuk acara masak memasak. Biasanya Vina terima beres kalau hal makanan.


"Mimpi apa aku semalam ya, hari ini kok bisa makan masakan Vina," kata Tini berseloroh. Mulutnya penuh dengan nasi pakai daging rendang kesukaannya. Sinta dan Vina saling berpandangan kemudian keduanya sama sama menunduk.


"Hei, ayo dimakan. Kalian yang masak tapi piring masih kosong," kata Indah sambil menepuk punggung Sinta yang duduk di sebelahnya. Sinta tersenyum kikuk dan mengisi piringnya dengan nasi. Tini bahkan mengisi piring Sinta dengan daging rendang.


"Makin enak kalau ada petai," kata Tini lagi. Yang lain spontan tertawa.


"Anak gadis makan petai. Bisa bisa nggak laku sampai tua," Kata Cici. Dia paling anti dengan petai hanya mencium baunya saja, Cici bisa sampai muntah.


"Tini, aku sudah transfer pembagian keuntungan kita ya. Sudah kamu lihat kan?" tanya Sinta. Tini hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Kapan kamu ke kampus Sinta?" tanya Elsa. Sinta terdiam dan memandang Vina.


"Belum tahu Elsa," jawab Sinta sedih. Yang lain memandang Sinta. Mereka tahu bahwa Sinta masih malu untuk ke kampus.


"Nanti aku pikirkan Ci,"


Sesudah mereka menyantap makan siang mereka. Sinta mengajak para sahabat ke kamar tamu tempat barang jualannya.


"Silahkan diambil kalau kalian mau," kata Sinta menyuruh sahabat untuk mengambil barang dagangan yang tersisa.


"Apa kamu tidak takut rugi Sinta?" tanya Cici. Yang lain sudah asyik memilih pakaian dan mencobanya.


"Ambil saja, tidak apa apa," jawab Sinta. Cici pun akhirnya mengambil pakaian untuk dirinya sendiri. Hingga barang jualan Sinta yang tersisa sekitar dua puluh pakaian itu habis tidak tersisa.


Sementara itu di tempat lain, Andre bersiap pulang ke kota. Karena baby sitter Alexa mengabari nya bahwa Alexa demam tinggi.


Dengan kecepatan yang tinggi Andre memacu mobilnya untuk segera tiba di rumah. Hingga jarum jam menunjukkan angka delapan malam Andre masih di jalan. Butuh lima belas menit lagi supaya Andre sampai di rumah Cindy. Sepanjang perjalanan Andre merasakan jantung berdetak kencang. Membuat dia ingin secepatnya tiba di rumah.

__ADS_1


Andre menutup mobilnya pelan, setelah keluar dari mobil. Dia mengernyitkan keningnya ketika melihat mobil yang tidak dikenalnya terparkir di garasi di samping mobil Cindy. Otaknya berpikir ada sesuatu yang tidak beres di rumah. Dengan pelan dia berjalan masuk ke rumah. Pintu yang sudah terbuka membuat Andre masuk ke rumah tanpa ada yang menyadarinya. Andre menyusuri rumahnya dengan pelan. Andre mengeluarkan ponselnya. Tanpa ke kamar Alexa Andre dengan pelan menuju kamarnya.


Dengan pelan Andre membuka pintu kamarnya Hinga tidak menimbulkan suara yang berderit. Dua orang yang sedang bercinta di dalamnya tidak menyadarinya.


"Kamu luar biasa sayang," kata Rian sambil memacu tubuhnya di atas tubuh Cindy.


"Faster Rian," desah Cindy. Tidak puas dengan permainannya Rian. Cindy menggulingkan tubuh Rian ke sampingnya. Cindy berganti posisi menjadi di atas. Keduanya mendesah bersama dan berkeringat. Mereka tidak menyadari bahwa Andre sudah melihat permainan mereka. Andre marah, tangannya memegang erat ponselnya. Andre meredam amarahnya dan berusaha tenang supaya Cindy tidak menyadari bahwa Andre sudah merekam adegan panas mereka.


"Nak Andre, ada apa menyuruh kami kemari?" tanya seseorang yang baru masuk ke rumah. Cindy dan Rian yang mendengar suara itu spontan menghentikan permainan mereka. Andre memasukkan ponsel ke saku celananya kemudian masuk ke dalam kamar. Dengan kasar dia menarik Cindy yang sudah membalut tubuhnya dengan selimut. Andre mendorong kasar tubuh Cindy ke hadapan papa Dion dan mama Ratih.


Kemudian Andre kembali masuk kedalam kamar. Andre langsung menendang perut Rian yang sedang berusaha memakai boxerrnya. Rian yang mendapat serangan tiba tiba terhuyung ke belakang. Tidak memberi kesempatan Andre kembali menendang perut dan meninju wajah Rian. Tidak sampai di situ Andre kembali menarik tangan Rian ke luar kamar. Andre tidak perduli bahkan Rian belum sempat memakai boxerrnya tadi.


"Wanita ******. Kamu benar benar murahan Cindy," kata Andre memaki Cindy. Andre bahkan meludahi wajah Cindy. Sama seperti Rian Cindy juga belum memakai apapun di badannya. Mama Ratih menangis kecewa, dia mencampakkan taplak meja ke Cindy untuk menutupi tubuhnya. Cindy kini menangis dan Rian menunduk di sampingnya. Sementara papa Dion memalingkan wajahnya. Tidak sanggup melihat putri dan selingkuhan tanpa pakaian.


Andi, Bella dan Agnes masuk ke rumah. Andre menghubungi mereka untuk segera datang ke rumahnya malam ini. Agnes dan Bella menutup mulut dan merasa malu melihat Cindy dan Rian. Sedangkan Andi menatap Cindy dengan jijik.


"Tersangka mesum hari ini, kita foto dulu," kata Andi sambil mengeluarkan ponselnya.


"Tidak perlu kak, aku sudah merekam adegan mereka lebih dari setengah jam," jawab Andre dingin.


"Kamu tanya kenapa aku berubah?, Aku sudah lama mencium perselingkuhan mu ini. Hanya saja aku tidak puas jika tidak memiliki video kalian berdua." Andre berkata dengan tangan terkepal. Amarah tadi yang memuncak sudah berhasil di kuasainya. Bisa saja sebenarnya Andre menampar Cindy tapi bagi Andre tamparan itu untuk manusia dengan kesalahan yang tidak di sengaja.


"Kak, biarkan mereka pakai baju dulu," kata Agnes. Dia terus memalingkan mukanya.


"Ngapain pakai baju. Bermain saja lagi disini. Pasti tadi terganggu dengan kedatangan Andre. Ayo Cindy, bro. Lanjutkan saja!" kata santai tapi nadanya menyindir.


"Talak dia sekarang," kata Andi lagi. Tanpa berpikir Andre mengucapkan kata talak untuk Cindy.


"Silahkan keluar dari rumah ini. Jangan membawa apapun. Kasman!. Andre memanggil Kasman. Yang dipanggil datang dari dapur beserta Tuti di belakangnya.


"Kalian juga keluar dari rumahku sekarang juga dan terima kasih karena sudah mengkhianati aku."

__ADS_1


__ADS_2