
"Masih buka tujuh," kata dokter tenang. Karena sudah terbiasa atau memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter itu terlihat santai dan berbicara kepada perawat. Bahkan dokter dan perawat itu saling bercanda. Dokter itu kembali melangkahkan kakinya ke luar ruangan, membuat Andre semakin cemas.
"Dokter, jangan keluar lagi. Istriku sangat kesakitan. Bagaimana kalau bayinya lahir dokter belum di ruangan ini?" tanya Andre khawatir. Dokter tersenyum.
"Perawat akan memantaunya, bapak tidak perlu khawatir," jawab dokter tenang dan tersenyum kemudian ke luar dari ruangan Sinta.
Di tengah rasa sakitnya, Sinta mendengar semua ucapan Andre dan melihat kekhawatiran nya, tapi tidak sedikitpun hatinya tersentuh. Yang ada hatinya kesal karena Andre menyebutnya istri. Rasa sakit itu kembali menyerang. Dan Sinta lebih memilih berpegangan ke sisi bed daripada berpegangan ke tangan Andre.
Sinta, merasakan sakit lebih dahsyat dari sebelumnya. Mulutnya tidak berhenti merintih jika sakit itu datang. Bahkan gerakan bayinya memaksa dia untuk mengejan.
"Bu, belum waktunya mengejan. Jangan dulu ya. Nanti sesudah buka sepuluh," saran perawat. Sinta tidak menghiraukan saran perawat. Bahkan dengan mengejan, Sinta merasa sakitnya sedikit berkurang.
"Sinta, dengarkan saran perawat. Nanti tenaga mu habis kalau terus mengejan. Ini belum waktunya," kata Andre lembut. Tangannya mengusap pinggang Sinta yang membelakangi. Ingin rasanya Sinta menghempaskan tangan Andre, tetapi tenaganya tidak ada lagi untuk itu.
Andre mengamati tubuh Sinta yang membelakanginya. Tubuh pertama yang memberinya kenikmatan. Tubuh langsing yang dulu memeluknya dengan manja. Kini hanya dengan tubuh bulat dengan kaki yang membengkak. Andre, teringat dengan kehamilan Cindy. Wanita yang sangat dimanjakan nya dan dilayani beberapa pembantu. Bisa dikatakan selama hamil Cindy tidak melakukan hal berarti di rumah, hanya untuk mengambil sepatunya saja. Cindy menyuruh pembantu. Tak jarang Andre membantu memakaikan sepatu untuk Cindi.
Lalu bagaimana dengan Sinta?, bagaimana dia menjalani kehamilannya sendiri?. Pertanyaan itu berputar putar di kepalanya. Bahkan saat ini Sinta memilih melahirkan normal, berbanding terbalik dengan Cindy yang memilih Caesar karena tidak mau merasakan sakit kontraksi. Apakah karena biaya?. Pandangan Andre beralih kepada perawat yang mengeluarkan pakaian bayi dari tas Sinta. Pakaian bayi bekas Rey yang diberikan Bella.
Andre merasakan nyeri di hatinya. Bahkan untuk penyambutan bayi Sinta tidak ada hal istimewa. Di rumahnya pakaian bayi sangat banyak bahkan ada yang belum dilepas tagnya.
Andre terbodoh. Melihat penampilannya sendiri, dengan barang mewah yang melekat di tubuhnya tidak sesuai dengan pakaian bayi yang sedang disusun perawat di atas meja. Andre merasa malu sendiri. Andre tertunduk.
"Suster, panggil dokternya sus!, Ini semakin sakit," kata Sinta sambil merintih.
"Sebentar ya ibu, saya panggil dokternya,"
Beberapa menit kemudian, dokter masuk bersama perawat dan seorang bidan. Bidan menyuruh Sinta berbaring telentang. Memeriksa detak jantung bayi dan memeriksa jalan lahir.
"Sudah buka sembilan dokter," kata bidan. Dokter mendekat ke Sinta dan memberikan arahan cara mengejan supaya bayinya cepat lahir. Sedangkan perawat sibuk mempersiapkan peralatan melahirkan.
"Sudah buka sepuluh, ayo ibu. Kepala arahkan ke arah perut ketika mengejan ya!" suruh dokter. Sinta mengikuti saran dokter. Andre memegang tangan Sinta. Keduanya sudah sama sama berkeringat dingin.
__ADS_1
Sekali, dua kali dan tiga kali, Sinta sudah mengejan dan mengikuti saran dokter. Tetapi belum ada tanda bayi itu akan keluar.
"Ayo ibu, mengejan lagi. Semangat. Ingat sebentar lagi kamu akan bertemu dengan bayimu." Dokter menyemangati Sinta sambil melihat jalan lahir. Sinta kembali mengejan dan mengejan.
"Aku lelah dokter," kata Sinta lemah dan meletakkan kembali kepalanya di bantal. Andre semakin takut dan gelisah melihat Sinta yang semakin melemah.
"Dokter, istriku sepertinya kehabisan tenaga.
Sebaiknya Caesar saja. Aku tidak mau terjadi apa apa ke mereka berdua," kata Andre sangat khawatir. Tangannya masih menggenggam tangan Sinta.
"Itu jalan terakhir, jika ibu Sinta tidak sanggup lagi," jawab dokter.
"Ibu Sinta, dengarkan saya!. Kamu masih mempunyai ibu kan?" tanya dokter dan Sinta mengangguk lemah.
"Bayangkan wajah dokter adalah wajah ibumu yang menginginkan kamu dan bayimu selamat. Sini tanganmu, raba!. Ini kepala bayimu," kata dokter itu dan mengarahkan tangan Sinta meraba kepala bayinya. Sinta kembali semangat dan mengejan. Sinta dapat merasakan perutnya bergoyang ketika dokter menarik bayinya. Sinta merasa lega dan menjatuhkan kembali kepalanya di bantal.
Andre tersenyum dan merasa lega ketika bayi itu di tarik. Kemudian tertegun ketika melihat dokter mengusap dada, bokong dan punggung bayi. Tetapi tetap saja bayi itu tidak bersuara. Dokter membawa bayi itu ke ruangan sebelah dan Andre mengikutinya.
Dokter itu bersama dengan yang lainnya, berusaha memberi pertolongan ke bayi itu. Kini bayi itu diangkat dengan posisi kaki di atas. Bokongnya ditepuk, tetap saja bayi itu diam. Dokter kembali meletakkan bayi itu di atas meja. Mengusap punggung dan dadanya. Berkali kali dokter melakukan itu tetap saja bayi itu diam. Andre terdiam dan menangis. Mengingat kembali dia menolak bayi itu dan hampir menyuruh Sinta menggugurkannya. Tubuh Andre berguncang sambil mendekat ke meja. Bayi perempuan dengan mata terpejam tergolek di atas meja.
"Kami sudah berusaha pak, tapi bukan kami pemilik kehidupan. Aku harap bapak tabah. Melihat kondisi ibu Sinta, kita tunggu keadaannya membaik untuk memberitahu ini," kata dokter pasrah.
Melihat wajah putrinya, hati Andre kembali teriris. Pipi putrinya persis seperti pipi Agnes adiknya. Tangan Andre terulur mengambil bayi itu dan menggendong. Gendongan terakhir seperti dulu Sinta memintanya memberi pelukan terakhir di waktu dia menceraikan Sinta.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah." Andre menangis sambil mendekap bayinya. Suaranya menggema di ruangan itu. Dokter dan perawat hanya dapat memalingkan wajahnya karena ikut bersedih.
"Nak, aku mohon, Kembalilah demi bunda mu. Dia sudah banyak mengalami kesulitan karena mempertahankan mu. Kembalilah nak!. Ayah berjanji akan menjaga kalian berdua jika kamu kembali,"
Andre terus menangis dan menyesali perbuatannya dulu. Melepas bayi ini tidak semudah melepas Sinta dulu. Andre masih mendekapnya seakan tidak rela bayi itu diletakkan ketika dokter meminta bayi tersebut.
Andre mencium pipi bayinya dan tiba tiba merasakan tangannya basah.
__ADS_1
Oek... Oek...Oek
Bayi itu menangis dan pipis. Dokter dan perawat mendekat ke Andre. Meminta bayi itu dan memeriksa kembali. Dokter tersenyum dan meminta perawat mengambilkan pakaian bayi dari ruangan Sinta.
"Ini keajaiban pak," kata dokter itu tersenyum. Andre menghapus air matanya dan kembali membelai wajah putrinya. Hatinya bahagia melebihi rasa bahagianya ketika putrinya lahir dari Cindy.
Dokter dan Andre beriringan masuk ke ruangan Sinta. Wanita itu sudah siap dibersihkan oleh bidan. Melihat bayinya Sinta tersenyum. Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.
"Putri kita sangat cantik," kata Andre yang sudah duduk dekat bed Sinta dan si bayi diletakkan di samping Sinta. Sinta tidak menghiraukan, dia hanya fokus memandang wajah bayinya.
"Aku keluar sebentar. Suster titip mereka ya!" pamit Andre. Perawat tersenyum dan mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Andre kembali masuk ke ruangan Sinta. Tangannya menenteng kantong plastik berisi makanan.
Andre mengeluarkan sebuah minuman isotonik dan memberinya ke Sinta. Sinta hanya diam saja.
"Di minum saja ibu, tidak apa apa," saran perawat yang melihat Sinta tidak mau menerima minuman dari Andre. Perawat itu menduga Sinta merasa takut minum sembarangan karena baru melahirkan. Dengan terpaksa Sinta menerima dan meletakkan kembali minuman tersebut di meja dekat bed nya.
"Pergilah! terima kasih karena sudah di sini menunggu putriku lahir," kata Sinta dingin. Ketika dilihatnya perawat keluar dari ruangan.
"Iya, aku akan pergi, terima kasih karena sudah mempertahankannya dan sudah melahirkan putriku, tapi aku ingin tahu. Bolehkah aku memberinya nama?"
"Tidak, dia hanya putriku. Dan hanya aku yang berhak memberi dia nama. Pergilah!. Kamu sudah berjanji tidak akan meminta kembali apa yang kamu berikan kepadaku. Jadi ku mohon, ingat dan janganlah ingkari janjimu," jawab Sinta dingin.
"Aku hanya ingin memberi nama ke putriku Sinta," kata Andre lesu. Dia tidak menduga Sinta akan berkata seperti itu.
"Jangan sebut dia putrimu!. Tidakkah kamu ingat perjanjian kita?. Kamu tidak akan menarik kembali apa yang sudah kamu berikan kepadaku termasuk air ludah dan benih mu. Ingat, perjanjian itu bermaterai," kata Sinta sengit. Sungguh, dia tidak ingin lagi melihat Andre di situ.
Andre terbodoh mengingat perjanjian mereka. Lagi lagi dia tidak menduga Sinta sepintar itu. Dan inilah akibatnya dia yang tidak berpikir panjang menandatangani surat perjanjian mereka.
Hatinya semakin sesak. Pria bodoh itu semakin terlihat bodoh dengan tubuhnya yang terguncang karena menangis.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku Sinta. Aku akan menebus semua kesalahanku. Tapi biarkan aku menyebut dia putriku. Aku sudah jatuh hati kepada putriku, aku menyesal Sinta" kata Andre memohon dan menangis. Dia tidak perduli lagi ketika perawat kembali masuk ke ruangan. Perawat yang paham situasi itu, kembali melangkahkan kakinya keluar.
"Maaf mu kuterima tapi penyesalan mu terlambat, pergilah. Hal yang kuinginkan saat ini adalah tidak melihatmu," kata Sinta dingin.