
Pagi hari di kediaman Andre dan Sinta. Sinta terbangun dari tidurnya. Sinta melihat tangan kekar Andre yang terletak di dadanya. Dengan pelan, Sinta memindahkan tangan Andre dari dadanya. Andre sama sekali tidak terusik. Sinta tersenyum. Melihat suaminya tidur dengan wajah yang sangat teduh seperti itu, membuat Sinta ingin membelai pipi Andre. Sinta berbalik memiringkan tubuhnya menghadap Andre. Refleks Sinta mengulurkan tangannya. Membelai rambut Andre kemudian membelai wajahnya.
Mengingat pernyataan cinta Andre kepadanya. Sinta kembali tersenyum. Apalagi pernyataan cinta itu tidak sekedar kata kata. Sinta dapat merasakan itu. Selain Andre memperlakukannya dengan baik Andre bahkan rela menahan hasrat setelah mengetahui Sinta hamil.
"Mas," pekik Sinta ketika Andre menangkap tangannya. Andre bahkan memasukkan jari telunjuk Sinta ke mulutnya.
"Pagi sayang," sapa Andre serak. Dia menarik tubuh Sinta ke pelukannya. Kemudian Andre mencium kening Sinta. Sungguh Sinta merasa senang dengan perlakuan Andre itu.
"Pagi juga mas,"
"Biarkan Lidia yang menyiapkan sarapan kita. Kamu tetaplah seperti ini," kata Andre ketika Sinta hendak melepaskan pelukan Andre. Sinta menurut. Kini tangan Sinta sudah melingkar di pinggang Andre.
"Mas, entah kenapa. Di saat bangun tadi. Aku merasa tidak enak ketika mengingat Vina. Apa dia baik baik saja?"
"Aku mana tahu sayang. Kita sama sama di sini. Kalau kamu khawatir, kamu telepon saja dia," jawab Andre memberi saran kepada Sinta.
"Oiya, sebentar mas, ambil ponsel dulu,"
"Tetap disini. Biar aku yang ambilkan," kata Andre. Dia turun dari ranjang dan mengambil ponsel Sinta yang terletak di sudut kamar. Andre mencabut ponsel itu dari charger dan berjalan kembali menuju ranjang. Andre menyodorkan tangannya berisi ponsel ke Sinta.
"Terima kasih mas," ucap Sinta, Andre kembali berbaring di samping Sinta.
"Tidak diangkat mas," kata Sinta yang sudah berkali kali mencoba menelepon Vina. Vina tidak biasanya seperti itu.
"Mungkin Vina masih tidur," kata Andre. Dia melirik jam dinding. Jarum jam menunjuk jam lima lewat dua puluh lima menit.
"Mas, nanti sore jadi ke dokter kandungan," tanya Sinta pelan. Pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan. Pertanyaan seperti pengingat bagi Andre.
"Jadi sayang, Kamu tidak ke kampus kan hari ini?"
"Tidak mas, setiap hari Senin kan aku tidak ada jadwal kuliah,"
"Walaupun tidak ada, kan bisa juga ke kampus. Kamu bisa ke perpustakaan dan membaca buku di sana,"
"Aku bukan anak gadis lagi mas. Yang bisa bebas kemana saja. Aku seorang ibu. Kalau hanya membaca. Di rumah juga bisa. Bisa sambil menjaga Airia lagi," jawab Sinta membuat Andre tertegun. Sikap Sinta sangat berbanding terbalik dengan sikap mantan istrinya. Walau umur Sinta lebih muda dari Cindy. Andre bisa menemukan kedewasaan berpikir dalam diri Sinta dibanding Cindy. Andre semakin kagum akan istrinya itu.
"Mendengar jawaban kamu, aku makin cinta deh,"
"Pernyataan kamu jujur atau bohong mas,"
"Ya jujurlah sayang. Masa bohong,"
"Kali aja mas,"
"Sinta, percaya kepada aku sayang. Seperti aku sangat mempercayai kamu. Aku juga tidak akan membatasi gerak kamu. Karena aku percaya kamu bisa menjaga harga diri kamu sebagai wanita, sebagai ibu dan sebagai istri,"
__ADS_1
"Mas, jangan dekat dekat ngomongnya. Aromanya terasa," kata Sinta sambil menutup mulutnya. Mereka berdua sejak bangun belum ada sama sekali kemana mana termasuk ke kamar mandi. Andre terkekeh. Di saat dia serius. Sinta malah mengatai aroma mulutnya. Selain itu Andre juga merasa senang. Hal seperti ini yang sangat dirindukan bersama Sinta. Bercanda dan penuh tawa sebelum dan sesudah tidur.
"Makasih sayang," ucap Andre dan menarik tubuh Sinta. Dia tidak perduli dengan aroma nafasnya. Saat ini dia merasa bahagia dan tidak boleh apapun merusak kebahagiaan itu termasuk aroma nafasnya sendiri.
"Makasih untuk apa mas?"
"Atas kejujuran kamu tadi," jawab Andre tersenyum. Dia bangkit dari ranjang dan berlari menuju ranjang. Sinta yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Sejujurnya Sinta juga merasa senang dengan apa yang diucapkan Andre tadi. Kepercayaan adalah kunci utama rumah tangga. Sinta juga akan mencoba mempercayai cinta yang sudah diucapkan Andre. Dia berharap rumah tangganya berbahagia dan jauh dari yang namanya masalah terutama masalah wanita idaman lain.
Andre keluar dari kamar mandi. Pria itu belum mandi. Dia hanya menggosok giginya supaya lebih leluasa berbicara dengan sang istri.
"Mas, masih jam enam kurang. Kita keluar yuk. Kita bawa Airia," kata Sinta. Andre mengangguk setuju. Udara pagi yang segar sangat bagus untuk pernafasan. Sinta masuk ke kamar mandi sedangkan Andre keluar dari kamar. Andre terlebih dahulu membuat susu hamil untuk Sinta. Sedangkan untuk dirinya Andre membuatkan teh. Andre membawa kedua minuman itu ke teras rumah dan meletakkan di meja kaya yang ada di teras itu.
"Mas, mana Airia?" tanya Sinta ketika sudah di teras. Sinta tersenyum melihat susu hamil yang terletak di atas meja. Seketika hatinya menghangat mendapat perhatian dari Andre.
"Masih di kamarnya. Masih tidur sayang. Tidak perlu di ganggu. Sini!. Duduk disini," panggil Andre sambil menepuk pahanya. Sinta merona. Dan malu. Dulu dia sering duduk di pangkuan itu. Dan kini Andre menyuruh untuk duduk di sana. Tidak menghiraukan perkataan Andre. Sinta duduk di bangku yang ada di depan Andre.
"Gantian mas, mas saja yang duduk di sini," jawab Sinta sambil menepuk pahanya. Andre seketika tertawa terbahak-bahak. Dia berdiri dari duduknya dan menarik tubuh Sinta untuk duduk di pangkuannya.
"Emang kamu tahan menahan bobot tubuh aku. Kalau aku duduk di pangkuan kamu. Lagi pula mana ada seorang istri memangku suaminya," kata Andre sambil terkekeh. Sinta yang sudah duduk di pangkuan suaminya berusaha menyembunyikan rona wajahnya.
"Mas, malu. Aku duduk di sana saja. Bagaiman kalau Oni dan Lidia melihat,"
"Biarin saja. Lagipula mereka sibuk sayang. Aku berencana menambah satu lagi pekerja di rumah ini,"
"Terserah kamu mas," jawab Sinta pasrah. Dia tidak mau berdebat. Sebenarnya kalau mau ditambah satu pekerja entah tidur dimana nantinya pekerja itu. Tapi Sinta tidak mau pusing memikirkan itu. Biarlah Andre yang mengurusnya. Seperti kata Andre. Dia harus percaya akan suaminya itu. Dalam hal sekecil apapun.
"Sayang, aku bawakan sesuatu untuk kamu. Aku letakkan di atas meja makan," kata Andre. Sinta yang baru saja selesai mandi duduk di meja rias dengan handuk di kepalanya. Andre mendekat. Andre meraih handuk yang di kepala Sinta dan menggosokkan handuk itu di kepala Sinta. Sinta sengaja mandi terlalu awal karena mereka akan ke dokter kandungan sebentar lagi.
"Mas bawa apa?"
"Brownies terbaik di kota ini. Aku jamin kamu pasti suka,"
"Kenapa tidak suka pakai hair dryer?" tanya Andre lagi sambil memijit kepala Sinta pelan. Sinta memejamkan mata menikmati pijatan Andre yang terasa sangat enak di kepalanya.
"Tidak suka saja mas. Mungkin karena tidak terbiasa. Sejak kecil kalau mengeringkan rambut ya seperti ini," jawab Sinta dengan mata terpejam. Melihat Sinta yang menikmati pijatannya. Andre pun melanjutkan. Andre senang melihat Sinta senang.
"Mas, aku jadi mengantuk," kata Sinta. Andre seketika menghentikan tangannya memijat.
"Jangan donk, sebentar lagi kita ke dokter. Kalau tidur sebentar itu hanya membuat sakit kepala," jawab Andre. Dia mengecup pucuk kepala Sinta kemudian masuk ke kamar mandi.
Sinta keluar dari kamar menuju meja makan. Dia penasaran dengan brownies terbaik yang dikatakan Andre. Sinta membuka kotak kue itu dan mencoba mencicip. Benar kata Andre brownies itu sangat enak dan lembut.
"Mas, terima kasih. Brownies ini sangat enak," kata Sinta ketika melihat Andre keluar dari kamar dengan membawa tas sandang milik Sinta.
"Kalau kamu mau, setiap hari brownies itu akan ada di rumah setiap hari," jawab Andre tenang dan tersenyum.
__ADS_1
"Ya enggak lah mas, bisa bisa aku seperti tong nantinya," jawab Sinta sambil memasukkan potongan kue itu ke mulutnya. Andre terkekeh. Andre masuk ke kamar Airia.
"Sinta, Airia ikut tidak?" teriak Andre dari kamar Airia.
"Tidak mas, nanti takutnya antri, Airia jadi bosan," jawab Sinta yang sudah mendekat ke kamar Airia. Andre kembali meletakkan Airia di karpet di ruangan itu setelah menciumi wajah putrinya.
Andre membukakan pintu mobil untuk Sinta. Tentu saja Sinta senang. Diperlakukan bagaikan ratu seperti itu tidak membuat Sinta besar kepala. Dia hanya tersenyum manis menunjuk rasa senang di hatinya. Sedangkan Andre, dia memperlihatkan rasa bahagianya dengan bernyanyi dan sesekali bersiul di perjalanan menuju rumah sakit. Bisa dikatakan, Andre baru kali ini merasakan hal yang seperti ini. Membuat dia tidak ragu untuk menyatakan cintanya ke Sinta. Ya, Andre sangat yakin. Dia jatuh cinta dengan istri yang dulu dibuangnya.
Ketika antri, Andre juga menunjukkan cintanya ke Sinta. Tidak seperti waktu pemeriksaan kehamilan pertama. Kini dia didampingi Andre. Andre meletakan tangan di punggung Sinta. Sedangkan Sinta memainkan ponselnya dan menunjukkan hal hal yang dianggapnya lucu kepada Andre. Andre dan Sinta tertawa bersama. Terkadang Andre juga mengecup pucuk kepala Sinta, membuat beberapa pasang yang duduk bersama mereka mengantri merasa cemburu akan kemesraan yang diperlihatkan Andre.
"Mas, siap nomor ini. Giliran kita," kata Sinta. Andre mengangguk mengerti.
"Giliran kita sayang," kata Andre ketika nomor mereka di sebut perawat dari pintu dokter kandungan. Andre berdiri terlebih dahulu kemudian menarik tangan Sinta. Andre mendorong pelan tubuh Sinta untuk masuk duluan ke dalam ruangan dokter itu. Mereka disambut dengan senyum hangat sang dokter.
"Sore dokter," sapa Sinta ramah. Dokter itu membalas sapaan Sinta tidak kalah ramah. Dokter Sarita mempersilahkan Sinta dan duduk.
"Masih ingat dengan aku dokter?" tanya Sinta tersenyum. Dokter mencoba mengingat Sinta. Dokter itu tidak mengingat Sinta. Setiap hari melayani puluhan ibu hamil. Ya wajarlah dokter itu lupa akan Sinta.
"Aku Sinta dokter, tahun lalu di rumah sakit ini, dokter yang menolong aku melahirkan anak pertama kami," kata Sinta berusaha mengingatkan dokter itu. Dokter itu menepuk jidatnya pertanda sudah mengingat.
"Ya ampun. Kalau kamu tidak sebut nama. Aku tidak mengingat Sinta. Nama kamu jelas aku ingat. Tapi wajah, jujur aku lupa karena kamu tahu sendiri pasien yang aku tangani itu banyak. Jadi tidak bisa mengingat wajah para pasien satu persatu. Tapi proses kelahiran putri kamu yang penuh keajaiban. Membuat aku mengingat momen itu dan nama kamu Sinta," kata dokter Sarita tersenyum.
"Maksud keajaiban apa dokter?, bukankah setiap ibu melahirkan memang mengalami kesulitan seperti itu?" tanya Sinta heran dan bingung. Dokter Sarita pun menceritakan kejadian ketika Airia lahir. Ketika Airia yang sempat tidak menangis setelah lahir saat itu. Dokter yang sempat sudah putus asa dan semua kata kata Andre yang diucapkan ke Airia hingga bayi itu menangis. Sinta terkejut. Dia tidak mengetahui itu semua. Dia menatap Andre yang duduk di sampingnya. Andre pun mengangguk membenarkan apa yang diucapkan dokter Sarita.
Sinta seakan terlempar ke masa kehamilan pertama. Bagaimana dia menangis dan merindukan Andre. Bukan hanya itu, ditengah rindunya ke Andre Sinta juga berusaha keras untuk melupakan Andre. Tapi takdir berkata lain. Andre melihat Sinta di rumah sakit waktu hendak bersalin. Sinta tidak menginginkan Andre kala itu. Tetapi saat ini Sinta bersyukur karena Andre menemaninya saat melahirkan Airia.
Dari cerita dokter, Sinta tidak dapat membayangkan jika Andre tidak menemaninya. Ternyata kontak batin antara Airia dan Andre sudah terjalin sejak Airia di kandungannya. Dan Airia menginginkan ayahnya sama seperti Sinta yang menginginkan Andre di sisinya saat hamil. Sinta bersyukur dalam hatinya. Dia tidak menyesali keputusannya yang rujuk dengan Andre.
Sinta tersentak ketika dokter menanyakan tujuan kedatangan saat ini. Sinta menceritakan gejala yang dialaminya. Setelah dokter bertanya ini itu. Akhirnya Sinta di suruh berbaring di tempat tidur di ruangan itu.
Andre sangat bahagia ketika dokter menegaskan kehamilan Sinta. Dia mengangguk mengerti ketika dokter menunjukkan layar komputer. Padahal dia tidak melihat apa pun di sana. Dia sangat ahli dalam komputer tapi untuk USG seperti ini, dia hanya pura pura mengerti saja.
"Berarti jenis kelaminnya belum kelihatan ya dokter," kata Andre menunjukkan kebodohannya. Sinta yang mendengar itu terkekeh.
"Belum pak, karena ini janinnya masih sekitar satu bulan. Jenis kelamin bisa dilihat setelah janin berumur empat bulan ke atas," jawab dokter itu menjelaskan.
"Mas, aku tidak menyangka. Ternyata kamu hanya pandai membuat anak. Tetapi tidak tahu proses perkembangannya di rahim," kata Sinta terkekeh setelah mereka berjalan menuju apotik yang ada di ruangan rumah sakit itu. Andre juga ikut tertawa.
"Terserah kamu mau mengatai aku sayang. Aku bodoh saking bahagianya," jawab Andre juga terkekeh. Dia meletakkan tangan Sinta di lengannya.
"Kamu ingin anak kita yang kedua cowok atau cewek mas?" tanya Sinta setelah mereka duduk di bangku antrian.
"Terserah Yang Di Atas mau ngasih apa sayang. Bagi aku cowok atau cewek sama saja. Yang terpenting anakku lahir sehat jasmani dan rohani dan kamu selamat melahirkannya. Itu sudah cukup bagiku," jawab Andre sambil mengecup pucuk kepala Sinta. Akhir akhir ini Andre punya hobi baru yaitu mengecup pucuk kepala Sinta. Sinta merasakan hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti itu.
"Mas, Vina juga di rumah sakit ini," kata Sinta sambil menunjukan pesan dari Vina. Seketika hatinya khawatir. Dari raut wajah Sinta terlihat jika dia sangat khawatir akan Vina.
__ADS_1
"Tenang sayang. Setelah kita dapat obatnya. Kita ke ruangan Vina. Kamu tanyakan dia di ruangan mana," kata Andre sambil mengusap punggung Sinta. Melihat Sinta khawatir seperti itu, Andre merasakan tidak nyaman di hatinya.