
"Papa masih disini atau langsung pulang," tanya Tini kepada Handoko. Tini merasa sudah cukup untuk memberi pelajaran kepada Intan. Jika tidak karena memikirkan kandungannya. Tini sebenarnya ingin memberi pelajaran yang lebih berharga kepada Intan. Yaitu dengan bermain fisik. Tapi Tini tidak sebodoh itu. Dia masih lebih menghargai Sean dan menyayangi kandungannya dibandingkan harus menghajar Intan dengan tangannya sendiri. Lagi pula Kungfu yang menjadi bela diri yang ditekuni Tini tidak membenarkan menyalahkan gunakan ilmu yang di dapatkan.
"Papa masih ada urusan di luar nak," jawab Handoko serius dan menunduk. Dia masih merasa sangat malu untuk menegakkan kepalanya berhadapan dengan putrinya.
"Ini hari Sabtu pa. Urusan apa lagi. Apa masih urusan yang berkaitan dengan ranjang?" tanya Tini sinis. Handoko menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak, Papa ada janji dengan relasi lama. Kami hendak membahas kerjasama. Proposal nya sudah hampir seminggu di tangan papa. Papa ingin memberikan kejelasan tentang kerjasama tersebut."
"Terserah papa saja. Kami pulang sekarang. Ingat pa. Bertobat sebelum ajal tiba," kata Tini lagi. Handoko bagaikan anak kecil hanya mengangguk patuh. Tini tersenyum sinis. Kemudian Tini menyuruh bodyguard itu untuk membuka ikatan di tangan Intan. Dengan gerakan kepala, Tini mengajak Radit dan Vina untuk pulang. Sedangkan Sean sudah berjalan di sampingnya dengan menggandeng tangan Tini. Pria itu sungguh mengkhawatirkan Tini.
Belum lagi mereka mencapai pintu, drama selingkuhan memohon untuk tidak ditinggalkan sudah terjadi di ruang tamu itu. Tini dan yang lainnya menghentikan langkah. Mereka kembali menuju ruang tamu. Mereka berempat melihat Intan yang sudah memeluk kaki Handoko.
"Om, aku mohon. Jangan seperti ini. Jangan tinggalkan aku om," kata Intan mengiba sambil menangis. Handoko hanya diam. Handoko berusaha melepaskan pelukan Intan di kakinya. Tini memandang selingkuhan papanya dengan jijik. Wanita tidak tahu malu. Sudah jelas jelas menjadi pelakor dengan unsur kesengajaan tapi masih tidak malu untuk memohon supaya tidak ditinggal. Tini menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Intan yang bermental baja.
"Intan. Sudah cukup sepuluh tahun aku mengkhianati istriku. Seperti kata putriku. Aku harus bertobat. Dan kamu juga harus bertobat. Sebelum terlambat. Kamu masih muda. Masa depanmu masih bisa dibenahi jika kamu ada kemauan," jawab Handoko. Dia menyelipkan kata nasehat di dalam perkataannya. Berharap Intan berubah dan bertobat. Seperti kata Tini. Handoko akan bertobat dan melupakan Intan. Handoko sudah berjanji di hatinya untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hari ini, dia sudah mendapat malu yang luar biasa. Dia tidak ingin mengulangi kebodohannya kembali.
"Kita bisa bertobat dengan menikah om. Aku mohon. Aku mencintaimu om dan tidak ingin kehilanganmu," bujuk Intan masih dengan menangis. Dua bodyguard yang masih berdiri di ruang tamu itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Intan. Sepuluh tahun menjadi saksi perselingkuhan tuan besarnya. Mereka bisa melihat jika Intan hanya ingin harta dan kesenangan dari Handoko. Intan menangis karena kehilangan harta bukan karena kehilangan Handoko.
"Singkirkan tanganmu dari kakiku Intan. Jika istriku meminta cerai karena masalah ini. Aku memilih menjadi duda sampai mati daripada harus memberikan pernikahan kepada wanita lain. Mia hanya satu satunya menjadi istri dari Handoko. Dibandingkan Mia, kamu tidak ada apa apanya," bentak Handoko marah. Handoko menghentakkan kakinya untuk terlepas dari pelukan Intan di kakinya. Bukannya memikirkan ajakan Handoko untuk bertobat. Intan masih bersikeras untuk dinikahi.
Intan berdiri. Menatap Handoko dengan penuh kebencian. Tangannya terkepal membutuhkan pelampiasan. Tidak ada lagi raut kesedihan ketika dia memohon supaya tidak ditinggalkan. Intan menerjang Handoko dan memukul pria tua itu dengan brutal. Intan merasa dibohongi selama ini. Selama sepuluh tahun. Intan bisa merasakan jika Handoko juga menikmati permainan mereka tetapi setelah ketahuan seperti itu. Handoko membuangnya seperti sampah dan bahkan menurut kepada perkataan Tini yang mencabut semua fasilitas yang dianggapnya sudah menjadi milik pribadi.
Intan tidak memiliki apa apa lagi. Intan kembali seperti sedia kala ketika dia menginjakkan kakinya di kota ini. Tidak ada lagi jatah bulanan yang banyak dan mobil mewah. Intan sudah sadar, jika mobil itu juga cepat atau lambat akan ditarik showroom karena Handoko sudah mengatakan jika tidak akan membayar cicilan mobil itu lagi. Tidak ada lagi rumah mewah tempatnya berteduh. Karena Handoko juga setuju jika dirinya hanya mempunyai waktu satu minggu untuk meninggalkan rumah mewah ini.
Intan marah, Intan tidak terima diperlakukan seperti ini. Usahanya untuk hidup mewah sudah berhasil selama sepuluh tahun. Makan tidur tanpa bersusah payah bekerja. Membeli apapun keinginannya hanya tinggal menggesek ATM. Jalan jalan di dalam negeri atau keluar negeri tanpa takut akan kehabisan uang. Selama sepuluh tahun. Intan menikmati hidupnya dengan mewah. Intan sudah dikenal di kampung halaman sebagai perantau sukses. Masyarakat kampung tidak menyadari jika Intan hanya berhasil menjebak dan memeras Handoko. Suami dari Mia yang menolongnya untuk berkuliah di kota ini.
Tapi hari ini. Pencapaian Intan yang berhasil menjadi pelakor kini berakhir. Intan harus menanggalkan semua kemewahan yang sudah melekat di hidupnya. Tidak akan ada lagi kucuran uang dari rekeningnya ke orang tuanya di kampung. Dan itu adalah karena Handoko yang ternyata pintar membohongi Intan. Dia memang bisa mengancam Handoko dan memerasnya. Memaksa dibelikan rumah mewah dan mobil mewah. Tapi Handoko tidak sebodoh yang dibayangkan oleh Intan selama ini. Handoko hanya tidak memberikan dirinya rumah mewah tapi tidak dengan sertifikatnya. Intan percaya jika rumah itu dibeli dengan mencicil.
"Sialan kamu pak tua. Dasar berengsek, Handoko kurang ajar," maki Intan sambil terus memukuli tubuh Handoko dengan keras. Segala nama nama kebun binatang sudah keluar dari mulut Intan yang ditujukan kepada Handoko. Handoko seperti tidak mempunyai harga diri di hadapan putrinya sendiri. Handoko hanya diam menerima pukulan itu.
Tini menarik tangan Sean yang hendak menolong papa mertuanya. Tini merasa, jika pukulan yang didapatkan oleh Handoko adalah suatu kewajaran. Sebenarnya kalau tidak mengingat dosa. Tini juga ingin mendaratkan beberapa pukulan di tubuh papanya. Tapi Tini tidak melakukan itu. Tini masih merasa. Seburuk-buruknya Handoko. Handoko adalah papa kandungnya. Itulah sebabnya, Tini membiarkan Intan memukuli papanya sebab Tini tidak mau menjadi anak durhaka.
"Hentikan Intan," bentak Handoko keras. Akhirnya Handoko tidak kuat lagi menerima pukulan itu. Dia menangkap tangan Intan dan menghempaskan tangan itu kasar. Bukannya berhenti, Intan semakin kalap. Apalagi di saat marah seperti ini. Intan mengingat jika dia harus keluar dari rumah ini dalam Minggu ini. Intan mendorong tubuh Handoko hingga hampir terjungkal. Handoko mundur beberapa langkah untuk menghindari amukan Intan. Intan meraih vas bunga yang terletak di meja dan melemparkan vas bunga itu hingga melewati tubuh Handoko.
__ADS_1
"Ini gara gara kamu Anggun sialan," kata Intan marah dengan mata yang hendak menguliti tubuh Tini.
"Aduh," jerit Radit sambil memegang perutnya yang sudah berdarah. Vas bunga keramik yang dilemparkan oleh Intan mengenai perut Radit karena melindungi Tini. Diantara mereka berempat, hanya Radit yang menyadari jika vas bunga itu dilempar dengan tujuan Tini sebagai sasaran. Sedangkan yang lainnya mengira jika vas bunga itu dilempar dengan tujuan Handoko yang berusaha menjauh dari Intan.
Semua mata mengarah ke Radit yang berdiri di depan Tini. Vas keramik itu sudah tidak berbentuk lagi di lantai. Vina yang terkejut langsung melihat Radit yang memang berjarak dekat dengannya.
"Ayah," pekik Vina melihat baju Radit sudah berdarah. Radit menyingkapkan bajunya dan mereka melihat luka sepanjang hampir 5 centi meter di bagian perut bagian bawah sebelah kanan. Luka itu memang tidak terlalu dalam. Tapi jika Tini yang mendapat lemparan vas bunga itu dan terluka seperti itu entah apa yang terjadi dengan kandungannya.
Tini tersulut amarah. Dia melangkah mendekati Intan. Membayangkan vas bunga itu membahayakan janinnya. Dengan gerakan tidak terbaca, tendangan sudah mendarat di lengan Intan. Walau marah, Tini masih bisa berpikir untuk mendaratkan tendangan di tempat yang tidak berbahaya. Dia masih waras untuk tidak mendaratkan tendangan itu di perut atau di dada. Tini tidak ingin menjadi pembunuh. Tendangan hanya bermaksud memberi Intan pelajaran. Intan terhuyung, disaat bersamaan Sean juga berlari ke arah Tini dan memeluk istrinya.
"Ingat kandungan kamu sayang. Aku mohon," kata Sean. Dia tidak ingin gerakan Tini membahayakan janin mereka. Sean mengingat jika Tini mempunyai bela diri yang lumayan. Tini memang pasti menang jika berduel dengan Intan. Tapi Sean tidak akan membiarkan itu. Gerakan gerakan untuk menyerang bisa membahayakan kandungan Tini.
"Aku bisa saja menendang kamu di bagian perut atau dada atau bahkan di ************ kamu itu. Tapi tahukah kamu jika aku melakukan itu. Bisa saja kamu harus mendapatkan penanganan di rumah sakit atau bahkan akan berganti nama menjadi pasien darurat. Tapi aku ingin kamu merenungkan arti dari sebuah kehidupan. Kehidupan yang tidak hanya tahu merebut milik orang lain," kata Tini marah sambil menunjuk Intan. Kemarahan sebelumnya tidak seberapa dengan kemarahan Tini saat ini.
"Aku bisa melaporkan kamu atas tindakan ini?" kata Intan mengancam. Tini tersenyum sinis.
"Oya?" Kalau begitu tendangan yang aku berikan itu masih kurang untuk kamu. Minimal hidung patah atau gigi rontok supaya sepadan dengan laporan kamu. Tapi dasar bodoh. Daripada membuang duit untuk melaporkan aku. Lebih baik uang itu kamu gunakan untuk pulang kampung atau ngurus surat ijin kerja ke luar negeri. Dan satu lagi. Kak Radit juga tidak akan tinggal diam atas luka yang didapatkannya. Bagaimana kakakku?" tanya Tini kepada Radit yang masih meringis karena luka itu. Vina sedang menempelkan tissue di luka itu untuk menyerap darah yang masih keluar dari luka tersebut.
"Baiklah. Sesuai keinginan kamu untuk melaporkan aku ke polisi," kata Tini tenang sambil melepaskan pelukan Sean. Sean yang tidak menyangka Tini akan menghajar Intan lagi membiarkan Tini lepas. Tapi dengan secepat kilat, Tini maju dan mendaratkan tinjunya di mulut Intan. Lagi lagi mereka yang ada di sana hanya termangu melihat gerakan yang cepat seperti kilat. Intan sendiri tidak sempat untuk menangkis.
"Masih berniat melaporkan aku?" tantang Tini sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Intan sudah menangis meraung kesakitan sambil memegang bibirnya. Ujung bibirnya mengeluarkan darah. Dan beberapa giginya sudah ada yang goyang. Vina menjerit histeris melihat bibir Intan yang tidak berbentuk tadi.
"Dari tadi aku menahan diri untuk tidak bermain fisik. Tapi kamu memancing aku dengan berniat mencelakai kandungan aku. Tidak mempan."
"Nak, aku mohon sudah. Biarkan papa yang menghajarnya," kata Handoko memohon dan memeluk putrinya.
"Awas papa. Ini juga akibat perbuatan papa. Papa puas melihat aku seperti ini? Awas!" Tini mendorong tubuh papanya dengan kasar. Handoko menyuruh bodyguard untuk mengawasi Intan. Handoko sudah marah melihat bodyguard nya yang hanya seperti patung menyaksikan pergerakan Tini yang tidak terbaca. Mereka bertugas sebagai pengawal tapi ilmu beladiri mereka hampir setara dengan ilmu bela diri yang dimiliki oleh Tini.
"Tidak ada yang memihak kamu disini. Jadi jangan sok jago. Aku bukan tandingan kamu. Seandainya kamu laki laki. Aku pastikan mengajak kamu berduel. Sesali perbuatan kamu dan bertobatlah," kata Tini sambil membalikkan tubuhnya. Dia berjalan sambil mengelus perutnya. Di belakangnya Sean mengekor bagaikan pengawal. Ini pertama kalinya dia melihat kemarahan Tini. Sean bergidik ngeri membayangkan jika dirinya mendapat tendangan dan pukulan itu.
Tini mengajak Radit, Sean dan Vina untuk pulang. Gayanya seperti bos besar yang berjalan yang pulang membawa kemenangan. Tini berjalan di depan sementara yang lain berjalan dibelakang. Vina sudah tidak sabaran ingin menceritakan atraksi yang dilihatnya barusan kepada Sinta.
"Radit," panggil Handoko. Mereka sudah hampir mencapai gerbang. Mereka berempat spontan menoleh ke Handoko yang berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
"Ada apa om?.
"Om berterima kasih kepadamu karena sudah melindunginya calon cucuku. Seandainya kamu tidak menolong Tini. Entah bagaimana nasib putriku dan calon cucuku," kata Handoko. Radit hanya tersenyum. Tini memandang papanya dengan datar.
"Sama sama om. Luka ini tidak sebanding dengan kebaikan yang aku terima dari Tini. Dia sudah banyak membantu aku selama ini," jawab Radit. Menolong Tini dari lemparan vas bunga merupakan kebaikan pertama yang diberikan oleh Radit kepada Tini. Sedangkan kebaikan Tini tidak bisa lagi dihitung untuk Vina dan Radit.
"Oya, kalau tidak salah. Kamu anak pengusaha. Jadi kamu pengusaha juga donk," kata Handoko. Dia sudah mengingat masa ketika Radit memergokinya hampir sepuluh tahun yang lalu.
"Aku putra dari papa Jack om. Jika om mengenal papaku," jawab Radit. Dia sudah mengetahui antara Handoko dan papanya saling mengenal. Handoko terkejut.
"Jack?. Kamu putra Jack?" tanya Handoko senang sambil menepuk lengan Radit. Radit mengangguk.
"Iya om. Papa ku yang mengajukan kerjasama dengan om beberapa hari yang lalu," kata Radit.
"Benar. Bahkan kami sudah berjanji akan bertemu sore ini untuk membahas kerjasama itu. Kalau begitu sebagai balas jasa atas pertolongan kamu ke Tini. Besok, kamu datang ke kantor om. Aku dan papamu akan bersantai sore ini sambil menikmati kopi nanti sore. Om juga tidak yakin bisa konsentrasi membahas Kerja sama itu setelah adanya masalah ini," kata Handoko tulus. Radit tidak percaya dengan pendengarannya. Dia menatap bingung kepada Vina dan Tini juga Sean.
"Perutmu yang terluka kak Radit bukan kepala. Jadi jangan sok bingung seperti itu. Besok setelah ke kantor papaku. Kakak ke kantor kak Rio. Kakak mendapat kerjasama dua sekaligus," kata Tini.
"Itu artinya perusahaan kamu akan segera bangkit," kata Sean.
"Kamu ingin bekerja sama dengan putraku juga?" tanya Handoko.
"Masih rencana om. Tini yang merekomendasikan," jawab Radit.
"Pergunakan kesempatan yang ada," kata Handoko sambil memeriksa ponselnya. Radit mengangguk senang. Jika dua perusahaan bekerjasama dengannya apalagi dengan perusahaan Handoko yang sudah dikenal masyarakat. Radit yakin jika perusahaannya akan cepat bangkit kembali.
"Jack sudah dijalan. Tapi mengantarkan istrinya terlebih dahulu ke rumah putranya untuk melihat cucu," kata Handoko menceritakan isi pesan yang dikirimkan Jack kepadanya. Dia tidak menyadari jika cucu yang dimaksudkan oleh Jack adalah putra putri dari Jack yang berdiri di depannya.
"Berarti papa hendak ke rumahku om. Jika om berkenan. Kalian bisa bersantai di rumah. Kalian bisa menikmati angin sore hari sambil meminum kopi di rooftop om," tawar Radit.
"Aku setuju nak. Daripada minum kopi di tempat lain. Putriku pasti akan mencurigai aku," jawab Handoko. Mengingat perkataan Tini, Handoko memilih untuk bertemu di rumah Radit dengan Jack. Handoko melirik putrinya. Tapi Tini pura pura tidak melihat papanya.
Mereka masuk ke dalam mobil masing masing. Walau tujuan mereka sama. Tini tidak bersedia satu mobil dengan papanya. Tini masih memendam kemarahan terhadap sang papa. Mereka tidak memperdulikan suara Intan yang terdengar menangis.
__ADS_1