Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pinjaman Seratus Juta


__ADS_3

Sinta merasa lega. Vina sudah bisa menerima kehamilannya. Hanya saja Vina tidak mau lagi bersama Radit. Wajar memang. Pernikahan yang tidak dikehendaki dan penuh luka siapa yang sanggup bertahan. Wanita mana pun di muka bumi ini pasti menginginkan suami yang penyayang termasuk Vina. Jauh di lubuk hatinya setelah menikah dengan Radit. Vina berharap Radit bisa berubah dan serius menjalani pernikahan mereka. Tetapi kenyataannya Vina tidak hanya di sakiti, Vina bahkan tidak pernah mendapat uang sepeser pun dari Radit sejak mereka menikah.


Sinta dan Andre saling berpandangan setelah mendengar curahan hati Vina. Bagaimana dia bisa bertahan hanya mengandalkan uang tabungannya selama tiga bulan ini. Yang dipikirkan Sinta dan Andre bagaimana biaya rumah sakit sementara tabungan Vina sudah menipis.


Untuk menawarkan bantuan, Sinta merasa segan dan takut karena uang yang dipegangnya saat ini bukanlah uang hasil jerih payahnya sendiri. Melainkan jatah bulanan dari Andre. Sedangkan Andre juga begitu. Dia merasa takut untuk menawarkan bantuan karena Andre tidak mau Sinta berpikiran yang tidak tidak jika dia terlalu mengkhawatirkan wanita lain selain Sinta walaupun itu sahabat Sinta sendiri.


Andre memutar otaknya, bagaimana bisa membantu Vina untuk keluar dari permasalahan ekonomi. Vina butuh biaya banyak saat ini. Selain untuk biaya rumah sakit, Vina juga butuh biaya untuk kebutuhan sehari hari. Sedangkan untuk bekerja, keadaan Vina tidak akan memungkinkan.


"Vina, bagaimana kalau kita meminta uang Radit saja. Seharusnya dia yang bertanggungjawab akan hal ini," kata Andre sambil menatap Vina dan Sinta bergantian. Vina terdiam. Meminta uang kepada Radit sama saja menyerahkan dirinya kembali ke pria bengis itu. Vina menatap Andre dengan kesal. Saran Andre sungguh membuat moodnya kembali jelek.


"Mas, itu artinya kita tidak akan menyembunyikan Vina," kata Sinta juga kesal. Dia tidak sependapat dengan saran Andre.


"Kita akan tetap menyembunyikan Vina dari Radit. Aku yang akan berpura pura meminjam uangnya. Setelah Radit memberikan uangnya. Aku akan langsung mentransfer ke rekening Vina. Radit harus bertanggungjawab terhadap janin Vina walaupun caranya harus seperti itu. Lagi pula Vina sangat membutuhkan uang sekarang. Dan satu lagi, Vina ada di rumah sakit ini, itu akibat perbuatan Radit," kata Andre memberikan penjelasannya kepada Sinta dan Vina. Vina masih enggan untuk menerima saran Andre. Hal hal yang berkaitan dengan Radit, Vina merasa muak untuk mendengarnya.


Sinta, walaupun saran Andre sedikit tidak masuk akal baginya. Tetapi menurut Sinta, saran Andre bisa juga untuk di coba. Membayangkan Radit bersenang dengan para wanita sewaan sedangkan benihnya butuh nutrisi. Membuat Sinta merasa yakin untuk mengangguk kepala pertanda setuju akan saran Andre.


"Vina, menurut aku saran mas Andre bisa juga kita coba. Janin kamu berhak atas tanggungjawab ayahnya. Lagi pula kita minta bantuan siapa lagi. Orang tua kamu juga jelas akan menyuruh kamu balik ke rumah Radit jika mereka tahu keadaan kamu seperti ini," kata Sinta. Sinta sebenarnya tidak tega untuk mengatakan hal ini, tapi tidak ada jalan lain. Enam bulan ke depan Vina harus berjuang demi janinnya. Akhirnya dengan terpaksa Vina menganggukkan kepala.


Andre mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Langsung menghubungi Radit. Beruntung tidak lama menunggu, Radit menjawab teleponnya. Setelah basa basi sebentar, Andre mengutarakan niatnya untuk meminjam sebesar seratus juta. Sinta dan Vina membelalakkan matanya ketika Andre menyebut angka sebanyak itu. Mereka tidak menyangka Andre akan meminjam uang sebanyak itu kepada Radit.


"Mas, kok banyak banget?" tanya Sinta heran setelah Andre menutup ponselnya.


"Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Vina."


"Aku akan berusaha menggantinya nanti kak, saat ini aku terpaksa menerima itu walau melalui perantara kakak sebagai peminjam. Selepas dari sini aku akan berusaha mencari pekerjaan," kata Vina sedih. Dia tidak menyangka apa yang dialami Sinta dulu akan terjadi juga pada dirinya.


"Vina, utamakan kesehatan dan keselamatan janin kamu. Mas Andre melakukan ini semua supaya kamu tidak pusingkan memikirkan biaya hidup selama hamil,"


"Kalau dulu kamu bisa, kenapa aku tidak Sinta?.


"Kandungan aku saat itu kuat Vina," jawab Sinta sambil menatap wajah Vina. Andre terdiam. Dia menunduk dan tidak berani memandang wajah Sinta yang sedang berbicara. Perbincangan kedua sahabat itu kembali mengingatkan dirinya yang dulu menyakiti Sinta. Perbincangan Sinta dan Vina terhenti oleh bunyi notifikasi pesan di ponsel Andre. Andre membuka pesan tersebut dan tersenyum.


"Radit sudah mengirimkan uangnya. Mana nomor rekening kamu Vina?" tanya Andre senang. Dia tidak menyangka bahwa Radit begitu mudah meminjamkan uangnya kepada Andre. Vina berusaha meraih tas dari atas nakas di dekat bed. Melihat Vina sulit menjangkau tas tersebut, akhirnya Sinta mengambilkan tas tersebut dan memberikannya kepada Vina.


" Ini kak," kata Vina sambil menyodorkan ponselnya. Andre meraih ponsel itu dan mengetikkan nomor rekening Vina di ponselnya. Kemudian Andre meneliti nomor rekening itu satu persatu dan mencocokkan dengan nomor rekening di ponsel Vina. Setelah merasa yakin sudah pas, Andre menelan tombol kirim di ponselnya. Uang seratus juta dari Radit kini sudah berpindah ke rekening Vina.


"Asal kalian tahu saja, sebenarnya Radit itu orangnya pelit dan perhitungan. Tapi entah mengapa kali ini dia tidak banyak bertanya dan setuju saja ketika aku meminjam uangnya. Aku rasa dia juga punya kontak batin dengan janinnya," kata Andre sambil menyimpan ponsel ke sakunya. Dia merasa senang bisa membantu Vina.


"Oya Vina, apa kamu tidak apa apa sendiri di sini?. Ini sudah malam, kami sebentar lagi juga akan pulang," kata Andre lagi. Dia melirik jam dinding.


"Aku sudah menyuruh Tini untuk menemani Vina malam ini mas, katanya dia sudah di bawah," jawab Sinta cepat. Vina mengucapkan terima kasih kepada Sinta. Vina tidak menyangka bahwa Sinta sampai sejauh itu memikirkan dirinya.


"Andaikan keadaan aku memungkinkan menemani kamu di sini, aku akan melakukan itu Vina. Tapi kamu tahu sendiri. Aku juga hamil muda dan Airia juga pasti sudah merengek di rumah karena kelamaan ditinggal. Tidak apa apa kan kalau Tini yang menemani kamu malam ini?"


"Tidak apa apa Sinta, aku beruntung mempunyai sahabat seperti kalian."


"Aku yang lebih beruntung Vina, kalian semua adalah saudara aku dan sahabat terbaikku," jawab Sinta tersenyum. Dia memeluk Vina dan Vina membalas pelukan itu.

__ADS_1


Tini masuk tanpa mengetuk pintu. Dia langsung mendekat ke arah Vina.


"Semoga lekas sembuh friend," ucap Tini sedih. Dia sudah tahu keadaan Vina dari Sinta lewat pesan tadi. Tanpa berpikir panjang gadis tomboi itu langsung minta ijin ke pada mamanya untuk menemani Vina di rumah sakit. Vina mengangguk. Dia terharu dengan kedatangan Tini.


"Melihat hidup kalian berdua yang penuh drama , aku seperti menonton sinetron," kata Tini sambil menunjuk Sinta dan Vina.


"Ya ampun Tini, bisa bisanya kamu berkata seperti itu. Vina lagi sakit," kata Sinta kesal.


"Ya memang iya kan. Kalian berdua sama sama menikah dengan pria brengsek dan menderita. Makanya. Kalau sudah tahu laki laki itu berengsek. Untuk apa bertahan sampai berbulan bulan. Yang menderita siapa?. Kalian berdua kan. Ya semoga saja, laki laki yang di ruangan ini sudah menjadi mantan brengsek. Dan tidak kembali ke tabiat lamanya," kata Tini kesal. Melihat Vina menderita seperti ini mengingatkannya akan penderitaan Sinta dulu. Dia sengaja menyindir Andre. Sinta yang tahu Tini menyindir Andre langsung melirik ke arah suaminya. Suaminya itu hanya diam dan juga tahu bahwa dia disindir oleh Tini.


"Gimana pak?, masih berengsek atau sudah mantan berengsek?" tanya Tini kepada Andre. Pria itu mendongak menatap Tini. Dia tahu Tini memang seperti itu. Berbicara tanpa menyaring.


"Tenang saja Tini. Sudah mantan berengsek kok. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,"


"Nah gitu donk. Tos dulu bang. Ini baru Abang aku," kata Tini senang. Dia mendekat ke arah Andre dan mengajak Andre tos. Andre hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mahasiswinya itu.


"Tapi perlu kamu ingat bahwa aku dosen kamu. Kalau berbicara dengan dosen. Mulut harus pakai saringan. Jangan asal keluar semua," gerutu Andre. Tapi dia juga menerima tos dari Tini.


"Iya bang dosen. Asal bang dosen menjaga Sahabatku dengan baik. Bukan hanya memakai saringan. Aku bahkan mengunci mulut ini," jawab Tini tidak mau kalah. Sinta dan Vina hanya tersenyum mendengar ucapan Tini.


Sinta dan Andre akhirnya pamit pulang. Sinta merasa lega meninggalkan Vina. Selain ada Tini yang menjaganya. Masalah keuangan Vina juga teratasi. Tentang pinjaman dari Radit itu. Sinta yakin Andre bisa mengatasi hal itu. Sedangkan Vina, dia juga merasa aman sekarang. Andre, Sinta dan Tini sudah berjanji akan menyembunyikan Vina dari Radit.


Sementara itu di kediaman Radit, pria itu pulang tengah malam. Satu kebiasaan yang belum berubah. Dengan cepat dan setengah berlari pria itu menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamarnya. Radit mengernyitkan keningnya ketika melihat ranjang kosong. Tiga bulan menikah bersama Vina. Radit selalu menemukan Vina meringkuk di tengah ranjang bila dia pulang tengah malam. Malam ini, ranjang itu kosong. Membuat Radit bertanya tanya kemana gerangan Vina.


Radit kembali menuruni tangga. Dia berjalan dengan tergesa menuju kamar bibi Ina sang art. Dengan tidak sabar dia menggedor pintu kamar bibi Ina.


"Sejak pergi tadi pagi, non Vina belum pulang pulang tuan," jawab bibi Ina dengan takut. Tadi pagi bibi Ina melihat Vina keluar sambil meringis menahan sakit. Bibi Ina tidak sempat bertanya karena Vina langsung masuk ke dalam taksi. Tanpa menanggapi perkataan bibi Ina, Radit kembali berlari menuju kamarnya. Dia membuka lemari kain Vina. Radit menarik nafas lega. Pakaian Vina yang tidak seberapa masih tersusun rapi di lemari itu.


Radit menduga Vina menginap di rumah salah satu sahabatnya. Radit pun merebahkan tubuhnya di ranjang.


Lain Radit lain pula Vina. Kalau Radit bisa langsung terlelap. Vina sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Sakit di perutnya tidak sesering tadi pagi. Tapi Vina tetap tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan uang seratus juta dari Radit melalui pinjaman Andre. Vina berpikir, bahwa Andre punya rencana lain di balik meminjam uang seratus juta itu. Walau tidak bisa menebak rencana itu, Vina yakin bahwa Andre ingin dirinya berbaikan dengan Radit. Vina tidak akan membiarkan itu. Tiada maaf bagi Radit.


"Baiklah kak Andre, aku menerima uang seratus juta ini. Tapi jangan harap rencana kakak itu berhasil. Cepat atau lambat aku akan mengembalikan uang ini," batin Vina dalam hati. Dia melirik ke arah Tini. Gadis tomboi itu harus tidur di bangku menelungkupkan kepala ke bed Vina. Ruangan Vina kelas dua jadi sofa dan fasilitas lainnya tidak ada.


Pagi hari, Radit terbangun kesiangan. Biasanya pagi pagi begini. Vina selalu membangunkannya. Walau mereka tidak saling mencintai, Vina selalu bersikap seperti istri yang baik bagi Radit. Membangunkan Radit di pagi hari dan menemaninya sarapan pagi. Pagi ini, Radit kehilangan momen itu. Bahkan karena terlambat bangun, Radit melewatkan sarapan paginya di rumah.


Setelah bekerja satu harian, Radit pulang lebih cepat dari biasanya. Dia tiba di rumah ketika jarum jam menunjukan angka lima. Sore hari ini, entah mengapa Radit merasa ingin cepat cepat pulang ke rumah.


"Bibi, apa Vina sudah kembali," tanya Radit kepada bibi Ina. Dia langsung menuju dapur ketika sampai di rumah.


"Belum tuan," jawab bibi Ina sedih. Radit menarik nafas panjang. Dengan lesu dia menaiki tangga. Serasa tidak bersemangat dia membuka pintu kamar. Kamar itu masih seperti tadi pagi ditinggalkannya.


Radit duduk di tepi ranjang. Pikirannya masih ke Vina. Kemana perginya istrinya itu. Radit berpikir Vina tidak mungkin berani kabur dari rumah ini. Apalagi harus kembali ke rumah orangtuanya. Radit pernah mendengar sendiri, bagaimana orang tua Vina berkata tidak akan menerima Vina kembali di rumah mereka. Waktu itu Vina meminta pulang ke rumah orangtuanya untuk mengambil pakaiannya. Tetapi dengan setengah berteriak papanya Vina melarang dia untuk kembali ke sana.


Ataukah dia ke rumah istrinya Andre?. Pertanyaan itu tiba tiba terbersit di pikiran Radit. Tanpa berpikir panjang Radit kembali menuruni anak tangga. Dia masuk ke mobilnya dan dengan kecepatan tinggi, Radit mengendarai mobilnya menuju rumah Andre.


Andre dan Sinta tentu saja terkejut melihat kedatangan Radit. Sinta sampai mengancam Andre supaya tetap menutup mulut tentang keberadaan Vina.

__ADS_1


"Bro, ada apa?" tanya Andre setelah keluar dari kamar. Radit sudah duduk di sofa sambil memasang kupingnya baik baik. Dia berharap mendengar suara Vina di rumah ini. Matanya juga mengawasi setiap sudut rumah. Andre yang sudah tahu maksud kedatangan Radit. Berpura pura tidak memperhatikan tingkah Radit.


"Istrimu mana Andre?"


"Untuk apa kamu bertanya tentang istri aku?" tanya Andre balik. Dia tidak senang ketika Radit justru bertanya tentang Sinta.


"Vina kabur dari rumah bro. Aku mau bertanya ke istri kamu. Mana tahu dia mengetahuinya," jawab Radit pelan.


"Kabur karena apa?. Apa kalian bertengkar?" tanya Andre pura pura tidak mengetahui masalah rumah tangga Radit dan Vina. Radit mengangguk. Dia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Untuk membuat Radit yakin bahwa Andre pura pura tidak mengetahui keberadaan Vina. Andre memanggil Sinta untuk keluar dari kamar.


"Sinta, apa kamu tahu dimana Vina?"


"Aku tidak tahu kak, Terakhir bertemu ketika kami berkumpul di rumah ini Sabtu kemarin," jawab Sinta sambil menunduk. Dia tidak biasa berbohong. Radit terus menatap Sinta yang masih menunduk.


"Benarkah?, aku rasa kalian berdua menyembunyikan sesuatu tentang Vina. Aku bisa membaca dari wajah kalian berdua," kata Radit tegas. Matanya terus mengawasi gerak gerik Sinta. Andre merasa kesal karena mata Radit tidak lepas dari istrinya.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mencari Vina di setiap sudut rumah ini," jawab Andre kesal.


"Aku tidak akan melakukan saran mu itu Andre. Aku hanya berharap kejujuran kalian berdua. Vina adalah istriku. Jika terjadi sesuatu dengan dia, maka kalian berdua yang akan bertanggungjawab karena kalian menyembunyikan Vina dari aku."


Sinta seketika merasa takut akan ancaman Radit. Saat ini Vina dalam keadaan tidak baik. Kandungan masih lemah. Mendengar ancaman Radit, Sinta semakin takut. Jika Vina keguguran itu artinya bahwa dirinya dan Andre lah yang bertanggungjawab karena dengan sengaja mereka menyembunyikan Vina dari Radit. Sinta melihat Andre yang juga merasa gelisah akan ancaman Radit.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu Radit. Kami mengatakan yang sebenarnya. Kamu jangan melimpahkan kesalahan kamu kepada kami. Aku juga bisa menuntut kamu jika terjadi sesuatu kepada istri aku. Dia sekarang hamil muda. Perkataan kamu itu bisa membuat istri aku tertekan,"


"Andre, aku tidak akan menganggap uang seratus juta itu sebagai pinjaman jika kamu bisa berkata jujur. Uang itu akan aku berikan cuma cuma jika kamu mengatakan dimana Vina saat ini," kata Radit bernegosiasi. Andre dan Sinta saling berpandangan. Sepasang suami istri itu memikirkan hal yang sama yaitu Vina. Mereka mengingat jelas bagaimana Vina memendam luka dan sakit hati karena perbuatan Radit.


"Jika aku mengatakan bahwa aku benar benar tidak mengetahui keberadaan Vina. Apa yang kamu lakukan?" tanya Andre sengit. Dia tidak menyangka Radit akan mengungkit uang seratus juta yang dipinjamnya. Uang itu belum 24 jam di tangan Vina, tapi Radit sudah mengungkitnya sekarang.


"Aku akan meminta uang itu kembali sekarang juga," jawab Radit cepat. Andre benar benar tersinggung dengan perkataan Radit. Andre menatap Sinta. Sinta juga terkejut dengan perkataan Radit.


"Baiklah, aku tidak mengetahui dimana keberadaan Vina," jawab Andre marah. Sinta menarik nafas lega. Andre menyuruh Sinta untuk mengambil ponselnya dari kamar. Andre akan mengembalikan uang Radit malam ini juga.


"Lihat ponselmu. Aku sudah mengembalikan uang kamu. Terimakasih sobat karena sudah bersedia meminjamkan uang itu kepada aku," kata Andre setelah selesai mengetikkan angka angka di ponselnya. Tidak lama kemudian ponsel Radit berbunyi. Radit melihat bahwa uangnya sudah ditransfer Andre ke rekeningnya. Radit seketika menyesal, niatnya untuk menggertak Andre dan Sinta tetapi tidak mempan.


"Andre, sorry bro. Aku tidak menyangka kamu menganggap perkataan aku tadi serius. Aku bisa mengirimkan uang ini kembali ke rekening kamu,"


"Tidak perlu Radit. Asal kamu tahu. Kamu akan menyesal jika suatu saat nanti kamu tahu tujuan aku meminjam uang kamu. Pergilah!. Vina tidak ada di sini. Kamu bisa mencarinya kemana saja kamu suka. Yang pasti Vina tidak ada di rumah ini," kata Andre tegas. Gertakan Radit tadi sungguh membuat Andre tersinggung dan merasa rendah diri. Radit berdiri dari duduknya. Dia keluar rumah Andre tanpa mendapat informasi apapun tentang keberadaan Vina.


"Mas, apa kamu tidak merasa keberatan dengan uang sebanyak itu?. Uang itu sudah di tangan Vina. Tidak mungkin kita minta kembali atau memberi tahukan tentang uang itu sudah diminta kembali oleh kak Radit. Vina sangat membutuhkan uang itu mas," kata Sinta setelah terdengar suara mobil Radit menjauh.


"Asal kamu tidak keberatan, aku juga tidak keberatan sayang. Uang itu hanya deretan angka-angka. Tidak sebanding dengan bantuan Vina kepada kamu. Aku tidak bisa membayangkan jika Vina dan sahabat kamu yang lain tidak ada ketika aku bodoh dan tersesat dulu," jawab Andre pelan. Dia memeluk Sinta penuh kasih. Sinta membalas pelukan Andre.


"Makasih mas, aku percaya kita akan mendapatkan rejeki pengganti uang itu. Aku tidak keberatan sama sekali mas. Vina sangat membutuhkan uang itu dan dukungan kita," kata Sinta. Dia merasa senang karena Andre mau membantu Vina. Andre hanya menganggukkan kepala.


"Berterima kasih lah dengan baik sayang. Jangan hanya memeluk saja. Aku menginginkan lebih dari pelukan," jawab Andre sambil tersenyum. Sinta yang tahu maksud Andre juga tersenyum dan mencubit pinggang Andre.


"Tidak sakit sayang. Apalagi kalau yang ini di cubit," kata Andre sambil menunjuk ke arah inti tubuhnya. Sinta melotot dan mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Untung hanya mereka berdua di ruang tamu itu.

__ADS_1


"Nanti malam ya mas. Tunggu yang lain tidur dulu," jawab Sinta akhirnya. Andre mengangguk senang.


__ADS_2