Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Bertemu Keluarga


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam Sinta sampai di stasiun bus sore hari. Sinta turun dari bus dengan membawa ranselnya dan sedikit oleh oleh. Sinta mengedarkan pandangan berharap ada seseorang yang di kenalnya yang bisa membawanya sampai di kampung. Sore begini akan lebih baik pulang ke rumah bersama orang yang dikenal daripada naik ojek. Kebetulan atau nasib yang beruntung dia mengenal seseorang yang berdiri di depan loket.


Sinta menghampiri orang tersebut yang sedang sibuk memasukkan beberapa paket ke ranselnya.


"Dika, kamu di sini?, ngapain?. Yang dipanggil menoleh dan tersenyum.


"Eh Sinta, kamu baru pulang dari kota, aku ngambil paket yang dikirim saudaraku dari kota. Mereka menitipkan lewat bus. Lewat bus satu hari sudah sampai daripada pake jasa pengiriman," kata Dika sambil menunjuk bus yang dekat loket. Sinta mengangguk.


"Oya, kamu apa kabar Sinta?, lama di kota kamu makin cantik aja."


"Kabar baik, Dika bersama siapa?"


"Sendiri. Ayo kamu pulang bersama aku saja. Tuh motor aku."


"Makasih Dika." Sinta mengangguk. Setelah di parkiran Sinta mengikuti Dika naik ke motornya.


Sepanjang perjalanan mereka diam saja. Menyadari dirinya sudah bersuami Sinta merasa canggung dan menjaga jarak jangan sampai kulit mereka bersentuhan. Lain halnya dengan Dika walaupun diam jangan ditanya hatinya. Bisa membonceng Sinta membuatnya sangat bahagia. Dika adalah tetangga Sinta hanya berjarak beberapa rumah dengan rumah Sinta. Sudah lama Dika menaruh hati terhadap Sinta. Dika yang kurang pede mengungkapkan cintanya, memilih untuk diam.


Sinta menepuk bahu Dika dari belakang. Sinta meminta Dika menurunkannya di simpang. Biarlah dia berjalan ke rumahnya karena tidak enak hati Dika mengantarkan sampai ke depan rumahnya padahal rumah Dika yang duluan dapat. Dika tidak menghiraukannya dan terus membawa Sinta sampai ke depan rumahnya.


"Dika, makasih atas tumpangannya, mari singgah sebentar!" kata Sinta basa basi setelah turun dari motor, Dika memutar balik motornya kemudian berhenti kembali.


" Sama sama Sinta, tak perlu sungkan. Makasih juga atas tawaranmu. Tapi aku harus segera pergi." Sinta mengangguk. Setelah Dika berlalu, Sinta memasuki pekarangan rumahnya.


Sinta mengetuk pintu dan mengucap salam, tak lama kemudian seseorang membuka pintu.

__ADS_1


"Kakak,,, Ma, pa kakak Sinta pulang!" kata Lina berteriak. Sinta tersenyum dan langsung memeluk Lina adiknya. Belum lagi Sinta melepaskan pelukan dari Lina sudah terlihat Mama Ria dan Dion dekat mereka. Mama Ria langsung menarik Sinta ke pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Sinta juga terharu dan ikut menangis.


Mama Ria menangis bahagia bisa bertemu kembali dengan putri pertamanya. Melepas Sinta ke kota dengan keuangan yang kurang cukup membuatnya terus merasa khawatir tentang kehidupan Sinta di kota.


Kini mereka sudah duduk di kursi tua di ruang tamu. Papa Panji yang baru siap mandi juga sudah ikut bergabung. Sambil menikmati oleh oleh yang dibawa Sinta mereka bercerita sambil bercanda. Berkali kali mama Ria mengucap syukur mendengar Sinta bercerita tentang kehidupannya di kota. Tentu saja Sinta tidak bercerita bahwa dia sudah menikah siri. Berbohong, Sinta mengatakan bahwa dia bekerja di warung dekat kampusnya dengan gajinya yang lumayan, makan dan tempat tinggal sudah ditanggung. Gajinya untuk uang kuliah dan keperluan kuliah lainnya.


Mama Ria percaya begitu juga dengan kedua adiknya. Tapi tidak dengan papa Panji. mendengar Sinta bercerita, Papa Panji memperhatikan penampilan Sinta mulai dari baju, jam tangan, sepatu dan bahkan ponsel. Apa yang dipakai Sinta memang bukan barang mahal. Mengingat sudah lama mereka tidak mengirim uang ke Sinta membuat papa Panji sedikit curiga di tambah Sinta pernah mengirimi mereka uang.


"Sinta, kalau boleh papa tahu, uang yang pernah kamu kirimkan ke kami, itu darimana nak?. Sinta terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari papa Panji. Pertanyaan yang belum Sinta siapkan jawabannya. Sinta berpikir dan berusaha tidak gugup.


"O itu pak, Selain warung makan, bos Sinta juga punya catering untuk pesta pa, jadi kemarin itu selama satu bulan penuh Sinta lembur sampai larut malam karena banyak pesanan catering. Yang aku kirimkan itulah tip nya pa." Kata Sinta, jawaban yang pas menurut papa Panji.


"Syukurlah lah nak kalau begitu. Apa kuliahmu tidak terganggu?" tanya pak Panji lagi


"Maafkan kami nak. Harusnya kamu ke kota fokus kuliah, tetapi kenyataannya kamu harus membanting tulang demi kuliahmu," kata mama Ria merasa sedih mendengar perjuangan Sinta di kota.


"Mama tidak usah sedih, ini hanya sementara. nanti kalau aku sudah lulus kuliah, aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Jadi mama tidak usah bersedih. Cukup doakan saja putrimu ini ma," jawab Sinta sambil mengambil sesuatu dari ranselnya.


"Lina, ini ponsel untukmu, ini ponsel lama kakak tapi masih bagus. Nanti biar kita bisa video call." Lina merasa senang menerima ponsel bekas Sinta. Selama ini dia hanya bisa melihat teman temannya bermain ponsel. Di kelasnya hampir semua sudah memiliki ponsel hanya dua atau tiga orang yang tidak memiliki ponsel termasuk Lina.


"Terima kasihnya kak."


"Untuk aku mana kak?" tanya Dion yang tidak terima hanya Lina yang di beri ponsel.


"Kamu masih kecil dek, baru mau masuk SMP. Tahun depan kalau kakak ada rejeki, kakak belikan kamu ponsel," kata Sinta kepada adik bungsunya.

__ADS_1


"Yeh, masih lama lagi kak." Dion merajuk


"Dion, jangan seperti itu. Kakakmu aja bisa kuliah sudah syukur. Kamu yang rajin belajarnya. Kalau nilai kamu bagus, nanti mama belikan ponsel kalau panenan kita bagus." Mama Ria membujuk Dion.


"Tapi aku mau sekarang ma."


"Dion tidak boleh seperti itu. Kalau kakakmu punya ponsel dua, pasti kamu diberi satu. Kakakmu ke kota untuk kuliah. Lina yang lebih membutuhkan ponsel itu. Lagian kalau kamu bermain ponsel nanti punya kakakmu Lina aja pinjam." Papa Panji yang sedari tadi diam kini ikut membujuk Dion.


"Mama, tadi masak apa?" tanya Sinta yang sudah mulai lapar.


"Seperti biasa kak, ikan asin sama daun ubi tumbuk." Bukannya mama menjawab malah Dion yang berbicara. Sinta udah paham keadaan keluarganya. Menu itu pasti berulang ulang dalam seminggu ini dimasak mama Ria.


Sinta mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan dari dompetnya kemudian menyerahkannya ke Dion. Sinta tahu pasti Dion bosan dengan makanan yang itu itu aja terus.


"Dion, mau beli sesuatu?.


"Iya kak, aku mau bakso Pak Yanto yang di simpang."


"Ya udah belikan empat porsi, uangnya cukup kan?.


" Iya kak."


"Aku ga mau bakso, aku mau mie ayam. Papa juga pasti mie ayam. Iya kan?" kata Lina dan papa Panji mengangguk.


"Ya udah terserah kalian, kalau aku mau masakan ibu saja. Udah kangen dengan masakan ibu. Kata Sinta sedangkan mama Ria tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2