Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Berteman Saja


__ADS_3

Setelah makan malam, Sinta memasuki kamar yang juga kamar Lina. Lina sudah pulas tidur, sedangkan Sinta belum mengantuk padahal sudah larut malam. Lina mengambil ponselnya kemudian memeriksa aplikasi wa. Tidak ada satupun notifikasi chat. Sinta kecewa. Berharap ada pesan dari Andre.


Hari berganti hari tidak terasa Sinta sudah tiga hari di kampung dan selama itu juga Andre tidak pernah menghubunginya. Terbersit di pikiran Sinta untuk menghubungi Andre duluan tetapi rasa takut itu selalu ada. Takut ketahuan istri pertama. Begitulah pemikiran Sinta. Selama tiga hari ini juga dimanfaatkan Sinta untuk membantu kedua orangtuanya di kebun dan di rumah. Sinta berusaha sesibuk mungkin untuk membunuh rindu akan suami sirinya.


Berharap meringankan beban orangtuanya Sinta tanpa mengenal lelah bekerja di kebun kopi milik orangtuanya. Kebun yang tidak seberapa luas membuat keluarga Sinta selalu kekurangan. Untuk menanam tanaman lain, Orangtuanya tidak mempunyai lahan lagi selain kebun kopi. Terkadang orang tua Sinta harus bekerja di kebun orang dan diupah.


Pagi ini Sinta di rumah dan kedua orangtuanya bekerja di kebun orang. Sinta sebenarnya ingin ikut bekerja upahan mengikuti kedua orangtuanya. Tapi kedua orangtuanya tidak mengijinkan. Sinta menurut dan berniat untuk membereskan pekerjaan rumah saja. Dengan semanga, Sinta membersihkan dan merapikan rumah. Ingin rasanya Sinta menangis melihat keadaan rumahnya, Atap rumah banyak yang bocor, lantai rumah yang terkelupas dan perabotan yang hampir semuanya sudah usang. Sinta menyuruh kedua adiknya untuk melanjutkan beres beres rumah. Sinta pergi ke belakang rumah, di bawah pohon jambu Sinta bersandar, menangis melihat keadaan keluarganya yang serba kekurangan.


Sinta bertekad dalam hatinya untuk menjadi orang hebat dan memiliki pekerjaan yang layak dan baik. Belajar yang lebih giat lagi adalah prioritas Sinta. Sinta juga berencana membuka usaha kecil yang tidak mengganggu kuliahnya dan hasilnya akan dikirim ke orangtuanya. Saat Sinta merancang apa yang akan dilalukan di hari esok tiba tiba ponselnya berdering.


Setelah mengambil ponsel dari celananya, Sinta menatap layar ponselnya tertera nama pemanggil Mas AB, Sinta tersenyum, hal yang dirindukan telah menelponnya. Sesudah menghapus air matanya Sinta menggeser tombol hijau di ponselnya. Terpampang jelas muka Andre memenuhi layar ponsel Sinta.


"Halo mas," sapa Sinta dengan senyum yang sumringah.


"Kenapa kamu tidak memberi kabar?. Ketemu keluarga malah lupa sama suami." Andre mengomel.


" Bukan begitu mas, aku menunggu kamu yang duluan menghubungi aku."


"Kenapa begitu, musti harus aku duluan call atau chat kamu."


"Aku takut aja mas, mana tahu mas bersama... siapa namanya mas?, yang paling kamu cintai itu. Takut mengganggu mas."


"Tau ah, di telepon bukannya nanya kabar malah ngajak ribut. Kamu di mana itu?. Kog banyak pohon pohonnya?" kata Andre untuk mengalihkan pembicaraan Sinta yang sudah mengarah ke kekasihnya.


"Belakang rumah mas."


"Aku kira di hutan."


"Namanya di kampung ya masih banyak pohon pohonlah mas."


"Kamu ga nanya kabar aku?"


"Gak, aku tau kamu pasti baik baik aja, ngapain nanya."


"Uangmu masih cukup kan?"


"Masih mas, malah yang kamu kemarin kasih belum berkurang selembar pun."


"Kenapa ga berkurang, kan bisa kamu kasih ke orangtuamu!"

__ADS_1


"Aku tidak mau, nanti mereka curiga, kalau mereka tahu yang sebenarnya aku bagaimana di kota, bisa bisa aku ga dikasih ke kota lagi,"


kata Sinta cemberut.


Sinta menoleh ke arah suara yang memanggilnya kemudian berbicara lagi ke Andre.


"Mas, udah dulu ya. Temanku ada yang datang."


"Laki laki atau perempuan?.


" Ga tau, ini mau lihat dulu, udah ya!. Andre masih hendak berbicara, Sinta sudah memutuskan panggilan. Sinta masuk ke dalam rumah dan melihat Dika sudah duduk di ruang tamu.


"Dika, kamu ke sini. Ada apa?.


"Bosan di rumah, ga ada teman ngobrol. kebetulan tadi lewat. Kata Lina kamu di rumah ya mampir deh," kata Dika. Dika memang sengaja datang ke rumah Sinta.


"Sebentar, aku buatkan kamu minum dulu."


Ga usah Sinta, ga udah repot repot. Aku cuma sebentar kog tapi Kalau kamu tidak sibuk, gimana kalau kita jalan jalan ke pantai."


"Aku ga bisa Dika, maaf!.


"Tergantung Dika dan lihat keadaan juga.


"Ah kamu sin, itu itu aja selalu jawaban. Aku sudah hapal pasti itu jawabanmu." Sinta terkekeh begitu juga dengan Dika.


"Oya bagaimana kuliahmu?, lancar kan." Sinta mengangguk


"Lancar Dika, kamu apa kegiatan di kampung ini?" tanya Sinta basa basi. Sebenarnya dia risih duduk berdua dengan laki laki lain yang bukan suaminya. Sinta masih jelas mengingat bagaimana Andre selalu meminta dirinya untuk menjaga batas dengan laki laki lain.


"Ya begitu sin, selain menjalankan usah ternak papa. Aku juga ada bisnis kecil kecilan."


"Mantap itu Dika berbisnis. Tapi bisnismu yang halalkan?.


"Ya ampun ya halal lah Sinta. Kamu ingat tiga hari yang lalu kita ke temu di stasiun?. Sinta mengangguk. "ah itu Bisnisku. Paket kemarin itu berisi ponsel."


"Maksudnya gimana? Blom ngerti aku."


"Gini loh, aku itu bisnis penjualan ponsel tapi sistem order. Nah kalau ada yang order, aku pesankan ke teman aku yang di kota. Kemudian dikirim lewat bus." Dika menjelaskan sampai sederhana mungkin.

__ADS_1


"Lancar ga bisnisnya?.


" Ya lumayan lah menambah uang saku sin, bukan hanya ponsel terkadang juga pakaian dan yang lain. Oya sin, boleh minta nomer ponselmu?.


"Boleh." Sinta menyebut kan satu persatu nomor ponselnya dan Dika mencatatnya di ponselnya.


"Dik, aku juga mau berbisnis denganmu, biar aku di kota yang membelanjakan pesanan mu," kata Sinta. Setelah mendengar penjelasan Dika tadi. Otaknya sudah menghitung untung yang didapat jika berbisnis seperti itu.


"Bukannya aku tidak mau sin, cuma resikonya besar selain kamu capai, kamu tidak mengenal para karakter supir, takutnya kamu nanti ditipu. Nah kalau kawanku itu yang berbisnis denganku termasuk preman stasiun jadi para supir agak takut ke dia. Mereka tidak akan berani menggelapkan paket." Sinta mengangguk mengerti.


"Ia gitu ya Dika, padahal dah senang tadi mau ikutan, kan lumayan dapet uang saku juga."


"Sin, sebenarnya aku tidak kebetulan lewat. aku memang sengaja datang menemui mu. Ada yang mau ku bicarakan denganmu sin," kata Dika akhirnya jujur. Sinta sudah bisa menebak kearah mana pembicaraan Dika.


"Mau bicara apa Dika, ya udah ngomong aja sekarang."


"Kita keluar bentar yuk!.


Sinta menolak ajakan Dika. Walupun Andre tidak melihatnya, Sinta tidak mau berduaan dengan laki laki lain apalagi harus keluar dari rumah.


"Disini aja Dika, aku takut ada fitnah kalau kita jalan berdua. Kalau di rumah kan ada kedua adikku."


"Fitnah apaan sin, kita kan masih muda, ya wajarlah senang senang sedikit, Aku lajang kamu lajang jadi di mana letak fitnahnya?. Sinta seketika sadar dengan kata katanya. Sinta berusaha bersikap tenang jika kata katanya tadi mempunyai arti jika dirinya sudah bersuami.


"Ya sudah, tadi kamu katanya mau ngomong. Mau ngomong apa?" tanya Sinta lembut sambil tersenyum.


"Sin, sebenarnya, aku sudah lama suka sama mu. Sin, mau kah kamu jadi pacarku?.


Sinta tiba tiba tertawa terbahak mendengar ungkapan cinta Dika yang tidak ada romantis romantisnya. melihat ekspresi Sinta, Dika sudah mulai pesimis, pasti dia akan ditolak.


"Dika Maaf, aku mau fokus dulu untuk belajar," kata Sinta sambil tersenyum. Alasan yang tepat tanpa menyakiti menolak cinta Dika. Sinta berprinsip, selagi dirinya masih terikat pernikahannya dengan Andre. Dia tidak akan mengkhianati pernikahan tersebut.


"Kalau begitu, aku akan menunggumu sampai lulus kuliah."


"Jangan menunggu yang tidak pasti Dika, lagian aku bukan wanita sebaik yang kami kira," tolak Sinta masih dengan halus. Dika tidak menyadari ada yang terbersit di dalam ucapan Sinta.


"Sin, aku serius."


"Kita berteman saja Dika." Dengan tegas Sinta menolak. Dia tidak mau memberi harapan palsu.

__ADS_1


__ADS_2