
Setelah proses pendaftaran, timbang badan dan ukur tensi. Kini Sinta sudah duduk mengantri untuk pemeriksaan kandungan. Sinta dapat melihat dua ruangan dokter spesialis. Dokter Sarita dan Dokter Indra. Ketika di pendaftaran tadi Sinta memilih dokter Sarita.
Menunggu dipanggil dan membunuh rasa bosan, Sinta membuka buku KIA yang diberikan perawat tadi. Hanya sebentar membaca, Sinta kembali bosan.
Sinta mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sinta merasa sedih, di antara yang antri hanya dia yang sendiri. Dia berharap, Andre mau menerima kehamilannya. Sinta juga ingin dimanja layaknya seperti ibu hamil lainnya.
Sinta beranjak dari duduknya ketika namanya di panggil. Perawat mempersilahkan Sinta masuk. Senyuman manis sang dokter menyambutnya ketika sudah masuk.
"Suaminya disuruh masuk aja ibu," kata dokter ketika dilihatnya perawat menutup pintu.
"Aku datang sendiri dokter," jawab Sinta dan duduk di bangku yang ditunjukkan perawat padanya. Nampak perawat menyerahkan beberapa kertas ke dokter. Dokter mengamati kertas tersebut dan meminta buku KIA.
"Atas nama ibu Sinta?."
"Iya dokter."
"Umur berapa ibu."
"19 tahun mau 20 dokter."
"Mentruasi terakhir ibu?. Sinta menyebutkan tanggal terakhir dia menstruasi. Dokter juga bertanya tentang keluhan Sinta dan Sinta menjawab sesuai dengan yang dialaminya setiap pagi. Kemudian dokter menyuruh Sinta berbaring untuk USG. Kandungannya baik baik saja. Dokter menyarankan Sinta untuk banyak makan buah dan sayur, makanan berprotein dan minum susu.
Setelah menebus resep yang diberikan dokter, Sinta belanja di supermarket dekat rumah sakit. Sesuai saran dokter, Sinta akan memperhatikan nutrisi untuk bayinya. Sinta memilih susu dengan rasa strawberry dan vanila kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Sinta terlalu serius sehingga dia tidak menyadari seseorang yang dikenal Sinta, melihat dia membeli susu hamil.
"Ronal?. Sinta terkejut ketika Ronal menyapanya. Sinta mengambil asal yang ada di rak untuk menutupi susu hamil yang sudah ada di keranjang.
"Beli yang ini saja, ini bagus. Kakak ipar ku selalu minum susu ini kalau hamil dan anaknya pintar pintar," kata Ronal mengambilkan susu hamil yang mahal dan memasukkan ke keranjang Sinta. Ronal mengembalikan susu yang dibeli Sinta tadi ke rak. Sinta malu dan gugup. Telapak tangannya sudah basah karena keringat dingin.
"Itu bukan punyaku Ronal. Temanku tadi menitip." Sinta berusaha berbohong. Bagaimanapun dia tidak mau salah satu teman kampusnya mengetahui kehamilannya.
"Mau punyamu atau temanmu, sebaiknya minum susu ini. Selain kandungannya banyak nutrisi, rasanya juga enak." Sinta akhirnya memilih susu hamil yang disarankan Ronal.
__ADS_1
"Masih mau belanja?" tanya Ronal. Sinta hanya mengangguk berharap Ronal cepat berlalu dari hadapannya. Ternyata dugaannya salah, Ronal mengikuti Sinta mengitari rak dan kini keranjang Sinta, Ronal yang bawa.
"Biar aku aja yang bayar," kata Ronal ketika kasir menyebutkan sejumlah uang yang harus dibayar Sinta.
"Tidak usah Ronal, aku aja," jawab Sinta sambil mengambil dompet dari tasnya.
"Ini mbak."
"Kan sudah dibayar mas itu, mbak," jawab kasir sambil menunjuk Ronal yang juga sudah menenteng belanjaan Sinta. Ternyata Sinta kalah gerak dari Ronal. Sinta kembali memasukkan dompetnya ke tas dan menghampiri Ronal.
"Makasih ya Ronal, seharusnya kamu tidak usah repot-repot membayar belanjaanku," kata Sinta merasa tak enak.
"Siapa bilang ini gratis, tuh lihat!. Sebagai gantinya kamu traktir aku minum es Boba," jawab Ronal sambil menunjukkan sebuah tenda yang berjualan es Boba.
"Baiklah. Ayo!. Meraka berdua berjalan ke arah kios es Boba. Sinta memesan es Boba dengan rasa tiramisu sedangkan Ronal memesan rasa kopi.
"Sinta, boleh tidak aku bertanya sesuatu. Tapi kamu jangan tersinggung ya!" tanya Ronal hati hati. Sinta sudah cemas, jangan sampai Ronal bertanya tentang susu hamil tadi.
"Edwin, Kenapa kamu menolaknya Sinta?. Padahal Edwin sangat menyukaimu." Sinta menghela nafasnya pelan.
"Edwin orangnya baik dan bertanggungjawab. Selain itu, dia juga orang kaya. Banyak cewek-cewek di kampus yang naksir dia. Edwin sangat kecewa karena kamu tolak Sinta," kata Ronal lagi.
"Aku tidak mencintainya Ronal."
"Setidaknya kan kamu tidak langsung menolak dia mentah mentah. Kamu bisa memberinya waktu Sinta."
"Aku tidak bisa memberi harapan palsu Ronal. Itu akan lebih menyakitkan."
"Apa karena kamu punya suami atau kekasih?. Sinta terkejut dengan pertanyaan Ronal. Sinta menggeleng.
"Kamu tidak usah bohong Sinta. Aku tahu susu hamil itu untukmu." Sinta semakin terkejut. Sinta berpikir bagaimana bisa Ronal tahu.
__ADS_1
"Tidak usah terkejut, aku juga tahu kamu tadi dari ruangan dokter spesialis kandungan."
Sinta merasakan jantungnya berdetak lebih kencang mendengar perkataan Ronal. Keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Sinta tidak bisa mengelak lagi. Sinta memilih diam.
"Apa kamu sudah menikah Sinta?" tanya Ronal lagi, Sinta merasa lega setidaknya pertanyaan itu menandakan bahwa Ronal tidak mengetahui identitas suaminya. Sinta mengangguk.
"Bagaimana kamu tahu, aku dari ruangan dokter spesialis kandungan?"
"Mulai dari kamu masuk rumah sakit. Aku mengikuti mu."
"Ronal, kamu sudah mengetahui tentang aku. Tolong jangan cerita ke Vina tentang ini. Biar aku yang cerita sendiri kepada mereka. Mereka sahabat terbaikku. Tidak enak kalau mereka tahu dari orang lain," sahut Sinta.
"Sinta, kamu adalah sahabat dari kekasihku Vina. Itu berarti kamu juga sahabatku. Aku tidak mau langsung berpikiran negatif ketika aku melihatmu masuk ke ruangan itu. Maka dari itu aku bertanya dan kamu memberitahu. Kamu tenang saja. Aku tidak akan memberitahu mereka."
"Terima kasih Ronal. Semoga kamu dan Vina berjodoh." Ronal mengaminkan perkataan Sinta.
"Kenapa tidak diminum?," tanya Ronal melihat es Boba Sinta tidak berkurang sedikitpun.
"Tidak selera," jawab Sinta singkat.
"Sini kunci motormu!"
"Untuk apa?"
"Untuk kubawa kabur," kata Ronal sambil tertawa. "Ya untuk kubawa kemari, supaya kamu tidak capai bawa kantong sebanyak itu ke sana. Ingat!. Ibu hamil itu tidak boleh angkat yang berat berat," kata Ronal lagi, Sinta mengambil kunci motornya dari tas dan memberikan ke Ronal.
Sinta membawa motornya dengan cepat. Hari sudah hampir gelap dan nampaknya akan hujan. Sinta berharap Andre menunggunya di rumah. Harapan itu sirna ketika Sinta di depan gerbang rumahnya. Rumah nampak gelap yang berarti tidak ada di rumah.
Setelah memarkirkan motornya di samping, Sinta membawa belanjaannya sebagian. Dia ingat pesan Ronal. Sinta mengamati seluruh sudut rumahnya berharap ada yang berubah. Rumah itu masih tetap seperti tadi sore ketika dia ke rumah sakit. Andre memang tidak datang.
Besoknya setelah sarapan, Sinta pergi ke kampus berniat menjumpai Andre. Mual itu masih ada tapi Sinta berusaha kuat. Sinta tidak sabaran mengetahui reaksi Andre tentang kehamilannya. Sinta langsung ke lantai dua ruangan Andre. Sinta kecewa. Tanda di pintu ruangan Andre terbalik yang artinya Andre tidak ada di ruangan.
__ADS_1
Sinta menuruni tangga dengan lesu. Sinta berniat duduk di tepi kolom untuk menunggu Andre. Sinta mengamati setiap plat mobil yang masuk dari gerbang kampus. Dari sekian banyak mobil tak satupun mobil suaminya. Hampir dua jam Sinta menunggu, akhirnya Sinta pulang.