
Sinta mendongak melihat Cindy. Sinta tersenyum, bukan merasa menang atau bangga. Sinta tersenyum karena pembelaan Andi. Membela Sinta, bahwa baby Airia tidak boleh dipisahkan dari dirinya.
"Tidak perlu kamu tersenyum, selamanya putrimu hanyalah hasil dari pernikahan siri." Cindy mengejek status putrinya Sinta. Senyum yang tadi terukir di wajah Sinta kini meredup. Sinta menunduk dan meremas ujung bajunya. Andre juga geram dengan perkataan Cindy. Andre memilih diam.
Andre berharap dengan perkataan Cindy, Sinta mau rujuk dengannya. Andi semakin marah. Tangannya terkepal ingin melampiaskan kemarahannya. Dari awal Andi sudah tidak menyukai Cindy, ditambah kelakuannya yang seperti ini membuat Andi semakin muak dengan Cindy. Andi berdiri, dia mendekat ke Sinta.
"Ikut aku!" ajak Andi menarik tangan Sinta. Sinta meletakkan kapas yang sedari tadi dipegangnya dan menurut. Andre hanya bisa memandangi Andi yang menarik tangan Sinta menuju ke taman belakang.
"Sinta, dengarkan kakak!. Sekali ini saja. Selanjutnya terserah kamu. Setidaknya aku tidak akan menyesal apapun keputusanmu setelah mendengar permintaanku," kata Andi serius. Mereka kini duduk di taman bersama Tini dan baby Airia. Sedangkan Alexa dan baby sitter nya sudah masuk ke rumah. Andi terpaksa menyuruh baby sitter tersebut masuk karena Andi tidak ingin baby sitter Alexa mendengar pembicaraan mereka.
"Permintaan apa kak?" tanya Sinta bingung.
"Rujuk lah dengan Andre. Aku tahu ini berat bagimu. Tapi pikirkan Airia. Dia harus mempunyai akte lahir. Aku takut Andre terpengaruh dengan Cindy. Dan mengambil Airia dari tanganmu. Jika Airia sudah punya akte lahir. Namamu jelas tercantum di akte tersebut sebagai ibu kandungnya. Cindy tidak bisa berbuat macam macam. Cindy meminta Airia tinggal bersamanya karena dia tahu status pernikahan kalian dulu hanya siri,"
"Tapi kak?"
"Jangan membantah Sinta, Coba bayangkan lagi kalau seandainya Andre meninggal Minggu depan atau kapan kapan. Bisa dipastikan Airia tidak punya akte lahir selamanya. Nah, kalau baby Airia sudah punya akte lahir. Terserah kamu. Kamu tahu, mau masuk sekolah harus ada akte lahir. Nah, kalau Airia tidak punya akte lahir. Gimana dia nantinya bisa sekolah," kata Andi lagi. Andi berusaha mempengaruhi Sinta. Tina yang sedari tadi hanya mendengar sambil mengajak baby Airia bermain, mengangguk setuju dengan perkataan Andi.
"Emang pak Andre punya penyakit serius kak?" tanya Tini penasaran.
"Tidak juga sih, tapi bisa saja kan. Kalau dia mengetahui sifat asli istrinya bisa bisa dia stroke atau bisa saja dapat serangan jantung. Terus mati. Airia yang rugi belum ada akte lahir." Andi berkata sambil mempraktekkan orang yang kena stroke. Tini terkekeh.
"Kakak ini mendoakan yang tidak tidak, Emang ibu Cindy sejahat apa sih kak," tanya Sinta cemberut. Hatinya juga membenarkan apa yang di ucapkan Andi.
"Benarkan?. Umur siapa yang tahu. Hanya yang di Atas yang tahu itu. Tentang kejahatan Cindy biarlah Andre mengetahui sendiri. Itu urusan rumah tangga mereka. Jadi sekarang bagaimana keputusanmu?"
"Rujuk," kata Tini cepat. Sinta melotot ke Tini.
"Aku sependapat dengan kak Andi Sinta. Demi Airia. Lihat apa yang kamu rasakan sekarang. Itu karena kamu terlalu memegang prinsip kamu sendiri. Sekarang bukan hanya dirimu sendiri yang kamu pikirkan, ada Airia yang harus jadi prioritas kamu. Kalau Airia tidak punya akte lahir, kamu tahu sendiri dampaknya bagi Airia."
__ADS_1
Sinta menghela napas panjang mendengar perkataan Tini. Saat ini Sinta merasa terpojok. Dia menatap wajah Andi dan Tini bergantian. Sinta kemudian menatap wajah putrinya. Kemudian Sinta memejamkan mata. Sinta kembali menarik nafas panjang.
"Baiklah, aku menurut dengan apa yang kalian minta. Demi putriku," kata Sinta akhirnya. Membayangkan Andre meninggal cepat dan Airia tidak ada akte lahir membuat Sinta memutuskan menerima usulan Andi dan Tini.
"Berarti mau rujuk kan?" tanya Andi senang. Dengan lemah Sinta mengangguk. Tini juga terlihat senang. Saking senangnya Tini menciumi wajah baby Airia. Andi mengajak Sinta, Tini dan baby Airia masuk kembali ke ruang tamu.
Suasana ruang tamu kini sudah berubah. Cindy sudah berpindah duduk di sebelah Andre. Andi duduk di tempatnya semula sedangkan Sinta duduk di tempat duduk Cindy sebelumnya. Di sebelahnya Tini duduk dengan memangku baby Airia. Entah apa yang dibicarakan mereka ketika Sinta dan Andi di taman. Dari wajah Andre yang masih yang lesu bisa dipastikan bahwa ada perdebatan tadi.
"Jadi bagaimana Andre?" tanya papa Rahmat. Andre menatap wajah papanya kemudian menatap wajah Sinta dan baby Airia.
"Aku tidak setuju pa," jawab Cindy cepat. Cindy berdiri hendak berlalu dari ruangan itu. Andre dengan cepat memegang tangan Cindy untuk duduk kembali.
"Bersikap sopan lah kepada orangtuaku Cindy," bentak Andre. Dengan kasar Andre menarik tangan Cindy untuk duduk kembali. Wajah Cindy memerah karena marah.
"Dari awal sebelum baby Airia lahir, aku sudah pernah meminta Sinta untuk rujuk dengan aku pa. Sekarang pun kalau Sinta mau rujuk dengan aku, aku mau pa. Aku juga memikirkan masa depan putriku jauh sebelum papa memikirkannya."
"Mas, kamu belum meminta ijinku?, kamu langsung main setuju saja dengan pendapat papa," bentak Cindy lagi. Matanya dengan tajam menatap Andre.
"Kamu hanya memikirkan putrinya wanita itu. Kamu tidak pernah memikirkan Alexa," bentak Cindy lagi.
"Cindy. Diam!. Dari tadi mama lihat, kelakuanmu tidak mencerminkan seorang wanita. Kurang apa Alexa?, Putri wanita yang kamu tunjuk tadi adalah Airia cucuku. Walau dia terlahir dari pernikahan siri. Airia adalah cucu kesayangan di rumah ini. Andaikan Sinta mau jadi menantuku kembali. Aku pastikan Sinta juga mendapat tempat di hatiku seperti Maya dan Bella. Asal kamu tahu, dari awal kamu diperkenalkan jadi pacar Andre, aku sudah tidak menyukai kamu. Tetapi melihat Andre si bodoh ini teramat mencintaimu. Dengan terpaksa aku menerima kamu. Hari ini, melihat kelakuan mu. Sungguh aku sangat menyesal. Tetapi jika kamu berubah, maka hatiku juga berubah untuk kamu," kata mama Ningsih marah. Andre menunduk mendengar perkataan mamanya sedangkan Cindy menatap tajam ke arah Sinta.
Andi jadi paham. Berarti ketika dia dan Sinta di taman belakang. Orangtuanya juga membahas tentang Sinta dan Andre.
"Sinta, bagaimana pendapat kamu tentang kamu dan Andre. Apa kamu bersedia rujuk?" tanya Andi bersandiwara. Dia tidak ingin Cindy dan Andre mengetahui bahwa dia juga membahas hal yang sama di taman. Tini menunduk dan tersenyum menyadari sandiwara Andi. Jelas jelas tadi di taman Andi yang mempengaruhi Sinta untuk rujuk.
"Aku bersedia, mari kita rujuk mas," kata Sinta mantap. Pandangannya ke arah Cindy. Cindy terkejut dan marah. Pandangannya semakin tajam ke Sinta. Sinta membalas tatapan itu dengan senyum penuh misteri.
Andre juga tidak kalah terkejut. Hatinya berdebar. Sesuatu yang langka dirasakannya. Bahkan ketika menyatakan cinta ke Cindy, Andre tidak merasakannya. Wajahnya lesu kini berbinar. Papa Rahmat dan mama Ningsih saling berpandangan. Keduanya tersenyum.
__ADS_1
"Sinta benarkah?" tanya Andre senang. Apalagi Sinta kembali memanggilnya dengan sebutan mas.
"Iya mas, demi Airia. Aku juga ingin putriku yang terlahir dari pernikahan suci dan pernikahan yang diakui negara," jawab Sinta mantap.
"Terima kasih kepada ibu Cindy yang menyadarkan aku hari ini. Andaikan kejadian tadi tidak terjadi mungkin benar katamu, putriku hanya terlahir dari pernikahan siri. Tapi hari ini aku ingin mengubah status putriku. Dia akan mendapat hak sama seperti anak anak lainnya," kata Sinta lagi. Cindy semakin kesal.
"Papa akan mempersiapkan resepsi pernikahan yang mewah untuk kalian berdua," kata papa Rahmat senang. Dia tidak menyadari hal itu membuat Cindy semakin marah.
"Tidak perlu pak, aku minta seadanya saja. Cukup didaftarkan di catatan sipil. Itu sudah cukup bagiku."
"Sinta, aku juga ingin resepsi pernikahan yang mewah,"
"Tidak perlu mas,"
"Baiklah, kalau itu kemauan Sinta. Kalian tentukan tanggal untuk menikah kembali. Untuk resepsi pernikahan papa harap Sinta mau berubah pikiran," kata papa Rahmat senang.
"Untuk Cindy, aku harap kamu tidak mempersulit pernikahan ini. Papa juga menyayangi Alexa. Andre, nantinya kamu harus bisa bersikap adil untuk kedua istrimu," kata papa Rahmat lagi. Cindy kini menunduk. Hatinya sakit mendengar suaminya yang akan rujuk kembali dengan Sinta. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa tindakannya hari ini awal dari kehancuran bagi dirinya. Niat hatinya untuk menghancurkan dan menyakiti hati Sinta. Nyatanya hari ini Cindy yang paling tersakiti.
Sinta melihat Cindy yang menunduk. Sinta sadar bahwa keputusannya sesuatu yang menyakitkan bagi Cindy. Demi putrinya, biarlah hari ini Sinta egois.
Papa Rahmat, Andi dan Andre kini sudah mulai sibuk. Mereka sudah terlihat menghubungi beberapa orang yang akan terlibat di hari pernikahan Sinta dan Andre. Sedangkan mama Rahmat terlihat menasehati Cindy.
"Mama, sampai kapanpun aku tidak setuju pernikahan mas Andre ini," kata Cindy terisak.
"Jangan egois nak, Mama yakin Andre bisa bersikap adil. Mama juga berharap kamu bisa akur dengan Sinta nantinya. Walau Sinta istri pertama tetapi dia jauh lebih muda dari kamu. Mama harap kamu bisa bersikap dewasa,"
"Mama bisa gampang ngomong. Coba mama di posisi aku. Apa mama mau bersedia juga punya madu?" tanya Cindy marah. Mama Ningsih hanya menarik nafas panjang. Dia juga menyadari hali ini sulit bagi Cindy dan Sinta. Dalam hati mama Ningsih, dia menyalahkan Andre anaknya.
"Terserah kamu Cindy. Satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah menyakiti Sinta lagi. Sekali lagi kamu bertindak bodoh seperti tadi. Mama tidak segan segan menjebloskan kamu ke penjara," jawab mama Ningsih. Dia beranjak dari duduknya meninggalkan Cindy sendiri di ruang tamu.
__ADS_1
****
Para pembacaku yang setia. Mungkin diantara kalian ada yang kecewa dengan keputusan Sinta. Author akan menyajikan cerita ini sesuai dengan judulnya. Antar bab saling berkaitan dengan bab selanjutnya. Jadi jangan buru buru di unfavorite ya!. Tentang kebusukan Cindy akan ada di bab selanjutnya. Hari ini akan ada dua bab. Ditunggu ya!. Terima kasih dan salam sehat.