
Andre menarik nafas lega. Perawat yang bertugas untuk dokter spesialis anak, memanggil nama Cindy dan Alexa. Tanpa menjawab pertanyaan perawat yang membantu Sinta melahirkan, Andre berlalu, mendekat ke Cindy dan menuntunnya ke ruangan dokter.
Di ruangan dokter, Andre merasa kesal mendengar penjelasan dokter. Alexa demam bukan karena penyakit serius melainkan Cindy yang lalai memberikan obat. Seharusnya tanpa menunggu demam setelah imunisasi kemarin, obatnya harus diberikan ke Alexa. Tapi Cindy mengabaikannya bahkan tidak memberikan obat itu sama sekali. Keluar dari ruangan dokter, kekesalan itu masih terlihat di wajah Andre.
Andre menebus obat di apotik yang ada di gedung rumah sakit tersebut. Sedangkan Cindy langsung ke mobil. Menunggu gilirannya mengambil obat, Andre membuka ponselnya menjelajahi media sosial. Matanya membulat, melihat status Sean. Masih kurang percaya Andre semakin memperbesar gambar status Sean. Benar, foto itu adalah foto putrinya baby Airia.
Hatinya semakin memanas, melihat fotonya selanjutnya. Foto Sean, Sinta dan para sahabatnya. Di foto itu terlihat semua memamerkan senyum dengan berbagai gaya. Andre mengepalkan tangannya ketika membaca caption status Sean.
Dengan lesu, Andre berjalan ke mobilnya, pikirannya tertuju ke Sean dan Sinta. Dalam hatinya terus berpikir, sejak kapan keduanya dekat.
Di mobil, Andre juga diam. Begitu juga Cindy. Alexa yang sedari tadi rewel kini terlihat sudah tidur.
"Beri obatnya sekarang!" kata Andre ketika mereka sudah di rumah dan di kamar Alexa. Cindy menatapnya tajam kemudian mengambil obat dari tangan Andre.
"Mbak, tolong kasih obat Alexa!. Untuk dosisnya di kemasan sudah tertera," perintah Cindy ke baby sitter. Menyodorkan bungkusan obat ke baby sitter dan berlalu dari kamar Alexa. Andre hanya menggelengkan kepala.
"Biar aku aja mbak," kata Andre mengambil Alexa dari box. Perawat memberikan obat ke Andre.
"Mbak, empat jam lagi kalau demam Alexa belum turun, tolong kasih parasetamol ya!" kata Andre setelah selesai memberi obat ke Alexa.
"Iya pak,"
Andre mengecup kening putrinya kemudian meletakkan Alexa ke box.
"Mas, jelaskan apa maksud perawat tadi," kata Cindy dingin ketika Andre masuk ke kamar. Andre terkejut, Andre tidak menyangka bahwa Cindy mendengarnya, padahal waktu perawat bertanya ke Andre, Cindy terlihat menenangkan Alexa.
"Dia hanya bertanya kabar saja, jadi apa yang harus aku jelaskan," jawab Andre acuh. Dia melepaskan jam tangannya dan meletakkan di meja rias Cindy.
"Bertanya kabar katamu?, jelas jelas aku mendengar perawat itu menyebutkan nama Sinta," jawab Cindy sengit. Dadanya terlihat naik turun karena marah. Andre semakin terkejut, berarti jelas Cindy mendengar pertanyaan perawat tadi.
"Kamu salah mendengar, dia tidak menyebut nama siapapun,"
"Brengsek kamu mas, aku mendengar dengan jelas, apa Sinta yang dia maksud Sinta yang datang ke ruangan ku waktu melahirkan Alexa," tanya Cindy turun dari ranjang dan mendekat ke Andre yang berdiri di dekat meja rias.
"Apa hubunganmu dengan dia mas?" tanya Cindy lagi.
"Percaya samaku sayang, aku tidak mempunyai hubungan apa apa dengan dia sayang." jawab Andre, keringat sudah mulai membasahi pelipisnya padahal ruangan itu sangat dengan karena AC.
"Plak.
Andre memegang pipinya yang ditampar Cindy. Matanya memerah menahan amarah. Begitu juga Cindy saat ini dia sangat marah. Wanita mana yang tidak marah menemani wanita lain melahirkan sampai tidak pulang dua hari.
"Begini caramu memperlakukan suami Cindy?"
"Kamu masih saja bohong mas, aku jelas mendengarnya," kata Cindy lagi dengan suara yang tinggi. Andre memijit hidungnya.
__ADS_1
"Terserah mu, kalau tidak percaya," jawab Andre akhirnya dan berniat mau keluar dari kamar. Menghindar dari Cindy jalan satu satunya untuk menghindari pertengkaran. Tapi secepat kilat Cindy menarik bajunya.
"Aku belum siap bicara mas,"
"Cindy, aku mohon jangan memancing aku untuk marah. Aku lelah," jawab Andre pelan. Dia merasa malu kalau harus bertengkar di depan para pembantu.
"Pertemukan aku dengan wanita yang bernama Sinta itu."
"Untuk apa kamu bertemu dengannya. Aku sudah bilang bahwa perawat itu hanya bertanya kabar," kata Andre ngotot. Dia semakin kesal dengan Cindy. Cindy yang keras kepala belum juga melepaskan baju Andre yang dipegangnya.
"Lepas Cindy," bentak Andre.
"Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kamu jujur." Andre menghentakkan tangan Cindy kasar.
"Jangan buat aku muak dengan sifat mu yang seperti ini," kata Andre tegas dan keluar dari kamar.
"Mas, mau kemana?" kata Cindy yang mengekor di belakang Andre. Andre terus berjalan ke luar rumah dan masuk kedalam mobil.
"Bukan urusanmu," jawab Andre ketus dan menjalankan mobilnya.
Andre menjalankan mobilnya pelan dan berpikir mau kemana. Kepalanya yang sedang pusing butuh hiburan. Di saat pikirannya butuh hiburan, ingatannya kembali ke baby Airia. Andre menjalankan mobilnya menuju rumah orangtuanya. Melihat Agnes mungkin bisa mengurangi kerinduannya akan putrinya Airia.
Melihat mobil Andi yang terparkir di garasi rumah orangtuanya membuat Andre kembali kesal. Setiap bertemu dengan kakaknya itu. Andi selalu menjahili atau mengejeknya. Dengan lesu Andre masuk ke rumah. Di ruang tamu sudah berkumpul kedua orangtuanya, Andi dan juga Bella.
"Agnes mana?" tanya Andre setelah duduk di sofa.
"Itu wajah kenapa kusut?" tanya Andi yang melirik sebentar ke Andre kemudian kembali fokus ke ponselnya.
"Ada masalah nak?" tanya papa Rahmat lembut.
"Biasa pa, masalah rumah tangga," jawab Andre pelan. Papa Rahmat yang tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya, tidak bertanya lagi. Begitu juga Mama Ningsih. Dia tidak mau bertanya.
"Paling juga belum dikasih jatah," kata Andi terkekeh. Andi masih terus memainkan ponselnya.
"Sok tahu," jawab Andre ketus.
"Mbak, tolong panggil Agnes kemari ya!." pinta Andre ke art ketika menyajikan minum untuknya. Art mengangguk.
Dengan menggandeng tangan Rey, Agnes masuk ke ruang tamu. Dia tersenyum ketika melihat Andre di sana. Niat untuk menjahili Andre pun muncul. Dengan berjinjit dia mendekati sofa yang diduduki Andre kemudian menutup mata Andre dengan kedua tangannya.
"Aunty Agnes ya om, bukan Rey," kata Rey membuat mereka semua tertawa. Andre menggeser duduknya dan menyuruh Agnes duduk di sampingnya. Andre mengamati wajah Agnes kemudian tersenyum. Andre membayangkan wajah baby Airia kalau sudah dewasa pasti seperti Agnes.
"Cantiknya putriku," kata Andre sambil mencubit pipi Agnes gemas. Agnes memukul tangan Andre.
"Memuji putrinya tapi yang cubit pipiku," kata Agnes sebel.
__ADS_1
"Asal lah jangan seperti emaknya wajah cantik tapi body tipis," kata Andi. Andi tidak tahu bahwa putri yang dimaksud Andre adalah putrinya dari Sinta.
"Minta apa cucu nenek yang ganteng ini," kata mama Ningsih yang melihat Rey merengek ke Bella.
"Dia mau ke rumah Sinta ma, Sinta sudah lahiran," jawab Bella. Rey masih saja merengek. Semalam Bella mengimingi Rey akan ke rumah Sinta kalau Rey makan obat. Mendengar adik bayi sudah lahir, Rey semangat makan obat dan sembuh tapi Bella dan Andi tidak membawanya ke rumah Sinta melainkan ke rumah neneknya.
Andre terkejut tetapi berusaha bersikap biasa.
"Kapan lahiran?" tanya Agnes dan mama Ningsih hampir bersamaan.
"Hari Sabtu kemarin ma,"
"Aku ikut ya mbak," kata Agnes senang. Bella mengangguk. Andre semakin takut. Andre berusaha mencari cara supaya Agnes tidak ikut ke rumah Sinta.
"Besok agak sore kita ke sana, kalau sekarang sudah terlalu malam," jawab Bella melirik jam.
"Agnes, besok mbak Bella aja dulu ke rumah Sinta ya!, besok temani kakak ke suatu tempat," kata Andre. Agnes menggelengkan kepala.
"Aku mau ke rumah Sinta lihat bayinya. Besok besok aja aku temani Kaka,"
"Aku perlunya besok dek, temani Kaka ya! pinta Andre lagi.
"Tidak mau. Titik," jawab Agnes tegas.
" Kamu juga Andre, kenapa harus Agnes yang menemani, kan kamu punya istri. Ajak tuh istri kamu. Jangan menyusahkan Agnes saja," kata Andi.
"Aku malas kalau harus ditemani Cindy kak, tadi aja kami ribut," jawab Andre sewot. Mengingat Cindy hatinya kembali kesal. Andi mengamati wajah Andre.
"Andre, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh kita ngomong berdua?" tanya Andi. Semua heran, karena jarang jarang Andi serius ngomong kalau bersama Andre.
"Ngomong apa kak?" tanya Andre juga heran
"Ayo ikut kakak," ajak Andi. Keduanya kini berjalan menuju taman belakang.
"Ngomong apa sih kak?" tanya Andre lagi ketika Meraka sudah duduk di bangku panjang di taman.
"Aku mau ngomong tentang putrimu?"
"Alexa?"
"Iya , siapa lagi. Apa kamu punya putri selain Alexa?"
"Tentang apa kak?" tanya Andre semakin heran.
"Mengingat Cindy hamil duluan baru kalian menikah, apa kamu tidak perlu melakukan tes DNA? " kata Andi hati hati. Andre terkejut dan heran atas saran kakaknya.
__ADS_1
"Apa maksudmu kak?"
"Aku hanya menyarankan Andre, kamu bersedia atau tidak. Itu terserah mu." jawab Andi sambil berdiri kemudian berjalan masuk ke rumah.