Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Alasan dibalik Hukuman


__ADS_3

Pembicaraan di ruang tamu itu tidak langsung berakhir setelah Intan diseret keluar. Handoko masih berusaha untuk meyakinkan jika dirinya akan berubah. Tini sebenarnya kasihan melihat sang papa. Keadaan paviliun itu jauh berbeda dengan rumah mewah mereka. Tini jelas mengingat jika paviliun itu baru saja dibangun dengan aroma cat yang masih menyengat. Tapi dibandingkan bercerai, itu lebih bagus. Tini sangat yakin jika sang mama mempunyai alasan tersendiri untuk menghukum papanya sepertinya itu.


"Mama, tidak adakah hukuman yang lain untuk aku. Tidur di kamar tamu misalnya," kata Handoko sedih. Berpuluh tahun menikah tidak terbiasa tidur terpisah dari istri. Berselingkuh dengan Intan, tidak pernah sekalipun Handoko menemaninya tidur malam. Itulah mungkin salah satu sebab perselingkuhan itu bertahan sampai sepuluh tahun. Andaikan Bodyguard itu tidak memberikan tahukan tentang perselingkuhan Handoko maka bisa dipastikan jika mama Mia akan mengetahui dari Tini hari ini.


"Tidak. Keputusan aku sudah bulat," jawab mama Mia tegas. Beberapa pekerja di rumah itu sudah terlihat mengangkat barang barang Handoko untuk dipindahkan ke paviliun belakang. Handoko tidak bisa berbuat atau mau berbicara apa lagi. Mama Mia sudah bersikap dingin itu artinya keputusannya tidak bisa diganggu gugat lagi.


Handphone tidak mengetahui bagaimana hancur hati sang istri ketika mengetahui tingkah laku di luaran sana. Apalagi yang menjadi selingkuhan itu adalah Intan yang sudah dianggap sebagai saudara. Terluka itu sudah pasti. Apalagi dengan menangis. Hampir setiap hari dalam seminggu di awal ketahuan. Mama Mia selalu menangis. Tapi mama Mia bangkit dan berpikir jernih. Dia tidak akan membiarkan pelakor itu menikmati jerih payah suaminya. Itu adalah hal anak anaknya.


Mama Mia berjuang dibantu oleh putra sulungnya. Mereka berhasil memindahkan semua aset atas nama Handoko menjadi nama putra putrinya. Tetapi mama Mia tidak menuntut cerai dari Handoko. Bagaimanapun banyak kisah manis dan pahit yang dilalui bersama. Mereka sudah tua. Berpisah adalah hanya mempermalukan putra putrinya. Mama Mia berpikir panjang sebelum mengambil keputusan untuk hukuman yang tepat bagi Handoko. Apalagi dia juga mendengar semua perkataan Handoko yang menolak menikahi Intan. Dia bisa melihat rekaman itu dari ponsel miliknya yang langsung tersambung ke Cctv yang mereka pasang diam diam di rumah yang ditempati Intan.


"Tunjukkan jika papa benar benar bertobat pa. Suatu saat mama akan luluh," kata Tini sambil menggandeng tangan papanya. Merek berdua keluar dari ruang tamu menuju paviliun. Tini tidak tega melihat papanya berjalan sendiri menuju kediaman yang baru.


"Tapi bagaimana papa bisa nyaman di sini Anggun. Lihatlah hanya ada kipas angin kecil. Kalau dinyalakan pasti suaranya bising. Tempat tidur juga kasur kapuk. Tolonglah papa nak," kata Handoko memelas. Paviliun itu tidak ubahnya seperti kamar kost dibawah standar. Jelas tidak nyaman jika dibandingkan dengan kamarnya bersama mama Mia yang sangat mewah.


"Bersyukur saja pa. Mama tidak menceraikan papa. Jika bercerai. Papa mau tinggal dimana?. Ini saja menurutku mama sudah sangat baik. Kalau aku jadi mama, aku tidak akan membiarkan papa untuk tinggal di sini. Makanya lain kali berpikir sebelum berbuat," kata Tini ketus. Kemudian meninggalkan papanya di paviliun itu sendirian.


Handoko memasuki paviliun itu dengan menutup hidung. Perkataan yang mengatakan menerima hukuman apapun asalkan jangan bercerai tidak sesuai dengan raut wajahnya sekarang. Penyesalan itu ada. Handoko tidak bisa membayangkan jika rekan rekan bisnisnya mengetahui masalah ini apalagi melihat kediaman barunya sekarang.


"Kak, kita pulang," ajak Tini kepada Sean. Sean dan mama Mia yang sedang berbicara spontan melihat langkah Tini yang tergesa.


"Kenapa langsung pulang?" tanya mama Mia.


"Aku dan kak Sean langsung pulang saja ma."


Mama Mia dan Sean saling berpandangan. Mama Mia hanya menganggukkan kepalanya mengijinkan putri dan menantunya pulang. Jika menahannya untuk lebih lama tinggal disini juga percuma. Mama Mia mengetahui karakter putrinya dengan jelas. Mama Mia tahu jika Tini pasti sedih dan kasihan melihat papanya.


Sepanjang perjalanan Tini hanya diam. Sean sudah berkali kali mengajak Tini untuk berbicara. Tetapi sepertinya wanita hamil itu tidak fokus. Jawaban kadang tidak sesuai dengan pertanyaan Sean. Sean akhirnya fokus menyetir dan membiarkan Tini berkelana dengan pikirannya.


Tiba di rumah. Tini langsung masuk ke dalam kamar. Wajah tegar yang terlihat setelah mengetahui perselingkuhan papanya kini tidak terlihat lagi. Wajahnya itu kini terlihat sangat bersedih. Sean yang awalnya ingin kembali ke kantor akhirnya memutuskan untuk menemani Tini di rumah. Suasana hati istrinya tidak baik baik saja. Sean menduga karena hukuman yang diterima oleh sang papa.


"Sayang, kenapa?" tanya Sean yang kini sudah duduk di dekat Tini. Tini Sudah berbaring memunggungi Sean. Tini tidak menjawab. Bahkan baju sudah berguncang karena menangis.


"Sayang, kamu menangis?" tanya Sean sambil membalikkan tubuh istrinya. Sean dapat melihat air mata di pipi istrinya sudah berjatuhan.


"Aku malu kak. Aku malu. Papa dan mamaku sebentar lagi akan mempunyai cucu. Seharusnya mereka saat ini berbahagia menunggu kelahiran anak kita cucu mereka. Tapi keadaan mama dan papa justru pisah ranjang," kata Tini sambil terisak. Bohong, jika Tini tidak bersedih atas masalah kedua orangtuanya. Awalnya Tini memantapkan hatinya untuk menerima apapun keputusan sang mama. Tapi sebagai anak yang berbakti. Membayangkan papanya tidur di tempat pengap seperti itu Tini sangat merasa kasihan. Apalagi Handoko harus mengurus sendiri semua kebutuhannya. Mulai dari urusan perut sampai menyangkut kebersihan paviliun dan juga baju baju kotornya. Tini sungguh tidak dapat membayangkan itu. Hukuman itu memang terdengar ringan. Tapi Tini tahu bahwa itu sulit bagi papanya yang terbiasa terima beres dalam hal keperluannya. Bahkan keperluan pribadi juga mama Mia yang mengurus.


Demi apapun. Tini tidak tega melihatnya. Tapi mengingat kelakuan sang papa Tini ingin menguatkan hatinya bahwa hukuman itu pantas untuk seorang pengkhianat cinta seperti papanya. Tetapi semakin Tini menguatkan hatinya. Semakin besar rasa kasihan yang timbul di hatinya.


"Sayang, jangan seperti ini. Setiap manusia tidak terlepas dari yang namanya masalah termasuk papa dan mama. Mama memberikan hukuman seperti itu. Supaya papa benar benar menyadari kesalahannya," kata Sean. Mereka kini berbaring saling berhadapan. Sean mengusap lembut air mata istrinya. Ini pertama kalinya Sean melihat Tini menangis. Tini tidak juga menghentikan tangisnya.


Bukannya berhenti menangis, Tini semakin terisak di pelukan suaminya. Menangkap basah sang papa berselisih bisa menghancurkan hatinya sampai seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan jika dia melihat Sean berselingkuh. Tini menggelengkan kepalanya berkali kali untuk mengenyam pemikiran itu.

__ADS_1


"Kita doakan yang terbaik untuk rumah tangga papa dan mama sayang, Kamu sendiri yang mengatakan siap menerima apapun keputusan mama. Kamu harus mendukung apapun itu," kata Sean lagi untuk menenangkan hati istrinya.


"Kak, aku ada uang sedikit. Bagaimana kalau dengan uang itu kita cari rumah sederhana untuk ditempati papa," kata Tini lagi. Sungguh dia tidak tega melihat paviliun sempit itu.


"Boleh, boleh saja sayang. Tapi sebelum itu terjadi. Sebaiknya bicarakan dulu dengan mama. Jika mama setuju ya syukur. Jika tidak bersedia kamu tidak bisa memaksa kehendak kamu. Jangan sampai mama Anisa merasa kasih sayangmu berat sebelah."


Enam hari kemudian tepat hari Minggu. Selama enam hari itu juga Tini selalu memikirkan sang papa. Pagi pagi sekali. Tini pamit ke rumah orangtuanya. Sean tidak bisa mengantar karena ada urusan mendesak di kafenya.


"Mama," kata Tini setelah tiba di kamar mamanya. Mama Mia yang baru saja bangun terkejut melihat Tini yang sudah di kamarnya sepagi ini. Sama seperti mama Mia. Tini juga terkejut melihat wajah sembab mamanya.


"Mama menangis semalaman?" tanya Tini sambil meraba wajah mamanya. Mama Mia hanya menggelengkan kepalanya. Tapi Tini tahu bahwa mamanya berbohong. Dia mengira selama enam hari ini mamanya baik baik saja. Yang ada Tini justru mengkhawatirkan keadaan papanya yang harus tidur menyendiri.


"Apakah disini sakit ma?" tanya Tini sambil menunjuk dada Mama Mia. Mama Mia mengangguk. Sikap dingin dan sikap tenang yang terlihat sewaktu menghadapi Intan tidak terlihat hari ini. Mama Mia akhirnya menangis. Tini juga demikian. Perselingkuhan sang papa menyakiti hati dua wanita itu.


"Maafkan mama nak. Sebagai anak. Kalian pasti tidak tega melihat hukuman untuk papa kalian. Tapi mama harus memberikan hukuman itu."


"Kenapa tidak bercerai saja mama. Kalau mama sangat sakit hati," tanya Tini.


"Andaikan kalian belum dewasa Anggun dan tidak mengetahui perselingkuhan papamu. Mama pasti menceraikan papamu. Mama bisa mengarang cerita alasan perceraian kami. Tapi kalian sudah mengetahuinya. Mama hanya ingin memberikan contoh kepada kedua kakakmu dan juga suamimu. Dengan melihat penderitaan papamu. Mereka pasti berpikir untuk bermain hati dengan wanita lain. Lagi pula kami sudah tua. Bercerai hanya mengurus tenaga dan pikiran. Memiskinkan papamu sudah cukup bagi mama."


"Tapi sampai kapan papa di sana ma. Jangan sampai papa bawa salah satu pelayan di rumah ini untuk menemaninya tidur."


"Itu namanya dia cari mati dan tidak berubah. Kalau itu terjadi. Mama kubur dia hidup hidup."


"Apa kamu berharap mama mencabut hukuman itu?. Tini mengangguk.


"Biarkan papa tinggal di rumah yang lain yang lebih layak ma."


"Jangan bodoh kamu Anggun. Jangan sampai rasa kasihan kamu itu akan balik menyerang kamu. Sean memang sangat mencintai kamu saat ini. Tapi ada saatnya nanti suatu saat ada rasa jenuh terhadap pasangan masing-masing. Jangan sampai rasa kasihan kamu terhadap papamu dimanfaatkan oleh suamimu kelak."


"Jangan sampai ma."


"Pria berduit dan tampan adalah incaran para wanita yang matre Anggun. Bahkan yang sudah berstatus suami orang pun tidak lagi menjadi pertimbangan bagi mereka contohnya Intan. Aku menyesal membawa wanita itu masuk ke dalam rumah ini. Ini pelajaran bagimu. Jangan membawa wanita tinggal di dalam rumah dengan alasan apapun. Jika butuh bantu bantu di rumah. Cari pelayan yang umurnya tua seperti pekerja di rumah ini. Wanita yang tidak bagus akan berusaha keras untuk mendapatkan keinginannya termasuk merayu suami orang. Mama berharap rumah tangga kamu tidak seperti rumah tangga mama. Berbahagialah dengan Sean. Tapi jangan lengah. Perhatikan sedetail mungkin perubahan suamimu sekecil apapun. Jangankan biarkan pelakor merusak rumah tangga kalian. Mama sudah terlambat menyelamatkan rumah tangga mama."


"Mama," kata Tini sambil memeluk mama Mia yang terlihat sangat hancur.


"Kalau karena sakit hati mama. Mama sebenarnya juga ingin bercerai saja dari papamu Anggun. Tapi mama masih berpikir panjang. Kakak kakakmu masih butuh bimbingan papamu tentang bisnis. Aku takut jika kami bercerai. Papamu terpuruk dan berimbas ke perusahaan."


"Aku dengar dari bodyguard papa. Intan menjadi bahan gosip di kampung. Dan luka di bibirnya juga infeksi. Dan saat ini katanya sedang bernanah sehingga tidak dapat berbicara," kata Tini. Salah satu bodyguard papanya adalah satu kampung dengan neneknya Tini dan Intan. Bodyguard tersebut baru baik ke kota ini dua hari yang lalu.


"Biar saja. Sekalian saja dia tidak punya bibir kalau bisa," jawab mama Mia. Tini terkekeh tapi ada juga rasa bersalah di hatinya membayangkan kondisi bibir Intan. Tini mengelus perutnya. Berharap Sifat jelek wanita yang sudah dihajarnya akan berubah.

__ADS_1


Setelah dari kamar sang mama. Tini melangkahkan kakinya menuju paviliun. Dia masuk, pintunya tidak terkunci. Tini hampir menangis melihat keadaan papanya. Papanya tidur telentang di lantai tanpa alas.


"Papa, papa bangun." Tini menepuk tangan sang papa. Handoko menggeliat. Ketika menyadari Tini ada di ruangan itu. Handoko langsung duduk.


"Kenapa tidur di lantai pa."


"Papa tidak bisa tidur semalaman. Gerah nak. Subuh tadi baru bisa tidur. Itupun karena di lantai."


"Kan ada kipas pa. Kenapa tidak dinyalakan?"


"Bising. Justru itu yang buat papa tidak bisa tidur."


"Kasihan sekali kamu pa," kata Tini sambil memeluk papanya.


"Iya kasihan sekali papa ya nak. Seharusnya suami melihat aku seperti ini. Supaya dia bisa melihat seorang suami yang dihukum oleh istri karena ketahuan berselingkuh."


"Aku disini pa. Aku sudah melihat keadaan papa," kata Sean yang sudah berdiri di pintu di belakangnya juga ada mama Mia. Ketika di tengah perjalanan menuju kafe. Sena berubah pikiran dan langsung menyusul istrinya. Sama seperti Tini. Sean juga merasa kasihan kepada papa mertuanya. Tapi dibandingkan Tini. Sean merasa bahwa hukuman ini masih kurang mengingat perselingkuhan itu sudah sepuluh tahun.


"Mama, sampai berapa lama aku dihukum seperti ini. Sudah enam malam menginap di sini aku tidak bisa tidur nyenyak," kata Handoko memohon. Kepalanya tertunduk.


"Baru enam hari kamu sudah mengeluh pa. Kamu sepuluh tahun selingkuh maka selama itu juga kamu tidur sendirian di sini," jawab mama Mia tegas. Tini menarik nafas panjang.


"Aku berharap umurku satu atau dua tahun lagi. Aku hanya ingin melihat cucuku dan kedua putraku menikah," kata Handoko putus asa. Mama Mia tidak menjawab lagi. Mama Mia berlalu dari paviliun tersebut.


"Itu namanya putus asa pa. Jangan jangan papa putus ada karena tidak bisa berhubungan dengan Intan lagi kan?" tanya Tini tajam. Handoko cepat cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak nak. Tidak. Papa justru bersyukur lepas dari jeratan wanita itu," kata Handoko membantah.


"Kalau begitu. Usaha donk untuk mendapat maaf dari mama. Jangan langsung menyerah seperti ini. Mama tidak menceraikan papa pasti karena masih ada cinta di hatinya," kata Tini kesal. Handoko menatap putrinya. Ada harapan di hatinya setelah mendengar perkataan Tini.


"Kamu ada ide nak?" tanya Handoko.


"Tidak. Pikir saja sendiri," jawab Tini ketus. Tini meninggalkan Handoko di paviliun tersebut. Sean yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka suara untuk berbicara dengan papa mertuanya.


"Aku masuk ke dalam dulu pa," kata Sean. Handoko menganggukkan kepalanya. Satu persatu meninggalkan dirinya di paviliun itu. Handoko merasa ini adalah hukuman berat baginya. Dia bisa melihat istrinya setiap hari tapi mereka seperti orang asing. Tidak berbicara hangat seperti dulu.


"Aku bawakan makanan untuk papa," kata Tini yang kembali muncul di paviliun itu. Handoko mengangguk senang. Dia meraih baki berisi sarapan pagi itu.


"Tidur sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri. Apa apa sendiri. Ide mama memberikan hukuman untuk papa pantas diacungi jempol," kata Tini setelah papanya menghabiskan sarapan itu. Handoko menjitak kepala putrinya.


"Kamu prihatin atau senang melihat papa mendapatkan hukuman ini?" tanya Handoko kesal. Tadi ketika datang Tini seperti kasihan kepadanya. Tapi sekarang Tini seperti menyindirnya.

__ADS_1


"Dua duanya pa."


__ADS_2