Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pekerjaan Mendesak Radit


__ADS_3

Tiga pasang suami istri itu masih betah berlama-lama di kafe milik Sean. Sean pun tidak keberatan. Bahkan Sean memberikan pelayanan terbaik untuk para sahabatnya. Para wanita juga sudah memisahkan diri ke ruangan yang lain dan para pria masih betah mengobrol di ruangan itu. Obrolan mereka hanya itu itu saja jika bertemu. Bisnis, istri dan juga mengenang masa kuliah.


Sinta dan Vina menyukai pemandangan alami ini. Terutama Vina. Lahir dan tinggal di kota membuat Vina betah memandangi pepohonan dan persawahan itu. Pemandangan seperti ini adalah hal langka baginya. Pemandangan hijau yang mampu menyejukkan mata termasuk Vina. Sedangkan Sinta. Dia memang suka. Tapi karena lahir dan besar di desa. Pemandangan seperti ini, hal biasa bagi dirinya.


Kalau Tini, jangan ditanya. Wanita tomboi yang kini kembali ke kodratnya dan sedang hamil muda itu. Tidak begitu tertarik dengan pemandangan yang terhampar indah di depan matanya. Dia sudah terbiasa melihat pemain itu sejak menikah dengan Sean. Dia lebih memilih membuka YouTube tutorial belajar memasak dan tutorial mengurus bayi. Sejak mengetahui dirinya hamil. Tini sangat antusias belajar tentang kehamilan dan bayi. Tini bersyukur. Kalau tidak karena Sinta dan Vina yang memaksa Tini untuk periksa ke dokter kandungan. Mungkin sampai saat ini. Tini tidak mengetahui dirinya hamil. Selama ini, Tini hanya mengandalkan testpack untuk mengetes kehamilannya.


Saat itu berawal dari dirinya yang memberanikan diri memakai kemeja yang pas badan. Sinta dan Vina bisa melihat perubahan dari diri Tini. Dua gunung kembar milik Tini yang terlihat menantang. Membuat Sinta merasa yakin jika Tini hamil. Sinta yang sudah dua kali berpengalaman sangat yakin jika sahabat nya itu memang sudah berbadan dua. Tapi Tini membantah dan mengatakan jika setiap pagi mengetes urine, testpack selalu garis satu. Sinta dan Vina memaksa Tini untuk periksa ke dokter spesialis kandungan. Tini memilih dokter Sarita daripada dokter agung. Dokter yang menangani Sinta melahirkan.


Tini tentu saja sangat berbahagia mengetahui hasil dari pemeriksaan itu. Mereka bertiga pun berencana untuk berkumpul di kafe ini. Tiga wanita itu berhasil membuat kejutan untuk Sean. Dan disinilah mereka sekarang. Makan gratis karena kehamilan Tini. Berkumpul untuk ikut merasakan kebahagiaan Tini dan Sean yang akan menjadi orang tua untuk beberapa bulan lagi. Bonusnya Vina dan Sinta bisa bercerita sambil melihat pemandangan yang menyejukkan mata.


Sinta dan Vina asyik bercerita. Tini masih tetap fokus melihat ponselnya yang sedang menayangkan tutorial membuat brownies.


"Asal kumpul. Topiknya itu itu saja. Mengenang masa lalu," cibir Tini. Matanya masih lekat memandang layar ponsel tapi kupingnya terpasang baik untuk mendengar pembicaraan dua sahabatnya.


"Hanya sekedar mengingat Tini. Kita berdua tidak menyangka berada di tahap ini. Mengingat bagaimana sakitnya dulu," jawab Sinta. Tadi dia dan Vina memang bercerita tentang masa masa sulit yang mereka hadapi dulu. Sinta dan Vina saling menguatkan satu sama lain menjalani rumah tangga yang diawali dengan pernikahan yang pahit. Walau sudah berbahagia sekarang. Dua wanita itu belum juga bisa melupakan kenangan pahit itu.


"Itulah namanya hidup Sinta. Tidak ada yang abadi termasuk kejahatan laki laki. Jika yang di atas berkehendak. Kita hanya bisa menerima perubahan itu apapun bentuknya. Termasuklah kalian berdua nih. Kalian mendapat perubahan positif dari suami kalian. Dan aku bangga mempunyai sahabat seperti kalian. Sabar dan pemaaf."


"Aku juga bangga mempunyai istri seperti istriku ini." Tiba tiba Radit muncul di ruangan itu. Dia mendekat ke Vina dan duduk di sampingnya. Vina hanya tersenyum. Vina meletakkan tangannya di lutut suaminya.


"Harus itu kak. Kalau kakak tidak bangga mempunyai istri sehebat Vina. Berarti ada yang rusak saraf di kepalamu," jawab Tini. Tini mendapatkan pukulan di lengan karena perkataannya. Radit hanya tersenyum mendengar perkataan Tini.


"Jangan mengatai suami ku seperti itu Tini. Sarafnya masih berfungsi semua," jawab Vina setelah memukul lengan sahabatnya. Radit tersenyum puas mendapatkan pembelaan itu.


Tini hanya tersenyum mendengar pembelaan suaminya. Sebagai sahabat, Tini mengetahui sifat Vina. Ketika berpacaran dengan Ronal. Vina selalu membela Ronal. Hari ini. Mendengar pembelaan Vina terhadap Radit. Tini mengerti jika Vina sudah mencintai Radit suaminya.


"Kita pulang sekarang bunda sayang," ajak Radit sambil berdiri. Radit menarik tangan Vina untuk ikut berdiri.


"Masih jam tiga kurang ayah. Sebentar lagi ya."


"Sekarang saja. Andre dan Sinta juga sudah mau pulang kok."


"Loh. Katanya tadi pulang sore. Ini masih jam tiga kurang loh yah," jawab Vina kesal. Dia masih ingin berlama lama di tempat itu menikmati pemandangan alam yang gratis. Tapi suaminya sudah mendesak untuk harus pulang.


Radit menggaruk pelipisnya. Dia tidak tahu berkata apa lagi untuk membujuk istrinya supaya cepat pulang.


"Ada yang akan aku kerjakan bunda," kata Radit akhirnya.


"Apa pekerjaannya mendesak?" tanya Vina lagi.


"Iya bun. Aku janji akan membawa kamu kemari dengan anak anak hari Sabtu," jawab Radit membuat mata Vina berbinar. Dia beranjak dari duduknya.


"Kami duluan ya bro," kata Radit ketika kembali ke ruangan Sean dan Andre. Dua pria itu hanya melambaikan tangan menjawab Radit.


"Loh. Tadi kata ayah. Sinta dan kak Andre juga mau pulang. Kak Andre kok masih santai di sana yah," protes Vina sambil berjalan. Tangannya ditarik oleh Radit keluar dari kafe dan menuju mobil. Radit memperlakukan istrinya seperti ratu. Membuka pintu mobil dan menutupnya kembali setelah memastikan Vina sudah duduk di bangku mobil itu. Kemudian Radit berjalan mengitari mobil dari depan kemudian duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


"Andre tidak mempunyai pekerjaan mendesak seperti aku bunda. Dia bisa bersantai sampai malam di sana," jawabnya. Tangannya sudah memegang setir dan menjalankan mobilnya.


"Kalau mau tidur, tidur saja Bun. Perjalanan butuh satu jam untuk tiba di kota," kata Radit lagi. Vina mengangguk. Mengurus tiga bayi dan sambil kuliah hampir tidak ada waktu istirahat untuk Vina. Tangan kiri Radit terulur menggapai kepala Vina dan meletakkan kepala itu bersandar di lengannya. Baru beberapa menit bersandar. Vina terlihat sudah terlelap. Radit mengulas senyum di bibirnya. Tapi hatinya juga merasa kasihan melihat Vina yang hampir tiap malam begadang. Vina tidak membiarkan Radit lagi untuk mengurus bayi kembar mereka di malam hari. Walau terkadang Radit masih saja duluan bangun jika salah satu bayi kembar mereka terbangun.


"Kita dimana ini yah?" tanya Vina setelah mobil berhenti dan Radit menepuk pipinya pelan. Baru sadar dari tidurnya tidak membuatnya konsentrasi untuk mengenali tempat yang sebenarnya dia kenal.


'Kita di rumah kita Bun. Jalan kenangan," jawab Radit sambil membuka sabuk pengaman yang dipakai oleh Vina. Vina semakin mempertajam penglihatannya. Halaman rumah semakin tertata rapi dan ada ayunan juga perosotan. Dan cat rumah itu juga sudah berganti. Sebelumnya warna putih kini sudah berwarna gold.


"Loh. Tadi kata ayah ada pekerjaan yang mendesak. Ayah tidak kembali lagi ke kantor?" tanya Vina setelah tersadar dari rasa kagumnya melihat halaman dan warna cat rumah yang semakin mewah.


"Turunlah sayang. Pekerjaan ayah yang terdesak itu ada di dalam rumah," jawab Radit. Vina menurut dan membuka pintu mobil. Pikiran Vina tentang pekerjaan Radit yang terdesak mengarah ke rumah yang nampaknya sedang tahap perombakan.


Vina melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Rumah itu memang sudah banyak dirombak. Kamar yang di lantai satu yang awalnya terdiri dari empat kamar kini sudah menjadi tiga kamar. Satu kamar ditiadakan untuk membuat ruang tamu semakin lebar. Tujuan Radit supaya tiga anak kembarnya mempunyai tempat bermain yang sangat luas di dalam rumah.


Vina mengacungkan jempolnya kepada Radit. Vina setuju dengan arena bermain di dalam rumah itu untuk tiga bayinya.


"Bibi Ina kembali bekerja di sini?" tanya Vina ketika melihat bibi Ina muncul dari dapur. Hatinya senang melihat perempuan setengah baya itu ada di rumah ini.


"Kata tuan seperti itu Nyonya," jawab bibi Ina sambil menunduk. Sama seperti Vina, bibi Ina juga sangat senang kembali bekerja di rumah Radit apalagi Vina dan Radit sudah nampak akur.


"Panggil Vina seperti biasa bibi," jawab Vina sambil mengibaskan tangannya. Tiga bulan di awal pernikahan. Hanya bibi Ina tempat curahan hati Vina di rumah ini.


"Ikuti kemauan istriku bibi. Apapun yang membuat hatinya senang," kata Radit. Bibi Ina mengangguk senang. h


"Kapan pindah kemari tuan," tanya bibi Ina lagi.


"Terserah ayah saja."


"Kalau begitu. Besok kita pindah kemari. Bibi Ina. Boleh pulang hari ini. Tapi besok pagi. Cepat datang ya. Siang hari kami sudah disini bersama anak anak," kata Radit.


"Ya tuan. Aku sendiri tidak sabar ingin melihat si kembar. Pasti tampan dan cantik seperti tuan dan Vina," kata bibi Ina senang. Sejak mengetahui kelahiran si kembar bibi Ina sangat ingin mengunjungi Vina di rumah orangtuanya.


"Pasti donk bibi. Ayahnya tampan seperti ini pasti putra putriku juga lebih di atas ketampanan aku dan kecantikan Vina," jawab Radit bangga dan sombong. Vina hanya tersenyum. Apa yang dikatakan Radit memang benar. Ketiga bayi kembar itu semakin hari semakin menunjukkan aura tampan dan cantik untuk Kalina dan Karina.


"Aku percaya itu tuan. Aku pamit tuan, Vina."


"Silahkan bibi," jawab Radit sambil tersenyum. Vina hanya mengangguk. Bibi Ina berlalu dari hadapan suami istri itu. Bibi Ina senang melihat Radit dan Vina berbaikan. Apalagi dengan sikap tuannya yang semakin ramah.


"Ayah. Keuangan kita belum stabil. Kenapa buang buang duit untuk merombak rumah ini?" tanya Vina. Radit sudah menunggunya menaiki tangga ke lantai dua.


"Papa dan mama yang mengeluarkan dana untuk ini ketika aku bercerita keinginan kamu untuk pindah ke rumah ini," jawab Radit. Memang itu kenyataannya. Kedua orang tua Radit sudah mengetahui semua masa lalu rumah tangga Radit. Ketika Radit bercerita tentang keinginan Vina. Papanya mengusulkan untuk perombakan rumah ini supaya Vina tidak teringat tentang perlakuan Radit dulu. Radit awalnya menolak halus usul sang ayah tanpa memberitahu masalah keuangan yang dihadapinya. Sang papa langsung memesan tukang dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Radit untuk biaya perombakan rumah.


"Lantai atas juga yah?" tanya Vina setelah kaki mereka sudah di lantai teratas. Lantai dua juga sudah mengalami perubahan dari sebelumnya.


"Iya. Untuk lantai tiga. Besok besok saja kamu lihat. Aku ada pekerjaan yang mendesak. Tidak bagus untuk kamu naik sendiri ke lantai tiga," jawab Radit lagi. Tangannya terus menuntun Vina untuk memasuki kamar mereka.

__ADS_1


"Makin lebar yah," kata Vina setelah pintu kamar terbuka. Radit mengangguk. Kamar mereka memang semakin lebar karena dua kamar dijadikan satu. Kamar itu tidak terlihat seperti sebelumnya ditambah lagi dengan cat yang berwarna cerah. Ranjang juga sudah diganti dengan yang lebih besar. Radit memang sengaja menghilangkan ingatan Vina dari keadaan kamar sebelumnya.


"Ranjang bagus," puji Vina senang. Di sudut lain juga ada ranjang yang pendek dilengkapi dengan pembatasan di sekelilingnya.


"Yang itu untuk si kembar jika mereka tidur di kamar kita," kata Radit sambil menunjuk ranjang itu.


"Terima kasih yah."


"Iya bunda. Bantu ayah untuk menyelesaikan pekerjaan terdesak ini," jawab Radit sambil membuka kancing kemejanya satu persatu hingga kemeja itu teronggok di lantai. Vina yang berada di depan Radit membalikkan tubuhnya.


"Pekerjaan apa yah?.


" Membuat adik untuk si bayi kembar kita sayang," jawab Radit sambil tersenyum mesum. Vina juga tersenyum. Sejak pemberian vitamin pertama untuk Radit waktu itu. Bisa dihitung jari mereka bercinta. Pekerjaan Radit yang banyak menyita waktu dan melelahkan membuat Radit tidak terlalu memikirkan hal itu. Ditambah lagi keadaan rumah yang penuh dengan penghuni. Membuat mereka tidak bisa melakukan hal itu walau si kembar sudah tertidur. Sejujurnya, sebagai wanita yang baru merasakan nikmatnya bercinta. Vina menginginkannya. Tapi Vina tidak seagresif itu untuk memulai atau meminta Radit melakukan hubungan suami istri. Ditambah lagi, situasi rumah. Vina juga merasa segan dengan kedua orangtuanya jika mereka bercinta di rumah itu dan suara mereka kedengaran.


Vina menunggunya suaminya untuk mendekat ke dirinya. Vina sudah duduk di ranjang tanpa berbuat apa-apa.


"Lakukan jika itu membuat kamu bahagia suamiku," bisik Vina setelah Radit duduk di sebelahnya. Tangan Vina sudah berada di dada bidang suaminya. Radit menatap Vina penuh cinta. Dia mencium kepala Vina terlebih dahulu sebelum mendaratkan bibirnya di bibir mungil milik istrinya.


"Aku mencintaimu sayang. Vinaku," bisik Radit sambil meraba seluruh tubuh istrinya.


"Raditku. I love you," bisik Vina juga. Tangannya sudah aktif di perut kotak kotak milik Radit. Radit membantu Vina berbaring. Sebenarnya Radit juga menyadari istrinya yang kekurangan kebutuhan batin darinya. Cara Vina mengerti kesibukan dirinya membuat Radit semakin mencintai wanita yang pernah disakitinya itu.


Hari ini. Radit berencana memuaskan istrinya. Ketika di kafe tadi Andre dan Sean bercerita tentang kegiatan ranjang. Radit tidak dapat menahan diri untuk membawa Vina ke ranjang untuk memuaskan istrinya.


Radit menyentuh dan mencium seluruh tubuh istrinya. Vina menerimanya dengan senang dan bahkan dengan suara aneh. Vina tidak perlu takut untuk mengeluarkan suara aneh itu. Di rumah papa Hendrik mereka bercinta secepat kilat dengan suara tertahan. Hingga apa yang menutupi tubuh mereka berdua sudah terlepas. Pakaian mereka berserakan di lantai.


"Ayah. Radit," ucap Vina dengan suara parau. Bibir Radit yang berada di area terlarangnya terasa nikmat. Vina ingin mendorong kepala itu dari tempat itu. Tapi kenikmatan itu justru menekan kepala Radit untuk tetap dengan bibir yang terus beraksi.


"Ayah," kata Vina lagi. Tangannya sudah mendorong kepala Radit dari tempat itu. Sesuatu yang sudah keluar dari tubuhnya hanya dengan permainan lidah Radit di tempat itu. Sungguh Vina merasakan kenikmatan yang tiada Tara. Radit beranjak area terlarang itu dan berbaring di samping Vina.


"Maaf. Karena selama ini. Aku tidak memberi kebutuhan batin kamu sayang. Jangan berprasangka buruk. Pekerjaan kantor sangat menyita waktuku," kata Radit sambil memeluk tubuh Vina.


"Aku mengerti kok ayah. Lagi pula. Di rumah papa juga. Aku segan untuk melakukan seperti ini," jawab Vina sambil membelai kepala Radit.


"Aku belum masuk tadi loh bunda," kata Radit.


"Aku tahu yah. Sekarang giliran aku memuaskan kamu," kata Vina sambil duduk. Dia memegang milik Radit yang masih tegak. Mengusapnya dengan lembut kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Sama seperti Vina. Radit juga sudah mengeluarkan suara aneh. Radit memejamkan matanya menikmati permainan istrinya. Rasanya sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan dengan para wanita wanita malam sebelum mereka menikah.


"Lepas sayang. Biarkan dia memasuki tempat yang semestinya," kata Radit parau. Vina melepaskan milik Radit dan langsung tidur telentang. Tapi Radit membantu Vina untuk menungging. Radit memasuki tubuh Vina dengan cepat. Tuntutan dari dalam tubuh membuat Radit menghentakkan dirinya dengan kencang.


"Sakit?" bisik Radit sambil bergoyang. Vina tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya karena merasa kenikmatan yang tiada tara. Vina menjawab pertanyaan Radit dengan aneh yang semakin membuat Radit menghentakkan dirinya semakin kencang. Bahan tubuh lainnya juga menginginkan sentuhan Radit. Seakan mengerti keinginan istrinya. Tangan Radit sudah berada di salah satu gunung kembar itu.


"Aaaa Vina sayangku. Kamu luar biasa bunda," kata Radit ketika sesuatu itu hendak keluar. Dia memeluk tubuh Vina dari belakang dengan posisi Vina yang masih menungging. Vina terengah-engah. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Untuk kedua kalinya dia merasa ada sesuatu yang panas keluar dari dalam tubuhnya.


"Aku pastikan setelah di rumah ini. Kamu akan merasakan kenikmatan ini setiap malam sayang," kata Radit setelah mereka sama sama tidur telentang.

__ADS_1


"Siapa takut," jawab Vina sambil membenamkan wajahnya di dada Radit. Radit tersenyum mendengar jawaban istrinya.


__ADS_2