
Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Sinta. Dia tetap pada pendiriannya. Pada akhirnya, keluarga mantan suaminya hanya bisa menuruti kemauan Sinta. Mereka juga maklum, luka hati itu belum sembuh.
"Sinta kami hargai keputusan mu, tapi biarkan kami membantumu untuk merawat dan menafkahi baby Airia," kata papa Rahmat sendu. Hanya ini satu satunya untuk dekat dengan cucunya.
"Maaf pak, aku bisa sendiri. Untuk biaya Airia, pak Andre sudah mentransfer jumlah uang yang banyak ketika kami bercerai. Aku rasa uang itu cukup biaya kami sehari hari dan kuliahku. Bapak tidak perlu khawatir," jawab Sinta sopan.
"Jangan tolak nak, baby Airia adalah cucu kami. Jangan hukum nenek tua ini hanya karena kesalahan Andre. Aku mohon," kata mama Rahmat.
"Aku juga memohon kepada ibu, tolong jangan paksa aku," kata Sinta sedih. Kedua tangannya diletakkan di dadanya untuk memohon kepada mama Rahmat.
"Sinta, kamu boleh tetap bekerja di kafe mbak. Kalau kamu mau, pengasuh Rey akan aku pindahkan ke rumahmu. Gaji mu bisa dipotong untuk membayar pengasuh tersebut," kata Bella. Sinta mengangguk dan memeluk Bella yang disebelahnya.
"Makasih mbak," ucapnya senang. Itu lebih bagus daripada harus menerima materi dari papa Rahmat dan mama Ningsih. Dengan begitu Sinta tetap punya penghasilan dan tidak merepotkan para sahabatnya lagi.
Andre menatap Sinta, Andre baru menyadarinya bahwa ternyata Sinta orang yang bertanggungjawab di setiap ucapannya.
"Adik bayinya sudah bangun, minum susu dan sudah mbak mandikan," kata Maya sambil berjalan masuk ke dalam ruang keluarga. Sedari tadi dia di kamar untuk menjaga baby Airia.
"Sini mbak, aku mau gendong putriku," panggil Andre ke Maya. Maya menyerahkan baby Airia ke Andre. Bayi itu terlihat menggemaskan dengan wajahnya yang cantik. Merasa bukan di rumahnya, Airia memandang sekitarnya. Sesekali terlihat dia tersenyum.
Andre mengamati wajah putrinya. Tidak terasa air matanya tumpah. Bahunya bergerak naik turun. Andre begitu menyesali dirinya yang begitu bodoh. Mama Rahmat juga ikut menangis. Dia yang mendidik Andre sejak kecil paham akan sikap Andre. Dia tidak akan menangis kalau tidak bersalah. Dan saat ini putra ketiganya itu menangis sesenggukan. Itu artinya dia sangat menyesal. Sayangnya penyesalannya terlambat dan tidak berarti apa apa bagi Sinta.
Andre menyerahkan baby Airia ke Agnes. Kemudian Andre naik ke lantai dua. Dia merasa tidak sanggup harus menyesali kebodohannya di ruangan itu.
"Baiklah Sinta, kalau itu keputusan mu. Papa menghargai. Satu hal yang kamu ingat, walau kamu mantan menantu papa. Papa dan mama tetap menganggap mu sebagai keluarga. Terima kasih karena kamu memberi kami cucu yang cantik ini," kata papa Rahmat akhirnya. Baby Airia sudah pindah ke tangannya. Tidak ada gunanya memaksa Sinta. Bagi papa Rahmat, kalau Sinta dan Andre berjodoh. Tuhan akan membukakan jalan untuk itu.
"Sinta, malam ini menginap di sini, sekali ini saja. Kak Andre nanti aku suruh pulang," kata Agnes penuh harap. Semua orang di ruangan mengharapkan Sinta bersedia menginap. Sinta mengangguk dan Agnes bersorak gembira.
Sesudah persidangan keluarga itu selesai, mama Ningsih menyiapkan makan malam istimewa. Berbagai menu istimewa dihidangkan. Dengan bercanda mereka bersantap di meja makan. Mereka tidak menyadari bahwa Andre mendengar semua candaan itu dari kamarnya. Sinta mudah akrab dengan Maya dan mama Ningsih. Melihat Sinta yang dekat dengan kedua mantunya Maya dan Bella, jauh di lubuk hatinya. Mama Ningsih dan Agnes mengharapkan Sinta menjadi istri satu-satunya Andre.
Kenzo dan Rey pun tidak kalah senang. Mereka berdua tidak mau pisah dari baby Airia. Bahkan mereka ikut tidur di kamar Agnes bersama Sinta dan baby Airia.
__ADS_1
"Mama, mau tidur di sini juga?" tanya Agnes yang melihat mama Ningsih membawa bantal ke kamarnya. Mama Ningsih mengangguk.
"Gak muat lagi mama, ini saja Kenzo dan Rey tidak tahu mau ditaruh dimana tidurnya," kata Agnes lagi.
"Kami tidur di bawah saja. Biar kalian bertiga tidur di ranjang. Maya dan Bella juga tidur di sini," jawab mama sambil membentangkan karpet yang baru dibawa Maya.
"Wah wah, ngumpul di sini semua rupanya," kata Andi dari pintu kamar Agnes. Melihat para wanita berkumpul di kamar Agnes. Agnes menjulurkan lidahnya ke Andi. Membuat pria itu terkekeh dan berlalu dari pintu kamar Agnes.
Besok paginya, Sinta dan baby Airia sudah bersiap pulang dari rumah mantan mertuanya. Ketika Meraka sarapan. Semua terkejut melihat Andre yang turun dari tangga. Mereka tidak menduga kalau Andre masih di rumah itu. Saking senangnya tadi malam bersama baby Airia mereka lupa akan Andre.
"Andre, sarapan dulu nak," kata mama Ningsih ketika Andre sudah di tangga terakhir.
"Iya ma," jawab Andre sambil mendekat ke meja makan.
"Selamat pagi putri cantik ayah," sapa Andre ke putrinya. Andre semakin dekat ke bangku Sinta dan mencium pucuk kepala Airia yang berada di pangkuan Sinta. Tanpa segan atau malu. Andre menarik bangku di sebelah Sinta dan duduk.
"Sini, putriku. Aku gendong bentar," pinta Andre. Tanpa meminta persetujuan Sinta, Andre mengambil baby Airia dari tangan Sinta.
"Enak aja nyuruh Sinta. Nih makan," kata Agnes sambil menyodorkan sandwich dan susu yang dimaksud Andre. Dengan santai Andre menikmati sarapannya. Sementara Sinta, dia ingin pindah tempat duduk. Tetapi tidak ada lagi bangku yang kosong. Jalan satu satunya Sinta cepat cepat menghabiskan sarapannya. Sinta merasa jengkel dengan gaya Andre yang sok akrab.
"Sinta, nanti pulangnya sekalian bareng aku," kata Andre santai. Sinta tersedak mendengar perkataan Andre. Pria bodoh itu terlihat biasa saja.
"Maaf pak Andre, tidak perlu repot repot. Kak Sean sudah otw menjemput kami," jawab Sinta pelan. Lewat pesan Wa Sean meminta Sinta untuk berkemas karena dia sudah di jalan. Sinta membalas pesan Sean dengan memberitahu bahwa saat ini Sinta dan baby Airia di rumah Agnes. Hari ini Sean masih bertugas untuk menjaga baby Airia karena Sinta belum selesai ujian. Agnes dan yang lainnya merasa heran. Sejak kapan Sean dekat dengan Sinta.
"Sean, sahabatnya kak Andre maksudmu Sinta?" tanya Agnes.
"Kak Sean yang pernah bertemu waktu kita di rumah sakit," jawab Sinta. Agnes mau bertanya lagi tapi mendengar salam dari luar, Agnes berlari ke depan.
Setelah sarapan, Sinta pamit ke papa Rahmat dan yang lainnya.
"Terima kasih banyak nak, sering seringlah bawa baby Airia ke mari," kata mama Ningsih setelah puas mencium pipi baby Airia. Sinta hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kak Sean, jadi benar kakak yang mau jemput Sinta?" tanya Agnes ketika melihat Sean yang dengan gagahnya berdiri di samping mobil.
"Iya Agnes, bisa kamu panggilkan mereka?"
"Dia sudah di sini," jawab Andre ketus yang mengekor di belakang Sinta. Sungguh dia tidak menyukai kedatangan Sean. Dia sengaja tidak pulang tadi malam setelah mengetahui Sinta dan baby Airia menginap. Tujuannya supaya bisa pulang bersama. Kedatangan Sean mengacaukan rencananya. Sinta langsung mendekat ke mobil Sean. Sean mengambil tas perlengkapan bayi dari pundak Sinta dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Tunggu Sean," kata Andre ketika Sean hendak masuk ke dalam mobil. Sedangkan Sinta sudah duduk manis di dalam. Sean mendekat ke Andre.
"Ada apa bro?"
"Baby Airia adalah putriku..."
"Aku tahu," potong Sean cepat.
"Dari awal aku sudah curiga bahwa Sinta adalah mantan istrimu. Ketika semalam kamu menyebut baby Airia adalah putrimu. Aku menyimpulkan bahwa kamu lah mantan suami yang telah menceraikannya di saat hamil. Tega kamu bro," kata Sean sambil menatap tajam Andre. Andre menarik nafas panjang.
"Aku minta bantuan mu bro, aku menyesal. Aku ingin bersama Sinta kembali. Tolong yakinkan dia kalau aku serius," kata Andre penuh harap.
"Tidak semudah itu bro, Aku juga menginginkannya." Andre menatap Sean tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sinta cantik dan baik, aku rasa tidak hanya aku yang menyukainya. Jadi tidak ada alasanku untuk membantumu," kata Sean lagi.
"Baiklah bro, aku juga tidak akan menyerah," jawab Andre menantang Sean. Sean hanya tersenyum kecut.
"Bagus. Tapi perlu kamu ingat. Kamu punya istri yang harus kamu jaga perasaannya,"
"Kamu juga harus ingat. Tidak semua orang tua bersedia menerima mantu seorang janda," jawab Andre. Sean terdiam.
"Pergilah bro. Aku titip putriku dan istriku," kata Andre terkekeh.
"Satu lagi, aku tidak ingin persahabatan kita hancur," kata Andre lagi sambil berjalan ke mobilnya.
__ADS_1
Agnes yang sedari tadi mendengar pembicaraan Andre dan Sean merasa sedih. Dia bisa melihat penyesalan Andre.