Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Ujian Semester


__ADS_3

Bagi sebagian orang dewasa itu tidak tergantung umur. Bertanggungjawab itu juga tidak tergantung umur. Begitu juga dengan Andre, umur yang matang tidak membuatnya bisa bersikap dewasa mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Sinta. Menceraikan dan ingin rujuk kembali tanpa berpikir panjang. Tetapi Sinta tidak sebodoh itu, dia tidak mau lagi menjadi simpanan Andre. Harga dirinya sungguh tergadai dengan materi yang diberikan Andre.


Andre si pria dewasa nan pintar itu, terkesan pengecut dan tidak berpendirian. Penampilan dan postur tubuhnya yang tampan dan ganteng tidak sejalan dengan cara berpikirnya. Mendengar jawaban Cindy tentang poligami membuat nyalinya menciut. Tidak ada sedikitpun perjuangan untuk menjadikan Sinta sebagai istri sah agama dan negara. Andre hanya mendewakan cintanya terhadap Cindy. Bahkan di hadapan Cindy, Andre bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Menuruti kehendak Cindy tanpa melawan atau membantah bagaikan orang bodoh. Cinta benar benar membutakan mata dan pikirannya.


Cindy tentu saja merasa bahagia. Merasa ratu yang berkuasa di kehidupan Andre. Merengek saja sedikit, Andre akan luluh dan menurut. Seperti halnya tentang apartemen Andre. Walau berat Andre tetap menjualnya. Demi menyenangkan hati Cindy dan anaknya jangan sampai ileran, Andre merelakan apartemen itu dijual.


Sedangkan Sinta, hampir setiap keinginannya selalu dipendam. Masa masa ngidam hingga hamil lima bulan tentu saja banyak yang diinginkannya. Tapi diantara banyaknya keinginan itu hanya sedikit yang bisa dipenuhi Sinta. Sinta harus menyesuaikan dengan situasi keuangannya. Sejak bercerai dari Andre,, Sinta bertekad untuk tidak tergantung lagi pada Andre. Bekerja sebelum melahirkan untuk berjaga jaga supaya uang pemberian Andre cukup sampai dia menyelesaikan pendidikannya. Sinta, bisa dikatakan setiap hari lelah badan dan lelah pikiran. Belajar dan bekerja sungguh menguras tenaga dan pikirannya. Sinta tidak perduli, niatnya ke kota untuk kuliah maka dia juga pulang harus membawa gelar. Tiga gelar sekaligus. Seorang janda, seorang ibu dan seorang sarjana.


Memikirkan ketiga gelar itu, Sinta sering menangis. Bagaimana dia membawa ketiga gelar itu secara bersamaan ke hadapan orangtuanya. Pendapat para tetangganya dan Bahkan Sinta sudah gagal sebagai contoh untuk kedua adiknya. Terkadang di sela sela tangisnya, janinnya bergerak. Membuat Sinta semangat dan optimis bahwa ada jalan keluar untuk segala masalah yang dihadapinya.


Semester ganjil atau semester tiga bagi Sinta sudah di penghujung semester. Libur pergantian tahun baru dan Minggu tenang sedikit membuat lelah tubuh Sinta berkurang. Tapi tidak dengan hati dan pikirannya.


Sebentar lagi ujian akhir semester akan berlangsung. Sinta giat belajar. Walau hamil nilai harus tetap bagus. Itu tekadnya. Dan usia kehamilan Sinta juga sudah memasuki bulan keenam. Perut buncit itu, tidak bisa lagi ditutupi walau dengan baju yang sangat longgar.


Pelan tapi pasti, masa itu tiba dimana para mahasiswa harus bertarung otak demi nilai yang bagus. Tak terkecuali dengan Sinta. Dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester ganjil.


Sinta turun dari motornya, suasana kampus agak sepi. Hari ini hari pertama ujian semester ganjil. Para mahasiswa yang biasanya nongkrong sebelum masuk kelas tidak terlihat. Para mahasiswa langsung masuk kelas dan mencari tempat duduk yang aman. Ada istilah mahasiswa yang mengatakan letak bangku ketika ujian menentukan IP atau indeks prestasi. Letak yang aman untuk membuka contekan atau sekedar mencolek teman untuk mencontek.


Sinta berjalan pelan, Tunik dan celana karet model pencil yang dipakainya membuat penampilannya sempurna walau perutnya sedikit menonjol. Bagi siapa yang melihat, tahu bahwa Sinta hamil. Berbeda sebelum libur, perut hamil Sinta masih bisa ditutupi dengan baju yang longgar.


Sinta memasuki kelas yang sudah hampir penuh mahasiswa, termasuk keenam sahabatnya sudah duduk manis dengan membaca buku. Hanya beberapa bangku yang kosong itupun paling depan. Mata mahasiswa yang fokus dengan buku tidak menyadari penampilan Sinta.


"Sinta... sini! Duduk di sini," panggil Vina ketika melihat Sinta hendak duduk di bangku paling depan. Sinta berjalan ke arah Vina di barisan bangku kedua. Letak bangku yang lumayan strategis. Vina sudah membooking bangku untuk Sinta. Sinta tersenyum kepada keenam sahabatnya dan duduk. Tidak berapa lama kemudian dosen pengawas ujian masuk ke kelas.


Kertas ujian dan kertas jawaban sudah dibagi. Seperti ujian pada umumnya. Tas dikumpul ke depan kelas. Para mahasiswa disuruh untuk membalikkan segala saku baik saku celana atau kemeja. Segala kertas sekecil apapun tidak boleh ada di meja kecuali Kartu mahasiswa, kertas ujian dan lembar jawaban.


Sinta membaca soal ujian sebelum mengerjakannya. Hanya lima soal, tapi jawabannya bisa ditafsir double folio akan terisi bolak balik.

__ADS_1


Para mahasiswa kini serius mengerjakan ujiannya. Tepatnya ada yang pura pura serius. Dosen pengawas yang berjalan mondar mandir di sekitar kelas membuat mereka tidak berkutik. Banyak dari mereka berharap sang dosen kebelet pipis biar keluar dari kelas. Tapi tetap saja harapan itu tinggal harapan. Kini sang dosen berdiri di depan kelas dan mengawasi seluruh ruangan dengan teliti. Siapa saja yang mencurigakan, maka dosen akan berdiri disampingnya. Hal itu tidak dilewatkan mahasiswa yang duduk dibelakang sang sang dosen, dengan cepat mereka mengeluarkan kertas kecil yang entah dimana disembunyikan ketika razia saku tadi. Tapi itu tidak berlangsung lama, sang dosen akan kembali berjalan mondar mandir. Membuat mahasiswa bertambah sibuk. Sibuk melihat jam.


Sinta yang sudah mempersiapkan diri, tidak sesibuk mahasiswa lain. Dia fokus dan santai menulis di kertas jawabannya. Terkadang dia tersenyum ketika janinnya bergerak. Mengelus perutnya dengan tangan kiri dan tangannya kanannya menulis. Dosen yang matanya bagai mata elang, senyum Sinta tidak luput dari pandangannya. Ditambah tangan kiri Sinta di bawah meja membuat sang dosen curiga.


"Kamu...Berdiri!" perintah dosen tegas setelah mendekat ke bangku Sinta. Sinta terkejut dan gelagapan. Sinta pun menurut dan berdiri.


"Siapa namamu?" tanya dosen lagi


"Sinta pak," jawab Sinta gugup. Dosen mengambil kertas ujian dan kertas jawaban Sinta. Kemudian meletakkan kembali kedua kertas tersebut. Mahasiswa lain mempergunakan kesempatan itu untuk membuka contekan.


"Mana contekan mu?" tanya dosen membuat Sinta bingung. Dia merasa tidak mempunyai contekan.


"Saya tidak punya contekan pak," jawab Sinta.


"Kalau kamu tidak jujur, kertas jawabanmu saya beri tanda mencontek," kata dosen mengintimidasi Sinta. Sinta sudah berkeringat dingin. Para sahabatnya hanya bisa menatap iba. Sedangkan yang lain tidak perduli. Malah mereka berharap dosen agak lama memarahi Sinta. Biar mereka aman membuka contekan.


"Kalau tidak mencontek, kenapa tangan kirinya di bawah dan kamu tersenyum?" tanya dosen melunak.


"Janin saya bergerak dari tadi pak, saya mengelusnya. Itu yang membuat saya tersenyum." Spontan semua mata mahasiswa yang membuka contekan melihat ke arah Sinta dan meneliti penampilannya. Tapi kemudian mereka fokus kembali ke contekan. Sang dosen merasa bersalah ditambah lagi memang dia tidak menemukan bukti.


"Maaf...lanjutkan ujian mu!" perintah sang dosen dan duduk di kursi depan.


Sinta kembali mengerjakan ujiannya. Konsentrasinya sedikit terganggu karena gugup. Vina menyentuh tangannya dan menyemangatinya.


Dosen menyuruh para mahasiswa mengumpulkan lembar jawaban. Dengan wajah sumringah hampir mahasiswa merasa puas dengan ujian hari ini.


"Berterimakasih kepada Sinta dan janinnya, karena berkat janinnya yang bergerak kalian bisa membuka contekan," kata dosen setelah lembar jawaban terkumpul di tangannya. Pak dosen keluar dari ruangan. Mahasiswa bersorak senang. Sinta merasa malu dan gugup. Membayangkan tanggapan teman sekelasnya terhadap kehamilannya. Mahasiswa lain mendekat ke Sinta berbagai pertanyaan yang hampir bersamaan bergema di ruangan itu.

__ADS_1


"Sinta, kamu hamil?"


"Dah berapa bulan?"


"Pantas kamu terlihat lebih gemuk,"


"Walau hamil, kamu makin cantik Sinta,"


"Ternyata, sebentar lagi kita jadi Tante dan om,"


Pertanyaan itu hanya ditanggapi Sinta dengan senyuman. Sinta lega, teman temannya tidak mencibir atau langsung negatif thinking. Malah dengan antusias bertanya tentang kehamilan Sinta.


"Terima kasih janinnya Sinta, berkat gerakan mu. Om jadi bebas membuka contekan tadi," kata seorang mahasiswa berambut gondrong. Ucapannya disambut mahasiswa lain dengan terkekeh.


"Iya, kamu bebas membuka contekan. Kamu gak lihat tadi Sinta sampai keringat dingin," jawab Vina kesal.


"Jangan salahkan aku donk. Kan dosennya yang marah," sahut pria gondrong itu. Kini dia sudah duduk di depan Sinta.


"Sin, kamu nikah kok, gak ngundang kita kita sih," sahut mahasiswa lain. Sinta terdiam dan tidak tahu menjawab apa.


"Pestanya di kampung. Diundang juga kamu gak bakalan datang," jawab Tini. Gadis tomboi itu bisa membungkam mulut teman sekelasnya yang ingin mempertanyakan pernikahan Sinta.


Para sahabat Sinta hanya mengangguk setuju dengan jawaban Tini. Meraka tidak mau Sinta terbebani dengan pertanyaan yang membuat Sinta berpikir keras.


"Suamimu kok tidak pernah keliatan Sinta, hanya sekedar mengantar atau menjemput?, tega amat membiarkan istri bawa motor dalam keadaan hamil," kata seorang perempuan berbibir tebal.


Akhirnya pertanyaan yang meluluhlantakkan hati Sinta terlontar, Sinta menunduk berpura pura merapikan isi tasnya. Dia tidak mempunyai suami sekarang. Bayangan Andre terlintas di pikirannya. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Sakit hati itu kembali perih bagai luka ditetesi cuka.

__ADS_1


"Suaminya ada kontrak kerja di luar negeri." Vina akhirnya menjawab pertanyaan wanita itu. Bagi Vina tidak apa berbohong demi kebaikan Sinta. Dan benar, tidak ada lagi pertanyaan dari teman sekelasnya. Sinta lega. Teman temannya sudah mengetahui kehamilannya.


__ADS_2