
Minggu siang Vina kembali pulang ke rumah Radit setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Dan selama tiga hari itu juga. Radit menjaganya. Tidak ada sahabat atau kedua orangtuanya yang mengetahui keadaan Vina selama tiga hari ini. Vina bukan menutup diri. Karena keadaan saat masuk ke rumah sakit Vina tidak membawa ponsel.
Vina menghembuskan nafasnya kasar kemudian membuka pintu mobil, menurunkan kaki dan akhirnya tubuhnya benar-benar keluar sempurna dari dalam mobil sedangkan Radit mengambil tas pakaian dari bangku belakang. Setelah Radit keluar dari mobil, Radit menggerakkan kepalanya untuk menyuruh Vina berjalan duluan.
"Langsung masuk kamar dan berbaring," kata Radit setelah mereka di ruang tamu.
"Ya,"
"Atau kamu mau makan sesuatu?"
Vina berbalik dan menatap Radit. Vina mengangguk.
"Mau makan apa?"
"Es krim tiga rasa. Strawberry, coklat dan vanila," jawab Vina senang. Bagaikan anak kecil matanya ikut berbinar membayangkan es krim tiga rasa itu masuk ke mulutnya. Sebelum pemerkosaan dan berujung masuk rumah sakit, Vina sudah sangat menginginkan es krim tiga rasa tersebut.
"Es krim tidak bagus untuk ibu hamil. Nanti kamu akan merasakan tiga rasa itu lewat susu hamil. Apalagi kamu baru keluar rumah sakit. Jangan hanya mengikuti kemauan mulut tapi pikirkan dampak setelah kamu makan es krim itu. Es krim hanya akan membuat kamu masuk angin dan mual. Nanti aku akan meminta bibi Ina untuk membuatkan jus jeruk untukmu,"
Radit berbicara panjang lebar. Mata yang berbinar tadi kini hilang. Keinginan untuk makan es krim itu pupus sudah.
"Baiklah," jawab Vina singkat dan kecewa.
"Yang lain tidak ada?" tanya Radit lagi. Vina malas mendengar pertanyaan Radit. Untuk apa bertanya apa yang diinginkannya. Kalau akhirnya harus Radit lah yang harus memutuskan apa yang baik atau yang tidak baik untuk masuk ke dalam perutnya.
"Tidak." Vina berbalik dan masuk ke dalam kamar. Sesuai perintah Radit. Vina langsung berbaring di ranjang. Vina takut sewaktu waktu Radit masuk dan melihatnya tidak berbaring akan membuat pria yang tidak bisa dibantah itu akan menjadi marah.
Tiga hari di rumah sakit, Vina sudah memikirkan hal apa saja yang akan dilakukannya selama enam bulan ke depan. Menurut dan tidak memperdulikan apapun perkataan Radit termasuk jika menyangkut hal asuh anaknya kelak. Vina sudah rela jika anaknya akan diasuh Radit dan istrinya kelak. Itu lebih bagus daripada harus membiarkan janin ini keluar sebelum berbentuk karena keguguran.
Entah pemikiran apa yang merasuki otak Vina. Di saat ibu ibu yang lain memperjuangkan hak asuh anaknya sendiri, Vina rela anaknya diasuh oleh Radit yang akan menjadi mantan suaminya enam bulan lagi. Vina sebenarnya tidak setega itu, hanya saja melawan Radit hanya akan menyiksa diri dan anaknya kelak. Dengan berat hati, Vina akan merelakan itu semua jika waktunya akan tiba.
Apa yang dikatakan Radit tadi benar benar terjadi. Segelas jus jeruk sudah ada di tangan Radit yang sedang berjalan menuju ranjang. Vina masih berbaring, menunggu perintah dari Radit untuk duduk.
"Duduk." Vina duduk.
"Dihabiskan." Vina meraih jus itu. Hanya hitungan detik jus enak itu sudah masuk ke dalam perut Vina. Dia ingin Radit cepat cepat keluar dari kamarnya.
"Enak tidak?"
"Enak," jawab Vina singkat. Jus itu memang pas di lidahnya.
__ADS_1
"Yang kamu minum itu jus jeruk campur wortel. Itu jauh lebih baik daripada es krim tiga rasa yang kamu minta. Es krim itu selain menggunakan pemanis buatan juga pasti menggunakan pengawet buatan. Sedangkan untuk orang dewasa saja tidak bagus apalagi untuk janin."
Vina hanya mendengar penjelasan Radit sambil mengangguk. Tidak ada gunanya berbicara atau membantah. Ingin rasanya Vina berniat memuji sekaligus menyindir penjelasan Radit itu. Tapi Vina hanya bisa protes dalam hati. Dia hanya ingin Radit keluar kamarnya. Tapi seakan betah, Radit malah duduk di kursi kayu yang tidak jauh dari ranjangnya. Bahkan pria itu sudah mengeluarkan ponselnya. Vina merasa seperti tawanan saja. Tak ambil pusing, Vina memejamkan mata. Walau sudah keluar dari rumah sakit, dokter Agung menyarankan Vina untuk banyak beristirahat dan tidak memikirkan hal hal yang berat.
Vina membuka matanya setelah hampir satu jam terlelap. Terbangun karena mendengar suara ribut dari ruang tamu. Vina ingin mengabaikannya. Tetapi suara itu adalah suara yang sangat dikenalnya. Vina turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
"Papa, Mama," panggil Vina setelah melihat kedua orangtuanya duduk membelakangi dirinya. Kedua orangtuanya itu kompak membalikkan badan. Mamanya Vina berdiri dan langsung memeluk Vina. Vina menoleh ke Radit. Pria itu seperti sedang menahan marah.
"Nak Radit, seperti aku bicarakan sebelumnya. Biarkan kami membawa Vina," kata Hendrik setelah Vina dan mamanya duduk. Vina terkejut sekaligus senang dengan kedatangan dan perkataan perkataan papanya. Vina meremas ujung bajunya menunggu jawaban Radit. Vina berdoa dalam hati, Radit mengijinkan.
"Tidak boleh seperti itu om, kalian akan membawanya setelah anak itu lahir," jawab Radit dingin. Sesuai permintaan Hendrik, Radit tidak lagi memanggil papanya Vina dengan sebutan papa. Pria itu masih saja keras kepala setelah apa yang menimpa Vina.
"Kami datang hari ini karena ada alasan. Bagaimana anak itu lahir, Sedangkan Vina masih satu hari kembali ke rumahmu langsung masuk rumah sakit kembali. Kamu tidak sadar, bahwa sikap dan perbuatan kamu yang membuat Vina masuk rumah sakit," jawab Hendrik tajam. Radit terhenyak. Dia tidak menyangka kedua orang tua Vina mengetahui kalau Vina kembali masuk ke rumah sakit.
"Darimana kalian tahu Vina masuk rumah sakit?" tanya Radit heran. Vina bahkan tidak membawa ponsel ke rumah sakit. Untuk meminjam ponsel perawat atau dokter itu tidak mungkin. Karena Radit selalu di ruangan untuk menemani Vina. Bahkan untuk membelikan makanan untuk dirinya sendiri. Radit meminta tolong ke petugas cleaning servis.
"Itu tidak penting Radit. Ini demi janin itu. Biarkan kami membawa Vina. Kami akan mengabari kamu jika anak itu lahir." Hendrik tidak ingin membuka mulut tentang kebaikan dokter Agung yang mengabari keadaan Vina selama di rumah sakit.
"Tidak bisa," jawab Radit tegas. Vina sudah melemas mendengar jawaban Radit. Vina sudah menduganya. Entah apa maksud Radit menahannya di rumah ini. Tapi sikapnya selalu menyakiti Vina.
"Radit, aku bisa sebenarnya melaporkanmu ke polisi. Pemerkosaan yang kamu lakukan terhadap Vina bisa membuat mu mendekam di penjara. Tapi itu tidak aku lakukan. Karena aku menganggap ini masalah keluarga yang bisa kita selesaikan secara kekeluargaan,"
"Om, om bisa melaporkan aku ke polisi?. Yang ada polisi akan tertawa dan merasa kasihan kepada mu om. Demi uang, om menyetujui perjodohan itu. Kalau tidak menjual Vina secara tidak langsung. Itu apa namanya?" kata Radit terkekeh. Dia memandang sinis mertuanya. Vina terkejut dengan perkataan Radit. Radit ternyata menganggapnya seperti barang dagangan. Radit merasa menang setelah mengucapkan itu.
"Bagaimana penilaian kamu terhadapku?" tanya Hendrik lagi. Radit diam. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Hendrik gila uang. Jika Vina tidak ada di situ. Penilaian itu pasti akan keluar dari mulut Radit. Karena memang seperti itulah penilaian Radit. Vina dan mamanya hanya bisa mendengarkan pembicaraan dua laki laki itu.
"Aku memang penggila uang Radit. Tetapi aku juga tidak mau mengorbankan putriku karena uang. Aku menyetujui perjodohan itu bukan semata karena uang. Aku melihat mu seperti laki laki yang baik dan bertanggung jawab. Ternyata aku salah. Putriku bukannya mendapat kebahagiaan tetapi justru tidak dianggap oleh mu." Hendrik menjeda ucapannya dan menarik nafas panjang. Hatinya terasa sesak melihat penderitaan Vina karena dirinya salah mengambil keputusan. Matanya kini berkaca kaca. Sejak mengetahui penderitaan Vina, hampir setiap malam Hendrik menangis diam diam.
"Aku menarik kembali putriku Radit sekarang juga. Terlalu lama jika kami menunggu enam bulan lagi," kata Hendrik pelan. Suaranya seperti menahan tangis.
"Tidak boleh om, Vina mengandung janinku." Radit masih ngotot. Dia menginginkan janinnya tetapi tidak berusaha membuat Vina nyaman. Dan tanpa disadarinya. Kata katanya barusan semakin menggoreskan luka di hati Vina.
"Aku hanya menjemput putriku. Jika kamu ingin janin mu. Kamu bisa mengeluarkannya sekarang dan kamu kandung sendiri," kata Hendrik tajam dan marah. Jawaban bodoh itu terpaksa keluar dari mulutnya untuk menggertak Radit. Dan jawaban bodoh itu berhasil membuat Radit terdiam dan merasa bodoh.
"Tidak ada alasanmu untuk menahan putriku lagi. Ini uang yang sudah aku terima dari orangtuamu." Radit mengangkat kantong plastik hitam yang sedari tadi berada dekat kakinya dan melemparnya ke pangkuan Radit. Radit terkejut karena kantong plastik berisi uang yang banyak itu mendarat cantik di pahanya. Vina juga tidak kalah terkejut. Dia tidak menyangka papanya akan melakukan itu semua demi membebaskan dirinya dari Radit. Dalam hati Vina tersenyum. Tapi matanya menatap iba kepada Papanya karena sikap Radit yang meremehkan papanya.
"Hitung dan tanyakan kepada orangtuamu. Berapa banyak uang yang aku terima dari mereka karena perjodohan itu," kata Hendrik tegas dan menunjuk uang yang sudah di pangkuan Radit. Pria itu masih diam dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hendrik. Radit bahkan tidak menyentuh kantong plastik itu. Perkataan Hendrik yang menduga dirinya adalah orang baik dan bertanggung jawab seperti tamparan di wajahnya.
"Vina berkemas lah nak, Kita pulang sekarang," kata Hendrik lembut. Sungguh dia tidak ingin melakukan hal ini. Dia sadar perbuatan ini seperti menjadikan Vina seperti barang seperti ucapan Radit tadi. Tapi hanya ini yang bisa dilakukannya untuk Menebus Vina dari penderitaan yang diciptakan dirinya sendiri. Hendrik justru menyalahkan dirinya sendiri bukan menyalahkan Radit. Karena Hendrik sadar, keputusannya lah yang mengantar Vina menjadi istri tak dianggap oleh Radit.
__ADS_1
Vina beranjak dari duduknya. Masuk ke kamar dan mengemas baju ke dalam tas kecil. Tinggal di rumah Radit bajunya memang tidak seberapa. Keputusan untuk keluar dari rumah ini sudah bulat. Sekeras apapun Radit menahannya, Vina bertekad akan keluar dari rumah ini sekarang juga.
"Vina." Vina menoleh. Radit sudah berdiri tepat di belakang Vina.
"Apa kamu tidak bisa bertahan enam bulan lagi?"
"Radit, apa kamu ingin melihat anakmu lahir?. Bukan menjawab pertanyaan Radit. Vina malah bertanya. Radit mengangguk.
"Aku percaya kamu akan menjadi ayah yang baik untuk anak ini kelak. Kalian berpisah hanya untuk sementara. Aku pastikan jika anak ini lahir. Aku akan merelakan hak asuhnya kepada kamu," kata Vina sambil menahan sesak di dadanya. Tiga hari dia merenungkan keputusan ini. Sebelum enam bulan. Vina sudah memutuskan dan mengucapkannya langsung ke Radit.
"Aku hanya ingin bertanggungjawab mulai dia dari kandungan Vina. Memperhatikan nutrisinya dan mengenalkan suaraku sejak dia di kandungan," jawab Radit pelan. Wajahnya lesu dan nampak tidak bersemangat. Kedatangan orang tua Vina dengan membawa sejumlah uang membuat Radit tidak bisa menahan Vina secara paksa lagi.
"Radit, aku tahu kamu sangat membenciku. Hidup bersama satu atap dengan orang yang kamu benci tentu saja membuatmu tidak nyaman. Dan yang lebih parah kebencian kamu itu bisa membuatku tertekan dan berakibat fatal kepada janin ini. Ingat kata dokter. Aku tidak bisa memikirkan hal yang berat. Percaya kepadaku. Janin ini hanya menumpang sembilan bulan di rahimku untuk selanjutnya dia adalah milikmu," jawab Vina dengan suara bergetar. Setiap menyinggung janinnya, Vina bisa merasakan hatinya berdenyut nyeri.
"Bagaimana jika aku berubah. Apa kamu akan bersedia tinggal di sini. Hanya enam bulan Vina,"
"Tidak Radit. Aku tetap ikut orangtuaku. Kamu sudah mengatakan sebelumnya tidak akan menyakiti aku. Tapi nyatanya apa?. Kamu menyakiti aku dengan kata kata kasar mu itu. Aku akan tertekan jika disini. Aku baru sadar ternyata kamu menganggap aku seperti barang dagangan,"
"Vina, maaf,"
"Aku bukan barang dagangan Radit. Aku hanya jaminan atas uang yang sudah diberikan orangtuamu. Dan kini orang tua ku sudah menebusku. Ibarat di pegadaian. Uang yang sudah di kembalikan. Maka jaminannya juga harus dikembalikan. Kamu sudah menerima uang itu. Maka aku juga harus kembali ke orang tuaku, Radit,"
"Apa kamu membenciku?"
"Apa kamu kira aku seperti malaikat?. Percayalah dua orang yang saling membenci tidak bisa hidup dibawah satu atap,"
"Setelah kamu keluar dari rumah ini. Secepatnya kamu akan mendapat kartu undangan pernikahanku," ancam Radit.
"Silahkan Radit. Sebelum kartu undangan itu di tanganku. Sekarang aku mengucapkan selamat berbahagia untukmu. Aku mendukungmu untuk menikah lagi," kata Vina sambil mengulurkan tangannya. Radit hanya memandangi tangan itu. Vina menarik kembali tangannya dan berjalan hendak keluar. Radit terdiam. Vina yang dulu selalu meminta dirinya untuk berubah, untuk tidak saling menyakiti dan bahkan menghajar Donna untuk mempertahankan pernikahan mereka kini mendukungnya untuk menikah kembali.
"Vina,"
"Kembalilah, aku menunggu janji mu. Kelak anak itu hanya milikku," kata Radit tegas. Tanpa berbalik Vina mengangguk. Radit meraih tas pakaian Vina dan membawanya keluar kamar.
"Om Hendrik. Bawa kembali uang itu. Om mendapatkannya dari ayahku. Dan kembalikan lah ke ayah ku," kata Radit sambil meletakkan tas pakaian Vina di dekat sofa yang diduduki Hendrik. Mendengar perkataan Vina yang menyebutkan dirinya sendiri sebagai jaminan, entah mengapa Radit merasa sedih dan tidak berterima. Padahal dia sudah menyebut bahwa Hendrik sudah menjualnya secara tidak langsung.
Kedua orang tua Vina berdiri. Hendrik menatap Radit.
"Radit, aku titip uangnya. Tolong kamu sendiri yang mengembalikan uang itu kepada orang tua kamu. Kami pamit," kata Hendrik sambil memukul pelan lengan Radit. Hendrik meraih tas pakaian Vina dan menarik tangan putrinya itu. Mereka melangkah keluar dari rumah Radit.
__ADS_1
Radit masih berdiri di tempatnya. Uang dalam kantong plastik hitam itu masih teronggok di meja sofa itu. Memandangi punggung tiga orang itu semakin menjauh. Hingga hilang di balik pintu. Radit terhenyak ketika mendengar suara mobil yang semakin menjauh dari rumahnya.
Seketika, Radit berlari ke lantai atas. Mengambil kunci motor, kaca mata hitam dan jaket kulit. Dengan tergesa-gesa, Radit turun kembali dan langsung menuju garasi. Radit mengeluarkan motor dan menungganginya dengan kencang. Mengambil jalan pintas, hanya setengah jam Radit sudah berada di halaman rumah Vina. Mobil mertuanya belum ada di halaman itu. Radit memutar balik motornya, dan berhenti di persimpangan. Hingga hampir satu jam menunggu. Radit akhirnya bisa melihat mobil Hendrik melintas di depannya.