
Sean masih menatap Tini. Tini semakin memeluk ranselnya. Jantungnya semakin berdetak kencang. Andaikan Tini bisa menghilang, Tini akan melakukan itu daripada harus menjawab pertanyaan Sean. Pertanyaan Sean bagaikan kejutan baginya.
Tini tidak menyangka Sean akan bertanya seperti itu. Apa yang diingatkan Sean tadi, itu semua benar. Sejak pertama kali bertemu di rumah Sinta. Tini sudah menyukainya. Awal bertemu dimana saat itu Tini mengira bahwa Sean adalah mantan suami Sinta. Perkiraan yang salah. Sikap tenang Sean yang menghadapi kemarahan Tini. Membuat Tini merasa kagum akan Sean. Gugup, tentu saja Tini gugup saat ini. Tapi bukan Tini namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Tini masih berusaha menetralkan detak jantungnya. Dia tidak berani menatap Sean yang masih menatap dan menunggu jawabannya. Tini merasakan otaknya buntu. Yang ada dia hanya membenarkan perkataan Sean dalam hati. Sifat bar bar yang terlihat selama ini kini hilang. Yang bisa dilakukan Tini hanya memeluk ranselnya dan memalingkan wajahnya melihat pepohonan rindang di luar mobil.
Tini memberanikan dirinya menoleh ke Sean. Tatapan lembut Sean semakin menggetarkan jiwanya. Tini tersenyum kikuk dan kembali memandang keluar sambil memeluk ranselnya.
"Tini," panggil Sean lembut. Matanya tidak berpaling dari wajah Tini. Tini menoleh kembali ke Sean.
"Apa kak," jawabnya nyaris tidak terdengar.
"Kamu belum menjawab pertanyaan aku,"
"Apa itu penting kak?"
"Aku hanya sekedar tahu," jawab Sean. Tini menarik nafas panjang sebelum menjawab. "Hanya sekedar tahu" batin Tini kecewa mengulang perkataan Sean. Tini tidak mengharapkan jawaban Sean yang hanya sekedar tahu.
"Kak, apa yang keluar dari mulut itu sumbernya ada dua. Dari hati dan dari perut. Kalau dari hati sudah pasti yang keluar adalah apa yang kita pikirkan yaitu kata kata. Dan apa yang keluar dari mulut yang bersumber dari hati bisa diucapkan serius dan bercanda. Sedangkan yang berasal dari perut keluar dari mulut itu adalah muntahan. Sudah pasti apa yang aku katakan sebelumnya kepada Kakak, itu dari hati. Sekarang. Menurut kakak, apakah aku serius atau bercanda ketika mengatakan itu semua?" kata Tini serius dengan panjang lebar. Tini menoleh sebentar dan Tini kembali menunduk. Sean yang awalnya serius mendengar Tini berbicara, kini terlihat lesu. Sean merubah duduknya menjadi menghadap ke depan.
"Kamu yang mengucapkan Tini, jadi hanya kamu yang tahu apa itu serius atau tidak," jawab Sean lesu. Sean kembali menjalankan mobilnya. Jawaban Tini tidak memuaskan baginya.
Tini juga masih menunduk. Dia menoleh ke Sean yang sudah serius menyetir. Andaikan Sean tidak dekat dengan Cici, Tini akan menjawab pertanyaan Sean dengan serius tanpa memberikan pertanyaan kembali. Tini tidak mau terluka atau melukai hati Cici. Tini juga tidak tahu perasaan Sean yang sebenarnya. Masih beberapa jam yang lalu Sean memanggil Cici dengan sebutan sayang dan juga lembut. Tini tidak mau Cici terluka. Apalagi terluka karena dirinya. Selain itu Tini juga tidak mau Sean mempermainkannya jika Sean tahu perasaan Tini yang sebenarnya.
"Aku masih bisa memendam perasaan ini kak, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi pada Cici jika dia mengetahui aku juga menyukai kakak. Cukup aku melihat luka di mata Sinta dulu. Dan luka itu sekarang ada di mata Vina. Aku tidak akan membiarkan Cici terluka. Mereka adalah sahabat ku. Jika aku berjodoh dengan dirimu, aku hanya berharap itu terjadi tanpa melukai perasaan Cici Sahabatku," batin Tini. Tini kembali menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Kak, aku turun di sini saja," kata Tini memecah kesunyian di mobil itu. Sean mengernyitkan keningnya. Ini kedua kalinya dia hendak mengantar Tini, tetapi Tini selalu meminta turun sebelum sampai di rumahnya.
"Sebutkan alamat mu. Mobil ini hanya akan berhenti di lampu merah dan di depan rumah kamu. Selain itu aku tidak mau menghentikan mobil ini," jawab Sean dingin. Tini kembali menatap Sean bingung. Pria itu, sejak menjalankan mobilnya kembali tidak berbicara sama sekali. Tini mengingat perkataan Sean ketika di parkiran tadi. Kata Sean, dia yang pertama yang menyentuh aset berharganya dan hanya dia yang akan menyentuhnya. Dan baru saja Sean menanyakan tentang perasaan Tini walau secara tidak langsung.
Tini bertanya dalam hatinya. Apakah Sean juga mempunyai perasaan kepadanya. Jika memang iya. Mengapa dia dekat dengan Cici. Tini bertekad dalam hatinya akan mencari tahu tentang sejauh mana hubungan Sean dan Cici.
"Mana alamat kamu Tini?" tanya Sean pelan. Walau pelan tapi hal itu bisa membuyarkan lamunan Tini. Tidak ada pilihan lain. Tini menyebutkan alamat lengkapnya yang memang sudah dekat.
"Berhenti di sini kak," kata Tini setelah mereka masuk ke jalan yang lebih kecil. Sean menghentikan mobilnya.
"Mana rumah kamu Tini?"
"Mundurkan dikit mobilnya kak. Mobil Kaka sudah kelewatan satu rumah," kata Tini. Mobil Sean berhenti di sebuah gerbang rumah mewah. Sean pun memundurkan mobilnya hanya beberapa meter.
"Aku kira tadi rumah kamu yang itu," tunjuk Sean. Tini terkekeh. Rumah yang ditunjuk Sean adalah rumah mewah yang tadinya dia menghentikan mobilnya.
"Kak, kamu tidak lihat penampilan aku yang kumel begini?. Ya tidak mungkinlah itu rumah aku," kata Tini masih terkekeh. Penampilannya saat ini masih seperti sebelumnya. Kemeja yang agak kebesaran, celana jeans koyak koyak dan sepatu kets yang juga tidak begitu cantik. Sangat berbeda dengan penampilan para sahabatnya yang feminim.
"Ya bisa jadi kan. Siapa tahu,"
"Makasih atas tumpangannya kak, aku turun dulu,"
"Tini," panggil Sean. Tini yang tadinya sudah hendak turun akhirnya menghadap ke Sean.
"Aku mau mengembalikan ini," kata Sean lagi. Di tangannya sudah ada headset milik Tini. Tini mencondongkan badannya untuk meraih headset tersebut. Yang dapat bukan headset tetap bibir Sean yang sudah mendarat di bibir Tini. Tini gelagapan dan berusaha menjauhkan diri tetapi tangan kanan Sean yang sudah memegang tengkuknya. Membuat Tini tidak bisa menjauhkan diri.
__ADS_1
Tini merasakan sensasi yang berbeda di tubuhnya. Tubuhnya seakan meminta lebih. Tini membuka mulutnya dan membiarkan lidah Sean menjelajah di rongga mulutnya. Tini pun mengikuti apa yang dilakukan Sean. Hingga ciuman panas itu kian memanas. Tini sangat menikmatinya itu begitu juga dengan Sean. Tini terbuai hingga bagian tubuhnya yang lain juga ikut berdenyut. Tetapi otaknya cepat bekerja. Tini cepat tersadar, bahwa ini tidak boleh. Ada Cici diantara mereka. Tini memukul lengan Sean dan akhirnya ciuman itu pun berakhir. Tini menutup mulutnya. Dia tidak percaya bahwa baru saja dia berciuman dengan pria yang selalu mewarnai hatinya selama ini.
Sama seperti Tini, Sean pun tidak menyangka dirinya berani melakukan itu ke Tini. Tubuhnya juga bereaksi cepat. Bahkan Sean tahu bahwa sesuatu yang tidak seharusnya mekngembang kini sudah mengembang. Sean merasakan celananya semakin sempit. Sean akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir Tini. Selain karena Tini sudah memukul lengannya. Sean juga tidak ingin Tini menilainya jelek. Sean tidak ingin Tini menganggap dirinya sama seperti Andre dan Radit. Apa lagi dia adalah sahabat dari kedua orang yang sudah mendapatkan julukan dari Tini. Mantan brengsek dan banci kaleng. Sean tidak mau dia mendapatkan julukan yang lebih parah dari kedua sahabatnya itu.
"Ciuman itu karena kamu sering bercanda kepadaku Tini. Teruslah bercanda maka kamu akan selalu mendapat ciuman itu dari aku. Bahkan bisa lebih dari itu" kata Sean sambil menatap lekat wajah Tini. Tini bukan hanya merasa malu tapi wajahnya sudah memerah seperti tomat masak. Tidak perduli dengan headset yang masih di tangan Sean, Tini membuka pintu dan keluar dari mobil.
Sean membuka kaca mobil. Tini masih berdiri di samping mobilnya.
"Masuklah ke rumah Tini. Aku memastikan kamu masuk ke rumah dengan aman. Setelah itu baru aku pergi dari sini," kata Sean sambil mencondongkan tubuhnya ke arah pintu mobil. Sean tersenyum melihat wajah Tini yang masih memerah.?
"Aku juga akan masuk ke rumah. Jika kakak sudah pergi," jawab Tini sambil menunduk. Sifat tomboinya tidak terlihat sama sekali.
"Tini."
Tini melihat ke dalam mobil. Sean melambaikan tangannya. Sebelah matanya berkedip membuat Tini semakin malu. Ciuman panas tadi masih jelas terasa di bibirnya.
"Tini, aku padamu. Kalau ada pertanyaaan kamu bisa menghubungi aku" kata Sean sambil tertawa. Tangannya mempraktekkan seperti orang yang menelepon. Sean menjalankan mobilnya dengan masih tertawa.
Tini masih berdiri di tempat itu. Dia memandangi mobil Sean yang semakin menjauh. Tini mengingat perkataan Sean barusan. Tini menghentak kakinya. Jelas dia mendengar "Aku padamu" tanpa ada kata cinta di antara dua kata tersebut.
"Tidak akan ada pertanyaan akan dua kata itu kak. Apa kamu juga melakukan hal ini ke Cici kak. Jika iya. Keterlaluan kamu kak. Kami bersahabat. Tetapi kamu sanggup melakukan ini kepada aku. Cici bahkan sudah mengenal keluargamu. Kalian sudah dekat. Aku tidak menginginkan perasaan aku terbalas tetapi menyakiti hati Cici, apalagi kalau persahabatan kami berakhir karena dirimu. Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi." batin Tini yang menatap jalanan. Mobil Sean tidak terlihat lagi. Tini menyesal karena diantar pulang oleh Sean hari ini.
Tini masuk ke dalam rumah bukan ke rumah yang ditunjukkan ke Sean. Melainkan masuk ke rumah mewah yang awalnya mobil Sean berhenti di depannya.
Sedangkan di mobil, Sean tersenyum. Dia bahkan menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya. Mulutnya bersenandung hanya menyebut nama Tini.
__ADS_1