Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rujuk dan Poligami


__ADS_3

Andre masih mematung di depan Sinta. Pria itu belum berniat untuk keluar dari rumah. Malah dengan santai dia menuju ke dapur. Sinta semakin geram. Ancaman Sinta tidak berarti baginya. Tidak mau Andre berbuat sesuatu kepadanya, Sinta akhirnya menunggu Andre di teras rumah. Andre tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang tidak pantas jika di luar rumah.


Andre kemudian muncul di hadapan Sinta. Mukanya sedikit segar. Dia ke dapur hanya untuk membasuh wajahnya di kamar mandi dekat dapur. Andre menarik kursi yang ada di samping Sinta dan mendudukinya. Sinta beranjak dari duduknya dan cepat Andre menahannya.


"Duduklah dulu Sinta, Aku mau berbicara denganmu," pinta Andre menahan tangan Sinta, Sinta menghempaskan tangan Andre. Tidak mau para tetangga mendengar mereka berdebat akhirnya Sinta duduk setelah menggeser bangkunya agak menjauh dari Andre.


"Berbicaralah, kemudian silahkan pergi," kata Sinta dingin. Andre saling menggosokkan kedua telapak tangannya.


"Sinta..."


"Aku mau rujuk denganmu," kata Andre pelan. Sinta spontan menoleh ke Andre.


"Aku tidak mau," tolak Sinta tegas. Matanya memancarkan kebencian.


"Kalau kamu tidak mau, maka aku akan datang sesuka hatiku ke rumah ini. Mana kamu pilih rujuk atau berdua dengan mantan di atap yang sama?" tanya Andre tenang. Tidak ada keraguan dalam kata katanya. Malah dengan santainya dia duduk bersilangan kaki dan bersandar.


Sinta terdiam, menerima Andre kembali sama saja dengan menghancurkan harga dirinya. Andre pergi dan datang sesuka hatinya. Sinta semakin sakit hati dengan cara Andre. Andaikan dulu Andre tidak menceraikannya, mungkin kedatangannya saat ini tidak masalah bagi Sinta. Sinta sudah berterima dijadikan simpanan. Tetapi Sinta tidak terima ketika Andre menolak janinnya. Pada akhirnya memang Andre mengakui janin itu benihnya dan hanya mau bertanggung jawab secara materi, di saat yang sama Andre bahkan menceraikannya. Kini Andre memintanya rujuk tanpa ada kata maaf atau kata cinta.


"Aku mau rujuk denganmu tapi ada syaratnya," jawab Sinta pelan. Tidak ada rasa gugup atau suara yang bergetar ketika Sinta berbicara. Andre menatap Sinta sambil tersenyum.


"Katakan apa syaratnya," tanya Andre senang. Dia yakin bahwa syarat dari Sinta pasti bisa dipenuhinya.


"Aku tidak meminta jadi istri satu satunya bagimu, tapi aku meminta pernikahan yang ada izinnya dari istrimu dan keluarga kita harus mengetahui pernikahan yang kamu minta. Dan satu lagi harus sah secara agama dan negara," jawab Sinta pelan. Sinta yakin Andre pasti tidak akan bisa memenuhi permintaannya. Ini hanya alasan Sinta untuk menolak rujuk dengan Andre.


Andre terkejut kemudian mengusap wajahnya kasar. Dia berpikiran bahwa Sinta pasti meminta uang atau materi lainnya dan pertanggungjawaban untuk kehamilan Sinta. Di luar dugaan Sinta hanya meminta pengakuan pernikahan yang sesungguhnya.


"Kamu boleh meminta yang lain, itu sesuatu yang tidak mungkin," kata Andre pelan. Senyum di wajahnya sudah menghilang sejak mendengar perkataan Sinta.


"Ternyata kamu hanya laki laki pengecut. Aku tidak mau lagi jadi simpanan mu. Silahkan pergi," kata Sinta berdiri dan hendak masuk ke rumah.

__ADS_1


"Pikirkan dengan kehamilan mu," kata Andre dan Sinta berhenti tepat di pintu.


"Aku yang mengandung, sejak kamu menceraikan aku, kandunganku tidak bermasalah. Justru kedatangan mu ini yang membuat masalah," Jawab Sinta sinis dan segera masuk ke rumah. Sinta kemudian membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Berlama lama dengan Andre bisa membuat hatinya semakin sakit.


Sinta masuk ke dalam kamar. Di depan Andre dia bisa bersikap tenang dan bahkan bersikap sinis. Kenyataannya Sinta kembali menangis. Ungkapan rujuk dari Andre bagaikan luka di taburi air garam. Hatinya semakin sakit. Permintaan Andre memintanya rujuk kembali tanpa restu dari keluarga, sama saja menjadikan dia kembali sebagai simpanan Andre. Sinta merasa dirinya sangat hina.


Dengan berurai air mata, Sinta mengelus perut buncitnya. Buah pernikahan sirinya dengan Andre, tinggal beberapa bulan lagi akan lahir. Sinta menghapus air matanya. Berjalan ke dapur dan membuat sarapan itu lebih bagus daripada menangis. Sinta bertekad akan melupakan Andre. Menganggap tidak pernah mengenal Andre itu lebih bagus untuk kehidupan Sinta. Prioritasnya kini hanya kehamilan dan pendidikannya.


****


Andre memarkirkan motornya di garasi. Berjalan gontai ke rumah. Rencananya tidak berhasil. Membayangkan Sinta bersama pria lain Andre sungguh tidak rela. Untuk memberi pernikahan yang sesungguhnya, Andre juga tidak mampu. Andre terlalu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Perkataan Sean yang memuji Sinta terlintas di pikirannya. Andre juga menyadari, Sinta semakin terlihat cantik dan manis. Badannya yang berisi karena hamil membuat tubuhnya semakin menawan.


Andre disambut dengan tatapan marah dari Cindy. Cindy sengaja duduk di ruang tamu untuk menunggu andre. Setelah satu jam Andre meninggalkan Cindy tadi malam, ternyata wanita itu terbangun. Mencari Andre ke seluruh penjuru rumah hasilnya nihil. Menghubungi ponsel Andre ternyata Andre tidak membawa ponselnya.


"Darimana mas?" tanya Cindy marah.


"Benar? gak bohong kan?" tanya Cindy lagi sambil meneliti penampilan Andre. Cindy mengendus tubuh Andre. Baunya masih sama dengan parfum yang biasanya dipakai Andre. Cindy percaya.


"Aku mandi dulu ya sayang," kata Andre dan meninggalkan Cindy di ruang tamu. Cindy mengangguk. Dalam hati, Andre bersyukur sempat menyemprotkan badannya dengan parfum sebelum keluar dari kamar Sinta. Parfum milik Andre yang masih tertinggal di kamar Sinta.


Setelah mandi, Andre menyusul Cindy ke ruang tamu. Pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja. Mengajak Cindy untuk sarapan bersama. Seperti biasa, Cindy melayani Andre di meja makan. Andre tersenyum dan mengelus punggung tangan Cindy dengan mesra.


"Sayang...," panggil Andre, Cindy mengunyah makannya dan menatap Andre.


"Ada apa mas?" jawab Cindy singkat.


"Bagaimana tanggapan mu tentang poligami?" tanya Andre hati hati. Cindy langsung menghentikan makannya dan menatap Andre lama. Cindy sedikit curiga dengan pertanyaan Andre. Apalagi suaminya itu pulang pagi.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya bertanya, kebetulan ada temanku yang sudah berpoligami," kata Andre lagi. Andre dapat melihat kecurigaan Cindy dari sorot matanya. Cindy sedikit lega.

__ADS_1


"Temanmu yang mana mas?" tanya Cindy berusaha mengorek informasi. Walau sudah lega sedikit, Cindy masih curiga.


"Teman satu kampus dulu. Kamu tidak mengenalnya. Aku juga tahu dari medsos. Mereka kelihatannya happy sayang," jawab Andre kemudian mengambil susu dan meminumnya. Andre berusaha mengalihkan perhatian Cindy.


"Coba buka medsosnya mas, aku mau lihat seberapa bahagia mereka yang berpoligami," kata Cindy membuat Andre gelagapan. Dia hanya mencari alasan asal dan ternyata terjebak dengan alasannya sendiri. Andre mengambil ponselnya dari saku kemudian berpura pura membuka medsosnya.


"Kok gak ada lagi sih?.Padahal semalam masih ada," kata Andre, tangannya terus bergerak ponselnya.


"Gak ada lagi sayang, sepertinya aku di blokir. Mungkin komenku membuat dia tersinggung,"


kata Andre lagi.


"Masa sih, gara gara komen diblokir. Gak dewasa banget," jawab Cindy.


"Jadi bagaimana tanggapan mu sayang?"


"Tanggapan apa mas," tanya Cindy. Dia sudah lupa dengan pertanyaan Andre.


"Pernikahan poligami," sahut Andre cepat.


"Mas mau tahu atau ada rencana mau poligami?" tanya Cindy membuat Andre cepat menggelengkan kepala.


"Tidak sayang, aku hanya tahu tanggapan mu saja," jawab Andre sambil mengelus punggung tangan Cindy.


"Kalau aku ya mas, jangankan poligami. Minta izin saja mau poligami maka di saat itulah anunya ku potong," jawab Cindy tegas. Andre kembali mengambil gelas dan meminum susu. Dengan cara ini dia bisa menyembunyikan raut wajahnya.


"Maka, jangan coba coba untuk berpikir berpoligami," kata Cindy lagi.


Pembacaku yang tercinta. Aku minta like, favorit, vote atau hadiahnya. Terima kasih dan salam sehat.

__ADS_1


__ADS_2