
"Aku sudah mengambil rambut mu dan rambut Airia. Hasil Test DNA menunjukkan bahwa Airia positif putri kandungmu," kata Agnes dingin dan memberikan amplop itu ke papa Rahmat. Agnes menatap Andre dengan tajam, wajahnya sinis dan tangannya terkepal. Jelas terlihat kekecewaan di wajah Agnes. Kakak yang sangat dibanggakannya ternyata telah menyakiti wanita sebaik Sinta.
Bayu dan yang lainnya juga tidak kalah terkejut, mereka tidak menyangka bahwa Andre bisa berbuat seperti itu tanpa sepengetahuan mereka. Sedangkan mama Ningsih, nenek tua itu tidak sanggup hanya mengucapkan satu kata pun mendengar kejutan yang dipersiapkan Agnes untuk keluarga besarnya.
Papa Rahmat, membuka amplop itu dan mengeluarkan surat dari dalam. Dengan tenang, papa Rahmat membaca surat tersebut. Rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam yang ingin menerkam Andre. Setelah membaca, papa Rahmat memberikan surat itu ke Bayu.
"Andre, papa sangat kecewa kepadamu. Papa ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri," kata papa tegas, matanya terus menatap Andre tajam. Andre menunduk, seperti orang yang biasanya ketakutan, Andre juga berkeringat dingin dan sesak pipis. Ingin rasanya dia pamit sebentar ke kamar mandi, tapi melihat sorot tajam ayahnya, Andre kembali menunduk.
"Maafkan Andre papa, mama benar bahwa Airia adalah putri kandungku," kata Andre pelan.
"Kamu mengakuinya, setelah hasil tes DNA ini, bagaimana kalau seandainya Agnes tidak melakukan tes ini?. Apa kamu akan menyembunyikan selamanya dari kami?" tanya papa Rahmat marah. Tangannya terkepal dan wajahnya memerah karena marah. Dia tidak bisa membayangkan salah satu cucunya tidak mendapat kasih sayang dan pengakuan dari mereka sebagai kakek dan nenek. Apalagi harus hidup serba berkekurangan sementara mereka mempunyai harta yang berlimpah.
Mungkin kalau hanya papa Rahmat dan Andre di ruangan itu. Sudah dipastikan papa Rahmat akan menampar Andre. Papa Rahmat mencoba menahan amarahnya. Papa Rahmat tidak mau wibawa Andre sebagai dosen jatuh di hadapan anak anaknya yang lain.
Andre semakin menunduk, kesalahannya nya terlalu fatal tidak berani untuk menegakkan kepala. Telapak tangannya sudah basah oleh keringat, mungkin sebentar lagi celana yang akan basah.
Tidak ada tatapan iba, melihat Andre yang kena marah, Andi dan Bayu juga terlihat marah. Kelakuan Andre sungguh mencoreng muka keluarganya. Mereka ingat betul nasehat kedua orangtuanya sejak mereka menginjak remaja yaitu jangan mempermainkan wanita. Karena mereka terlahir dari rahim wanita, punya adik perempuan dan mungkin kelak mempunyai anak perempuan.
Bayu dan Andi menjunjung tinggi nasehat kedua orang tua mereka. Mereka sangat mencintai istri masing masing dan juga mendidik istri mereka dengan baik.
Sangat berbeda dengan Andre, mempermainkan ikatan pernikahan suci, menceraikan Sinta di saat hamil dan juga menolak kehamilan Sinta. Sungguh sikap yang sangat berbeda dengan kedua kakaknya.
"Kapan kamu menikah dengan Sinta?" tanya Bayu marah sambil mencampakkan amplop tes DNA ke kepala Andre yang tertunduk. Andre masih diam.
"Jawab!" perintah Andi juga marah. Andre masih diam dan menunduk. Andi berdiri dari duduknya dan mendekat ke Andre.
"Jawab, jangan hanya diam. Cukup hanya Menikahi Sinta, kamu diam diam. Menikahi Cindy karena hamil duluan. Kemudian fakta baru bahwa kamu ayah kandung Airia. Masih bisa kamu diam. Apa kamu tidak merasa mempermalukan orang tua kita?. Ayo, jelaskan!" perintah Andi lagi. Kini tangannya mencengkram baju Andre. Mama Ningsih memegang dadanya ketika suara Andi menggelegar di ruang tamu dan bahkan Airia terbangun dan menangis kencang karena teriakan Andi. Maya mengambil Airia dari tangan mama Ningsih dan membawa bayi itu ke kamar.
"Andre, tenang. Kembali ke tempat duduk mu," kata papa Rahmat tegas. Andi kembali ke tempat duduknya.
"Andre jelaskan nak, kami ingin mendengarnya langsung dari mu," kata mama Ningsih lembut. Andre menegakkan kepalanya, matanya tidak sengaja melihat Sinta yang terisak di sebelah Bella. Bella terlihat mengusap punggung Sinta. Sinta merasa sangat sedih, sakit hati itu kembali dibuka. Padahal dia sudah bersusah payah untuk menutupnya. Bayangan menghadapi kehamilan sendiri dan tangisannya setiap malam di awal perceraian terpampang jelas di ingatannya.
__ADS_1
"Kami menikah siri ketika Sinta awal semester dua papa," jawab Andre pelan.
"Sekarang kamu semester berapa Sinta?" tanya Bayu lembut.
"Akhir semester empat mau semester lima," jawab Andre, Sinta masih terisak.
"Berarti Sinta adalah istri pertama mu?" tanya Andi setelah mencerna jawaban Andre. Dengan lemas Andre mengangguk. Papa Rahmat terkejut dengan pengakuan Andre. Sinta yang terisak tidak kalah terkejut. Selama istri Andre dia merasa bersalah dan merasa pelakor ternyata dirinyalah istri pertama. Dan bisa dikatakan korban dari pernikahan Andre dan Cindy. Di sisi lain, Sinta merasa lega. Dirinya bukan pelakor dan bayinya terlahir dari ikatan pernikahan suci.
"Keterlaluan kamu Andre," kata Bayu.
"Kapan kamu menceraikannya?" tanya papa Rahmat dingin. Matanya tidak lepas menatap tajam Andre.
"Ketika Airia berumur satu bulan di kandungan," jawab Andre pelan.
"Brengsek kamu Andre," kata Bayu semakin marah. Dia berdiri dari duduknya dan mendekat ke Andre. Bayu menarik baju Andre supaya berdiri. Bayu akhirnya melayangkan tinjunya ke wajah Andre. Bayu tidak bisa menahan amarahnya ketika mendengar bahwa Andre menceraikan Sinta di saat mengandung. Sungguh, perbuatan seorang laki laki yang tidak manusiawi menurut Bayu.
Sinta masih terus terisak, bukan inginnya seperti ini. Dia pun sudah berjanji akan merahasiakan pernikahan siri mereka, tapi takdir berkata lain. Sinta dipertemukan dengan Agnes lewat Vina. Dan dekat dengan Bella yang ternyata Kaka ipar Andre dan mantan kakak iparnya sendiri.
Ternyata dugaannya salah seratus persen. Sedangkan Bella berkali kali menggelengkan kepala, tidak menyangka Andre bisa berbuat dan tega kepada Sinta. Dari awal dia merasa senang dan dekat dengan Sinta yang ternyata adik iparnya. Pantas Rey sangat menyayangi baby Airia sejak dari kandungan. Gumam Bella dalam hatinya.
Mama Ningsih, terlihat lebih banyak diam. Dalam hatinya menyesalkan perbuatan Andre. Mama Ningsih juga sangat merasa bersalah kepada Sinta. Merasa gagal mendidik Andre sebagai suami untuk Sinta.
"Apa motivasi mu menikahi Sinta?" tanya Bayu. Suaranya sudah sedikit melunak. Bayu berpikir tidak ada lagi gunanya marah semua sudah terjadi. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana nasib Sinta dan baby Airia.
"Awalnya aku hanya ingin membantunya melanjutkan kuliah kak," jawab Andre pelan. Andre cepat menjawab berharap kedua kakaknya itu tidak marah lagi. Sakit akibat tinju dari Bayu masih terasa di pipinya.
"Dengan menikahinya?. Mengapa kamu tidak mencoba merekomendasikan Sinta ke perusahaan ku?" tanya Bayu dingin. Merasa terpojok Andre kembali diam.
"Kamu tidak tahu dengan perbuatan mu sangat merugikan dan menyakiti Sinta. Dan yang lebih parah Airia adalah korban dari ***** mu. Apa kamu pernah berpikir? bagaimana reaksi orang tua Sinta mengetahui putrinya menikah diam diam karena uang kuliah, hamil dan menjadi janda?" kata Bayu panjang lebar. Mendengar perkataan Bayu, Andre merasakan dadanya sesak dan hatinya berdenyut nyeri. Rasa bersalah terhadap Sinta dan putrinya merasuki jiwanya.
Sinta terlihat terisak lagi mengingat orang tuanya. Sejak melahirkan baby Airia Sinta terkadang lupa untuk bagaimana menjelaskan keberadaan baby Airia kepada orang tuanya. Melahirkan Airia bukan akhir dari masalah dan penderitaannya. Masih banyak yang harus dihadapinya.
__ADS_1
"Kamu memang benar benar brengsek Andre," kata Andi yang masih terlihat marah. Pikirannya melayang, ketika Bella bercerita tentang penderitaan Sinta.
"Apa Cindy tahu tentang Sinta dan pernikahan siri kalian?" tanya papa Rahmat. Andre menggelengkan kepala. Papa Rahmat menarik nafas panjang.
"Kita harus memberitahu Cindy. Bagaimanapun Cindy harus tahu tentang Sinta dan cucuku Airia." kata papa Rahmat lagi. Sinta menatap papa Rahmat ketika menyebut baby Airia cucunya. Papa Rahmat sadar bahwa masalah ini akan berdampak ke rumah tangga Andre dan Sinta.
"Jangan pa, aku mohon!. Cindy sedang mengandung satu bulan. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk jika mengetahui masalah ini," kata Andre cepat. Semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengar Cindy hamil. Jarak kehamilan yang terlalu cepat karena Alexa masih berumur empat bulan.
"Kamu memang benar benar brengsek Andre, kamu tidak sadar perbuatan mu menceraikan Sinta dulu bisa membahayakan kandungannya saat itu. Di saat wanita brengsek itu hamil muda, kamu malah menjaganya bagaikan menjaga telor," kata Andi kembali marah.
Sinta tersenyum kecut. Benar kata Bayu. Andre hanya berusaha menjaga hati dan perasaan Cindy baik dulu maupun sekarang. Sedangkan untuk dirinya, Andre tidak pernah berpikir panjang. Sementara papa Rahmat mengerutkan kening ketika Andi menyebut Cindy wanita brengsek. Papa Rahmat tidak ingin membicarakan itu dulu. Pria tua itu ingin fokus membahas Andre dan Sinta juga baby Airia.
"Agnes," kata Andi lagi.
"Iya kak,"
"Tolong ambil gunting." Agnes beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang keluarga.
"Ini kak," kata Agnes memberikan gunting ke Andi setelah dia tiba di ruang tamu. Andi berdiri setelah menerima gunting tersebut. Andi mendekat ke Andre dengan gunting di tangannya. Andre seketika takut. Takut Andre nekat dan menusuknya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Wajahnya juga terlihat pucat. Bahkan untuk beranjak dari duduknya Andre tidak sanggup karena kakinya yang gemetar. Sementara papa Rahmat juga terlihat takut, begitu juga yang lain.
"Jangan kak, aku mohon," pinta Agnes sedih merasa menyesal telah menuruti Andi untuk mengambil gunting.
"Mas, aku mohon, jangan lakukan itu," kata Bella yang sudah menangis. Bella tidak dapat membayangkan akan ada pertumpahan darah di ruangan itu. Bella juga tidak dapat membayangkan suaminya harus masuk penjara karena mencelakai adiknya sendiri. Sementara Sinta juga takut dan gemetar. Dalam hatinya Sinta merasa bersalah karena keberadaan dirinya dan juga Airia di rumah itu.
"Andi jangan lakukan itu,"
"Andi hentikan,"
"Aku mohon nak, ini bisa kita bicarakan baik baik," kata mama Ningsih lemah. Dadanya bergerak naik turun karena ketakutan.
"Aku hanya ingin memotong rambutnya sedikit ma, tenang aja!. Aku tidak akan menyakiti pria brengsek ini. Kita harus melakukan tes DNA antara mama dan Andre. Aku takut Andre bukan anak mama, mungkin dia tertukar dulu waktu di rumah sakit. Sikap dan perilaku nya sangat berbeda dengan kita," jawab Andi santai.
__ADS_1