Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Cemburu


__ADS_3

Sinta membawa motornya dengan kencang. Bertemu dengan mantan suami, membuatnya ingin cepat berlalu dari swalayan tadi. Melihat Andre seperti membuka lembaran kelam sakit hatinya. Mendapat perhatian dari Andre tidak membuat Sinta senang yang ada dia semakin terluka. Air matanya kembali tumpah seiring dengan cepatnya motor bergerak. Lagi lagi Andre hanya menawarkan materi untuknya. Bagi Sinta, bertanya kabar jauh lebih baik daripada memberinya sekantong belanjaan.


Sementara itu, Andre masih terpaku, memandang Sinta yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Tangannya yang masih menggantung dengan sekantong belanjaan kini melemas. Matanya menangkap beberapa pasang mata yang memandangnya penuh tanda tanya.


Mendapat tatapan dari berbagai orang dengan pemikiran yang berbeda membuat Andre seketika malu. Andre menuju mobilnya dan segera berlalu dari tempat itu. Sepanjang perjalanan Andre memikirkan Sinta. Bagaimana gadis itu hanya menatapnya sekilas seperti menatap orang yang tidak dikenal.


Andre melewati jalan yang sama dengan jalan yang dilalui Sinta. Terbersit di pikiran Andre untuk singgah sebentar di rumah Sinta. Andre turun dari mobil untuk membuka gerbang. Andre terkejut karena gembok yang biasanya dipake untuk mengunci gerbang sudah diganti.


Andre memanggil nama Sinta berkali kali, tapi yang dipanggil tak kunjung muncul. Andre yakin Sinta sudah di rumah. Motornya ada di garasi. Dengan lesu, Andre kembali ke mobilnya dan berlalu dari depan rumah Sinta.


Sesampai di rumah, Andre meletakkan dua kantong belanjaan di atas meja makan. Yakin istri tercintanya di kamar, Andre masuk ke dalam kamar, istrinya tidak ada di sana. Andre menuju taman, istrinya pasti di sana.


Andre membuka pintu besi yang menghubungkan rumah dengan taman. Suara pintu besi yang bergesekan sampai ke telinga Cindy. Andre menghampiri Cindy. Andre sedikit heran melihat Cindy yang berkeringat, padahal angin di taman cukup kencang karena banyak pohon yang tinggi dan juga sudah sore hari.


Cindy yang asyik dengan ponselnya hanya tersenyum ke Andre dan menepuk bangku di sebelahnya, menyuruh Andre duduk.


"Sayang, kamu kok keringatan? Habis olahraga?" tanya Andre dan duduk sebelah Andre. Dari tempat duduknya Andre dapat melihat Kasman bertelanjang dada dengan celana pendek karet sedang mengangkat pot pot besar berisi bunga bonsai. Bajunya diletakkan di pundaknya.


Dengan tersenyum Cindy menjawab " Hanya olahraga ringan mas". Andre melihat perut Cindy yang semakin membesar.


"Lain kali jangan berduaan di taman dengan Kasman," kata Andre sedikit kesal melihat Cindy hanya berpakaian tipis sementara Kasman ada di tempat yang sama.


"Berduaan gimana maksudmu mas?" tanya Cindy merasa tidak senang dengan ucapan Andre.


"Kamu di sini, Kasman juga di sini apa itu tidak berduaan?" jawab Andre kesal dengan suara yang keras. Kasman sampai sempat berhenti mengangkat pot bunga.

__ADS_1


"Dia kan bekerja di sini mas?" jawab Cindy juga kesal.


"Harusnya kalau dia sedang bekerja di taman, kamu gak usah di sini, pakai baju gitu pula," kata Andre semakin kesal.


"Udah ah, mau mandi gerah." Cindy berdiri dan meninggalkan Andre di taman.


****


Andre memarkirkan mobilnya tepat di depan Fakultas Ekonomi. Andre tidak langsung turun. Dari dalam mobil Andre mengamati keadaan kampus. Mahasiswa sudah banyak yang berdatangan. Dari sekian banyak mahasiswa satu pun diantaranya tidak ada Sinta.


Andre melihat ke arah parkiran, dari sekian motor yang terparkir, tidak ada motor berwarna pink. Andre memutuskan menunggu Sinta di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, beberapa motor hampir bersamaan parkir. Diantaranya ada motor Sinta. Andre dapat melihat Sinta dan mahasiswa lain turun dari motor. Seorang laki laki yang tak lain adalah Ronal meminta tas Sinta dan membawanya. Mereka berjalan beriringan menuju Fakultas Ekonomi. Sinta dan Ronal saling bercanda dan tertawa.


Andre mengepalkan tangannya melihat Sinta tertawa lepas seakan tidak ada beban, begitu juga Ronal. Terkadang Sinta mencubit lengan Ronal. Kedua sahabat itu tidak menyadari bahwa ada yang mengintai mereka dari dalam mobil.


"Pagi pak," sapa Ronal sopan ketika melihat Andre di depannya. Ronal mengangguk sedangkan Sinta hanya menunduk hormat.


"Sinta, bisa bantu saya, bawa tas ini ke ruangan aku?, saya lihat kamu tidak membawa apa apa," pinta Andre, Sinta terkejut tidak menyangka Andre akan menyuruhnya.


"Maaf pak, tapi saya harus masuk kelas, saya sudah hampir terlambat," jawab Sinta sopan. Andre melihat jam tangannya dan berkata


"Masih ada waktu lima menit lagi." Andre langsung meletakkan tas kerjanya ke tangan Sinta. Mau tidak mau Sinta menurut.


"Aku langsung ke kelas ya," bisik Andre. Sinta menahan tangan Andre.

__ADS_1


"Kita sama sama antar ini ke ruangan pak Andre," bisik Sinta lagi. Pak Andre sudah berjalan di depan mereka.


"Sinta, cepat!" panggil Andre.


"Ya udah aku duluan ya," kata Ronal, tanpa di jawab Sinta, Ronal sudah berbelok ke kiri menuju kelas. Sementara Sinta harus menaiki tangga menuju ruangan Andre.


Andre menunggu Sinta di balik pintu. Ketika Sinta masuk Andre langsung menutup pintu dan menguncinya. Sinta mematung, tas kerja Andre masih di tangannya.


Sinta masih diam, sementara Andre melihat Sinta mulai dari kepala. Sinta yang memakai kemeja panjang, sedikit longgar sampai sebatas bokong dan memakai celana panjang ketat. Terlihat serasi dengan rambut yang di kuncir kuda. Pandangan Andre berhenti di perut Sinta yang sedikit membuncit. Andre mendekat dan ingin mengelus perut Sinta.


Sinta menyadari tangan Andre yang akan mengelus perutnya, langsung menghempaskan tangan Andre. Berbalik badan dan meletakkan tas kerja Andre di atas meja.


"Sinta," panggil Andre ketika melihat Sinta yang akan membuka pintu.


"Jangan mempersulit dirimu pak, jika kamu bertindak seperti tadi di depan para sahabat ku.


Mereka bisa curiga bahwa pernah terjadi sesuatu di antara kita," kata Sinta sambil menatap tajam Andre.


"Aku hanya tidak ingin kamu berdekatan dengan laki laki lain," kata Andre seakan lupa dengan status mereka sekarang. Sinta menatap Andre sinis.


"Aku bukan lagi ****** mu pak, aku wanita bebas tanpa ada ikatan dengan laki laki. Aku sekarang janda dan kamu tidak berhak mengatur hidupku," kata Sinta sinis.


"Gembok gerbang, kenapa diganti?" tanya Andre. Sinta jadi merasa muak dengan Andre. Laki laki itu seperti orang yang lupa ingatan.


"Itu urusanku, perlu kah aku mengcopy surat perjanjian dan memberinya kepadamu?, dari cara mu ini, sepertinya kamu lupa ingatan atau memang benar benar bodoh. Mantan kok, diurusin," kata Sinta lagi dan membuka pintu. Dengan rasa jengkel Sinta keluar dari ruangan Andre.

__ADS_1


Andre memijit keningnya. Dia betul ingat bahwa Sinta adalah mantan istri sirinya. Tapi entah mengapa, berusaha melupakan Sinta yang ada tawa dan tangisan Sinta yang memenuhi pikirannya.


__ADS_2